Saat itu Badra menceritakan semuanya pada Edwin. Setiap kali disebut nama emak, Edwin selalu menunjukkan raut kesedihan yang begitu mendalam. Sesekali Edwin meminjam foto Lasmi yang selalu Badra bawa di dalam dompetnya.Itu adalah kisah pilu yang masih tersimpan rapi di hati Edwin. Dalam keluarga ini, Badra sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga. Mulai dari biaya sekolah hingga masuk kuliah, semua sudah ditanggung oleh Edwin.Terlepas dari kebaikan Edwin, hubungan Badra dengan Jack sudah tak baik sejak awal bertemu. Wajar saja jika sikap Jack begitu dingin. Jack menganggap Badra hanyalah orang asing yang tiba-tiba masuk kedalam keluarganya. “Nilai semestermu masih bagus, Badra. Kau benar-benar berbakat,” puji Edwin. “Ini semua berkatmu. Aku tak bisa seperti ini tanpamu.” “Halah, paling itu bukan nilai murni.” Jack menimpali. “Jaga bicaramu,Jack!. Seharusnya kau belajar darinya. Lihat nilaimu. Apa saja sebenarnya yang kau kerjakan dikampus?Kau seharusnya belajar lebih giat.” Edwin menegur Jack. Edwin terlihat kesal melihat sikap Jack yang sering kali bersikap kurang baik pada Badra. Sesekali Jack mengucapkan kata-kata tak pantas pada Badra tentang keluarganya. Badra tak pernah sedikit pun membalas perlakuan Jack. Ia menyadari kalau dirinya memanglah orang asing di keluarga Edwin. Jack Pun berlalu pergi dengan ekspresi penuh kekesalan. Sebenarnya Badra sudah beberapa kali meminta izin pada Edwin untuk pamit dari rumah itu. Ia merasa Jack tak akan pernah bisa menerimanya,namun Edwin selalu melarang. Jika dilihat dari sikapnya, Edwin memang terlihat lebih menyukai Badra dibandingkan Jack.
“Mungkin tak seharusnya kau bersikap seperti itu pada Jack,” ucap Badra memberi sedikit saran pada Edwin. Edwin lantas menatap Badra dalam. Ia menuju sofa untuk sedikit melemaskan badannya, meregangkan otot-ototnya. Raut wajahnya terlihat sedikt tak muram. “Kaumungkin benar, Badra. Selama ini aku kerap sekali memarahinya.Tapi begitulah orang tua. Kau akan memahami sendiri ketika sudah menjalaninya. Bagaimanapun sikap orang tua kepada anak itu adalah bentuk kasih sayang, meskipun kita sering kali mengartikannya berbeda.” Badra terdiam mendengarkan apa yang disampaikan Edwin. “Badra. Aku memahami perasaanmu. Seberapa pun bencinya dirimu kepada ayahmu,kau akan merindukan sosok ayah. Seberapa baiknya aku padamu,aku tak akan bisa menggantikan sosok ayahmu. Tanpa kau sadari, aku sering kalimelihatmu memandangi foto ayah dan ibumu. Kau sudah cukup lama berkelana,Badra. Jika suatu saat kau telah sampai pada ujung pencarian, pulanglah.Temui ayah dan ibumu.” Perkataan Edwin sedikit menggetarkan hatinya.'Mungkin memang benar, akus edikit rindu,tapi bukan untuk Bapak. Hatiku sudah lama mati untuk Bapak.Jika ada orang yang sangat aku rindukan, itu adalah Emak dan Fefi,' batin Badra. “Hidupku sudah tak lagi sama. Kini aku punya mimpi yang ingin aku capai.Jadi aku fokus untuk itu,” ucap Badra. Edwin tersenyum. “Kejarlah mimpimu,Badra. Jika kau sudah mencapainya,temuiaku. Aku akan memberitahukan sesuatu padamu.” Badra hanya mengangguk. “Ya sudah, aku ke gereja dulu. Tadi aku sudah menyuruh pelayan untuk mengganti sarung dan sajadahmu.Semoga kau suka.” Meskipun Edwin tahu kalau Badra tidak pernah menjalankan ritual keagamaan,tetapi ia selalu mengingatkannya, meskipun tak secara langsung menyuruhnya untuk melakukannya. 'Entah, aku sudah tak tahu lagi siapa Tuhanku. Terlalu banyak Tuhan didunia ini. Jika Tuhan itu benar-benar ada,ia pasti dekat. Tak perlu aku harus menemuinya di gereja, masjid, kuil, wihara,atau di manapun itu,' pikir Badra. Sementara Edwin pergi ke gereja, Badra kembali kekamarnya, membaca buku-buku seputar ekonomi. Seperti itulah hidupnya selama tiga tahun terakhir, bersanding dengan keluarga baru dan bergelut dengan buku-buku.Edwin selalu berkata padanya, 'Bacalah buku sebanyak mungkin, maka dunia ada dikepalamu.' Itulah yang membuatnya begitu bersemangat. Tak hanya buku, surat kabar, dan berbagai jenis tulisan selalu ia sempatkan untuk membacanya. Sebegitu asyiknya membaca buku Badra sampai tak menyadari kalau waktu sudah mmenunjukan pukul satu dini hari. Ia menatap jam dinding yang ada disebelah kirinya, Badra sempat terdiam sejenak menatap detik jarum jam. Mendadak Dadanya terasa sedikit sesak. Ia seperti merasakan kesedihan yang begitu dalam namun tak bisa dilukiskan. Semakin lama perasaan itu semakin kuat, Badra menduduk terisak namun tak ada satu tetespun air mata yang menetes. Perasaan itu sungguh aneh. Keesokan harinya tepat pukul 06.36, Badra dibangunkan oleh suara tangisan. Sebuah tangisan yang tak biasa. Terdengar tersedu-sedu dan sangat menyedihkan. “Bukankah itu suara Alice? Kenapa ia menangis?” Badra merasa ada yang aneh. Badra beranjak dari tempat tidurnya, menghampiri Alice untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Dari lantai 2 Badra melihat kerumunan orang di ruang tengah. Semua pekerja berkumpul disana.Terlihat Alice yang sedang bersimpuh, menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh Edwin yang terkulai lemas diatas sofa. Sementara Jack dan para pelayan berdiri di sekitarnya. Perlahan Badra turun menyusuri tangga dengan tatapan nanar. Kedua kakinya bergetar. Langkahnya terasa begitu berat. Ia terus berjalan menghampiri tubuh Edwin. Suasana terasa sangat kelabu. Awan kelam terasa seperti menyelimuti kediaman Edwin. Semua tampak berduka, begitupun yang Badra rasakan. “Mau apa kau! Jangan kau sentuh ayahku!” teriak Jack. Badra menghentikan langkahnya, menatap tajam kearah Jack. Dari tatapannya seolah-olah ia berkata, 'Diam kau!' Badra melanjutkan langkahnya menuju badan yang terbujur lemas itu. “Bukankah ini yang kau mau?” teriak Jack lagi. “Kau tak pantas meneteskan air mata itu!”. Jack berteriak pada Bada penuh kemarahan. Di depan Badra terdapat satu tubuh yang sudah tak lagi berdaya. Wajah Edwin terlihat pucat. Tak ada pergerakan apa pun. Tubuh itu terlentang di sofa seperti orang sedang tertidur pulas. Kedua tangannya berada di dada. Saat itu juga Badra tahu,kalau Edwin sudah tak lagi disini. ** Usai prosesi pemakaman para pelayat satu persatu meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Edwin. Banyak orang-orang penting datang untuk mengantarkan Edwin ke alam keabadian, salah satunya Dazo, pemimpin dari Ghost Shadow. Dari kejauhan Dazo mengamati Badra yang masih berada dipemakaman bersama Alice. Dazo tersenyum "Pantau dia" ucap Dazo pada Jeki sembari berbalik meninggalkan lokasi. "Baik Tuan"
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 21 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (194)
SUPRIADICEPI
Cerita yang banyak sekali dinamika yang terjadi dan ada inspirasi yang bisa kita ambil, Terimakasih kepada penulis sudah memberikan cerita yang kaya akan alur
03/04/2022
0
francescaFioren
ceritanya sangat menarik, ceritanya mudah di pahami, banyak pesan moral, wajar ratingnya tinggi, cerita alurnya sangat menarik, sangat bagus cerita nya, saya akan memberi tau temen saya untuk ikut melihat cerita/novel ini
02/03/2022
8
Novel yang menceritakan kisah yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat mudah dipahami. Bahasa yang digunakanpun mudah dicerna dan dimengerti. Bravo buat sang penulis.
Cerita yang banyak sekali dinamika yang terjadi dan ada inspirasi yang bisa kita ambil, Terimakasih kepada penulis sudah memberikan cerita yang kaya akan alur
03/04/2022
0ceritanya sangat menarik, ceritanya mudah di pahami, banyak pesan moral, wajar ratingnya tinggi, cerita alurnya sangat menarik, sangat bagus cerita nya, saya akan memberi tau temen saya untuk ikut melihat cerita/novel ini
02/03/2022
8Novel yang menceritakan kisah yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat mudah dipahami. Bahasa yang digunakanpun mudah dicerna dan dimengerti. Bravo buat sang penulis.
28/02/2022
4Tingnan Lahat