“Inovasi akan terbentuk, jika kita terus mencoba dan mencoba untuk melakukan sesuatu. Bahkan kita akan dapat keluar dari batasan kita dan menjadi sesuatu yang baru.” Pagi hari yang cerah, kulangkahkan kaki menuju kampus tercinta. Dari jauh telah terlihat sosok yang begitu jelas tertebak walau dari jarak sekian meter. Antonio Andrea, dengan berkacak pinggang, melihat diri ini dengan tatapan penuh amarah. Tadi malam ternyata berhasil, tinggal melihat saja reaksi dari Toni, apakah akan mendengarkanku atau malah mengabaikan karena merasa terinjak-injak harga dirinya. Namun, orang seperti dia sudah tertebak akan ke mana. "Hei! Loper Koran, aku ada urusan denganmu, ikut aku sekarang!" dengan geram dia menyuruhku untuk mengikutinya. "Baik! Ke mana kita?" balasku santai. "Tak usah banyak tanya, ikut saja!" ketusnya. Pasti dia akan memukulku lagi, siapa lagi kalau bukan Toni, yang melakukan hal kotor dan keji seperti itu. Tapi, ada rasa puas dalam diri karena mimpi tadi malam benar-benar nyata, dan terbukti saat ini. "Sini kau!" Ditariknya kerah bajuku. "Auh! A-apa maksudmu, Ton?" Dengan menahan sakit di perutku akibat bogem mentah yang dilayangkan Toni, aku bertanya dengan gagap. "Apa yang, Kau lakukan dalam mimpiku? Kau sudah mulai berani ya denganku, hah?" bentaknya kepadaku. "Jadi, ini karena semalam, jadi jawabanmu menolak tawaranku, baik kubiarkan badut itu terus mengganggumu!" balasku dengan nada serius. "Apa maksudmu? Jadi ka-kau benar-benar bisa melakukannya?" Dengan ekspresi syok, dia mempertanyakan ucapanku. "Jika yang kukatakan, dan yang terjadi adalah benar, lantas kenapa?" balasku menantang. "K-kau, Kau, Badut itu 'kan?" racaunya. "Hahaha, lucu sekali, Kau, Toni! Bagaimana mungkin pikiranmu bisa menyangka bahwa badut dan aku adalah orang yang sama, sedangkan semalam kita semua berkumpul bertiga," kekehku menanggapi pemikiran bodohnya. "Sialan, Kau!" Dia melangkah pergi meninggalkanku dengan mimik wajah kebingungan. Apa yang terjadi semalam itu adalah nyata, bahkan telah terbukti terpampang nyata. Toni, pagi ini menampakkan kekesalannya kepadaku karena mimpi tadi malam. *** Malam harinya kembali, diri ini mencoba mengontrol mimpi, tujuannya tidak lain agar aku dapat mengontrol mimpi lebih lama dibanding sebelumnya. Aku harus bisa menemukan cara agar hal tersebut dapar terlaksana dengan baik dan benar. Malam pun tiba, kembali diri ini mengawali merebahkan badan. Perut yang tadi telah dipukul Toni, masih terasa sakit dan terlihat kebiruan. 'Malam ini tidurmu tak akan nyenyak, Ton! Mimpimu akan selalu menjadi mimpi yang terburuk hingga membuatmu tak ingin memejamkan mata walau hanya sekejap," gumamku sendiri. Diri ini mulai memasuki dunia mimpi, dengan tenang dan pasti aku mengontrol diri untuk tetap fokus, agar dapat mengontrol waktu lebih lama dibanding biasanya. Sebelum memulai niatku untuk mengganggu tidur Toni, agar tidak nyenyak karena tadi telah memukul perutku. Setelah memasuki dunia mimpi, yang pertama kali diri ini lakukan adalah memikirkan mimpi Toni malam ini. Benar saja mimpi Toni muncul di depan mata ini seperti menonton di bioskop saja. Namun, diri ini terkejut karena Badut itu muncul tanpa kuundang, dan mulai mengganggu mimpi Toni. 'Siapa dia sebenarnya? Apa dia pengontrol mimpi juga, jika benar aku harus menyembunyikan diriku dan memperhatikan dengan seksama apa yang dia lakukan kepada Toni. "Hihihi, mau ke mana kau anak nakal, sini bermain denganku!" suara tawa ringkihnya dan suara yang begitu menakutkan menggema di ruang dimensi itu. "Hei! Pe-pergi, K-kau Badut sialan, jangan ganggu aku! Hei Loper koran itu kau kan, si-sini tunjukkan wajahmu di hadapanku!" Toni menantang Badut itu dengan tubuh gemetar. Toni, ketakutan sekali mendengar suara dan tawa si badut membuat tubuhnya gemetar, seperti sedang dilanda ketakutan yang sangat dahsyat. Aku yang melihatnya, juga sedikit gemetar mendengar suara dan tawa si Badut jelek itu. Apalagi, Toni yang menuduh bahwa Badut itu adalah diriku. "Loper Koran? Siapa dia? Apa dia pengontrol?" lirih si Badut yang suaranya terdengar samar di telinga karena jarakku yang agak jauh. "K-kau! Si-siapa, Kau sebenarnya Ba-badut sialan?" ucap Toni dengan tubuh yang masih gemetar. Si Badut, tahu tentang pengontrol, apa dia juga seorang pengontrol mimpi. Sial sekali, seperti apa level kekuatan pengontrolnya. Tapi, aku bisa menembus mimpinya juga, berarti level diriku berada di atasnya atau malah setara. Jika setara akan sangat berbahaya untukku, pastinya cepat maupun lambat dia juga akan datang dalam mimpiku. Diri ini harus mencoba sesuatu untuk memastikannya sendiri, walau ini sangat berbahaya sekali. Aku, menampakkan diriku di hadapan Toni, namun aku juga memikirkan agar tidak nampak oleh Si Badut. Dan benar hanya Toni yang melihatku. Tetapi sebelum dirinya menyuarakan tentang kehadiran diri ini, cepat-cepat kusingkirkan Badut itu dari mimpi Toni. Untungnya hal itu berhasil, Toni yang sedari tadi memperhatikanku, mematung dan tanpa mengucap sepatah kata pun. Mungkin dirinya syok, karena Badut yang dia sangka adalah diri ini. Tapi ternyata kehadiranku dalam mimpinya malah membuatnya kebingungan. "Toni! Apa aku bilang, Kau 'kan sudah kutawarkan sesuatu yang menguntungkan untukmu, kenapa malah memukulku tadi pagi?" cercaku kepadanya. "Ja-jadi, Badut itu bukan dirimu?" balasnya. "Menurutmu gimana?" imbuhku. "Kuulangi sekali lagi, bagaimana dengan tawaranku? Badut itu kupastikan tidak akan mengganggumu lagi," ujarku. Toni mulai kebingungan, dengan apa yang telah terjadi dalam mimpinya. Aku terus memperingatkanmu, agar kau tidakk terus-terusan diganggu oleh Badut itu. Besok di tempat yang sama seperti saat kau memukul tubuku. Toni pun melihatku dengan penuh keheranan. Seakan dia menginginkan agar aku membantunya. Namun karena sebegitu gengsinya, membuatnya tak bisa menyebut kata 'iya'. Bahkan saat ini Toni hanya mematung seakan tak sadar diri. "Hei! Kenapa bengong, aku pergi dulu, sampai ketemu besok!" ujarku mengagetkannya. Setelah itu, aku mencoba membayangkan sosok siluet yang selama ini menggangguku, cukup sulit sekali tidak ada yang muncul. Hanya ruang kosong dengan semak-semak yang begitu tinggi menutup pandangan. Karena memang tak berhasil dan tidak ada reaksi, aku memutuskan untuk masuk ke dalam mimpi Aulia. Namun, ketika diri ini memasuki mimpinya, terlihat sosok diriku sendiri yang saat itu sedang membantu orang lain, dan Aulia yang dari jarak tak begitu jauh memandangku dengan penuh rasa kekaguman dan terlihat senyum-senyum sendiri. Aku yang melihat hal itu, merasa bahagia setengah mati. Sepertinya Aulia mulai menyukai diri ini. Tetapi saat ini selalu malu untuk mengakuinya. Setelah itu, entah kenapa diriku tersadar dari mimpi indah tersebut. 'Sial, aku terlalu menggebu-gebu hingga tidak bisa menahan gejolak emosiku," gerutuku. Setelahnya aku melihat jam, dan ternyata sudah semakin lama saja waktu yang bisa kukontrol. Mungkin levelnya sudah naik lagi. Dengan begini kemungkinan, mimpi dimasuki pengontrol lain menjadi sedikit. Jika diri ini bisa mencapai waktu yang lama, maka akan aman dari bahaya pengontrol mimpi lain.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
cerita ini sangat bagus dan seru
08/01/2023
0mau top up
13/06/2022
0sukses selalu
03/05/2022
0Xem tất cả