logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Anemia

Dari saat menginjakkan kaki naik bus sampai dalam kelas, lamunan masih menghiasi wajah Cinta. Bagaimana tidak? Otaknya dipenuhi dengan tragedi di dalam apartemen Gilang.
Semalam saat Gilang mengantarkannya pulang, tangannya sempat ditahan lalu mengucapkan sesuatu yang membuat jantung Cinta semakin menggila.
'Sorry, kalau tadi gua lancang sama lu. Tapi asal lu tahu, sebelum lakuin itu udah gua pikir-pikir dulu sebelumnya. Gua gak bakal asal bertindak.'
Ini semua diluar nalar, niatnya yang hanya ingin berkunjung sekadar menjenguk malah menciptakan momen gila seumur hidup. Bahkan rasanya bibir Gilang masih menempel hingga saat ini, bagaimana cara laki-laki itu bergerak menjelajahi bibirnya, sepertinya Cinta memang sudah gila.
Terbesit pertanyaan di benaknya, apa Gilang juga sama sepertinya uring-uringan sejak semalam? Apa ia juga memikirkannya?
Jawabannya adalah iya, lelaki itu bahkan tidak bisa tidur nyenyak. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika Gilang berani melakukan hal itu, tapi sejujurnya tak ada penyesalan dalam dirinya. Justru ia merasa bahagia, suasana hatinya berubah seperti musim semi.
Perasaan ingin memiliki Cinta semakin besar, kian hari rasa itu semakin tumbuh, bahkan pemiliknya saja tak bisa untuk biasa saja.
Rekan-rekannya yang sibuk bergunjing sambil menyusuri koridor dihiraukan, pikiran Gilang saat ini hanya tertuju pada Cinta seorang. Perasaan Gilang saat ini tak bisa didefinisikan secara detail, cinta gila kah? Ujung bibirnya terasa berkedut tak tahan ingin tersenyum, mungkin ia memang benar-benar sudah gila.
'Kayaknya, gua bener-bener udah jatuh cinta sekarang.'
***
Suasana hati saat ini haruskah disebut buruk? Sepanjang jam pelajaran fokus Cinta selalu pecah, biasanya pulpen dalan genggamannya terlihat sibuk mencatat tanpa jeda namun kali ini banyak yang terlewat. Tak ada pilihan lain, ia harus menyalin catatan Melan nanti.
Selesai membenahi peralatan tulisnya, Cinta berjalan gontai mendekati meja Melan karena ini memang waktunya istirahat. "Mel, gua pinjem catatan lu ya. Gua males nulis di sini mah."
"Iya, Ta. Santai aja." senyum Melan, tapi ada yang terlihat berbeda darinya. Wajah gadis itu terlihat pucat, apalagi kulit Melan itu putih pucat malah jadi terlihat seperti mayat hidup.
"Anjrit, Melan! Lu sakit?" Cinta segera menempelkan punggung tangannya ke kening sahabatnya, suhu tubuhnya panas.
Tapi Melan bergerak menurunkan tangan Cinta dengan pelan, dia terlihat lemas sekali. "Gua gapapa."
"Gapapa gapapa darimana anjir, ayo gua anter lu ke UKS," omel Cinta, ia baru ingat kalau sahabatnya ini punya anemia. Melihat kondisinya saat ini, sudah pasti penyakitnya itu sedang kambuh.
Mau menolak pun Melan tak punya tenaga lebih, ia membiarkan Cinta menggandeng tangannya keluar kelas. Sejujurnya ia sudah tak sanggup berjalan, kepalanya terasa berkedut-kedut, bahkan pandangannya juga mulai kabur.
Penyebab anemianya kambuh sendiri, karena sudah hampir satu minggu Melan tidak minum vitamin anjuran dari dokter. Stok di tempat langganannya habis, mencari-cari ke tempat lain terasa malas. Sampai akhirnya kambuh seperti sekarang, penyakit itu seolah menggerogoti tubuhnya. Melan memang memiliki imun tubuh yang lemah.
"Tahan sebentar ya, Mel." Cinta sudah sangat khawatir melihat kondisi Melan saat ini, ia begitu bodoh karena sibuk dengan debarannya tanpa menyadari sekitar terlebih lagi kondisi sahabatnya.
Hanya anggukan kepala respon dari Melan, tenggorokannya terasa kering meski ingin mengucapkan kata 'iya'. Semoga saja, ia bisa sampai tanpa harus tumbang di koridor.
Tak jauh dari posisi Cinta sekarang, di belakangnya ada Avenged tengah berjalan menuju kantin. Aura yang dikeluarkan mereka begitu kuat, siapa pun yang melihatnya memilih menunduk atau menyingkir. Walau ada saja yang diam-diam mencuri pandang, sangat disayangkan bila serbuk berlian SMANISKU dianggurkan begitu saja.
"Abis makan nanti futsal yuk, ah," ajak Bagas yang tengah merangkul Riski.
"Terserah," balas Gilang tanpa mengalihkan pandangannya, ia terlihat keren berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Bagas menoleh ke arah Renita dan juga Amel. "Lu berdua ikut juga."
"Gak," tolak Amel.
"Gua juga," sambung Renita.
Sudah Bagas duga hanya penolakan yang akan ia dapatkan, decihan pelan keluar dari mulutnya sedikit kecewa.
Sampai sebuah pemandangan menarik perhatian mereka, di depan ada kerumunan siswi tak tahu sedang apa.
Riski sedikit menjinjitkan kakinya sambil berjalan, tapi tetap tak terlihat. "Ada apaan coba?"
"Gak tahu, gak tertarik juga," jawab Reno acuh.
"Ah, tapi gua kepo," ucap Bagas.
Kumpulan siswi langsung menyingkir begitu melihat Avenged mendekat, takut dikira menghalangi jalan lalu dimarahi habis-habisan.
Mungkin jika Avenged tidak langsung melihat objek di depannya akan mengeluarkan kalimat sarkas, keterkejutan menghiasi wajah mereka begitu melihat Melan pingsan. Di sebelahnya sudah ada Cinta yang terlihat kebingungan, saat ini waktu istirahat pasti para siswa sudah pergi ke kantin.
"Kalian?" kaget Cinta begitu menangkap kedatangan Avenged.
"Astagfirullah, pucet banget muka si Melan." Nindi sampai menutup mulutnya yang terbuka.
"Harus dibawa ke UKS anjir, ini PMR gak ada yang lewat apa?" tanya Renita sambil mengamati sekitar.
Di saat yang lain ribut mencari PMR, Reno langsung bergerak mengangkat Melan ke dalam pangkuannya. Beberapa yang melihatnya terkejut tak percaya, seorang Reno menolong siswi? Ini tak pernah terjadi sebelumnya.
"Lu semua duluan aja, gua nyusul."
Sekali lagi mereka dibuat terpaku dengan sikap Reno yang lain dari biasanya, teman-temannya sendiri saling melempar pandang masih tak percaya. Ini pemandangan yang sangat langka, seperti bukan Reno yang mereka kenal.
***
Pemandangan yang terlihat kabur mulai terlihat jelas, cat tembok putih, gorden putih khas dari UKS, itu yang pertama kali Melan tangkap saat membuka matanya. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Seseorang datang menggeret gorden yang menjadi batas dengan ranjang lain, wajah lempengan tripleks itu sudah tak asing lagi untuk Melan lihat. Tapi kenapa dia ada di sini?
"Gimana kondisi lu?" tanyanya begitu mendudukan dirinya di ranjang sebelahnya.
"Gak separah tadi," jawab Melan.
"Lu gak sarapan?"
Melan menggelengkan kepalanya membuat lelaki di sebelahnya menghela nafas, tapi ekspresi wajahnya itu belum berubah.
"Sekarang udah jam berapa? Cinta pasti udah nungguin gua." Melan mulai bangun secara perlahan, tangannya memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Cinta udah balik, sekarang udah jam empat."
"Hah?! Jam empat?" kepala Melan terasa berkedut lagi, bubarnya sekolah itu sekitar jam tiga sore dan sekarang sudah jam empat? Sudah pasti semuanya sudah pulang.
Reno menatap gadis di depannya tanpa reaksi apa pun. "Lu udah kuat jalan kan? Ayo, gua anter lu balik."
"Eh?"
"Tapi sebelumnya lu harus makan dulu, gua tahu tempat makan yang enak di mana."

Komento sa Aklat (222)

  • avatar
    Chrystian Lomboris

    bagus boss

    19d

      0
  • avatar
    MineBfly

    keren bingit iima

    06/01

      0
  • avatar
    EmeberfellCrystalla

    keren!!!

    09/12

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata