Sebuah tanda, yang membuah gairah di dada membuncah tanpa arah. Sebuah tanda yang mungkin akan menjadi sebuah takdir di dunia. Entah takdir apa yang akan hadir di tengah perjalanan hidup yang aku jalani. Kini rasa penasaran akan tanda ini, semakin membuat gila. Bagaimana tidak gila, tanda yang tiba-tiba muncul setelah kejadian aneh yang terjadi. Mengeluarkan cahaya bak di alam dongeng kisah sebelum tidur. Di depan layar berbentuk persegi panjang, kini diri ini berselancar mengarungi dunia maya. Dunia yang di dalamnya penuh dengan informasi antara nyata dan menyesatkan. Bahkan informasi yang dapat membuat diri menjadi orang dengan kepribadian ganda. Dari dunia ini pula tak jarang banyak manusia yang melupakan kodratnya hidup di dunia nyata. Dunianya kini beralih menjadi dunia yang penuh dengan tipu daya. Aku yang kini duduk tenang, mencari sebuah informasi yang telah menghilangkan jati diri di alam nyata. Bukan karena telah kecanduan akan kecanggihannya. Akan tetapi karena telah menemukan jati diri hidup di dunia mimpi yang lebih indah dan tampak terasa nyata. Berbanding terbalik dengan kehidupan di dunia nyata, yang penuh dengan ketidak adilan dan berada pada kasta terendah, menurut para penguasa. Aku juga menyadari satu hal yang hampir terlewat, orang yang tadi memberikan secarik kertas, adalah sosok misterius yang selama ini memperhatikan diri ini. Kenapa dia harus membantuku, yang selama ini telah dia takuti dengan menguntit dan memperhatikan diri ini secara mencurigakan. 'Siapa dia sebenarnya? Jelas-jelas dia juga mahasiswa di kampus ini. Tapi sepertinya dia lebih tahu banyak dibanding diriku tentang keanehan yang terbalut dalam mimpi-mimpiku selama ini.' diriku terbuai dalam lamunan akan mahasiswa dan Lucid Dream yang sedang kucari tahu. Hingga akhirnya, diri ini menemukan sebuah ulasan lagi bahwa Lucid Dream bukan sekedar arti dari mimpi yang jernih. Akan tetapi "Lucid Dream" adalah perantara maksud lain dari Dream Controller seorang manusia pilihan yang telah dipilih khusus oleh Dewa, dan tercantum dalam ramalan kuno di kerajaan dimensi mimpi. 'What, Kerajaan dimensi mimpi?' Aku mengernyitkan dahi membaca tulisan ini. Hampir diri ini tertawa geli, karena membaca tulisan tersebut. Bukankah ini suatu kebohongan, yang dikarang oleh seseorang demi mendapatkan popularitas untuk dirinya sendiri. Anehnya lagi, orang-orang di dalam komunitas yang terdapat pada situs tersebut, malah saling berlomba ingin mendapatkan julukan "Dream Controller" tersebut. Situs yang membuat perut ini sakit karena tertawa akan isinya. Sungguh tidak disangka dunia selucu ini, bahkan banyak orang yang mempercayainya begitu saja. Mungkin saja diri ini yang salah masuk situs, ingin mencari informasi malah terhubung dengan komunitas lawak yang mampu mengocok perut si pembaca. *** Malam harinya, aku kembali mencoba melakukan mimpi sadar lagi. Ternyata kali ini lebih mudah bagi diri ini mngontrol mimpi. Diri ini mulai mencoba memunculkan level skill kemarin. Sebuah layar tiba-tiba muncul di depan kepala. Level tingkatan 6/10 Rentang waktu 7/24 jam Skill (mengendalikan mimpi pribadi/orang lain) 6/10 Efek (mampu mengatur segala jenis mimpi pribadi/orang lain) 74/100 Corrupt (dimasuki pengontrol mimpi lain) 10/0 allert! Ternyata sudah ada perubahan yang muncul. Itulah yang mungkin menyebabkan diri ini dapat lebih lama mengontrol mimpi, dan lebih terbiasa mengontrol mimpi orang lain. Selanjutnya aku mencoba memunculkan Aulia kali ini. Dengan memberikan latar sebuah taman yang begitu indah. Di alam mimpi, aku mencoba mendekatinya yang