Seorang wanita berparas cantik mengenakan dress navy selulut dengan balutan blazer berwarna senada sedang berjalan memasuki gedung berlantai tiga puluh satu milik perusahaan City Grup. Senyum manis itu menyapa karyawan dengan ramahnya. Wanita berkulit putih itu memasuki lift dan menekan angka dua puluh delapan. Tingg … Terdengar bunyi berdenting, yang menandakan pintu lift terbuka. Setelah pintu terbuka wanita itu berjalan santai menuju ruang Manager. Kemudian dia membuka pintu lalu menuju meja kerja dan meletakkan tas miliknya. Ruangan yang luas dan nyaman itu menjadi tempat kerjanya untuk mengeluarkan ide briliant. Wanita cerdas dan ulet itu saat ini menduduki posisi Manager di perusahaan tersebut. Jejak karir yang cermelang di usianya yang masih dua puluh lima tahun. “Banyak juga dokumen yang harus aku cek hari ini.” gumam Dila sambil menatap beberapa dokumen di mejanya. Wanita itu lalu membuka satu persatu dokumen tersebut untuk di cek apakah datanya sudah lengkap atau ada yang kurang. Saat membuka dokumen lainnya, wajah wanita itu berubah dengan terangkatnya alis kirinya. Tertera dalam kertas tersebut bertuliskan Perjanjian Kerja Sama dengan PT Mahendra Sejahtera. Perusahaan itu merupakan milik Baskoro Mahendra yang tak lain adalah Ayah dari Melia, rival Dila waktu SMA. Kebetulan Ayah Melia juga pemilik yayasan Sekolahnya dulu, perseteruannya dengan Melia yang menjengkelkan itu tersimpan dengan baik di otak Dila. Menurut Dila, Melia adalah orang pengecut dan pendusta. Tok tok …
Terdengar ada yang mengetok pintu ruangannya, segera Dila mempersilahkan pengetok pintu itu masuk. “Ibu nanti dijadwalkan metting jam 10.00 siang dengan PT Mahendra Sejahtera di restoran Grenada,” ucap Heni yang merupakan Sekretaris Dila. “Oke, kamu siapkan dokumen yang diperlukan dan satu pesan saya jangan sok panggil saya Ibu, Heni,” sahut Dila tak suka jika di panggil dengan julukan Ibu. “Baik Bu, aku hanya engga enak aja panggil nama pas di kantor. Aku kan profesional .” Ucap Heni tertawa lalu meninggalkan ruangan Dila. “Gaya kau memang.” Teriak Dila sambil menggelengkan kepalanya. Heni adalah wanita manis berkulit kuning langsat dengan rambut ikal yang merupakan teman dan terbilang dekat dengan Dila. Dimata Heni adalah Dila atasan yang baik dan juga Dila dikenal dengan sosok yang menyenangkan. Heni memanggil Dila dengan sebutan Ibu saat mereka metting atau saat bersama dengan Direktur Utama. Dan waktu berada di luar kantor Heni memanggilnya Dila tanpa embel-embel Ibu. Saat ini jam menunjukkan pukul 09.25 WIB, Dila yang ditemani Heni turun kelantai satu lalu menuju ke restoran Grenada untuk metting dengan menaiki mobil civic miliknya. Tidak membutuhkan waktu yang lama sampai di restoran karena jalannya tidak macet. Kemudian Dila dan Heni berjalan dengan anggunnya menuju meja no dua belas. Terlihat perwakilan dari PT Mahendra Sejahtera sudah datang yang diwakili oleh Melia dan dua rekan kerjanya. “Mungkin ini reuni yang paling terkesan!” gumam Dila karena untuk pertama kalinya ia akan melihat Melia. “Selamat siang Ibu, silahkan duduk.” Mereka menyapa dan menyalami Dila dan Heni. Dila dan Heni mengangguk lalu duduk di kursi yang kosong. Setelah duduk, Dila melihat satu persatu perwakilan dari PT Mahendra Sejahtera, dan tatapan mata itu tertuju pada seorang wanita yang sangat dikenalnya waktu SMA dulu, dia adalah Melia. Wanita yang dulu pernah membuatnya takut pada sekolah.
“Bagaimana keadaanmu?” sapa Melia pada Dila. Dila terdiam sejenak untuk menguatkan hatinya menghadapi Melia,“seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja!” jawab Dila tenang. “Sepertinya sekarang kamu terlihat lebih stylist dan kamu terlihat seperti orang kaya, atau mungkin kau berlagak seperti orang kaya?” sambung Melia dengan pertanyaan sinis pada Dila. “Memang sekarang aku orang kaya dengan karir yang cermelang, tidak sepertimu yang selalu jadi benalu!” jawab Dila dengan kalimat sindiran. “Ternyata jadi OKB membuatmu menjadi orang yang sombong!” Melia semakin memancing emosi Dila. “Yaa orang kaya sepertiku memang harus menyombongkan diri agar bisa membuatmu iri!” sahut Dila pada Melia tak kalah menusuk. “Saya tidak punya banyak waktu untuk melayani obrolan tidak bermutu, langsung saja kita mulai metting atau metting ini kita tunda!” lanjut Dila dengan ucapan yang mampu membuat Melia terdiam. “Sepertinya dia sekarang mulai berani padaku, lihat saja nanti.” Gumam Melia. Saat itu perwakilan dari PT Mahendra Sejahtera sedang menjelaskan poin demi poin kerjasama dengan amat meyakinkan dan terperinci. Mereka menjelaskan dengan rapi dan apik, penjelasan yang menurut Dila sangat baik dan mampu membuat orang tidak berfikir lama untuk menyetujui kerjassama itu. Namun Dila sangat mengerti tentang nasib perusaahan itu, sebelum berangkat metting, Dila mencari tahu informasi permasalahan yang di hadapi perusahaan tersebut. “Apa yang membuat kalian begitu yakin jika kami mau berinvestasi dia perusahaan kalian, sedangkan yang saya tahu perusahaan kalian saat ini sedang mengalami penurunan baik itu produksi, pelayanan dll. Bahkan saat ini perusahaan PT Mahendra Sejahtera sedang di landa hutang yang besar dan bahkan rumornya ada kasus korupsi yang melanda sehingga banyak investor yang membatalkan kontrak sampai banyak karyawaan perusahaan yang di PHK.” Ungkap Dila menjelaskan dengan gamblang tentang perusahaan itu. Semua tim dari PT Mahendra Sejahtera hanya terdiam dan terkejut saat Dila mengetahui semuanya, sampai akhirnya Melia berbicara. Karena yang mereka tahu, perusahaan menutupi permasalahan yang melanda agar reputasi perusahaan itu tidak semakin menurun. “Memang perusahaan kami sedang dilanda ketidakpecayaan investor tetapi kami meyakinkan City Group berinvestasi dengan perusahaan kami. Disini kami tengah berkerja keras untuk mengembalikan kepercayaan investor dengan kerja yang nyata, dan jika perusahaan kalian memberi kepercayaan itu kami tidak akan mengecewakannya.” Sambung Melia berusaha meyakinkan tim dari City Group. “Apa alasan itu membuat kami percaya, Tentu tidak. Jaminan apa yang akan kalian berikan jika nantinya tidak sesuai dengan ekspetasi? Kami tidak mau jika proyek yang kami percayakan pada persahaan anda akan mangkak,” Sahut Dila. Belum sempat pihak PT Mahendra Sejahtera menjawab Dila melontarkan pernyataan lagi,“apakah kalian berani menyerahkan saham perusahaan pada kami sebesar 50% jika semuanya gagal?” tawar Dila yang membuat pihak PT Mahendra Sejahtera tak percaya. “Tidak bisa seperti itu,” Melia menjawab. “Kenapa tidak bisa? bahkan nilai saham kalian saat ini anjlok di harga pasaran. Nilai investasi kami bahkan bisa membeli semua saham kalian,” sambung Dila percaya diri. “Saham yang kami pegang saat ini hanya 70% dan 30% lagi sudah kami jual untuk umum jadi sepertinya memang tidak bisa karena memang saham kami tidak bisa diserahkan untuk umum lebih dari 30%,” jawab Melia hati-hati. Tidak mau gegabah, Dila memberi pertimbangan untuk perusahaan itu,“kalau begitu kami tidak bisa menerima tawaran perusahaan kalian, silahkan cari perusahaan lain yang mau di ajak bekerjasama. Tapi saya pikir kalian akan mengalami kesulitan. Masih banyak perusahaan lain yang mengajak berkerjasama dengan kami dan mungkin harga yang di tawarkan jauh lebih efisien daripada perusahaan anda. Perusahaan di luar sana banyak yang ingin bekerjasama dengan kami karena perusahaan kami merupakan perusahaan yang bergengsi. Atau mungkin kalian bisa berfikir terlebih dahulu untuk memutuskannya, saya beri kalian waktu satu hari sampai nanti bisa mengkonfirmasi apakah bersedia atau tidak.” Dila menambahkan.
Dila berani berbicara seperti itu agar bisa membalas perbuatan Melia saat SMA dulu. Dila yang dulu sangat berbeda dengan Dila yang sekarang. “Baiklah kami akan mempertimbangkan usulan anda,” sambung Melia. “Oke, kalau begitu kita akhiri metting ini saya dan sekretaris saya pamit. Terimakasih.” Dila pamit lalu pergi untuk kembali menuju ke kantor. Setelah metting, Melia sedari tadi hanya diam, ia bingung harus berbuat apa. Dia takut jika gagal berinvestasi dengan City Grup nantinya pasti kena amuk Ayahnya. Sedangkan Dila meninggalkan area restoran dengan perasaan yang berkemacuk dan ingin sekali meninggalkan restoran itu. “Sudah lama rasa luka ini aku obati tapi luka ini kembali datang dalam hitungan detik saja, mengapa aku bertemu lagi dengannya!” Gumamnya lirih.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
mantap
23/04
0sukaaa bangetttt
02/04/2025
0sangat bagus menarik
10/03/2025
0Tingnan Lahat