logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Frustasi

Suara musik menggema langsung memenuhi gendang telinga saat mengambil langkah pertama ke tempat itu, muda-mudi bergerak seirama dengan lantunan lagu disko yang memanas. Banyak sekali perempuan yang memakai pakaian kurang bahan, belum lagi bau alkohol yang menusuk indra penciuman.
Banyak geng motor yang sering datang setiap hari, salah satunya geng motor elit yang setara dengan Avenged. Mereka adalah BGB—Bravery Boys Girls—geng sadis lainnya, malam ini kebetulan mereka datang ke diskotik sekadar minum-minum sambil melihat liukan tubuh gadis-gadis yang menari.
Satu botol dalam genggaman tangan Agus sudah diteguk setengahnya, minuman yang selalu ia pesan tak lain adalah whisky. "Makin hari, makin banyak aja orang-orang baru di sini. Apalagi cewek-ceweknya."
"Kerjaan lu mantengin cewek-cewek bohay," ucap Ana.
"Gak bohay gak mantep, Na," balas Agus.
"Stres emang." Sinta ikut menimpalinya.
Tak beda jauh dengan beberapa geng lain, BGB juga memiliki 2 anggota wanita. Hanya saja mereka ini bisa dibilang lebih parah dari Avenged, pergaulan bebas sambil memanjakan diri dengan uang menjadikan mereka berandal royal.
BGB dikenal pemberontak, tidak suka dibantah, dan tidak tahu aturan. Dalam sehari ada saja yang dijadikan objek mainan di sekolah dan setiap hari selalu bergilir, sayangnya tak ada yang berani melaporkannya kepada pihak sekolah. Karena mereka tahu hal itu akan sia-sia, kasta sangat berlaku di sana. Bila Avenged pentolan dari SMANISKU, maka BGB adalah pentolan SMAGENTA.
Asap rokok berhembus dari mulut Ana memberi sedikit gaya seperti bentuk cincin, ia adalah gadis pecandu rokok. "By the way, ketua kita kapan datangnya?" matanya menatap teman-temannya secara bergantian.
"Kayaknya bentar lagi juga nyampe, tunggu aja," balas Tian sambil menghisap rokok.
Beberapa orang terlihat menyingkir memberi jalan kepada seseorang yang baru datang, tidak salah lagi ternyata itu Riyan dan Nanda. Tak sedikit penghuninya histeris kegirangan, pesona Riyan sebagai Ketua BGB bukanlah main-main.
Bagi mereka yang suka lelaki badboy, pasti akan sangat tergila-gila pada Riyan. Ia memakai jaket kulit hitam mengkilap, rambutnya sedikit berantakan tapi pesonanya malah jadi berlipat-lipat, rahangnya yang tajam menambah kesan seksi bagi siapa pun yang melihatnya.
Sedangkan Nanda di sebelahnya memakai kaos hitam berukuran pas sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya yang berotot, di lehernya menggantung kalung rantai, ia memiliki hidung mancung diantara rekan-rekannya.
Keduanya langsung menempatkan diri di sofa, beberapa pasang mata bahkan masih belum mengalihkan pandangannya sekarang.
"Si ganteng-ganteng kita akhirnya dateng juga." Agus menyapa dengan sedikit ledekan di dalamnya.
"Langsung jadi pusat perhatian gitu ya," ucap Ana.
"Bawain gua wine," titah Riyan lalu menyandarkan punggungnya, ia tidak tertarik meladeni puluhan gadis yang sudah melempari kode minta dilayani.
"Gua bawain, lu mau apa, Nan?" tanya Sinta.
"Coctail," jawab Nanda singkat.
"Oke bos, tunggu ya." Sinta segera beranjak mengambilkan pesanan, botol minumannya juga kebetulan sudah habis.
"Banyak orang baru gua perhatiin." setelah sekilas menatap sekitar, fokus Nanda beralih pada layar ponsel.
"Yoi, gak ada yang kecantol nih?" tanya Tian.
"Kagak."
Kekehan ringan keluar dari Riyan, tangannya menepuk-nepuk bahu Nanda di sebelahnya. "Move on, Nan. Masih aja gamonin dia," ucapnya. "Gak penting juga lu mikirin mantan, kayak yang dipikirin balik aja."
Agus menganggukan kepalanya setuju. "Elah, cewek bohay banyak gini masa gak ada yang nyangkut? Awas kelainan."
"Anj*ng, gua masih normal." mata Nanda menajam, membahas masa lalu sedikit sensitif untuknya.
"Gak usah ledekin si Nanda, bahaya ini tempat bisa rusak." Ana memperingatkan, takut jika emosi Nanda terpancing lalu memorakporandakan tempat ini untuk kedua kalinya.
"Anjir, hahaha. Iya sih, ngeri." Agus tentu masih mengingat hari itu, jadi ia tidak melanjutkan pembahasannya.
Pesanan sudah datang, Sinta membawa tiga botol dan satu untuknya. Meminum satu botol tidaklah cukup, ia pernah menghabiskan lima botol sampai tremor merepotkan Ana yang terpaksa ikut pulang dan memesan taksi.
"Lu bukannya abis minum?" tanya Ana ketika melihat Sinta meneguk botol baru.
"Yaelah, baru juga sebotol," balas Sinta kemudian menunjuk botol kosong di meja dengan dagunya. "Noh, udah abis."
"Gak bakal gua tolongin sih kalau tremor lagi," sambung Ana lagi.
Satu notifikasi muncul di ponsel Riyan, tak ada ekspresi apa pun di wajahnya saat ini. "Si Hana mau ke sini," ucapnya memotong pembicaraan.
"Mau ngapain?" tanya Nanda penasaran.
"Gak tahu." ponselnya diletakkan di meja beralih ke botol wine yang sempat dianggurkan, lagipula Riyan yakin pasti Hana sudah dekat.
"Mona ikut gak? Kangen banget gua." tanya Agus penuh harap.
"Emang lu udah jadian?" tanya Sinta.
Gelengan kepala adalah jawabannya, reaksi mereka sudah pasti sebuah tawa.
"Napa pada ketawa lu semua?" Agus menaikkan satu alisnya kebingungan.
"Kasihan aja gua sama lu, Gus. Otw jadi sadboy sih ini," ucap Ana yang diselingi tawa renyah.
Tapi Agus tidak terlalu mempedulikannya, fakta dirinya menyukai Mona memang benar adanya. Jika gadis itu masih belum mau membalas perasaannya, maka pilihannya adalah? Paksaan. Ia bukan laki-laki baik hati, keinginannya harus terpenuhi apa pun itu.
Di balik kerumunan terlihat tiga orang gadis tengah berjalan ke arah BGB, mereka terlihat menonjol di antara yang lain terutama Hana. Rambut coklatnya terlihat berkilau, memakai atasan crop putih memperlihatkan perut ratanya. Belum lagi tubuhnya yang body goals, memancing beberapa pasang mata yang jelalatan menatapnya.
Hana langsung menempatkan diri di dekat Riyan, Agus sampai harus pindah tempat karena sofanya hanya muat tiga orang. Tanpa persetujuan, ia merebut wine Riyan lalu dituangkan ke gelas dan meminumnya.
"Anjir, datang-datang lu pengen mabok hah?" tanya Riyan.
Hana langsung menghabiskannya dalam sekali tegukan, ia terlihat kesal meniup poni yang menghalangi wajahnya. "Bodo amat, gue lagi frustasi."
Gelasnya sudah kosong, Hana berniat mengisinya kembali kalau saja Riyan tidak merampas kembali botolnya.
"Ck, gue masih pengen," kesal Hana.
"Udah gua bilang lu jangan nyampe suka sama si Gilang, udah tahu kan maksud gua sekarang?" ucapan Riyan membuat Hana terdiam beberapa detik, tapi ia tahu jika gadis di depannya ini keras kepala.
"Gak bisa, Riyan. I've fallen to him."
"Belum move on ternyata, padahal kalian putus sebulan yang lalu. Masih ngejar aja," ucap Agus, ia cukup berterima kasih pada Hana karena sekarang bisa duduk berdua dengan Mona.
"Jadiannya juga cuma seminggu padahal," sambung Sinta.
"Sinta please, don't judge me. You don't know what I feel like right?" bagi Hana itu bukanlah suatu masalah, perasaan tak perlu diukur dari jangka waktu menjalin hubungan.
"Lu susah dibilangin sih, Han. Jadinya susah." Tian jadi ikut-ikutan menceramahinya.
"Apalagi kita berdua, gak ada hasil," ucap Angel dibalas anggukan oleh Mona.
"Iya bener," balas Mona.
Celotehan mereka tak akan Hana dengarkan sama sekali, niatnya datang ke sini hanya menghibur diri bukan untuk menyerah. Kejadian di lapangan futsal tadi sore tentu Hana melihatnya, bagaimana cara Gilang memberi perhatian pada Cinta benar-benar tidak adil.
Menyadari perubahan wajah Hana jadi masam, Riyan menuangkan wine yang tersisa ke gelas milik Hana. "Mending lu minum aja, kalau kurang gua pesenin lagi."
"Thank you, lo emang yang paling ngertiin gue." bagai tersapu angin sekarang Hana terlihat lebih ceria, ia bisa saja merusak suasana jika masih menekuk wajahnya.
"Oh iya, gue boleh minta tolong gak?" Hana kembali bersuara.
"Apa?" tanya Riyan.
"Bantu gue buat jauhin Gilang dari cewek itu."

Komento sa Aklat (222)

  • avatar
    Chrystian Lomboris

    bagus boss

    15d

      0
  • avatar
    MineBfly

    keren bingit iima

    06/01

      0
  • avatar
    EmeberfellCrystalla

    keren!!!

    09/12

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata