logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Biru

Ini hari pertama aku akan menjadi MP ospek tahun ini. Segala kemungkinan yang akan terjadi sudah aku siapkan sejak tadi malam saat aku memberi info di grub kelompok 37 apa saja yang perlu dibawa dan dimana tempat ospek serta serangkaian acara yang akan dilaksanakan di hari pertama ospek. Aku mengambil dan memakai jas almameter kampus, membawa tas lalu beranjak sarapan.
“Nanti berangkat ke kampus bareng ayah aja.” Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Usai sarapan ayah lalu ke bagasi mobil lebih dulu. Aku menyalimi punggung tangan bunda dan mencubit pipi Nashwa. Setelahnya aku segera menyusul ayah.
Tanpa kusadari ternyata dia ada di sana. Aku terdiam dengan keberadaannya yang tiba-tiba. Saat dia memalingkan dirinya dan pergi barulah aku masuk mobil ayah yang sudah menungguku. Aku nggak yakin ini akan baik-baik saja.
“Kamu jadi MP nya Awan?” tanya ayah saat aku sudah duduk di sampingnya. Tentu saja aku tidak menyangka ayah bisa tahu.
“Kamu tidak perlu menghindar dari dia, kalau kamu punya prinsip dan komitmen yang kuat pasti kamu bisa mengendalikan perasaanmu.”
“Lagian kita udah putus Yah, yang udah berakhir nggak usah diungkit lagi.”jawabku
“Ada satu hal yang ayah lupa untuk kamu tahu bahwa ayah lebih banyak mengambil pelajaran dari masa lalu. Jika ada ayah yang pakai narkoba dan dia dipenjara dan suatu saat bilang ke anaknya ‘jangan pakai narkoba, Nak’ lalu anak itu bilang ‘ayah saja pakai narkoba kenapa aku nggak boleh?’ apakah itu masuk akal? Yang benar pasti anak itu juga akan mengambil pelajaran dari masa lalu ayahnya.”terang ayah.
“Iya Ayah aku nggak akan pacaran dengan dia atau wanita manapun.”jawabku
“Bagus.”kata ayah sambil mengusap rambutku seperti anak balita. Terkadang aku benci diperlakukan seperti ini sebab aku merasa kekanak-kanakan. Setelah itu ayah baru melajukan mobilnya, padahal udah pukul enam lebih empat puluh lima menit. Pasti telat!
Setelah terjebak macet beberapa menit akhirnya jam tujuh lebih sepuluh menit aku bisa sampai di lapangan. Aku berlari menuju kelompok 37. Dia menunduk seperti ingin menyembunyikan wajahnya. Aku tahu dia nggak bisa menerima aku sebagai MP nya. Dia pasti sedang mati gaya. Apalagi setelah aku dengar bisik-bisiknya dengan teman di depannya. Aku tidak bisa menahan untuk menegurnya yang mulai berisik. Bisa-bisa komisi disiplin tahu dan menghukumnya. Dasar bodoh. Setelah aku menegurnya dia benar-benar diam dan berdiri tegak tanpa menoleh. Okey, good girl.
Aku mundur di pinggir lapangan bersama MP lain saat komisi disiplin mengambil alih untuk baris-berbaris. Semua yang dilakukan komisi disiplin masih sama dengan tahun lalu. Memang lebih payah peserta ospek sekarang. Buktinya banyak yang melanggar peraturan ospek dan baru beberapa menit saja baris berbaris sudah ada yang tumbang. Kebanyakan cewek tapi cowok juga ada!
Aku segera mengambil alih kelompokku setelah komisi disiplin memberi kode bahwa pelatihan darinya sudah cukup. Semua anggota kelompok 37 juga payah. Semuanya nggak ada yang semangat. Semuanya loyo! Aku terus berjalan di depan menggiring mereka ke gedung graha. Setelah mereka mendapatkan tempat dan duduk berbanjar, aku segera mengambil air minum di ruang BEM FIB. Tak membutuhkan waktu lama aku segera menyodorkan minuman ke dia. Dia sedikit kesal dan aku tahu alasannya. Setelah semua anggota mendapat minum aku kembali memberinya lembar kertas fotokopian yang berisi lirik yel-yel. Dia dengan spontan marah-marah. Tapi saat semua temannya tahu dia cepat mengalihkan dengan membuka tas. Dia pura-pura menelpon temannya. Aku mencoba mengambil tasnya tapi dia dengan kuat memegang tasnya. Yang paling buat aku terdiam adalah saat mata itu memohon dan semakin mengingatkanku pada masa lalu saat dia mencoba merajuk. Bukan karena marah kalau dulu tapi karena mungkin dia sedang ingin manja. Aku berbalik ke belakang dan tersenyum. Ini nggak betul! Aku mengusap rambutku. Payah! Cepat-cepat kuberikan lagi lembar kertas fotokopian itu.
Jika ada perasaan yang harus segera aku hapuskan adalah maka cara aku untuk mencintai itu sendiri. Sebab saat aku mencintaimu bukan cinta yang salah tapi caraku dalam mendapatkan cinta itu. Maka harusnya dulu aku bilang bahwa jangan salahkan cinta, salahkan caraku dalam mencintai karena itulah yang salah. Memang benar kata pujangga bahwa cinta itu bisa menjadi buah simalakama buat pecandunya. Cinta juga bisa menjadi narkoba yang selalu ingin meminta dan mengobati segala yang telah hampa. Cinta juga lah yang menyembuhkan si pendosa ataupun si miskin dan si nelangsa dari keterpurukannya. Jadi kesimpulannya cinta itu bukan sebuah kesalahan.
Teringat tentang band legend yang lirik-lirik lagunya begitu aku suka. Band yang bernama dewa 19. Kalau aku lahir tahun 99-nan pasti aku sudah ikut jadi baladewa. Semua lagunya kini selalu menemaniku menjalani kegalauan yang begitu anjay.
Kira-kira tadi dia tahu nggak ya kalau aku gugup saat menatap matanya. Mata hitam pekat yang tak bisa aku lupakan. Semoga saja tidak. Soalnya kalau dia tahu, aku bisa malu sendiri. Cukup seperti ini saja dulu. Biarlah seperti aiir yang mengalir. Aku akan mengikuti setiap alurnya. Tapi aku akan menjadi protagonis yang menentang jika dalam alur ini ada antagonis yang akan mencelakainya.

Komento sa Aklat (45)

  • avatar
    Yxztna_28

    Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa

    23/01/2022

      1
  • avatar
    M Raffi

    bagus

    15/12

      0
  • avatar
    CuakzRill

    mantab

    21/03/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata