Gara-gara tawuran dan hukuman tadi, Gilang merasakan tubuhnya pegal, lelah, intinya semua terasa sakit. Dalam posisi terlentang di kasur, tangannya mengecek aplikasi chat barangkali ada informasi yang ia dapatkan dari rekan-rekannya. Tapi bukanlah hal serius yang ia dapat, malah pesan random yang tak tidak jelas dari beberapa grup. XI MIPA 1 [16] kerjain halaman 101 tugas 5, catat materi dari halaman 85-120 trus dikumpulin. besok, bu hono gak masuk kelas Avenged (7) [215] link xxxx udah jadi konten video halal belum? Motorcycle Jakarta City (200) [77] yang tadi katanya ada tawuran gimana? siapa yang menang? SMANISKU FAMILY (550) [40] kolor pink ditengah lapang tadi kemanain woi? punya santri sebelah Reno Edgian Fahrizal [2] 3D udh kibarin bendera putih Cinta Sarasvati [1] udah nyampe rumah? Hana Zeylisa [1179] are u okay? gak ada luka kan? aku khawatir Gilang terkesiap begitu melihat nama Cinta terpampang di layar ponsel, wajah datarnya berubah seketika jadi sumringah. Gadis itu mengiriminya pesan? Tidak perlu waktu lagi, jempolnya langsung menekan pesannya. 17.50 Cintarasvati: udah nyampe rumah? 18.17 Gilangmalvino: iya udah Gilangmalvino: sorry baru buka chat Cintarasvati: oke Gilangmalvino: tenang aja, gak usah khawatirin gua Cintarasvati: dih, engga Cintarasvati: gede rasa banget lu Gilangmalvino: trus ngapain chat gua? tumbenan Cintarasvati: oh, gak boleh ya? Cintarasvati: yaudah gua gak chat lu lagi Untung tidak ada tembok di terpampang depan mata, mungkin ia akan langsung membenturkan kepalanya sekarang. Gemas sekali melihat tingkah Cinta, entah ketika bertemu langsung atau seperti ini, gadis itu selalu bisa membuatnya salah tingkah sendiri. Gilangmalvino: ciee yang ngambek Cintarasvati: g Gilangmalvino: gua samperin mau? Cintarasvati: ngapain? Gilangmalvino: gua kangen, seharian belum liat lu di sekolah nyiksa banget Cintarasvati: lebay Gilangmalvino: gak usah muna, ta Gilangmalvino: lu juga daritadi mikirin gua terus kan? Cintarasvati: apaan sih? dibilang engga Gilangmalvino: oh ya? Gilangmalvino: tadi kata renita, lu sampe gak mau ninggalin kelas gara² mikirin keselamatan gua Gilangmalvino: segitunya lu peduliin gua ya, masih mau nyangkal? Gadis itu tak lagi membalas pesan, Gilang menertawakannya dalam hati senang bisa mematahkan kebohongannya. Semalam sebelum tawuran, Gilang memang memerintahkan Renita dan Amel menjaga Cinta. Siapa sangka hal itu akan membawakan kabar baik untuknya, mengetahui Cinta sangat mengkhawatirkannya memberi efek yang besar. Masih tak ada balasan sampai sekarang, Gilang yakin saat ini Cinta tengah menahan rasa malu di kamarnya. Tapi dugaannya memang tidak meleset, Cinta memang sedang salah tingkah seperti orang gila dalam kamar. Wajahnya memerah mirip kepiting rebus, boneka beruangnya dipukuli beberapa kali melampiaskan rasa malu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dalam hatinya mengumpat, kenapa Renita harus mengadukan hal itu pada Gilang? "Udah tahu gua khawatir, ngapain lu perjelas lagi ah, sial. Kan gua jadi malu astagfirullah, ngeselin banget lu jadi orang!" Cinta memarahi ponsel dalam genggamannya seakan itu wujud Gilang, perasaan kesal bercampur malu jadi satu, mungkin pergi ke kutub utara dan mengasingkan diri jauh lebih baik. Gilang sudah terlanjur mengetahuinya, bagaimana nasib Cinta sekarang? Rasanya ia tak berani menunjukkan diri esok hari, lelaki itu pasti akan menggodanya seharian. *** Seseorang menekan bel apartemen menyadarkan penghuninya yang sibuk menonton televisi, Gilang berjalan mendekati pintu tanpa mempercepat langkahnya. Siapa yang berani mengganggu waktu istirahatnya? Kalau sampai gengnya, ia akan kembali menutup pintu. Karena dalam hitungan detik dihuni oleh mereka, selalu rusuh, berisik, tak jarang tetangga selalu datang menegur. Susah payah Gilang membersihkannya sendirian, tidak akan ia biarkan rumahnya jadi kapal pecah. Pertama kali yang Gilang rasakan saat membuka pintu adalah penyesalan, dalam sorot matanya seakan ada api menyala saat menatap seorang gadis di depannya. "Ngapain lu ke sini?" Senyum manis masih menghiasi wajah Hana, ia senang Gilang sudah membukakan pintu untuknya. Sampai ia melihat luka lebam di pelipis Gilang yang sudah berubah warna jadi ungu. "Oh my god, Gilang muka kamu-" Gilang langsung menepis kasar tangan Hana yang berniat menyentuhnya, hatinya tak tersentuh sama sekali dengan sikap lembutnya. "Aku masuk ya, biar aku obatin luka kamu," tawar Hana. "Emang lu siapa berani masuk ke rumah gua?" tanya Gilang sarkas, ia tak ingin menunjukkan sikap lemah lembut sama sekali. "I'm worried about you." "Gak usah sok khawatirin gua, gua gak butuh." "Lang, ak-" "Masih punya kuping kan? Silakan pergi dari sini dan jangan pernah lu balik lagi," ucap Gilang dengan nada penuh penekanan di akhir. Semuanya berakhir dengan bantingan pintu yang membuat Hana teriak ketakutan, diperlakukan kasar oleh Gilang semakin menyayat hatinya yang mungkin sudah berdarah. Hana menangis terisak sambil menggenggam keranjang buah, tangannya gemetar menahan sakit di relung hati yang paling dalam. Bagaimana kondisi Hana sekarang tidak dipedulikan Gilang, emosinya kalap, semua sikap Hana membuatnya muak. Selang beberapa menit belnya kembali berbunyi, emosi Gilang yang masih belum mereda sudah bersiap melemparkan kalimat yang tidak manusiawi. Ternyata Hana memang mencari mati, Gilang bukanlah lelaki yang penyabar. Untungnya Gilang tidak langsung memaki ketika membuka pintunya, ia mungkin akan memotong mulutnya jika sampai menyakiti gadis di depannya. Gadis berambut ikal yang sudah menjadi resah gelisahnya, untuk pertama kalinya datang ke apartemen. Wajah menyeramkannya berubah 180° kurang dari 1 detik, tergantikan dengan ketenangan dihiasi senyum tipis. Gilang mendadak lupa dengan kejadian buruk yang menimpanya beberapa menit yang lalu. "Cinta? Kenapa lu gak kasih tahu gua kalau mau ke sini? Gua bisa aja jemput lu." "Gapapa kok, lagian gua cuma mau kasih ini." Keranjang buah yang tak beda jauh dengan bawaan Hana, kali ini mustahil Gilang menolaknya. Ia akan menerimanya dengan senang hati. Jantung Cinta hampir saja merosot karena Gilang menarik tangannya, bukannya mengambil keranjang buah malah dirinya ikut terbawa. "Masuk dulu." pegangan tangannya merenggang, Gilang tak akan membiarkan Cinta pergi secepat itu. Cinta hanya mengangguk lalu mengekori Gilang dari belakang, matanya diam-diam menyapu seluruh isi ruangan. Sangat nyaman dan bersih, apa Gilang memiliki asisten pribadi tukang bersih-bersih rumah? "Lu datang sendirian?" tanya Gilang begitu menempatkan dirinya duduk di sofa. "Iya," jawab Cinta singkat. "Tahu rumah gua dari siapa?" 'Mampus aing.' Cinta meringis dalam hati, sudah pasti ia mencari tahu karena bertanya pada Renita. Tak ada pilihan lain, bertanya pada Melan pun tidak mengetahuinya. Harus menjawab apa? Mengatakan yang sebenarnya pasti sebuah ejekan lagi akan keluar membuatnya mati kutu. "Ya ... Dari siapa aja kek, kepo banget." "Katanya lu gak khawatir? Kenapa bawain gua buah-buahan?" Gilang memang sengaja ingin membuat Cinta membatu, sikap malu-malu gadis itu adalah kesenangannya. Berbeda dengan Cinta yang tak tahu harus menjawab apa, Gilang yang menyebalkan membuatnya menyesal telah merelakan gengsinya yang tinggi untuk datang. Fokus Cinta teralihkan begitu melihat memar di wajah Gilang, itu pasti luka bekas tawuran tadi pagi. Pelipisnya ikut berkedut seakan luka itu ada pada dirinya, pasti sangat sakit. "Luka lu ... Udah dikompres?" tanya Cinta ragu-ragu. "Enggak, cuma kebilas air aja pas mandi." "Hah? Kok lu biarin gitu aja? Bisa bengkak nanti, makin perih juga." mendengar jawaban Gilang membuat Cinta terpana, luka seperti itu bisa-bisanya dibiarkan. "Gua udah biasa," balas Gilang dengan entengnya. "atau lu mau ngobatin gua?" Cinta tak langsung menjawab, selain karena tak tahu cara mengobati, ia juga tidak pernah melakukan hal itu pada orang lain. Mengobati Gilang bukankah sama saja dengan menyentuh wajahnya? Halusinasinya mulai berjalan, harusnya itu bukanlah masalah besar. Mungkin penyebabnya hanya satu, ia gugup. Apalagi saat melihat sorot mata Gilang yang sedari tadi tidak beralih menatapnya, itu tidaklah aman untuk jantung. Untuk mengurangi kegugupannya, Cinta memilih mengalihkan pandangannya ke TV yang menyala. "Enggak, gua belum pernah ngobatin orang." Tidak seperti biasanya Gilang peka terhadap sesuatu, kali ini ia menyadari jika Cinta sengaja tak ingin menatapnya. Lampu di ruang tamu tidak terlalu terang, mengandalkan cahaya TV karena Gilang tak tahu akan kedatangan tamu. Lebih tepatnya, sosok bidadari tak bersayap yang membuatnya gila pada pandangan pertama. Cinta terlihat cantik meski dalam ruangan minim cahaya, lekuk wajah gadis itu sempurna untuknya. Seseorang yang di sebelahnya terbuai dengan wajah ayu pujaan hati. Sesuatu dalam diri Gilang bergejolak, jantungnya berdebar cepat. Perasaan yang tak dapat dipahami, tapi tak bisa ditahan lebih lama. "Lang, gu-" rentetan kata yang ingin Cinta sampaikan langsung terjeda, dalam dirinya ada yang meledak seperti petasan cabe. Ketika sebuah benda kenyal menabrak bibirnya bergerak dengan lembut, begitu pelan membuat Cinta membeku di tempat. Satu hal yang pasti, keduanya berciuman untuk pertama kalinya.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus boss
21d
0keren bingit iima
06/01
0keren!!!
09/12
0Tingnan Lahat