logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

CHAPTER 7. INVITATION

"𝘔𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘷𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶, 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨. "
Bergegas diri ini menuju kampus dengan begitu tergesa-gesanya. Sesampainya di sana telah ada sosok yang menungguku, dari posturnya telah kukenal walau masih di kejauhan. Toni, terlihat berdiri dengan bersedekap melihat ke arahku. Sesampainya, kukira Toni akan marah lagi, tapi kali ini dia tidak gusar seperti biasanya.
"Ke mana aja kau? Lama banget sih, biasanya datang pagi, aku ada perlu denganmu, cepat ikuti aku!" ucap Toni tanpa basa-basi.

Tak kujawab ajakannya, diri ini hanya mengekor, mengikuti ke mana dia akan mengajakku pergi. Sesampainya di gedung belakang sekolah, Toni berbalik arah berdiri menghadapku. Refleks diri ini menutupi wajah, dan memasang ancang-ancang untuk menangkis pukulan.
"Tenanglah! Aku tak mau memukulmu hari ini, aku ingin membahas negosisasi kita," ujarnya menjelaskan.
"Oh, jadi saat ini kau sudah berubah pikiran, Ton?" selorohku kepadanya.
"Iya, aku berubah pikiran, Badut itu selalu mengganggu tidur malamku, hanya kamu yang bisa datang ke mimpiku, dan itu adalah hal yang nyata yang tak masuk di akal. Tapi, aku tetap penasaran, dan sudah tak tahan dengan kelakuan Badut itu dalam mimpiku. Bantu aku, dan aku janji tidak akan memukulmu lagi," pinta Toni dengan wajah yang serius.
"Baik, aku akan membantumu, nanti malam aku akan mengusir badut itu untukmu!" tegasku dengan yakin.
Diri ini masih tidak menyangka, apakah yang hal itu benar nyata atau tidak. Tinggal membuktikannya lagi kepada Aulia, yang tadi malam sudah kumunculkan dalam mimpi. Diri ini bergegas menuju Aulia yang saat ini aedang bersama Riri.
"Pagi, Aul! Pagi, Ri! Bagaimana keadaan kau hari ini?" sapaku kepada mereka.
Tampak terlihat, Aulia biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa antara kami.
"Eh, Aryan! Aku gak apa-apa kok, Ar! Terima kasih ya," balas Riri yang menjawab pertanyaanku.
"Eh, emang Riri kenapa, Ar?" sambung Aulia melontarkan sebuah pertanyaan menyangkut Riri kepadaku.
"Oh, kemarin dia sakit, Aul! Mau kubantu untuk diantar ke UKS atau ke rumah sakit, dianya malah gak mau, dibilangnya tidak apa-apa, padahal waktu itu dia sempoyongan," jelasku menceritakan perihal Riri kemarin kepada Aulia.
"Loh, Ri! Kamu sakit apa sampai harus dibantu Aryan? Parah gak Ri?" cerca Aulia terlihat begitu khawatir akan Riri.
"Aku tidak apa-apa, Aulia! Nanti saja kujelaskan ya, Aul!" ujar Rirk kepada Aulia.
Tidak ada apa-apa tentang Aulia. Semua terasa biasa-biasa saja. Obrolan kami pun sangat normal saja. Mungkin tadi malam, semua tidak bekerja sebagaimana mestinya, mungkin juga Toni hanya kebetulan saja. Hingga akhirnya Riri pamit kepada kami sebentar untuk pergi ke toilet.
"Eh, Aul! Ar! Riri pamit ke toilet dulu yah, udah kebelet nih gak kuat Riri mah," ucap Riri dengan menunjukkan gaya tubuh seakan menahan sesuatu.
"Iya, Ri! Jangan lama-lama!" balas Aulia menimpali Riri.
"Ar! Tadi malam aku bermimpi, seakan terasa nyata, aku bermimpi bertemu denganmu di taman, katamu kita telah berjanji satu sama lain, tapi aku baru sadar kalau kita tidak ada janji, ternyata di mimpi kamu semenyebalkan itu yah orangnya, hehehe," tuturnya sembari tertawa kecil dengan tangan menutupi wajahnya.
"Eh, iya kah, seperti itu, hehehe, aku melakukan itu agar aku bisa berbicara denganmu saja, Aul!" timpalku menjelaskan kenapa aku melakukan itu di dalam mimpi.
Terlihat wajah Aulia seperti syok mendengarkan perkataanku. Mungkin dia mengira, apa benar mimpi itu nyata.
"Eh, hehehe, kamu asyik juga ternyata orangnya yah, pantas saja Riri mengagumi sebegitu dalamnya," imbuh Aulia, sesaat setelah dirinya menampakkan ekspresi syoknya.
"Bukannya kamu juga mengagumiku ya, tadi malam di mimpi kamu memberitahuku semua," timpalku memancing reaksi Aulia dan membuktikan mimpi semalam benar terjadi atau tidak.
Terlihat sangat jelas, Aulia begitu syoknya mendengar ungkapanku. Ternyata semalam mimpi itu juga terjadi sama halnya dengan Toni. Berarti benar Aulia benar dapat kumunculkan dalam mimpi.
"Ar! Kamu serius, kan! Yang kamu katakan barusan tidak sedang asal bicara, kan?" tanyanya dengan ekspresi seakan takut denganku.
"Aku tahu ini sungguh menakutkan, bagimu tapi mimpi itu benar terjadi, kita dalam satu mimpi dan terhubung satu dengan yang lain, maaf membuatmu takut seperti itu, aku tidak bisa menjelaskannya di sini, mungkin nanti malam akan kujelaskan semuanya di dalam mimpi," terangku kepadanya.
"Ar! In-ni se .... " belum selesai Aulia berbicara datang Riri yang menyela pembicaraan kami.
"Ngobrol apaan nih kalian berdua? Sepertinya seru sekali kulihat dari jauh," tanyanya kepada kami.
"Gak, ada kok, Ri! Kami hanya ngobrol biasa saja," kilahku kepada Riri merahasiakan obrolan kami tadi.
"I-iya Ri, sama ngobrolin kamu juga sedikit," imbuh Aulia, yang mungkin menyangkut pautkan Riri agar tidak curiga dengan obrolan kami.
"Ish, Auullll!" teriak Riri terlehat begitu gemasnya.
Entah apa yang akan mereka obrolkan, aku bergegas pamit dari mereka, untuk melanjutkan mencari informasi lebih lagi, mengenai hal aneh yang kualami.
"Eh! Maaf mengganggu, Aul! Riri! Aku pamit mau ke lab TIK dulu ya," pamitku meninggalkan mereka berdua.
***
Malam ini aku harus menyingkirkan Badut yang mengganggu Toni, serta menepati hutang janji kepada Aulia tadi pagi. Setelah memasuki alam mimpi, diri ini langsung menuju mimpi Toni. Terlihat Toni di dalam mimpinya begitu gelisahnya. Malam ini mimpi Toni ynag kudatangi, kubuat normal sam aseperti Aulia kemarin malam. Sehingga Toni bisa bebas berbuat semaunya. Kudekati Toni dan menyapanya.
"Ton! Kau kenapa gelisah seperti itu?" tanyaku sambil menyapa serta mengagetkannya mungkin, karena terlihat Toni terperanjat mendengarku menyapamu.
"Ah, Aryan! Kau mengagetkanku saja, kukira badut itu, ya sudah bantu aku agar dia tidak kembali lagi dan lagi ke dalam mimpiku, kau tahukan aku mataku sampai menghitam karena tak nyenyak tidur," ujarnya kepadaku.
"Iya, kau tenang saja Ton! Setelah ini badut itu tidak akan bisa mendekatimu lagi!" tegasku dengan penuh keyakinan.
Setelah itu, diri ini langsung terpikirkan akan membuat batasan pada mimpi Toni, agar Badut itu tidak dapat memasuki mimpi Toni. Kubayangkan sebuah barier yang sangat kokoh dan tidak akan pernah tertembus oleh siapapun, tentunya kecuali orang yang kekuatannya setara atau di atas tingkatku. Aku hanya berharap kekuatan si badut berada jauh di bawahku levelnya.
"Oke, Ton! Sudah selesai, kini badut itu tidak akan bisa menggangu mimpimu lagi!" ujarku dengan penuh keyakinan.
"Serius, Ar! Cepat sekali, tapi kau jamin 'kan, dia tidak akan bisa kembali lagi?" balas Toni meyakinkan dirinya untuk mempercayaiku.
"Aku jamin, Ton kah lihat saja nanti," imbuhku.
Setelah urusanku dengan Toni selesai. Diri ini melanjutkan dengan menuju mimpi Aulia. Terlihat Aulia di sebuah rumah indah, yang kiri kanannya persawahan yang asri. Tak lupa kubuat Aulia sadar akan mimpinya dan tentu kunormalkan seperti biasa.
"Aul! Aku datang sesuai janjiku tadi pagi," sapaku mengagetkannya.
"Aryan! Eh ini mimpi 'kan, tapi kok aku sadar ya, dan ingat perihal tadi pagi!" jawabnya.
"Iya, benar kamu kubuat sadar dalam mimpi ini, dan mengingat semua hal yang kita bicarakan tadi pagi," imbuhku meyakinkannya.
"Ini serius, Ar! Kau benar bisa melakukan hal yang luar biasa ini? Hal yang tidak bisa masuk di akal?" cercanya kepadaku.
"Iya, Aul! Ini kemampuan yang aku dapatkan secara tak sengaja," terangku.

Bình Luận Sách (83)

  • avatar
    Wnda Andri

    cerita ini sangat bagus dan seru

    08/01/2023

      0
  • avatar
    ArdaMuhammad

    mau top up

    13/06/2022

      0
  • avatar
    coemarcoem

    sukses selalu

    03/05/2022

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất