logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Pertandingan Futsal

Hari yang cerah untuk memulai aktivitas menyenangkan, kondisi SMANISKU tidak terlalu kondusif meski guru sudah memberi peringatan diam di kelas masing-masing. Namun tentunya tidak semudah itu, mengetahui ada rapat guru ditambah dengan kedatang tamu sangatlah disenangi para murid.
Seperti halnya ruang olahraga indoor sudah ramai dengan para penonton bersiap menonton pertandingan, kabar XI IPS 1 bertanding melawan Avenged cepat menyebar dan menjadi topik hangat hari ini.
Beberapa penghuni kelas terlihat berkurang, ada yang sengaja pergi nonton pertandingan atau nongkrong di kantin. Lain halnya dengan Cinta masih dalam kelas bersama Melan.
Hawa bosan mulai menghampiri, Melan menopang dagu dengan satu tangan menatap Cinta. "Mau sampai kapan diem di sini terus?" gerutunya.
Bukan hanya Melan saja yang bosan, tapi Cinta juga. Entahlah pergi keluar kelas terasa enggan, apalagi saat mendengar Avenged ada pertandingan. Semenjak kejadian malam itu, ia jadi canggung tiap melihat Gilang.
"Emang mau kemana sih?" tanya Cinta.
"Ya kemana kek, lu emang gak bosen apa tiap hari kelas mulu?"
"Enggak."
"Hilih, pasti ada sesuatu nih," curiga Melan sambil menyipitkan matanya, sikapnya yang suka mendadak jadi peramal tiba-tiba muncul.
"Gak usah aneh-aneh deh, Mel." sebisa mungkin Cinta tidak membiarkan Melan coba membaca isi pikirannya, sejauh ini tebakan Melan memang jarang meleset.
"Lagian kenapa gak mau keluar sih? Takut ketemu Gilang?" ceplos Melan yang langsung dibalas pukulan ringan di tangannya.
"Lu kalau ngomong jangan keras-keras bisa gak sih?" kesal Cinta.
"Enggak, jadi ayo ikut gua," balas Melan tanpa dosa.
"Kemana?"
"Kemana lagi, lapangan futsal lah. Jangan sampai lu nyesel gak lihat kerennya Gilang hari ini."
***
Tak pernah menyangka jika tempat penonton akan ramai seperti ini, padahal ini bukan pertandingan resmi tapi disambut dengan antusias.
Tempat duduknya mirip seperti tangga, jadi tidak memakai kursi hanya tembok saja mengelilingi lapangan. Sudah hampir penuh, mungkin yang terlambat sebentar lagi tidak akan kebagian tempat duduk.
Cinta dan Melan yang baru tiba menempatkan diri di belakang, tapi justru di posisi ini bisa melihat pertandingan dengan jelas.
"Mel, kantin aja yuk atau gak taman kek jangan ke sini," pinta Cinta, berada di sini membuatnya tak nyaman.
"Kenapa? Santai aja sih, lu bener-bener lagi ngehindarin Gilang ya?"
"Gak kok."
"Masa? Harusnya lu biasa aja dong."
Cinta berdecih pelan, kalau seperti ini terus bisa-bisa Melan curiga lalu mulai menginterogasinya. Tidak mungkin Cinta harus menceritakan kejadian gila hari itu, mengingatnya saja sudah tidak aman untuk jantung.
Penonton mulai riuh saat para pemain masuk lapangan, mengenakan pakaian resmi kaos oblong dan celana pendek selutut menampakkan otot-otot yang membuat histeris kaum hawa.
Namun yang menarik justru karena Nindi satu-satunya perempuan yang ikut pertandingan, rambut panjangnya dicepol memperlihatkan lehernya yang putih, kulitnya halus tanpa bulu sepertinya cocok jadi brand ambasador kecantikan.
Renita dan Amel duduk di kursi yang sudah disediakan pinggir lapang, tugas mereka hanya menyemangati dan memberi air seperti biasanya. Mahendra dan Ujang yang ditugaskan sebagai komentator, juga tak jauh dari posisi mereka.
"Ekhem, tes ... tes. Udah gak sabar ya everybody? Kedua tim sudah menempati lapangan, beri tepuk tangan untuk Avenged dan XI IPS 1!" suara Mahendra terdengar semangat begitu juga para penonton yang mulai memanas.
Dari puluhan siswa yang menonton, dalam diam Gilang mencari seseorang. Semburat senyum tipis terukir setelah berhasil menemukannya, ternyata gadis itu datang ke sini.
Wasit yang sudah menempatkan diri ditahan sebentar oleh Gilang, semuanya terfokus pada Gilang yang berjalan keluar lapang mendekati komentator. Ia mulai mengucapkan sesuatu, ketika mikrofon berada dalam genggamannya.
"Buat cewek yang namanya Cinta Sarasvati, diharap jangan pergi kemana-mana sampai selesai pertandingan. Tunggu gua, kalau lu gak mau gua tembak sekarang."
Reaksi orang-orang langsung heboh saat mendengarnya, tidak ada yang tidak tahu tentang kedekatan keduanya. Siapa pun tahu, kalau Gilang itu menyukai Cinta.
Keadaan Cinta saat ini sudah pasti sangat malu, Gilang memang gila dan tidak waras. Kenapa dia harus melakukan hal itu di depan orang banyak?
Melan menyenggol Cinta pelan, ia tahu saat ini sahabatnya sedang salah tingkah. "Cieee ... Dipanggil Gilang."
"Apaan sih, Mel." Cinta selalu merasa jengkel jika ada orang yang menggodanya.
Melihat Cinta kesal malah terlihat lucu, Melan tak bisa menyembunyikan gelak tawanya. "Santai aja sih, Ta. Lagian semua orang juga udah tahu."
Sama sekali tidak menyenangkan, Cinta benar-benar malu apalagi saat beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Ingin pergi tak bisa, karena ancaman Gilang terus terngiang-ngiang di telinganya.
Akhirnya pertandingan pun di mulai, selama kurun waktu 2 × 20 menit kedua tim bersaing mencetak gol terbanyak.
Peluh keringat mulai menetes membanjiri tubuh yang kelelahan, anehnya itu malah membuat mereka berkilau terutama Avenged. Gilang terlihat menggiring bola melewati lawan dengan gesit, sampai bolanya ditendang ke arah gawang dan mencetak gol pertama.
Pertandingan kembali berlangsung, kali ini Reno yang memimpin dengan mudahnya merebut bola dari lawan. Ia berlari sesekali mengoper pada Nindi, gadis itu cukup hebat juga dalam menggiring bola. Berkat kerjasama tim yang baik, lagi-lagi Avenged mencetak gol dengan skor 2-0.
Sekarang waktunya istirahat selama 5 menit, seharusnya memang 15 menit tetapi itu terlalu lama. Lagipula ini tidak resmi, selama dari pihak keduanya sudah sepakat dalam aturan main.
Semuanya mendadak teriak heboh, ternyata karena ulah Bagas yang tiba-tiba membuka kaos lalu mengguyur kepalanya dengan air botol. Kepalanya juga digerakkan ke kiri kanan, seperti duta iklan sampo di televisi.
"Sok keren lu anj*ng," ledek Riski yang berada di sebelahnya.
"Halah ngiri aja. Iri? Bilang bos, hahaha," tawa Bagas kembali meneguk air yang tersisa.
"Asal kalau masuk angin jangan minta kerokin aja," ucap Amel.
"Etdah, tenang aja. Gua strong kok." Bagas mengusap rambutnya yang basah.
Nindi bergerak menepak leher belakang Bagas, tingkahnya yang random selalu mengundang tangan yang ringan ini untuk memukul.  "Bac*t lu."
Suara peluit sudah ditiup kembali oleh wasit, kedua tim segera berlari memasuki lapangan siap bertanding. Avenged terpaksa kebobolan gara-gara Bagas menginjak tali sepatu Riski saat hendak menangkap bola, Reno yang kebetulan berada di dekatnya langsung menjitak Bagas.
Tapi kemenangan tetap diraih oleh Avenged dengan skor 2-1, para pendukung meneriakan nama Avenged beberapa kali sebagai bentuk ucapan selamat.
Sesuai permintaan Gilang sebelumnya, Cinta tidak ikut pergi meninggalkan lapangan bersama yang lain. Kakinya melangkah turun ke lapangan diikuti Melan di belakangnya, ia ingin tahu apa rencana Gilang saat ini.
Sampai keduanya berhadapan saling pandang, Cinta menyilangkan kedua tangannya di depan tidak melontarkan kalimat lebih dulu.
"Gua kira lu mau kabur," ucap Gilang.
"Maksud lu tadi apaan sih? Lu gak lihat tadi reaksi orang-orang gimana?" Cinta sangat kesal ketika mengingatnya.
"Gua sengaja."
"Maksudnya?"
Gilang tak langsung menjawab, tapi tubuhnya bergerak condong ke depan sedikit mengikis jarak dengan Cinta membuat gadis itu sedikit memundurkan wajahnya.
"Biar semua orang tahu, kalau lu itu punya gua."

Komento sa Aklat (222)

  • avatar
    Chrystian Lomboris

    bagus boss

    16d

      0
  • avatar
    MineBfly

    keren bingit iima

    06/01

      0
  • avatar
    EmeberfellCrystalla

    keren!!!

    09/12

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata