Pukul lima pagi setelah salat subuh aku bergegas mandi, ganti baju, menyiapkan barang-barang untuk ospek dan menuju ruang tamu untuk makan bersama dengan mbok Inah dan Pak Joko. Mereka adalah sepasang suami istri yang merupakan pembantu rumah. Mereka sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri. Sementara ayah dan ibuku bekerja. “Nduk, emang ospeknya nanti sampai jam berapa?”tanya mbok Inah sambil mengambil nasi dan menaruhnya di piring. Ia mengambil lauk yang kusukai dan setelahnya menyerahkan di depanku. Aku tersenyum. “Katanya sih sampai sore Mbok, mungkin sampai jam setengah enam,”kataku sambil menyendok nasi dan lauk lalu melahapnya. “Baca bissmillah, Nduk,”peringatnya pak Joko yang sedari tadi diam sambil melahap makanannya. Aku hanya bisa nyengir lalu membaca bissmillah dan biar sempurna kulanjutkan dengan doa mau makan. “Emang kamu ambil jurusan apa to, Nduk?”tanya pak Joko usai makan. “Sastra Inggris, Pak.” Pak Joko hanya mangut-manggut. Tak lama kemudian ia menyesap kopi hitam yang baru saja diberikan mbok Inah. “Aduh, panas!!” jeritnya sambil mengusap-usap bibirnya yang kepanasan. Sudah kuduga akan berakhir seperti ini. Aku tertawa dalam hati. “Oalah, Pak…pak, wong baru saja dibuat yo jelas masih panas to,”kata Mbok Inah sambil melap bibir pak Joko yang belepotan dan memberi air putih ke pak Joko. Aww, romantis. Sebagian besar orang akan menganggap bahwa seorang anak yang ditinggal kedua orang tuanya dalam jangka waktu panjang akan kekurangan kasih sayang dan berakhir dengan anak itu menyimpang. Tetapi aku tidak merasa kekurangan kasih sayang. Sebab, dari mbok Inah dan pak Joko aku banyak belajar. Bahkan saat aku patah hati dan mabuk hanya dengan menghabiskan dua botol Fanta, mereka adalah orang-orang yang selalu di sisiku, menasehatiku dengan berbagai hal yang bahkan aku tidak yakin apakah nasihat itu benar-benar masih membekas semuanya atau tidak. Pastinya yang aku ingat adalah mereka selalu berkata bahwa kalau jodoh pasti bertemu. Tapi jika suatu saat nanti dia benar-benar kembali padaku dengan kata cinta aku tidak akan segera mudah menerimanya. Akan kuberi obstacle-obstacle seperti Roro Jonggrang untuk menguji Bandung Bondowoso. Arghh sudah jam enam lewat dua puluh menit. Aku bergegas mencium punggung tangan mbok Inah dan pak Joko. “Assalamuallaikum.”ucapku “Waalaikumussalam.”jawab mereka serentak. Setelah membuka gerbang rumah aku melihat rumahnya yang hanya berada di sampingku. Mobil ayahnya terlihat keluar dari bagasi. Setelah berada di jalan, mobil itu berhenti dan aku kembali menatap dia yang selalu terdiam saat kita saling melihat. Aku segera berpaling dan berjalan ke halte bus. Aku berusaha mengalihkan ingatanku dengan fakta betapa keren dan gagahnya dia dengan memakai jas almameter kampus. Huh. Aku pasti juga akan bertambah cantik saat memakai jas itu.
Sebelum mobil itu melaju melewatiku, aku harus pergi mendahului mereka. Aku pun segera berjalan setengah berlari agar bisa cepat sampai di halte bus. Sebenarnya lebih enak kalau pesan ojol tapi aku sadar bahwa bumi ini semakin kehilangan oksigennya gara-gara debu polusi, pemanasan global, sampah dan sederet permasalahan lingkungan lainnya. Aku juga gak mungkin sok-sokan buat nasehatin orang-orang supaya menjaga lingkungan. Makanya aku berusaha menjaga lingkungan dari diriku sendiri. Tentu juga dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Contohnya dengan naik kendaraan umum seperti bus bukan pribadi seperti yang si ono lakukan. Hahah. Ups. Oke lupakan tentang dia, karena bus sudah datang dan aku harus masuk. Bus berhenti di halte, tapi aku urung naik karena bejubel dengan penumpang. Bukannya kemayu ya, tapi ini juga untuk keselamatan diriku sendiri. Kalau ramai penumpang kayak gitu dan aku harus bergelantungan. Oh Big No! Bisa-bisa kalau ada truk lewat udah lenyap aku disrempet. Aku harus sabar menunggu, sambil lihat kalau ada cogan lewat. Hihi. Aku pun duduk kembali dan membiarkan bus itu berlalu. Di halte bus ini, hanya ada aku, tiga cewek anak SMA, tiga cowok juga anak SMA. Ya kalik aja masak aku naksir sama dedek gemes, ya kan gak mungkin lah.... Selain itu ada juga seorang ibu-ibu dan suaminya yang menggendong anak mereka. Seketika aku jadi teringat mamah dan papah yang jauh nun di sana. Apa kabar ma? Apa kabar Pa? Lama kita nggak berjumpa? Awan kangen sama papa dan mama, aku harap papa dan mama bisa cepat pulang. Tak terasa aku pun meneteskan air mata. "Jangan diusap pakai tangan, nanti lecet pipinya. Nih pakai tisu aja." Seorang pria tiba-tiba duduk di samping ku dan memberiku tisu. Aku pun menerimanya dengan senyuman. Nah ini baru yang namanya cogan. Heheh. "Makasih ya, jadi malu ketahuan nangis." "Emang kenapa kok nangis?" tanya cowok itu. "Nggak, nggak papa, nggak penting juga." "Cewek suka gitu ya, kalau ditanya jawabnya gak papa padahal udah ketahuan nangis. Eh..just kidd lho ya..." "Statement kamu itu harus diubah, karena nggak semua cewek kayak gitu. Karena nggak semua hal harus diungkapkan dan nggak semua hal perlu kamu ketahui. Terkadang nggak tahu segalanya itu lebih baik daripada tahu segalanya. Right?" "Oh my God... kamu cewek yang di luar dugaan ya..." "Oh tentu. Kamu nggak tahu ya kalau aku ini limited edition?" "Oh ya? Wouww..." Kemudian bus datang dan aku terpaksa pamit dengan cowok itu. Aku baru ingat belum tanya namanya. Oh bodohnya aku!
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 18 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (45)
Yxztna_28
Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt
semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa
Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa
23/01/2022
1bagus
15/12
0mantab
21/03/2025
0Tingnan Lahat