logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Tugas Fisika

Bagi Gilang ini sudah yang kesekian kalinya pergi ke rumah Cinta, pintu gerbang yang menjulang tinggi berwarna hitam berdiri kokoh, pintunya juga tertutup rapat karena sang pemilik rumah tidak ada.
"Makasih ya, Lang," ucap Cinta ketika melepaskan helm yang ia kenakan tadi.
"Sama-sama."
"Lu gak mau mampir dulu?"
"Kapan-kapan aja, Ta. Gua harus ngobatin luka di muka gua juga."
Bahas tentang luka Gilang membuat Cinta merinding, pasalnya wajah Gilang benar-benar lebam dan itu rasanya pasti sakit sekali. Cinta saja yang hanya mendapati luka di sudut bibirnya perih, bagaimana dengan Gilang?
"Sorry, gara-gara gua, lu jadi begini."
"Santai aja. Lagian gua udah biasa begini, lu jangan ngerasa bersalah."
"Makasih, Lang."
"Buat?"
"Lu udah baik sama gua, nolongin gua juga."
"Lu juga baik sama gua, lagian udah seharusnya gua begini sama lu."
Kalimat terakhir Gilang terasa mengganjal di hati Cinta. Seharusnya? Apa yang dimaksud seharusnya?
"Maksudnya?"
Hanya semburat senyum yang Gilang berikan padanya, itu malah membuat Cinta bingung tidak mengerti.
"Gua balik dulu, ya. Lu harus istirahat."
"O-oh, iya. Hati-hati."
Gilang kembali memakai helmnya sebelum menyalakan mesin motor, Cinta melempar senyumnya kilas ketika Gilang mulai pergi.
Cinta menghela nafas, jalannya terlihat gontai ketika masuk ke dalam rumah karena lelah. Cinta sudah sangat merindukan ranjangnya, ingin cepat-cepat berbaring.
***
Cinta masih berkutat dengan tugas fisika yang sempat ia lupakan, padahal besok dikumpulkan. Pikiran lain sempat terlintas dibenaknya, apa ia harus cari jasa joki tugas saja di internet?
"Astaghfirullah, ini pakai rumus yang mana sih? Bingung gua."
Secarik kertas yang dipenuhi coretan pensil kembali dibuang ke tempat sampah yang terletak di samping meja belajar, banyak sampah kertas berceceran di lantai karena Cinta tidak membuangnya dengan benar.
"Gua chat Melan aja kali?"
Matanya mencari-cari di mana letak ponselnya berada, ia sampai melupakan salah satu barang yang jarang orang lupakan keberadaannya.
Ketika memutar kursinya ke belakang, ternyata ponselnya tergeletak di atas ranjang. Cinta segera mengambilnya, namun baru saja ia memegangnya tiba-tiba ada telepon masuk.
Bola mata Cinta membulat ketika melihat nama yang terpampang jelas di layar ponselnya 'Gilangmalvino'.
Cinta panik bukan main, ia bingung harus menjawab teleponnya atau tidak? Selain karena canggung, ia juga tak tahu apa niat Gilang meneleponnya malam-malam. 
Akibat tubuhnya yang tidak sinkron, jempolnya tidak sengaja menekan bagian layar yang seharusnya tidak ia lakukan.
"Halo?"
Suara berat Gilang terdengar oleh telinganya, tapi Cinta tak langsung menjawab. Ia malah mondar-mandir sambil menatap layar ponselnya sebal, mulutnya terus komat-kamit menyumpahi jarinya yang telah bersekutu. 
"Halo?"
Suara Gilang terdengar lagi, membuat Cinta tak ada pilihan lain sekarang. Ia mengambil nafas panjang selama beberapa detik, sampai akhirnya memberanikan diri menjawab telepon Gilang. 
"I-iya kenapa?"
"Harusnya gua yang tanya, kenapa lu daritadi diem aja?"
"Oh, itu ... " Cinta berpikir sejenak mencari jawaban yang sekiranya membuat Gilang percaya, sampai akhirnya ia menatap buku tugasnya yang masih tergeletak di meja belajar.
"Itu, Lang ... Gua lagi nugas ahaha sorry ya," ucap Cinta tertawa canggung, walau terdengar payah tapi ia tidak berbohong. 
"Nugas apa?"
"Fisika."
"Oh, fisika. Udah?"
"Belum, ada beberapa yang gua gak paham. Mana masih banyak, mungkin besok pagi gua mau lihat punya Melan aja."
"Mau gua bantu?"
"Eh?"
"Pelajaran Bu Daya kan? Coba lu pap soalnya ke gua."
"B-bentar."
Buru-buru Cinta merubah ponselnya ke mode kamera, dirasa hasil potretannya sudah bagus dan tidak blur, langsung saja ia kirimkan ke Gilang. 
"Udah, Lang."
"Gua lihat dulu."
Cinta benar-benar menantikan bagaimana tanggapan Gilang, apa ia betulan bisa mengerjakannya? Baru kali ini ada orang yang menawarkan diri ingin membantu mengerjakan tugas padanya, terlebih lagi fisika.
"Udah gua lihat, bagian mana yang gak lu ngerti?"
"Itu sih ... Nomor 2 sama 3," jawab Cinta sedikit ragu. 
"Gua bantu. Sebelumnya gua pengen lihat juga pengerjaan lu di nomor satu gimana."
"Emm ... Oke."
"Lewat telepon gini, ribet. Gimana kalo vc aja? Biar lu gak ribet harus kirim pap terus."
Belum sempat Cinta melontarkan jawaban, tapi Gilang sepertinya tidak sabar karena lelaki itu sudah merubah mode telepon ke video call.
Bukannya diangkat, Cinta malah lari ke arah meja rias. Rambutnya yang berantakan segera ia sisir, bibirnya tak lupa diolesi lipbalm berwarna Candy agar tidak terlihat pucat. 
"Sorry ya, lama. Tadi ada kecoa terbang, jadi gua cari sapu dulu." alasan yang tidak logis tiba-tiba terlontar begitu saja.
"Iya gapapa."
"Jadi gimana?"
"Pengerjaan lu di nomor satu mana?"
Cinta mengambil kembali ponselnya yang ia simpan di atas tumpukkan buku, kamera belakangnya diarahkan ke buku tugas.
"Gimana?"
"Oke, udah cukup. Sekarang ke nomor berikutnya."
Secarik kertas yang Cinta gunakan untuk mengotret tadi, ditunjukkan ke Gilang. Coretan abstrak tidak jelas memenuhi hampir seluruh bagian kertas, menggambarkan bagaimana frustasinya sosok Cinta yang tak bisa menemukan jawabannya. 
"Pantes aja lu gak bisa nemu jawabannya, sebelum masuk rumus biasain rinci dulu yang di soal."
"Emm ... "
"Itu yang nomor dua ada yang kurang, pertambahan panjangnya belum lu sederhanain biar gampang ."
"Gimana?"
"Pertambahan panjang udah di ketahui kan 0,01 mm, coba lu-"
"Oh, gua ngerti!"
Pensil yang sedari tadi menganggur kembali Cinta gunakan, ia kembali bersemangat berkat Gilang yang membantunya.
"Terus gimana?"
"Disuruh cari tegangan, regangan sama modulus elastisitas si kawat kan? Masukin rumus tekanan dulu."
"Gua coba."
Sementara Cinta sibuk mengerjakan soal, Gilang memberikan penjelasan materi padanya. Rentetan kata yang Gilang lontarkan sangat mudah ia pahami, kalau seperti ini terus pasti nilai nya bisa meningkat. 
Selama itu pula Gilang tidak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, ia menikmati setiap detik gerak-gerik gadis yang sibuk dengan tugasnya. Gilang sendiri tak bisa menyembunyikan senyumnya ketika Cinta panik mencari penghapus miliknya tidak ada di meja, padahal jelas-jelas penghapusnya berada dalam genggaman tangannya. Wajah gadis itu terlihat merah padam akibat menahan rasa malu, Gilang menertawainya dalam hati. 
Tidak sampai 30 menit, tugas sekolah selesai dalam waktu 5 menit. Cinta masih tidak percaya, baru kali ini ia bisa mengerjakan soal fisika secepat ini.
"Akhirnya!" seru Cinta.
"Gampang kan?"
"Iya, ternyata jawabannya gak serumit itu."
"Gua perhatiin, lu orangnya cepet tanggap. Tapi juga cepet lupanya."
"Eh? Emang keliatan?"
"Lu harus banyakin soal latihan."
"Iya sih, makasih banyak ya udah bantu gua."
"Santai aja, lagian gua juga seneng bisa bantu lu."
Melihat Gilang tersenyum, entah kenapa hati Cinta jadi terasa hangat. Muka datarnya yang sedingin es batu, siapa sangka ternyata ia memiliki senyum hangat seperti sinar matahari pagi. 
"Cinta."
"Hm?"
"Gua udah berusaha nahan diri, tapi gua gak bisa bohongin diri gua sendiri."
"Ngomong aja, emang soal apa?"
"Lu."
"Gua? Gua kenapa?"
"Lu cantik."
Cinta langsung mematung di tempat, detak jantungnya kumat lagi. Mati-matian Cinta menelan ludahnya agar terlihat biasa saja, tapi kakinya terus gerak sana-sini. 
"A-apaan sih, Lang." Cinta memalingkan wajahnya dari layar ponsel.
"Gua serius."
Gilang sendiri menyadari perubahan Cinta saat ini, gadis itu salah tingkah. Wajahnya juga sudah berubah warna kemerahan. Terlihat gemas sekali, sampai rasanya Gilang ingin mendatangi rumah Cinta sekedar ingin mencubit pipinya. 
Sementara Cinta sudah tidak tahan, ditatap oleh Gilang sedari tadi membuatnya gerah. Ia harus segera keluar dari situasi ini.
"Duh, udah malem. Gua harus tidur," kata Cinta menatap jam beker yang tersimpan di meja belajar. Sudah pasti gadis itu berbohong, karena sebelum tidur selalu membaca komik terlebih dahulu sampai matanya lelah. 
"Ya udah, Ta. Lu istirahat aja, selamat tidur."
"Iya, lu juga."
Setelah Gilang memutuskan sambungan, Cinta menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi berusaha rileks. Kedua tangannya menangkup pipinya sendiri yang terasa panas.
"Padahal tadi, Gilang cuma muji gua cantik. Tapi kenapa respon gua berlebihan gini?"

Komento sa Aklat (222)

  • avatar
    Chrystian Lomboris

    bagus boss

    30/06

      0
  • avatar
    MineBfly

    keren bingit iima

    06/01

      0
  • avatar
    EmeberfellCrystalla

    keren!!!

    09/12

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata