Baiklah, malam ini setelah segala kewajiban kujalankan akan aku ceritakan kisahku dengannya dari masa putih abu-abu yang berakhir sendu. Dia adalah adik kelasku yang imut dan lucu. Aku tidak akan melupakan raut wajah gugupnya saat dibentak-bentak di hari pertama MOS karena dia terlambat. Bodohnya yang bentak-bentak dia adalah aku. Seniornya yang memegang jabatan sebagai ketua OSIS. Dia yang lucu saat dikuncir dua dan memakai tali pita merah putih. Bagaimana dia kesal saat aku beri hukuman untuk menggombali kakak kelasnya yang lewat. Saat itulah aku juga mulai kesal dengan kakak kelas yang ia gombali. Sebab kakak kelas itu mulai menggodanya dengan memujinya cantik. “Awan hukumanmu sudah cukup. Sekarang kembali ke kelompokmu.” Dia yang tak berkutik meski masih kulihat jelas wajah kesalnya akhirnya berlari pelan menuju kelompoknya. Diam-diam setelah pergi aku berucap pelan ke kakak kelas itu. “Jangan macam-macam sama dia, dia dalam pengawasan saya. Lebih baik kamu pergi dan jangan ganggu dia lagi,” Dengan ancaman itu ditambah posisiku sebagai ketua OSIS cukup membuatnya mengerti dan pergi tanpa menggangu lagi. Aku tersenyum untuk perasaan yang entah belum kuakui. Karena jika aku jujur maka tak bisa tenang hariku bila keadannya menuntutku terus berotasi didekatnya. Pada kenyataannya bukan keadaan yang memaksa untuk berotasi di dekatnya tapi diriku yang ingin selalu di dekatnya. Hingga hari terakhir MOS saat semua peserta MOS harus memberikan surat kepada panitia yang mendampingi selama tiga hari, aku begitu terkejut karena amplop yang ia berikan adalah amplop hitam. Sudah kutebak isinya pastilah surat kebencian. Sebegitu bencinya kah tiga hari ini kamu kepadaku? Bahkan kini setelah semua berakhir kamu harus tahu aku sering marah karena aku sayang, aku ingin kamu tidak melupakanku. Lalu tiba hari itu dimana aku mengetahui bahwa kamu adalah tetanggaku. Rumahmu persis di sampingku. Rupanya setelah kutelisik lewat ayahku kamu adalah orang pindahan dari Jakarta. Pantas saja di hari pertama MOS kamu terlambat. Rupanya kamu masih harus menyesuaikan segalanya di sini. Forgive me about it. Kalian pasti bingung bagaimana mungkin tetanggaan dan aku baru tahu setelah selesai MOS? Itu karena selama masa MOS aku menginap di rumah temanku yang dekat dengan sekolahan yang juga anggota OSIS agar mudah untuk mempersiapkan segalanya. Lucu sekali saat kamu baru tahu bahwa aku adalah tetanggamu. Saat itu kamu masih mengerjap tak percaya hingga sapaan yang tak kuduga itu keluar darimu. “Halo, Kak.” Aku masih tak habis pikir dengan gayamu yang memberi salam sambil membungkuk dan dengan cepat berlari ke dalam rumah. Aku jadi teringat surat bencimu kepadaku. Bagaimana mungkin kamu masih mau bersikap manis padaku? Aihh, gemas sekali. Suatu kali saat hujan dan kamu masih menunggu di depan kelasmu, sepertinya menunggu hujan reda. Aku membuka tasku. Memeriksa apakah payung yang selalu bunda simpan di tasku masih ada. Bunda emang yang paling perhatian, padahal aku naik motor dan sudah ada jas hujan yang kusimpan di jok motor. Perlahan aku dekati dia. “Belum pulang?”tanyaku, ia terlihat kaget tapi kemudian tersenyum tipis, aih manisnya. Aku tahu kamu punya lesung pipi tapi jangan panah hatiku sedalam ini. “Iya, Kak,” “Masih nunggu hujan reda ya?”tanyaku sekali lagi. Ia hanya mengangguk. “Kamu sekelas sama Bima?” tanyaku saat itu “Iya Kak,” “Boleh titip payung ini buat dia? Soalnya aku mau rapat OSIS hari ini.” “Tapi dia sudah pulang, Kak,” “Kalau gitu pakai aja dulu buat kamu biar nggak kehujanan baru besok berikan sama Bima,” “Tapi kan-,..” “Udah nggak papa pakai aja,” Lalu dia dengan ragu-ragu memakai payung itu. “Besok aku kembaliin ke dia Kak, swear!” ujarnya yang semakin membuatku tersenyum lebih dalam. Aku hampir lupa jika di sana ada inisial namaku. BA. Ahh, parah. Hari esok usai pulang sekolah dia menunggu di depan rumahku. Saat itu aku segera mematikan mesin motorku dan menghampirinya. “Kenapa nggak masuk aja?” … “Malu, Kak,” ujarnya pelan sambil menggigit bibirnya. “Kok malu sih, biasanya juga malu-maluin,”ucapku yang berhasil membuatnya kesal. “Nih, aku cuma mau mengembalikan payung kakak aja, makasih ya.” Aku tidak segera menerimanya karena aku memang ingin dia terkesan dan memiliki kenang-kenangan dariku. “Kenapa nggak diterima? Aku ada salah?” “Iya kamu ada salah karena kamu beri aku surat benci. Padahal kan ada istilah boleh marah selagi sayang dan itu yang aku lakukan sama kamu pas lagi MOS. Tapi aku nggak nyangka kamu tega balas aku dengan surat benci.” Dia masih mematung dan itu adalah kesempatan untukku cepat masuk ke dalam rumah. Hufft, itulah pertama kalinya secara tersirat aku mengungkapkan rasa sayang ke cewek yang aku suka. Entahlah kalau ayah tahu yang pasti ini bukan hal yang bagus untuk dikatakan ke ayah maupun bunda. Walaupun aku yakin bunda akan perlahan memahami. Tapi ayah? Aku tidak akan pernah yakin dengan beliau. Setelah itu dia berusaha minta maaf dengan cara yang unik. Entah dia meminta siapa nomorku tapi dia bisa mengirim pesan denganku. Lalu memberiku sekotak bekal makanan, dan karena aku tidak tega pada hari itu juga aku bilang jika aku udah maafin dia. Hari-hari begitu ringan dengan dia yang aku suka. Kita belum pacaran. Hingga teman satu kelasnya yang bernama Bima itu menembaknya dengan sekuntum bunga. Aku begitu kesal. Berhari-hari aku mendiamkannya dan baru hari kelima saat aku mendiamkannya akhirnya dia tahu kalau aku cemburu. Dia mengajakku ke gedung yang sepi usai pulang sekolah. “Jadi kenapa kamu menghindar?”tanyanya yang masih kutanggapi dengan diam. “Memangnya dengan diam aku bisa tahu kamu maunya apa? Kamu itu kakak kelas aku ya, tolong jangan bersikap seolah-olah kamu itu malah yang adik kelas aku.” Aku tertegun. Aku menatapnya yang sudah meluap-luap emosinya. “Aku nggak kenapa-kenapa kok,” “Dengan hanya diam dan menghindar itu namanya apa? Amnesia?” Aku cuma menggeleng. Hingga dia yang pertama kalinya mengungkap perasaannya. “Aku suka sama kamu, Kak. Aku suka sama kamu!” Aku kembali tertegun. Artikulasi ucapannya sangat jelas. Tapi aku harus bagaimana dengan cewek ini? Ini pertama kalinya aku tahu bahwa orang yang aku suka juga menyukaiku. Lalu apa? “Lalu apa?” Tanpa sadar kata itu terucap dengan jelas. “Dasar brengsek!!” Iya aku brengsek. Masih tabu dengan hal seperti ini. Hingga akhirnya akal sehatku bekerja dan mengejarnya yang sudah pergi beberapa langkah dariku. Aku menarik tangannya agar dia berhenti. Setelah dia berhenti aku melepas peganganku pada telapak tangannya. “Beri aku waktu,” “Sampai kapan?” “Sampai nanti selepas isya,” Dia tidak berbicara apapun tapi langsung pergi begitu saja. Saat itu aku tahu dia setuju dengan keputusanku. Hal yang menyulitkan kisah cinta remaja adalah saat orang tua kita tidak menyetujuinya. Seperti yag aku alami saat ini, aku di posisi suka sama cewek yang membuatku ingin memacarinya biar nggak ada orang lain yang mengganggunya atau pun mendekatinya. Setelah shalat isya di masjid aku terus memikirkan ini. Lalu aku memutuskan untuk mengirim pesan dengannya. Assalamuallaikum, Awan Waalaikumussalam Kamu belum tidur? Gimana aku bisa tidur jika ada seseorang yang berjanji setelah isya akan memberikan keputusannya Hhh. Cewek ini benar-benar, padahal aku tidak berjanji tapi mungkin bisa menjadi janji bagi perempuan. Aku berusaha paham. Aku juga suka sama kamu Berarti kita pacaran? Nggak tahu Ih terus kita apa? Mau kamu apa? Nggak tahu ah Kamu pengin kita pacaran? Pikir aja sendiri Kalau kamu maunya kita pacaran ya ayo aja. Tapi aku belum pernah melakukan ini. Aku juga belum, tapi aku yakin kita bisa Kamu bisa? Iya dong pacar Yaudah mohon bimbingannya ya Bimbingan? Iya pacar Ehm. yaudah kita resmi pacaran ya besok Kok aku deg-deg an gini ya Ih kamu bilang gitu aku juga deg-degan Obrolan lewat pesan itu terus berlanjut hingga tengah malam dan akhirnya kita sudahi. Aku belum bisa tidur setelah itu. Aku masih memikirkan bagaimana nanti aku akan menyikapinya di sekolah. Nggak mungkin kan aku menghindar darinya lagi. Pasti dia akan marah lagi kalau itu aku lakukan. Dan aku juga nggak mau itu terjadi lagi. Keesokan harinya aku dibangunkan ayah untuk sholat subuh di masjid, padahal aku masih mengantuk dan ingin menambah porsi tidurku biar ideal. Tapi ayah terus menarik tubuhku agar lekas berdiri dan akhirnya dengan kesal aku berwudu lalu menyusulnya ke masjid. Tepat pukul setengah tujuh saat aku sarapan sama ayah, bunda dan Nashwa yang baru umur satu tahun. Dia tiba-tiba mengirimiku pesan. Good morning pacar, udah sarapan? Aku tunggu di depan rumah ya nanti kamu nggak usah bawa motor. Aku deg-deg an bukan main. Kulirik ayah sama bunda yang masih bersikap biasa saja tanpa curiga dengan apa yang aku lakukan. Dengan raut wajah yang kucoba biasa saja aku mengetik balasan untuknya. Iya pacar Lalu setelah terkirim, segera kumasukkan hp ku ke dalam saku celana dan menghabiskan sarapan pagi ini. Aku dan dia akhirnya menjalani proses pacaran ini selama dua tahun. Awalnya tidak ada yang tahu kecuali teman-teman sekolah. Hingga setelah UTS semester satu saat aku kelas 12 dan dia kelas 11 ayah dan bunda mengetahui hal ini. Hari itu memang aku sangat payah. Aku ketahuan boncengan sama Awan sampai rumahnya. Tiba-tiba di rumah ayah sudah menghadangku dengan raut wajah yang diam namun begitu tegas. “Ganti baju, mandi, makan dan temui ayah.” Aku tidak bisa berkutik dan hanya bisa mematuhi perintahnya. Aku duduk dengan gelisah. Lalu ayah perlahan mendekat dan duduk tepat di sampingku. Tidak ada jarak. Ayah benar-benar mepet di sampingku. “Ayah tahu kamu anak yang ayah banggakan. Kamu selalu juara tiga besar di kelas, jadi ketua OSIS dan nggak pernah mengecewakan. Tapi untuk kali ini ayah harus katakan bahwa ayah telah kecewa sama kamu. Kamu tahu apa alasannya?” Aku diam saja. “Karena kamu mengambil keputusan sepihak tanpa bicara atau bertanya pada ayah dan bunda.” “Biru tahu Ayah nggak akan setuju dan memahaminya,” Ayah sedikit tertegun dengan caranya yang diam beberapa saat. “Tapi kamu pasti tahu Ayah punya alasan kenapa tidak menyetujuinya,” Aku semakin menunduk dan tak bisa menatapnya. “Ayah tidak melarang kamu berteman dengan siapa saja, Ayah juga tidak melarang kamu memilih hobi yang kamu sukai, dan Ayah selalu mendukung semua yang kamu pilih jika itu baik untuk kamu, Nak.” Aku tahu ayah akan membahas ini setelah mengetahuinya, tapi aku belum sanggup jika harus menyakiti perasaannya. “Ayah cuma melarang kamu supaya nggak pacaran dulu bila kamu masih bergantung sama Ayah dan Bunda. Apa kamu hanya akan dengan cinta untuk menyenangkan dia yang bahkan juga masih bergantung sama orang tuanya? Jadi orang sukses, mengabdi untuk masyarakat, berguna untuk bangsa dan baru bilang cinta. Saat itu kamu akan tahu ayah melarangmu karena itu terbaik untukmu,” “Apa ayah nggak pernah pacaran?” “Kenapa kamu bilang kayak gitu?” “Karena jika ayah saja pacaran kenapa aku nggak boleh?” “Karena ayah sayang sama kamu!” Intonasi ayah semakin tinggi dan aku sebagai remaja masih mementingkan egoku. Aku berdiri dan menatap matanya. “Buktikan ayah!” Aku berlari ke kamar dan mengunci pintunya. Aku benci melakukan ini, karena semuanya terlihat kekanak-kanakan. Tapi memang baru ini yang bisa aku lakukan. Aku tidak bisa berhenti dengannya, aku tidak mau menyakiti perasaannya, lebih dari itu karena kini aku telah cinta mati dengannya. Seperti yang telah ia tulis. Aku juga sama. Jika ia pergi maka rasanya aku akan mati sebab itu aku menulis akan selalu jatuh cinta dengannya. Malamnya saat pintu sudah tidak aku kunci bunda masuk dan duduk di sampingku. Memeluk bahuku. “Bunda tahu kamu nggak akan bisa menyakiti perasaan orang lain apalagi itu adalah orang yang sangat kamu cintai.” “Jadi aku boleh sama dia, Bunda?” “Ya nggak gitu juga. Intinya Bunda hanya ingin kamu jadi keren dulu, buktikan sama orang yang kamu cintai kalau kamu tidak hanya memberinya cinta tapi segala hal yang bisa membuatnya bahagia,” “Tapi selama ini kita selalu bahagia,” “Ya itu karena masih ada Ayah dan Bunda yang bantu kamu,” “Terus Biru harus gimana, Bunda?” “Pelan-pelan coba kasih pemahaman sama dia kalau kamu dan dia harus berhenti pacaran. Kamu mau jadi orang keren dulu biar bisa bangga bilang cinta sama dia. Nanti kalau kamu udah keren baru kamu bisa serius lagi sama dia. Ayah dan Bunda nggak akan melarang saat itu jika kamu akan pilih dia. Kalau sekarang Bunda akan memihak Ayah karena Bunda tahu kamu belum menjadi orang keren,” “Orang keren yang Bunda maksud itu seperti Ayah?” “Ya bisa jadi, karena Ayah sudah punya kerjaan yang mapan, dewasa, dan mampu menjadi imam yang baik buat bunda karena sudah baik agamanya.” Aku masih terdiam. “Lagian yang kamu lakukan sama dia itu belum direstui oleh takdir.” “Kenapa begitu?” “Ya karena kamu belum tentu jodohnya dan jika nanti kalian nggak disatukan takdir malah dipisahkan oleh takdir, akan lebih sakit kan? Dia yang kamu cintai nggak bisa kamu miliki selamanya.” Aku tertegun. Apakah takdir saat ini sedang mengawasiku hingga nanti ia akan marah dan memisah aku dengan dia. Mungkin takdir akan lebih kejam dari ayah. Aku kembali sendu. Cinta ini begitu rumit. “Tapi aku butuh waktu Bunda.” “Iya Bunda tahu dan tadi Bunda udah berdiskusi sama Ayah kalau kami akan memberimu waktu sampai kamu siap bilang sama dia. Dia tetangga kita kan? Bunda sudah lihat dan dia emang bener-bener cantik. Calon menantu Bunda emang cantik dan manis. Pantas saja ya anak Bunda sulit buat putus sama dia,” bunda terkekeh pelan dan beranjak pergi saat aku mulai kesal. Aku bahkan tidak berpikir sejauh itu. Setelah itu aku berdamai dengan ayah. Tetapi aku luput dari satu hal untuk membuatnya memahami semua yang aku lakukan. Waktu yang seharusnya aku gunakan untuk membuat dia bisa mengerti keadaanku serta keinginan ayah dan bunda malah aku gunakan untuk bersenang-senang saja dengan dia. Aku tidak tega jika dia harus perlahan menjauh dan menjadi asing denganku. Aku belum sanggup. Hingga waktu berlalu begitu cepat. Semua kebahagiaan kita harus cukup sampai aku dinyatakan lulus dari masa putih abu-abuku. Saat kemarin malam ayah juga membuka kembali masa lalunya yang kelam, aku baru bisa menyadari semuanya. Saat itu di gedung yang sepi saat yang lainnya sedang heboh dengan hari kelulusan aku terdiam cukup lama dengan dirinya yang masih tersenyum seperti biasa. “Kamu nggak ikut-ikutan corat-coret baju? Kelihatannya seru tuh,” Lagi-lagi aku terdiam. Ini sungguh sulit. “Kita putus ya,”ujarku pelan. Tapi aku yakin ini masih jelas di pendengarannya. “Apa? Hey kamu nggak bisa main ngeprank kayak gitu ya.” Dia mencubit pelan pinggangku. “Tapi aku serius.” Aku benar-benar serius dengan menatap matanya yang diam. Ia diam dan terus menatapku. Aku berpaling darinya. “Kenapa? Alasannya apa?” Aku menggeleng dan pergi begitu saja. Aku tidak sanggup melihat air matanya. Aku minta maaf untuk putus tanpa alasan Aku minta maaf untuk pergi begitu saja Aku minta maaf untuk air mata yang harus kau linangkan, sayang Semua itu hanya bisa aku ungkapkan dalam diam. Percayalah sayang, ini semua untuk kebaikan kita di masa depan. Aku harus jadi orang keren. Kamu juga. Semoga rasa cintaku yang begitu besar mampu disampaikan oleh takdir kepadamu, agar kamu bisa menungguku. Lagi-lagi ini adalah hal yang sulit.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 56 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (45)
Yxztna_28
Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt
semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa
Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa
23/01/2022
1bagus
15/12
0mantab
21/03/2025
0Tingnan Lahat