logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

CHAPTER 2. BAD LUCK

“Jika harus menyerah sedari awal, bukan lagi nasib buruk yang ada melainkan sudah menjadi sebuah kegagalan hidup.”
Malam hari setelah pulang ke rumah, aku langsung membersihkan tubuh dan masuk dalam kamar tanpa keluar lagi. Bukan karena diri ini tidak ingin bertemu dengan ibu dan adikku, tapi dengan kondisi babak belur begini tak mungkin aku menunjukkan diri kepada keluargaku. Hinga tak butuh waktu lama, pintu kamar telah diketuk dan terdengar suara ibu memanggil, untuk menyuruh makan malam bersama.
Tok! Tok! Tok!
“Nak! Aryan! Ayo makan malam dulu, makanannya sudah siap di meja,” ucap ibuku.
“Aryan, kenyang bu, tadi sudah makan dan Aryan sedang lelah sekali, ingin langsung beristirahat, Bu!” jawabku dari dalam kamar.
“Ar! Kamu tidak apa-apa, kan nak?” tanya ibuku dengan ada yang terasa sangat penasaran akan kondisiku.
“Iya, Bu! Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan di pasar tadi ramai sekali,” jawabku meyakinkan ibu.
“Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja biar ibu menemani adikmu makan malam, kalau lapar ambil sendiri saja lauknya ibu sisakan untukmu,” imbuh ibuku.
“Baik, Bu!” jawabku.
Aku sangat lelah, badan juga terasa sakit semua bekas pukulan Toni dan gengnya. Tak butuh waktu lama diri ini sudah terlelap dalam mimpi.
‘Situasi aneh apa ini? kenapa aku sadar kalau aku bermimpi? Rasanya sama dengan mimpi yang kemarin,’ gumamku.
Diri ini kembali mengalami mimpi dalam keadaan sadar, sempat diriku berfikir mungkinkah mimpi ini bisa dikontrol. Akhirnya aku mencoba memikirkan seporsi makanan mahal nan mewah, hidangan khas restoran. Ternyata tanpa diduga bistik yang mahal dan terlihat lezat yang kupikirkan muncul tepat di depan mata.
‘Rasanya sungguh nikmat sekali, benar-benar menu restoran bintang lima. Walau ini hanya mimpi tapi rasanya begitu nyata sekali, beruntungnya diriku,’ gumamku sambil melahap habis bistik yang kumunculkan tadi.
Ternyata benar dalam mimpi ini aku bisa melakukan apa saja sesuai keinginanku. Diri ini membayangkan sambil memejamkan mata, bagaimana jika Aulia dimunculkan dalam mimpi ini, apa mungkin keadaannya sesuai dengan apa yang ada di hati. Tanpa sadar setelah kubuka mata ini, ternyata diri ini bangun dari mimpi. Sial sekali padahal sudah punya surga sendiri walaupun dalam mimpi. Waktu masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari, padahal terasa begitu lama diri ini terlelap.
Kembali pergelangan tangan kiri bagian dalam terasa sakit sama seperti sebelumnya. Terlihat pada pergelangan tangan kiri, nampak pancaran cahaya yang tidak begitu terang namun cukup membuat jantung ini berdetak begitu kencangnya. Tanda itu kini semakin jelas walau bentuknya kecil tapi cukup membuat banyak mata melirik dan menganggap diri ini mentatonya. Entah apa yang sebenarnya terjadi, hingga harus mengalami kejadian yang begitu aneh seperti ini.
Karena perut sudah terasa sakit, kejadian tadi sudah tidak begitu kuhiraukan. akhirnya aku memutuskan untuk beranjak pergi, ke kamar mandi yang letaknya di luar rumah. Beberapa saat setelah selesai dengan urusanku yang tidak bisa ditunda, tak peduli presiden sekalipun. Saat keluar dari kamar mandi kembali terlihat sosok siluet dari arah semak belakang rumah.
“Hei! Siapa di sana?” Dengan gemetar dan suara yang terdengar takut kupanggil sosok itu.
Hening tanpa jawaban, hanya suara panggilanku yang tadi masih terdengan di kepala, membuat suasana semakin horor. Sialnya diriku berada di luar rumah dan suasana memang sedang sepi serta gelap gulita. Sosok itu masih tetap mematung, menampakkan wujudnya namun tanpa adanya jawaban, membuat diri ini semakin takut.
“Hei! Siapa ya di sana?” tanyaku kembali.
“Percayalah, Kau akan menyesal jika mencari tahu lebih jauh lagi! Cukuplah kau tahu bahwa kehadiranku pertanda siapa diri kamu saat ini, karena kau telah berbeda dari sebelumnya, Pengontrol mimpi! Hahaha.“ Dengan memperjelas sosoknya yang sangat mirip seperti manusia, dia mengucapkan kata-kata itu dan diakhiri dengan tawa ringkih yang menambah suasana horor malam ini.
Sial sekali, tubuhku bergetar hebat dan cepat-cepat kugerakkan menuju ke dalam rumah. Benar-benar suasana horor barusan membuat tubuh ini merinding hebat. Hampir saja diri ini jatuh pingsan. Beruntungnya tubuh masih bisa diajak berkompromi dan cepat-cepat meninggalkan kamar mandi yang begitu horor tadi.
Di dalam kamar, sulit bagiku untuk memejamkan mata, suasana tadi masih terekam jelas di otak ini, menimbulkan rasa penasaran yang begitu besar. Hati dan pkiran ini begitu yakin itu adalah sosok manusia bukannya hantu. Siapa sebenarnya sosok itu, suaranya tidak begitu asing namun tawa ringkihnya begitu sangat menakutkan hingga kudukku tak segan untuk menampakkan diri.
Hingga sampai terakhir kali kulihat waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi dan diri ini sudah terlelap kembali dalam buaian mimpi, tapi tidak seperti tadi.
Kriing! Kriing! Kriingg!
Bunyi weaker usang kesayanganku membangunkan mimpi indah, waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi, membuat diri ini tak sadar akan kejadian yang telah kualami tadi malam. Bergegaslah diri ini menuju kamar mandi dan bersipa-siap untuk menunaikan aktivitas hari ini.
Jam 07.00 pagi, setelah mengantar koran kepada para pelanggan, aku sudah sampai kampus dengan rasa yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, rasanya begitu bersemangat sekali pagi ini. Hingga tak kusangka pucuk dicita ulam pun tiba. Ya, Aulia Kusuma Wardani, wanita yang membuat jantung ini terasa berdegup kencang ketika memandangnya. Kini dia berpapasan denganku dan menyapa begitu ramahnya, menampakkan wajah manis dan cantik yang selama ini hanya bisa kupandangi dari kejauhan.
“Pagi, Ar! Sepertinya pagi ini semangat sekali beda dari biasanya,” tegurnya saat berpapasan denganku.
“E-eh, Aul! Gak kok, sama seperti biasa, Aul juga cantik sekali pagi ini,” balasku memuji keindahan parasnya.
“Aryan, bisa aja sih, ya udah kita ke kelas bareng yuk!” ajaknya dengan begitu ramah kepadaku.
Lama tak kujawab ajakannya, pikiranku langsung tertuju pada Toni. Ya, bagaimana nantinya jika diri ini masuk ke ruang kelas bebarengan dengan Aulia, bisa mampus diriku dihajar Toni dan gengnya.
“Ar! Aryan! Ayo kok melamun!” Lambaian tangannya di depan netraku, membuatku terkejut.
“E-eh iya, Aul! Aul duluan saja ya, aku masih mau ke kantin sebentar mau membeli sarapan,” alibiku aga tidak bersamanya menuju kelas karena bisa membahayakan diriku sendiri.
“Baiklah, aku duluan ya, Ar! Sampai bertemu di kelas!” ucapnya sambil berlalu dan melambaikan tangan ke arahku.
Belum sempat kuangkat tangan ini, hendak membalas lambaiannya, terlihat dari jauh anak buah Toni sedang memperhatikan ke arah Aulia dan diriku.
‘Mampus aku hari ini, bagaimana ini sudah pasti aku harus menerima pukulan dari Toni dan gengnya lagi,’ gumamku meratapi nasib buruk yang akan menimpaku sebentar lagi.
Benar saja apa yang telah kupikirkan, tak butuh waktu lama, Toni dan gengnya sudah menungguku di depan kelas.
“Hei, Loper koran! Kebetulan sekali aku sedang ada perlu denganmu, hahaha,” ucapnya dengan tatapan penuh kebencian.
“Maaf, aku harus ke kelas, aku harus menyelesaikan tugasku hari ini,” balasku beralasan untuk menjauhi mereka.
“Hei! Hei! Rajin sekali Si Loper koran kita pagi ini,” ucapnya dibarengi tawa para anak buahnya.
“Seret dia, ke belakang kampus, cepat!” suruhnya dengan tegas kepada para anak buahnya.
Kembali lagi aku dipukuli habis-habisan pagi ini. Diri ini sadar dengan apa yang terjadi pagi ini karena telah bertegur sapa dengan Aulia sebelumnya.
“Kau, tak punya telinga atau apa, berapa kali kubilang jauhi Aulia! Mau kuputuskan daun telingamu itu, biar kau jera hah!”
Dengan marah lalu dia dan gengnya pergi meninggalkan diri ini yang sudah babak belur dengan bibir berlumuran darah. Aku bangun dengan susah payah dan berjalan terseok-seok menuju kamar mandi kampus.

Bình Luận Sách (83)

  • avatar
    Wnda Andri

    cerita ini sangat bagus dan seru

    08/01/2023

      0
  • avatar
    ArdaMuhammad

    mau top up

    13/06/2022

      0
  • avatar
    coemarcoem

    sukses selalu

    03/05/2022

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất