Tổng cộng : 40pintu coklat nomer tujuh
Solo menyambutku dengan desah angin panas dan aroma rempah yang asing. Deru mesin mobil ayahku melam
readmore Bau asing bantal kapuk
Ketukan pintu itu kembali terdengar, lebih berani, seolah tidak mau dibantah. Aku terlonjak, menatap
readmore sarapan omelan
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Suara ketukan di dinding yang mengakhiri riuhnya obrolan dari kamar
readmore Gula Jawa dan sapaan
Aku masih merasakan beratnya tatapan Bu Ratih, bahkan setelah ia kembali ke cangkir tehnya. Tugas kh
readmore suara yang tak pulang
Malam hari, setelah mendengar cerita Mei Lin tentang pintu terkunci di balik kamarku, rasanya sepert
readmore Kilas Balik: Nasehat Ibu
Kata-kata Mei Lin masih menggantung di udara dapur kos, menusuk ulu hatiku. “Terkadang, menolong ora
readmore anak jakarta
Angin pagi yang dingin tak mampu mengusir gerah di hatiku. Setelah percakapan berat di dapur, dan ba
readmore Sketsa di Teras Belakang
Rasa sesak itu masih menggelayuti dadaku. Perkataan Fajar tentang aksenku, tentang kampungku, berput
readmore mesin cuci berulah
Pagi setelah percakapan di teras belakang kos, di antara semilir angin dan aroma mangga yang matang,
readmore obrolan di bawah jemuran
Sinar mentari pagi terasa hangat di kulitku saat aku membawa ember berisi pakaian yang sudah bersih,
readmore Bab 11
Pikiranku seringkali melayang, melambung jauh melintasi dinding-dinding kos yang tipis, kembali ke r
readmore bab 12
Misteri Mas Arya bagai kabut tebal yang menyelimuti kos. Setiap langkah kakiku terasa berat, setiap
readmore Bab 13
Malam itu, setelah bayang-bayang Ayah dan janji dalam hati untuk Mas Arya sedikit mereda, rasa lapar
readmore bab 14
Malam setelah "perang" Indomie dengan Fajar menyisakan rasa aneh. Hangatnya mi instan dan obrolan ta
readmore bab 15
Slam! Suara pintu kamar Mas Arya yang dibanting itu menghantam gendang telingaku, bukan hanya sebagai
readmore bab16
Kos kami memang sempat diselimuti keheningan yang menyesakkan, seperti gema dari pintu kamar Mas Ary
readmore bab 17
Kenangan itu, bagai arus dingin yang tiba-tiba menyerbu, menarikku mundur dari bibir kos, menjauh da
readmore bab 18
Perasaan bodoh, seperti plester yang menempel erat di hati, mengikuti setiap langkahku. Setelah insi
readmore bab 19
Kepergian Fajar yang terburu-buru itu menyisakan keheningan yang lebih pekat daripada biasanya. Aku
readmore ban 20
Sepertinya, ada sesuatu yang aneh Namun, rutinitas pagi mengusir bayangan itu n perlahan. Bu Ratih s
readmore Bab 21
Malam itu, di bawah rembulan purnama, perkataan Mei Lin dan tatapan hangatnya terasa bagai tamparan
readmore Bab 22
Aku tersentak duduk. Suara batuk itu berasal dari kamar Bu Ratih, yang letaknya tepat di bawah kamar
readmore Bab 23
Pendarahan internal? Paru-paru? Kata-kata sang dokter muda itu menghantam kami seperti palu godam, l
readmore Bab 24
Mas Arya tidak pernah seterbuka ini. Ekspresi di wajahnya, gurat keputusasaan yang begitu dalam, mem
readmore Bab 25
Pernahkah kau merasa begitu dekat dengan sebuah harapan, seolah bisa kau sentuh ujungnya, lalu dalam
readmore Bab 26
Hari-hari setelah pasar malam itu terasa seperti kabut tebal yang menyelimuti seluruh diriku. Ada se
readmore Bab 27
Malam itu, kata-kata Li Hua masih berputar di kepalaku, menumpuk bersama tumpukan rasa bersalah dan
readmore Bab 28
Pagi itu, bahkan aroma nasi goreng Bu Ratih yang biasanya mampu membangkitkan selera, terasa hambar
readmore Bab 29
Aku masih merasakan getaran tekad dari pengakuan dalam diriku tadi. Duduk di teras kos yang sudah re
readmore Bab 30
Aku ingat betul, malam itu, keheningan terasa lebih memekakkan telinga daripada apa pun. Setelah per
readmore Bab 31
SMS itu. Isi pesan singkat itu seperti sebilah pisau dingin yang menyentuh tengkuk kami. Besok sore.
readmore Bab 32
Ketukan keras di pintu depan malam itu terasa seperti gedoran takdir. Kami bertiga – aku, Mei Lin, d
readmore bab 33
Kata-kata Bu Ratih hari itu menggantung di udara seperti gema lonceng peringatan, membangunkan kami
readmore bab 34
Suara mobil itu, yang baru saja memecah keheningan dini hari, kini terasa seperti palu godam yang me
readmore Bab 35
Ancaman Pak Herman barusan, tentang mengambil barang-barang berharga, bahkan kos kami sendiri, teras
readmore bab 36
Tangan pria itu menyentuh kenop pintu. Sebuah celah kecil terbuka, menguak kegelapan di dalam lorong
readmore bab 37
Tangan pria diam itu terulur, bukan ke kenop pintu, melainkan ke arah Mas Arya. Sebuah bisikan memat
readmore bab 38
Malam setelah kejadian yang hampir merenggut ketenangan kami, suasana kos terasa aneh. Bukan hening
readmore bab 39
Udara di kos terasa sedikit berbeda pada hari itu. Bukan lagi tegang oleh bayang-bayang ancaman, mel
readmore Bab 40 (tamat)
Musim itu, yang terasa bagai napas panjang sebuah novel, akhirnya mencapai halaman terakhir tahun aj
readmore
bagus bgt ceritanya menarik sekali
30/10
0seru
15/10
0lanjutkan
10/10
0ok bagus
09/10
0INI CERITAAA KERENNNNNN
05/10
0wah menarik
28/09
0lurvee
28/09
0seruu
27/09
0mantap
26/09
0Cerita yang bagus
25/09
0