logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Perjalanan Menuju Alam Gaib

"Apa yang aku katakan tentang umur? Tidak mungkin aku jawab yang sebenarnya bisa ketakutan Afifa. Tapi, berapakah umur Afifa sehingga aku tidak terlihat tua atau lebih tua sedikit dari dia?" gumam Aqeel dalam hati.
"Umur aku sama dengan umur teman-teman kamu?" jawab Aqeel dengan santai dan senyum manis, agar Afifa tidak curiga.
"Oh, 23 tahun, Kak," jawab Afifa dengan menahan tawa.
"Umur ratusan tahun sekarang menjadi 23 tahun, benar-benar makhluk penuh dengan dusta! Tadi Aqeel termenung sejenak, dia sepertinya agak bingung dengan pertanyaan yang satu ini. Ah, aku harus lebih hati-hati agar dia tidak curiga! Tapi wajar kan, jika aku bertanya seperti tadi?" gumam Afifa dalam hati.
"Iya, betul, Afifa?" jawab Aqeel dengan nada semangat. Aqeel tersenyum lega dengan pertanyaan Afifa sendiri yang menjawabnya, 23 tahun. Aqeel jadi tahu manusia itu berumur 23 tahun. Aqeel melanjutkan niatnya.
"Afifa ada suatu tempat lebih eksotis dari sini yang belum pernah kamu temukan. Mari kita kesana, Fif?" ajak Aqeel dengan harapan Afifa menyetujui. Aqeel mulai melakukan siasat, supaya niat yang dari awal sudah
direncanakannya tercapai.
Dag dig dug
Debar-debar di dada mulai dirasakan Afifa mendengar ajakan Aqeel.
"Firasat apa ini. Kenapa perasaan aku tidak karuan seperti ini. Makhluk ini mau membawaku kemana? Dan apa tujuan Aqeel sebenarnya? Apa yang harus aku lakukan? Aku harus melakukan strategi agar dia tidak membawa aku. Sepertinya dia mempunyai niat yang tidak baik. Kalau dia baik, kenapa dimalam larut ini makhluk ini membawa seorang gadis untuk menemaninya?"
"Afifa ... Afifa ...! Apa yang sedang kamu pikirkan? Percayalah padaku. Aku tidak akan mencelakai kamu atau pun merugikan kamu." Panggilan dan penjelasan Aqeel membuat Afifa bangun dari termenungnya dan Afifa menjadi gugup.

"Tem ... pat apa yang kamu maksud. Bukankah tadi kamu bilang sedang tersesat dan singgah disini, Kak?" tanya Afifa. Dia sudah mulai melalukan siasat penolakan.
"Maaf, aku sungguh minta maaf. Aku berbohong sama kamu? Aku tidak tersesat. Aku hanya ingin mengenal kamu, karena saat aku lewat untuk mencari rempah-rempah, secara tidak sengaja aku melihat kamu mengusir ular di hutan yang membuat aku kagum. Dan di sebuah hutan ada desa yang jarang orang tahu karena terisolasi. Aku berniat mengajak kamu kesana, karena kamu pasti suka. Bisakah kamu memaafkan aku atas kebohongan dan menerima niat aku, Fif?" jawab Aqeel, membuat Afifa dilanda kerisauan hati yang hebat. Keringat Afifa mulai mengalir perlahan padahal di kegelapan malam dengan hembusan angin yang begitu dingin. Afifa berpikir keras bagaimana dia menolak, tapi tidak dengan menyakitinya secara jelas.
"Tapi aku tidak suka dibohongi! Berarti dari tadi kamu berbohong padaku, Kak? Maaf aku tidak bisa menyetujui niat baik kamu? Badan aku sudah lelah dan mata aku mulai tidak kuat menahan kantuk. Aku ingin tidur, Kak? Tidakkah kamu tahu malam sudah sangat larut, bahkan beberapa waktu lagi pagi, Kak?" Afifa dengan berbagai alasan untuk menolak Aqeel. Tujuan Afifa menolak dengan pura-pura menujukan kekecewaan karena sudah dibohongi. Sehingga karena rasa bersalahnya, dan tidak bisa memaksa Afifa lagi untuk mengikuti keinginan Aqeel. Timbul kecerdikan Afifa menolak dengan taktik jitu. Tapi Aqeel tidak kalah cerdik dari Afifa.
"Aku mohon ikutlah bersamaku, Fif?" pinta Aqeel dengan memegang tangan kirinya dengan erat saat Afifa berniat kembali ke tenda. Berhentilah Afifa saat itu. Dia merasakan begitu dingin tangan Aqeel.
"Apakah makhluk ini, selain pucat juga dingin?"
Afifa berusaha melepaskan tangan Aqeel, namun Aqeel memegang Afifa semakin erat, dan tidak mau melepaskan. Saat balik badan, Afifa melihat wajah Aqeel dengan wajah yang kasihan.
"Sebenarnya mau bawa aku kemana, Kak? Kamu jujur saja sama aku?"
"Rumah aku, Fif? Aku ingin memperkenalkan desa tempat tinggal aku ke kamu," jawab Aqeel.
Mendengar penjelasan Aqeel, hati Afifa luluh. Bukan hipnotis, tapi kepolosan orang yang lagi berharap penuh padanya. Afifa orang yang tidak bisa melihat orang lain sedih. Pagi hari juga dia berniat menyetujui keinginan Andrian. Karena selain dia sudah cukup usia untuk menikah, juga karena sudah lama mengenal Andrian. Akan timbul rasa cinta, jika sudah menjadi suaminya dan dalam kebersamaannya. Itu yang terpikirkan Afifa dalam renungan di malam itu sebelum dia keluar karena Aqeel.
"Baik, Kak. Tapi jangan lama-lama. Takut teman aku jadi khawatir saja."
Tidak di jawab, Aqeel tersenyum saat mendengar dan melihat Afifa. Afifa mengikuti Aqeel masuk dalam hutan. Hati Afifa bertanya-tanya, apa tujuan Aqeel? Kenapa dia mengajaknya masuk ke dalam hutan?
"Oh, inikah jalan menuju rumah Aqeel. Benarkah dikedalaman hutan ada sebuah desa, atau hanya kebohongan Aqeel belaka? Tapi jawabannya seperti meyakinkan hati. Aku pun menjadi semakin penasaran sepertinya perjalanan ini sangat menantang." Hati Afifa penuh dengan banyak pertanyaan.
Di malam yang kelam hanya senter dan pepohonan yang rimbun. Afifa mengamati jalan yang dia lalui di belakang Aqeel. Karena kepintaran Afifa, dia memberi tanda jalan dengan menjatuhkan kalung mutiaranya satu persatu, dan ranting pohon secara kombinasi sebagai petunjuk jalan. Harapan Afifa agar teman-temannya tahu jalan dia pergi dan bisa menolong Afifa, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Berapa lama lagi kita sampai ke tempat yang kamu sebutkan, Kak? Sepertinya tempat yang akan kita tuju masih jauh?" tanya Afifa.
Aqeel pun berhenti di jalan pertigaan itu dan berkata, "lihat dan perhatikan jalan ini ..."
Afifa bingung dengan ucapan Aqeel. Kenapa juga dia menyuruh Afifa untuk memperhatikan jalan. Bukankah jalan disitu semua sama. Pikiran Afifa yang terus berperasangka negatif terhadap Aqeel. Afifa mengamati jalan tersebut, tapi tidak ada dibenak Afifa apa yang dimaksudkan Aqeel tentang jalan tersebut.
"Jalan apa ini, Kak? Aku mencoba mengamati namun aku sama sekali tidak tahu."
Aqeel menjelaskan dengan menunjukkan jari telunjuknya, bahwa jalan lurus sebelah kiri adalah jalan lain untuk dia pulang, dan jalan kanan tempat yang akan dituju.
"Wah, ternyata masih ada jalan lain selain melewati jalan setapak yang dekat dengan jurang yang curam, Kak?" tanya Afifa.
"Iya, Afifa ..." jawab Aqeel dengan menganggukkan kepala dan Aqeel tersenyum, tampak terlihat dari cahaya senter yang mengarahnya.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya. Afifa memungut batu dan menandai panah di pohon terdekat sebagai tanda jalan keluar. Afifa berpikir, jika teman-teman tidak menemukannya, namun tahu jalan lain untuk pulang dengan aman, dan tidak membahayakan.