sedang duduk di kursi taman dengan meja kecil di depannya, dan mengungkapakan isi di hati. "Aulia!" sapaku. "Eh, Aryan! Kau ada di sini?" balasnya kepadaku. "Iya, apa kau lupa kita sudah janjian bertemu di taman ini?" ucapku mengalihkan hal yang sebenarnya. "Eh, kenapa aku melupakan itu ya?" imbuhnya kebingungan. "Biarlah tak penting itu, yang penting kita sudah bertemu di sini! Ada hal yang ingin kusampaikan kepadamu!" jelasku. "Apa itu?" tanyanya kepadaku. Aulia kini, mengikuti alur yang telah diri ini buat dan sengaja memang kubiarkan normal, tanpa dikontrol sesuai keinginan diri ini, hanya saja dirinya kubiarkan sadar. Namun, tidak ada penolakan dari Aulia, dan dirinya malah mengiyakan pertemuan yang kubuat sendiri ini. "Aulia, aku ingin mengetahui suatu hal darimu, apa boleh?" pintaku kepadanya. "Emmh, apa itu?" tanyanya penasaran. "Boleh tidak?" imbuhku. "Aryan! Ih! Udah ah cepat apa itu? Bikin penasaran aja kamu tuh!" rengeknya kepadaku. "Aku ingin tahu, sosok pria seperti apa yang kamu sukai?" Dengan menopang dagu di atas kedua tangan diriku menantikan jawaban darinya. "Emmh, seperti apa ya? Eh, hayoo kenapa nih kok pengen tahu?" godanya kepadaku. "E-eh, aku pengen tahu aja, Aul! Boleh ya?" ucapku memohon. "Hehehe, iya, boleh kok! Kalau misalnya tipeku adalah sosok pria sepertimu bagaimana, Ar?" ucapnya agak malu. "E-eh, iya kah, Aul, bohong nih. Aku kan tanya serius, mana mungkin orang sepertiku tipenya, Aul! Aku kan miskin, tubuhku juga jelek, dan aku tak tampan sama sekali," ujarku panjang lebar.
"Hei, aku serius, Ar! Aku tak pernah memandang status seseorang, tak pernah memandang fisiknya, tak pernah memandang hartanya, kamu adalah seorang pria yang begitu baik, suka menolong, sabar, orang yang teguh pendiriannya, tidak malas, suka berjuang dengan sungguh-sungguh, walau banyak halangan yang menghadang di depanmu, kamu tak pernah sekalipun gentar menghadapinya." Dengan tatapan tajam Aulia memujiku begitu wahnya. "A-aul, aku merasa tak pantas dan semua yang kamu sebutkan tadi, sepertinya bukanlah diriku yang sebenarnya," ujarku merendah. Tak kusangka ternyata sosok pria yang Aulia idamkan adalah sosok yang seperti diri ini. Kembali lagi diri ini memikirkan agar Aulia normal tidak sesuai yang aku pikirkan. Namun yang terjadi adalah sebuah kenyataan, sungguh kabar tersebut membuat diri ini begitu bahagia dan malunya. "Ar! Kamu adalah pria yang luar biasa, aku mengagumimu karena hal tersebut," ucapnya dengan menampakkan senyuman manisnya. Jantung ini berdetak begitu kencangnya. Semua terjadi tanpa bisa kukontrol dengan semestinya. Entah ini adalah sebuah mimpi yang tidak bisa kukontrol, ataukah mimpi yang begitu indah yang tak pernah kudapatkan. Aulia gadis yang begitu cantik dan manis yang selama ini, membuatku jatuh hati ternya memiliki tipe pria yang sepertiku. "Aul! Maaf ya sepertinya, aku harus pergi, besok kita lanjutkan kembali pembicaraan kita, ya! Terima kasih untuk semuanya," ucapku memohon pamit karena merasa ada suatu yang aneh akan terjadi pada mimpi kali ini. Setelah berpamitan, aku membuat Aulia hilang dari pandangan ini. Diri ini terbangun dari mimpi dan waktu sudah pagi. Ternyata diri ini, sudah mulai semakin lama saja berada di alam mimpi. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah firasat aneh muncul di pikiranku. Sosok badut mulai datang di pikiran ini. Pertanda mungkin si Badut akan masuk ke alam mimpiku.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
cerita ini sangat bagus dan seru
08/01/2023
0mau top up
13/06/2022
0sukses selalu
03/05/2022
0Xem tất cả