logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Tujuan Di Segera Anakan

Ditemani seribu bintang yang berpijar dan bulan yang bersinar pada malam itu. Ditepi laguna ditengah hutan. Mereka semakin menikmati kebersamaan dengan suasana yang begitu damai dan menenangkan hati serta pikiran.
Hoam, hoam, hoam ...
"Malam sudah larut, nih. Ayuk ke tenda, besok masih bisa berkeliling menikmati tempat ini," ajak Benesh yang sudah tak kuasa menahan kantuk.
"Oke, Nesh!" jawab Eben dan Ivar serentak.
Mereka menuju tenda masing-masing. Namun Andrian masih duduk dengan santai dan dilihat oleh Afifa. Afifa lalu menghampiri Andrian yang hendak masuk ke tenda.
"Andrian, kenapa kamu tidak masuk ke tenda? Malam sudah larut, loh?" tanya Afifa.
"Aku belum mengantuk dan masih ingin menikmati malam dengan keindahan alam yang begitu eksotis," jawab Andrian dengan wajah termenung, seperti orang banyak pikiran.
"Ya sudah, aku masuk kedalam duluan," ucap Afifa sambil berdiri dan berjalan menuju tenda lagi.
"Afifa, bisakah kamu temani aku disini dan saling berbicara?" pinta Andrian yang spontan memegang tangan Afifa dan dengan muka yang penuh harap. Harapan bahwa Afifa mau berdua saja dengan Andrian.
"Oh, baik, Andrian? Apakah ada sesuatu yang kamu mau curhatin ke aku? Tadi aku lihat kamu termenung. Atau tempat ini tidak seperti yang kamu inginkan jadi sedikit kecewa?" tanya Afifa, membuat Andrian tersenyum manis.
Karena Afifa menyetujui harapan Andrian, mau menemaninya, wajah Andrian berbinar, dan terlihat raut mukanya oleh Afifa. Afifa hanya bisa diam dan menghormati Andrian sebagai teman baiknya.
"Afifa, aku perhatikan dari saat kita berangkat dan sampai di sini kamu juga tidak fokus. Raga kamu disini, tapi pikiran kamu entah kemana. Kamu terkadang juga termenung. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Andrian.
"Aku juga tidak tahu, perasaanku dari tadi gelisah," jawab Afifa dengan melirik Aqeel yang duduk didekatnya yang terus memperhatikan Afifa.
"Oh, gelisah biasanya orang itu selain melakukan kesalahan, juga ada pemikiran tertentu, dikarenakan ada sesuatu," kata Andrian dengan harap Afifa bisa membagi beban pikirannya dengan dia.
Tersenyumlah Afifa mendengar perkataan Andrian.
"Bagaimana aku tidak gelisah, karena dari tadi Si Muka Pucat tidak pernah pergi. Aku pikir dia terus disini karena Benesh atau teman lainnya. Tidak aku sangka, dia dari tadi mengikuti aku. Ah, aku berpikir terlalu berlebihan. Mungkin bukan aku, tapi teman aku, disini kan ada Andrian juga. Mungkin makhluk itu ingin memperhatikan Andrian. Asal dia tidak mengusik kami, biarkan saja dia," gumam Afifa dalam hati.
"Afifa, Afifa kok kamu melamun. Ada apa, Fif?" tanya Andrian.
Afifa tersadar dari termenungnya. "Oh, aku tidak melamun, Andrian. Aku tadi berpikir, kapan lagi kita akan berkemah bersama. Sepertinya ini momen yang terindah bagi kita. Tidak tahu kedepannya nasib kita masing-masing. Mungkin salah satu dari kita sudah berumah tangga," alih Afifa.
Terkejutlah Andrian, "Kamu mau nikah, Fif? Sama siapa?"
"Bu ... kan, bukan aku Andrian. Mungkin salah satu sahabat kita, setelah ini ada yang nikah. Kita kan tidak tahu pribadi mereka, karena disibukkan oleh pekerjaan masing-masing?" jawab Afifa.
Jawaban Afifa membuat Andrian lega.
Andrian, seorang pria kaya. Dia melanjutkan bisnis bapaknya mengelola perusahaan tekstil. Rencana dia mengajak Afifa berkemah, agar dia bisa menyatakan cintanya, melamarnya, dan untuk menikahinya. Dulu Afifa menolaknya selain masih sekolah SMA, waktu itu juga memilih untuk jadi sahabatnya, dan Andrian menghormati keputusannya.
Sekarang Andrian tidak bisa lagi membendung perasaannya. Dia akan menyatakan cinta yang sudah lama dibendung dalam hatinya di malam itu. Andrian berniat akan melamar Afifa. Selama ini mereka berdua tidak pernah miskomunikasi. Walau mereka jarang bertemu dan bersama karena pekerjaan mereka masing-masing. Andrian sangat sedikit untuk meluangkan waktu, dikarenakan dia tanggung jawabnya besar. Tidak hanya satu orang, tapi dia bertanggung jawab atas ribuan orang di perusahaan milik bapaknya.
"Afifa, ada yang ingin aku katakan?" tanya Andrian dengan raut muka tegang dan hati berdebar-debar.
"Ya, ada apa, Andrian?" jawab Afifa dengan lembut.
"Bisakah kita melanjutkan hubungan bukan sebagai teman atau sahabat, Fif? Aku ingin melamar dan menikah dengan kamu. Kalau kamu belum siap jawab, tidak perlu jawab sekarang, kok. Lain waktu kalau kamu sudah siap, tapi jangan kelamaan. Maaf, aku bukan orang yang romantis seperti orang lain saat menyatakan cinta dengan bunga atau cincin. Karena beginilah aku, Fif?" ungkap Andrian .
Afifa menata kata-kata dengan hati-hati, karena tidak mau membuat Andrian kecewa atau lainnya, "Baik Andrian, kalau aku sudah siap, akan aku beritahu?" jawab Afifa dengan lembut dan senyum manis.
Andrian membuat Afifa terdiam beberapa saat. Dan membuat mereka menjadi canggung. Andrian mengalihkah pembicaraan dan saling berbincang-bincang tentang saat masih SMA.
"Ha ha ha ... Fif. kamu ingat tidak, saat kita ditegur guru karena aku lupa tidak mengerjakan PR, terus kamu meminjamkan buku kamu ke aku. Lalu aku masukin kedalam tas, kita sama-sama ditegur, dan dihukum?" tanya Andrian dengan tertawa sambil melihat Afifa karena ingin melihat reaksinya.
"He he he ... iya Andrian, aku ingat saat itu. Niat aku dulu, karena kamu tidak biasa melakukan hukuman sekolah, dan dulu perut aku kebetulan sakit saat datang bulan. Memang aku niatkan untuk berlama-lama di toilet. Karena sikap kamu waktu itu, kita berdua jadi disuruh bersihin toilet sekolah bersama-sama, dan kamu menyaksikan aku keluar masuk toilet. Kamu masih ingat masa-masa itu, Andrian?" jawab Afifa dengan pipi merah karena sedikit malu.
"Afifa ... kamu dulu sedikit nakal juga ya, di sekolah. Kenapa tidak jujur sama guru bahwa waktu itu perut kamu sakit?" tanya Andrian.
"Andrian, bukankah kamu tahu kalau aku pemalu saat masih sekolah. Bisa ditertawain teman juga kalau ada yang dengar aku sakit perut disebabkan datang bulan. Karena dulu semua masih bersikap kekanak-kanakan. Ada yang baik dan ada juga yang selalu ingin menjatuhkan aku didepan guru," jawab Afifa.
Andrian tahu apa yang dimaksudkan Afifa. Dulu Afifa terkenal selain kepintarannya, tapi juga agamanya jadi banyak yang iri padanya saat itu. Andrian memang dari SMA sudah dekat dengannya bersama Eben dan Ivar juga. Dari dulu mereka berteman dan sekarang jadi sahabat baiknya.
Afifa mengajak Andrian masuk ke tenda masing-masing, karena udara yang terasa semakin menusuk tulang.
Dulu sikap Andrian angkuh dan egois. Karena dia anak dari seorang pengusaha, jadi dia kurang memahami pergaulan dengan anak dari keluarga biasa, dan kurang bersosialisasi juga. Saat remaja dia sudah belajar mengelola perusahaannya. Andrian berubah sikap saat bertemu dengan Afifa. Andrian mengalami kecelakaan saat itu, cukup parah lukanya. Afifa yang sedang berjalan menuju sekolah melihatnya dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Diambillah Handpone untuk memberitahu keluarganya. Namun tidak ada yang mengangkat telvon untuk merespon. Lalu dia memberitahu orang tua Andrian lewat whatsapp. Akhirnya Afifa mengabari orang tuanya sendiri untuk datang ke rumah sakit.
Ketika bangun dari pingsan, begitu buka mata yang Andrian lihat hanya Afifa dan orang tua Afifa. Andrian menanyakan orang tuanya, Afifa menjelaskan, dia sudah menghubungi keluarganya, namun tidak ada yang menjawab. Terlihat kekecewaan di wajah Andrian terhadap orang tuanya. Afifa yang terus menemaninya dengan perhatiannya dan karena ketulusannya akhirnya Andrian tergugah hatinya.
Saat sore tiba, orang tua Andrian baru menjenguk anaknya dan menjelaskan kalau mereka sedang melakukan meeting, sehingga tidak dapat dihubungi saat itu. Hanya ada Afifa dan Andrian saat itu. Orang tua Afifa pergi karena pekerjaan dan sudah mengurus administrasinya. Begitulah Andrian berteman dengan Afifa. Afifa selain cantik juga berhati baik. Karena kebersamaannya akhirnya Andrian menaruh perasaan terhadap Afifa sampai hari ini.
Orang tua Andrian juga jadi kenal dengan Afifa dan berterima kasih dengannya, karena mau menolong anaknya, dan menemaninya sampai mereka datang. Orang tua Andrian memberikan sejumlah uang yang melebihi adsminitrasi yang orang tua Afifa bayar saat Afifa pamit.
"Maaf, Bu? Kami ikhlas? Andrian adalah teman aku." Afifa menuju luar pintu kamar Andrian dirawat.
"Apa pekerjaan orang tua kamu, Fif?" tanya ibu Andrian. Terhentilah langkah Afifa dan menghampiri ibu Andrian.
Ibu aku penjahit dan berdagang di pasar. Bapak aku petani, Bu?" Ibu Andrian lalu memasukkan uang tersebut dalam tas Afifa.
"Afifa, ini rasa terima kasih kami terhadap kamu dan sampaikan rasa terima kasih kami kepada orang tua kamu. Kami tidak ingin hutang budi jadi terimalah, jika kurang akan kami tambahkan," tegas Ibu Andrian.
"Bu ... !" teriak Andrian terdengar oleh ibunya dan membuatnya tersenyum. Lalu mempersilahkan Afifa untuk pulang.
"Tidak semua ketulusan diganti sama uang! Dia teman aku, kenapa ibu masih merendahkankannya!" kesal Andrian kepada ibunya yang bersikap seperti itu kepada teman yang telah menyelamatkan nyawanya.
"Ibu hanya berterima kasih dan tidak ingin hutang budi. Lagi pula dia hanya orang biasa, sangat lucu kalau tidak menerima pemberian ibu?" ejek Ibu Andrian.
"Sudah, sudah ... jangan ribut lagi, Mah? Anak kita sedang sakit dan baru sembuh. Lebih baik membiarkan Anak kita untuk beristirahat." Mendengar Sang Ayah berkata, Andrian terus memiringkan badan, memejamkan mata, dan berpura-pura tidur membelakangi orang tuanya. Terlihat oleh ibu Andrian bahwa anaknya kesal dia pun berkata pada anaknya: "Ibu pulang dulu ya, Sayang. Bibi akan berjaga disini?"
Mata Andrian berkaca-kaca dalam pura-pura tidurnya. Betapa tidak pedulinya orang tuanya. Orang tua lain melihat anaknya terbaring di rumah sakit akan khawatir, menangis, dan menemani sampai anak mereka sembuh. Namun orang tua Andrian hanya pekerjaan yang mereka pikirkan. Andrian mulai meneteskan air mata. Dan mengingat Afifa dan keluarganya yang mau menemaninya, padahal tidak ada hubungan darah. Alangkah bahagianya, jika Andrian yang menjadi anak dari orang tua Afifa. Terlintas dalam pikiran Andrian tentang keluarga Afifa.
Setelah itu Andrian dan Afifa menjadi semakin akrab. Andrian bahkan sering ke rumah Afifa. Makan bersama keluarga Afifa. Namun tidak terpikirkan oleh Andrian dari kebersamaan menumbuhkan benih-benih cinta yang begitu dalam terhadap Afifa. Bahkan sampai menginjak dewasa Andrian tidak mau menerima perempuan mana pun. Andrian hanya tertuju kepada Afifa. Namun Afifa sadar diri Andrian. Dia dan Andrian bagaikan langit dan bumi dalam masalah ekonomi. Jadi Afifa menghindari Andrian saat Andrian menyatakan cintanya.
Andrian terbangun dari ingatan masa lalu saat di kagetin Eben yang melihat Andrian belum tidur ditendanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sampai seserius begitu, And?" tanya Eben.
"Bukan Apa-apa, tidur saja?" Alih Andrian sambil mengajak Eben untuk tidur.

Bình Luận Sách (435)

  • avatar
    Nelya Mof

    sangat keren banget, cerita x sangat menyentuh hati, dari sinilah aku banyak tau apa artinya cinta dan kasih sayang dalam sebuah hubungan di dalam rumah tangga bahkan pengorbanan seorang suami x Aqeel jadi mewek deh😭😭😭😭. ternyata dia dunia gaib juga mereka bisa berperan sebagai antagonis dan protagonis. mereka juga punya aktivitas,tmpt ibadah dll.

    18/02/2022

      9
  • avatar
    VabsatikaKhusna

    bagus banget aqeel nya gen z ya😭

    17d

      0
  • avatar
    Umi Ainizairin

    mangap

    29/03

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất