[Sudut Pandang Pria] Tak Perlu bertanya untuk apa semua yang aku lakukan. Semua itu jelas-jelas karena aku tak bisa beralih dari jatuh cinta denganmu lagi. I’m Stuck With You Sudah setahun yang lalu kisah itu berakhir tapi semua usaha untuk melupakan dan menghindar dari keberadaannya hanya sia-sia. Nyatanya aku masih cemas saat sosoknya tak terlihat memasuki gerbang rumahnya. Padahal sudah jam lima sore. Tapi kenapa kali ini dia belum pulang-pulang? Argghhh aku bisa gila. Aku benar-benar bisa gila karena ini. Tiba-tiba dia terlihat di depan gerbang rumahnya dengan seorang cowok. Meskipun cowok itu adalah temannya tapi aku merasa tidak baik-baik saja. Dia cowok, tampan dan sangat perhatian dengannya. Semua itu bagaimana mungkin bisa membuatku baik-baik saja. Tidak ada yang salah di sini, tapi sebagai mantan bolehkan aku masih cemas terhadapnya? Kita putus bukan karena orang ketiga, tetapi keadaannya sungguh berhasil membuat kita saling menjauh satu sama lain. Semua terjadi diluar ekspektasiku. Tapi aku harus melakukannya. Aku memang yang salah. Aku pergi begitu saja tanpa memberikan alasan apapun padanya. Padahal dengan posisi rumahnya yang begitu dekat dengan rumahku semakin tak bisa membuatku segera melupakannya bahkan jika rumahnya jauh pun aku tak yakin bisa melupakannya. Dia cinta pertamaku dan dalam rentang waktu dua tahun itu kita selalu bahagia. Aku memang telah menyakiti perasaannya tapi aku punya alasan yang baik untuk kita berdua ke depannya, bahkan alasan ini cukup masuk akal agar kita tidak saling patah bila takdir membuat kita semakin terpisah. Jika dia tahu, dulu adalah wisuda terburuk bagiku. Dia tidak datang menghampiriku dengan mengucapkan kata selamat atau pelukan hangat yang membuatku semakin semangat. Dia hanya mematung sambil menatap kosong semua ingar bingar wisuda yang sedang berlangsung. “Ayah tahu kamu sangat mencintainya tapi kamu sudah janji sama ayah ketika semua cerita masa lalu ayah sudah ayah ceritakan semua, kamu akan berhenti menjadi pacarnya.” Aku masih terdiam meski ayah terus mengusap bahuku. Bagiku melupakan cinta pertama sama halnya menghentikan rokok bagi pecandunya. Lalu perlahan ayah pergi meninggalkan diriku yang masih mematung di depan jendela kaca ruang tamu. Dia sudah masuk ke dalam rumahnya sejak tiga menit yang lalu. Aku berjalan memasuki kamarku yang sepi, aku bukan anak tunggal tapi adikku baru berumur tiga tahun dan dia masih terlelap dalam tidurnya bersama bunda. Aku duduk di meja belajar. Mengacak-acak rambutku. Bahkan foto-foto kebersamaan kita dengan teganya telah kuhilangakan tanpa menyisakan satu pun. Hanya ada satu kertas yang ia tulis saat hari pertama kita jadian. Aku membukanya dengan sendu, Aku harus mengaku bahwa ini pertama kalinya aku cinta mati pada seorang pria setelah ayahku. Sampa-sampai rasanya mau mati jika ia berencana akan pergi meninggalkanku. Promise me You’ll be my side. Aku melipat kembali kertas itu. Rasanya semakin perih jika membaca tiap kalimatnya. Rasanya jika waktu bisa diulang aku akan mengatakan padanya bila dia tidak harus menulis itu untukku. Cerita ini akan semakin mudah untuk diterima jika keadaannya kita sudah tidak saling mencintai lalu berpisah dengan cara baik-baik. Tapi kita masih saling mencintai. Aku tahu dia mencintaiku tapi dia pasti tidak tahu kalau aku masih mencintainya. Itu yang terasa menyakitkan. Aku tidak yakin jika dia akan menungguku. Walaupun aku berharap jika kita akan terus saling mencintai dan saling menunggu hingga waktu yang tepat untuk kita lebih serius memikirkan ini. Lagi-lagi ini bukan soal yang mudah bagi kita bisa sepakat untuk menunggu. Ini soal yang rumit bagiku dan dengannya yang belum mengerti posisiku saat ini. Perlahan kubuka juz amma berukuran kecil yang tiap harinya aku hafal. Ayah selalu menyuruhku menghafal juz amma yang berisi surah-surah juz 30 agar aku bisa melupakan dia. Tetap saja jika dia masih berotasi dalam hidupku mana mungkin aku bisa melupakannya. Kata guruku, aku seorang penghafal yang baik dan hal itu membuat sugesti bahwa memang aku ini penghafal terbaik. Buktinya dalam waktu satu bulan aku mampu menghafal sampai surah An Naba, tinggal dua surah lagi aku sudah mampu menghafal 1 juz. Selain itu kamu pasti tahulah bahwa seorang pria menyukai tantangan. Aku anggap menghafal Al Quran adalah tantangan yang diberikan ayah untukku. Aku bisa dan aku akan buktikan pada ayah. Aku terus melafazkan surat An Naziat ayat satu sampai sepuluh. Kuulang terus menerus meski sulit. Kadang-kadang kurebahkan diriku tanpa menghentikan menghafal. Setiap kuingat masa lalu, saat itu pula aku semakin keras dalam menghafal. Hingga tak terasa air mataku menetes. Aku merasa menjadi hamba yang tak tau diri. Mengharap dikabulkan segala permintaan olehNya tapi tak pernah membalas cintaNya. Aku pun tak kuasa meneteskan air mataku. Pintu diketuk dari luar. Aku buru-buru menyeka air mataku. Jujur aku malu jika harus ketahuan menangis. Setelah itu aku pun membuka pintu kamarku.Terlihatlah bundanya yang mengetuk pintu. "Ada apa, Bun?" tanyaku. Biasanya Bunda jarang jam segini ke kamarku. "Nggak papa, kamu kenapa belum tidur?"tanya Bunda. "Mmmm... lagi menghafal Bun..." jawabku "Masyaallah anak Bunda. Kamu boleh semangat menghafal tapi jangan lupa untuk istirahat juga,"kata bunda yang kuangguki saja. "Pasti." "Yaudah, kalau gitu, bunda tidur ya." "Siap. Bunda tidur gih..." Bunda pun menutup pintu kamarku dan pergi ke kamarnya. Aku pun kembali menghafal surat An Naziat ayat satu sampai sepuluh sampai tertidur.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 18 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (45)
Yxztna_28
Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt
semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa
Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa
23/01/2022
1bagus
15/12
0mantab
21/03/2025
0Tingnan Lahat