Afifa menandai jalan yang akan dia tuju dengan kombinasi mutiara dan ranting. Namun Aqeel mulai mencurigai Afifa. Tanda tersebut di hapus Aqeel dengan kekuatannya, setelah Afifa meletakkannya. Aqeel tersenyum, seberusaha Afifa, dia tidak bisa menipu Aqeel. Aqeel hanya menghapus jejak menuju rumahnya. Tanda yang dipertigaan sengaja tidak Aqeel hapus, agar teman-temannya bisa pulang, dan tidak mengacaukan niat Aqeel.
Perjalanan menuju lokasi semakin mencekam karena memasuki hutan yang semakin dalam.
Krek, suara ranting di injak Afifa.
"Hati-hati, Afifa, peganglah tanganku agar kamu tidak jatuh?" pinta Aqeel dengan lembut.
"Oh tidak, Kak. Terima kasih," tolak Afifa dengan sopan.
Mereka pun melanjutkan perjalanan lagi. Mereka berjalan semakin jauh dan semakin dalam.
"Tunggu, kenapa kaki aku basah, Kak?" tanya Afifa dengan mengarahkan senter dalam kegelapan yang gelap gulita dan dengan udara yang seperti es, sangat dingin. Afifa melihat semua jalan dipenuhi dengan air, tapi dangkal.
"Di dalam hutan pastilah lembab. Sekarang kita melewati rawa dan teruslah berada di belakang aku. Jika kamu berkenan peganglah tanganku, Afifa?" jawab Aqeel, membuat Afifa menyetujuinya dan mereka berjalan sambil bergandeng tangan karena dalam pikiran Afifa, dia sedang menuju jalan yang penuh dengan bahaya.
Mereka melanjutkan perjalanannya dan sudah melewati rawa yang lumayan panjang, tapi Afifa seketika berhenti.
"Ada apa, Fif?" tanya Aqeel dengan senyum dan enggan melepaskan tangan Afifa.
"A ... ku mendengar suara binatang seperti mengaum. Semakin lama semakin dekat, Kak." Afifa maju mengamati dengan senter kesamping kanan dan kiri. Saat senter mengarah depan terlihatlah harimau yang sudah dekat dan menghadap Afifa. Terkejutlah Afifa dan spontanitas langsung memeluk erat Aqeel. Jantung Aqeel berdegup kencang dan bisa dirasakan Afifa saat itu.
"Harimau di depan kita, Kak ..." ucap Afifa dengan nada lirih dan tanpa sadar masih memeluk Aqeel.
Aqeel mencoba menenangkan Afifa, supaya harimau tersebut tidak menyerang. Aqeel menatap dengan tajam ke arah harimau tersebut. Seketika binatang tersebut berubah wujud dan memberi salam penghormatan dengan membungkukkan badannya. Aqeel mengangkat tangan dengan telapak tangan terbuka menghadapnya, tanda menerima penghormatannya, lalu siluman tersebut pergi. Meski siluman itu sudah pergi, Aqeel tetap diam dan tidak memberitahu Afifa, karena ingin merasakan pelukan Afifa.
Aqeel merasakan hati berdebar dengan cepat di dadanya dan merasakan kedamaian yang tidak biasa.
"Aneh, kenapa perasaan aku menjadi aneh saat sedekat ini dengan Afifa. Dan suhu tubuh manusia ternyata berbeda dengan suhu tubuh aku. Apakah Afifa merasakan dingin saat dia memelukku. Ataukah dia akan tahu kalau aku berbeda dengan dia," gumam Aqeel dalam hati.
"Aqeel, apakah harimau tersebut akan menyerang kita? Kita tidak membawa senjata. Apakah kita akan selamat atau tamat? Kenapa kamu diam saja, tidak bisakah kamu memberi perlawanan atau berpikir untuk melarikan diri dari binatang buas tersebut," tanya Afifa yang masih memeluk Aqeel dan berbisik di telinganya dengan nada suara yang lirih dan khawatir. Pertanyaan dan kekhawatiran Afifa membuat Aqeel tersenyum.
"Tetaplah tenang, Afifa. Jika kita diam, binatang tersebut akan diam, karena dia tidak terancam. Tetaplah berdoa agar kita selamat. Jika kita bergerak binatang tersebut akan menerkam, karena dia kira kita mau menyakitinya. Jadi tunggulah beberapa saat janganlah bergerak." Aqeel membuat berbagai alasan, karena tidak ingin dia terlepas dari pelukan Afifa. Afifa pun percaya akan kata-kata Aqeel.
Aqeel memejamkan mata sesaat merasakan pelukan Afifa yang lumayan lama. Bibir Aqeel yang berwarna coklat pucat tersenyum. Hati merasakan kedamaian dan tenang. Dia juga semakin lama semakin tidak enak hati, karena dia telah mengerjai Afifa. Namun Afifa tetap tidak tahu dan patuh terhadap semua kata-kata Aqeel.
"Binatang buas sekalipun tidaklah sempurna dibandingkan dengan manusia. Pasti ada cara untuk menjinakkannya. Benar kata Aqeel, bersikaplah kalah dan diam, agar harimau tersebut tidak menunjukan keganasannya," kata Afifa dalam hati dan berusaha untuk menenangkan diri sendiri. Hati Afifa pun sedikit tenang. Karena Afifa berpikir Aqeel adalah makhluk berbeda, pasti ada kelebihan yang dia sembunyikan. Dan yakinlah Afifa bahwa dia akan selamat. Pikiran Afifa spontan menjadi positif, yang tadinya takut sekarang menjadi lebih tenang .

Bình Luận Sách (435)

  • avatar
    Nelya Mof

    sangat keren banget, cerita x sangat menyentuh hati, dari sinilah aku banyak tau apa artinya cinta dan kasih sayang dalam sebuah hubungan di dalam rumah tangga bahkan pengorbanan seorang suami x Aqeel jadi mewek deh😭😭😭😭. ternyata dia dunia gaib juga mereka bisa berperan sebagai antagonis dan protagonis. mereka juga punya aktivitas,tmpt ibadah dll.

    18/02/2022

      9
  • avatar
    VabsatikaKhusna

    bagus banget aqeel nya gen z ya😭

    15d

      0
  • avatar
    Umi Ainizairin

    mangap

    29/03

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất