logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Tawuran

Masih hangat diingatan kejadian buruk tadi sore, tetesan air mata masih sesekali turun membasahi pipi. Hembusan dingin angin malam dari pintu balkon kamar dibiarkan menyelimuti tubuhnya, menemani hatinya yang terluka tak sengaja mengingat luka di masa lalu.
Ini yang kedua kali dirinya jadi bahan pelecehan, rasanya Melan begitu kotor walau itu adalah murni kecelakaan.
"Rasanya ... Gua mau mati aja."
Menanggung masalah sendirian terkadang selalu berakibat fatal, bagi mereka yang tidak mampu memikulnya pasti akan dikelilingi dengan pikiran negatif. Sulit untuk diungkapkan, minimnya percaya kepada orang lain membuat Melan lebih memilih memendam sendiri.
Namun berkat Reno yang menghabisi pria tadi, rasa sakit hatinya sedikit terbalaskan. Belakangan ini Reno selalu muncul saat dirinya dilanda bahaya, tidak seperti sebelumnya bertemu di tempat umum pun seperti orang asing. Alasan yang tepat terpikirkan olehnya, mungkin karena dirinya teman baik Cinta jadi ikut terbawa.
Lelaki dingin yang jarang berekspresi, melihat wajahnya tersenyum adalah ketidak mustahilan akan terjadi. Tak terpikirkan sebelumnya alasan Reno yang berkeinginan datang menolongnya, apakah memang aslinya lelaki itu baik hati? Walau desas-desus yang ia dengar Reno itu seperti 'Macan Tidur', tidak seperti Gilang yang dengan mudahnya tersulut emosi dengan sadisnya. Bahkan, Gilang pernah membuat salah satu siswa masuk UGD gara-gara meledeknya di parkiran dengan deruman mesin motor yang keras. Intinya, Avenged itu di mata Melan benar-benar menyeramkan.
***
Tak tahu apa yang sedang dibicarakan warga sekolah saat ini, tapi kelihatannya sangat serius. Bahkan kelas 11 MIPA 2 tengah berkerumun dari satu meja menggosip saling berbagi informasi, Cinta yang baru tiba tidak begitu tertarik dan memilih duduk di mejanya.
Meski begitu, Cinta masih bisa mendengar suara teman-temannya yang berbicara dengan jelas.
"Wah parah sih, ini gua emang harus hati-hati sama mereka."
"Iyalah, jangan sampai lu punya masalah sama Avenged. Bisa-bisa lu ditendang dari sini."
"Emang si Fadli dikeluarin dari sekolah gara-gara apaan sih?"
"Katanya dia tuh mata-mata dari geng motor 3D."
"Anjir, mata-mata gak tuh?"
'Fadli? Kayak pernah denger namanya,' gumam Cinta, niatnya yang tak ingin menguping kini terlanjur mendengarkan. Entah kenapa saat mendengar nama Avenged, Cinta jadi penasaran.
"Lah terus? Urusannya sama sekolah apaan? Kan dia ada masalahnya sama Avenged?"
"Dari yang gua denger ya, ada yang bilang si Reno nyogok kepsek. Tapi ada bilang juga karena si Gilang punya kekuasaan di sini,"
"Hah? Maksudnya gimana?"
"Ya gak tahu, gua dapetnya cuma sepotong soalnya kebelet berak."
"Si tol*l, lagi serius padahal."
Suasana serius dalam kelas juga membuat Melan yang baru datang ikut kebingungan, melihat kelas pagi-pagi sudah bergerombol lain dari biasanya. Seingatnya, hari ini tidak ada PR.
Sampai akhirnya Tio masuk ke dalam kelas dengan nafas tersenggal-senggal, dadanya naik-turun lantaran lelah berlari-lari dari lantai bawah menuju kelas. Bahkan hidungnya terlihat kembang kempis, seperti ikan mujair mencari oksigen.
"Woi! Berlindung lu semua!" titahnya yang membuat satu kelas bingung.
"Emang kenapa?"
"Lebay lu, kayak sekolah mau runtuh aja."
Tio menajamkan matanya kesal, karena sekelas malah menganggap dirinya bercanda. "Gak gitu, cok. Gua serius, sekolah kita mau diserang!"
"Hah?? Serius lu?!"
"Serius bego, lu gak lihat Avenged sama yang lain udah siap-siap?"
Seketika kondisi kelas tidak kondusif, semuanya panik bukan main. Tawuran tidak sekali dua kali pernah terjadi di sini, tak ayal para polisi sudah berlangganan datang menginterogasi murid lama atau baru yang sudah di cap biang keroknya.
"Sekolah mana yang nyerang kita?" tanya Cinta akhirnya buka suara.
"SMA Cempaka, semua geng 3D sekolah di situ. Gua yakin mereka mau balas dendam," jawab Tio.
Salah satu kaca kelas tiba-tiba pecah terkena lemparan batu berukuran kepalan tangan, satu kelas reflek teriak lari berhamburan menyelamatkan diri.
Bukannya ikut berlari, tapi Cinta malah mendekati jendela. Ia ingin melihat Gilang, khawatir jika lelaki itu nekat ikut tawuran dan terluka.
"Cinta, ayo lari!" Melan sampai menarik-narik tangan Cinta paksa, sudah jelas keadaannya saat ini genting.
"Tapi Mel-"
Sekali lagi lemparan batu menghancurkan kaca kelas yang lain, untungnya serpihan kaca tidak sampai mengenai keduanya.
"Ayo, Ta. Di sini bahaya!" tak peduli dengan Cinta yang batu, Melan menyeret sahabatnya dengan paksa.
Sambil menyeret Cinta keluar kelas, Renita dan Amel muncul di ambang pintu.
"Lu berdua gapapa?" tanya Amel menatap keduanya bergantian.
Melan membalasnya dengan gelengan kepala, berbeda dengan Cinta yang masih menatap keluar jendela. Perasaan khawatir seakan mencabik-cabik relung hatinya, tawuran itu sangatlah beresiko.
Renita menepuk pundak Cinta, ia tahu gadis ini pasti memikirkan Gilang. "Kita cari tempat aman dulu," ucapnya. "Lu tenang aja, Gilang bakalan baik-baik aja."
Sementara itu, suara teriakan yang diyakini dari depan gerbang sudah terdengar di penjuru sekolah. Mereka bukan hanya membawa diri, tapi juga membawa beberapa senjata tajam.
Meski beresiko, pentolan SMANISKU sudah pasti tidak tinggal diam. Dengan bantuan beberapa murid lain, Avenged melempar batu balik lalu mengejar mereka yang melarikan diri. Benar-benar mental tempe, dilayani malah lari tapi berani membuat ulah.
Ketika Avenged hampir menyusul, salah satu petasan dinyalakan kearah mereka beberapa kali tembakan. Beruntung masih bisa menghindar, telat sedikit saja bisa terkena luka bakar.
"JANGAN LARI LU, GOBL*K!!!"
Satu persatu siswa cempaka berhasil ditangkap, selanjutnya apa? Tentu saja dihajar habis-habisan, mereka tidak akan membiarkan mangsanya pergi begitu saja. Tak ada kata ampun meski mereka memohon, tendangan dan pukulan tak bisa dihindari. Tampaknya musuh sudah siap dengan segala peralatannya, dari linggis, kayu, parang, sampai petasan pun mereka bawa.
Layangan parang beradu jadi terdengar seperti adegan di film perang, tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika senjata tajam itu berhasil mengenai target.
Sudah kesekian kalinya pukulan mendarat di wajah Fadli, dia adalah sasaran empuk bagi Avenged. Satu lawan satu dengan Gilang, mungkin sebentar lagi Fadli berubah jadi tulang lunak.
Fadli yang lengah menghalau serangan langsung tumbang, saat Gilang menghantam rahangnya dengan siku. Tatapan tajam menyorot mangsanya, kakinya bahkan menginjak leher Fadli yang mulai kehabisan nafas. "Masih belum kapok lu hah?"
Tangan Fadli yang gemetar berusaha menjauhkan kaki Gilang di lehernya, dadanya sesak rasanya nyawa sudah diujung tanduk. "A-aakh! Lepasin ... Gua sialan!"
Tapi yang terjadi Gilang justru semakin menginjaknya membuat laki-laki di bawahnya terbatuk-batuk hampir sekarat, katakanlah Gilang memang sadis karena itu memang dirinya.
Rekan-rekannya bermaksud menolong Fadli, tapi Avenged langsung maju menghalaunya. Tidak akan dibiarkan sama sekali mereka mengganggu Gilang. Hanya Bagas, Riski, dan Reno yang ikut? Tidak. Nindi selalu ikut serta dalam tawuran, meski ia berparas cantik seperti wanita pada umumnya, ia tetaplah anggota geng motor yang dikenal sadis.
Sekilas Reno melihat ada yang tengah bersiap menyalakan petasan lagi, orang itu bersembunyi dibalik teman-temannya.
"Temen lu gak bakal selamat kalau berani nyerang lagi," ucap Reno.
"LEPASIN FADLI BANGS*T! LU GILA YA?!"
Kata 'gila' tidak cukup menggambarkan Gilang saat ini, ocehan Tono bahkan tidak terdengar olehnya. Dalam pikirannya hanya ingin menghabisi Fadli, ia bisa saja memutuskan urat lehernya sekarang.
"GUA NYERAH!" sekuat tenaga Fadli bersuara.
Beberapa detik kemudian Gilang menjauhkan kakinya, tak perlu repot-repot mendapat pengakuan. Inilah yang Gilang inginkan, cukup menggambarkan bahwa dirinya tidaklah main-main.
Bersamaan dengan menyerahnya 3D dan SMA Cempaka, sirine mobil polisi terdengar dari kejauhan. Sudah dipastikan, pasti tengah mengarah ke sini.
Gilang melirik Fadli kilas, laki-laki itu terlihat meringis memegangi lehernya yang sakit. "Urus masalah ini sama lu, gua gak ada urusan."
Tak ada balasan dari Fadli, ia masih belum bisa tenang dengan situasi tadi. Bisa saja terjadi hal yang lebih menyeramkan, kalau ia tidak menyerah.
Avenged dan rekan-rekannya bubar sambil menendangi sisa-sisa tawuran, masa bodoh dengan urusan polisi bukan urusan mereka. Namun bukan berarti mereka selamat dari panggilan guru, terbukti dengan adanya Pak Zaelani sudah berdiri tegap depan gerbang bersama satpam membawa tongkat kayu berukuran sedang di tangannya.
Sepertinya, hukuman kali ini akan berlangsung hingga sore.

Komento sa Aklat (222)

  • avatar
    Chrystian Lomboris

    bagus boss

    24d

      0
  • avatar
    MineBfly

    keren bingit iima

    06/01

      0
  • avatar
    EmeberfellCrystalla

    keren!!!

    09/12

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata