logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

EPISODE 5

Pukul 19.00, mereka telah sampai di Conrad Hotel. Letaknya tak jauh dari pusat keramaian Stasiun Yuri kamome Shiodome, Tokyo, Jepang. Alice dan Rahma tampak semringah ketika memasuki kamar hotel yang megah.
“Wah,mewah sekali,Kak,”ucap Alice.

“Istirahatlah. Besok kita akan menghabiskan banyak waktu,” ucap Badra.
“Apa kau memesan pijat refleksi juga, Badra? Sepertinya aku butuh sentuhan wanita untuk mengembalikan stamina tubuhku.
"Hiih dasar" Alice menimpali.
“Kalian mau makan apa?Biar aku pesankan,”tanyaBadra.
“Sukiyaki,Kak,dua porsi.Hehe,”jawab Alice cepat.
“Aku rasa aku harus mencoba ramen di sini,” sahut Jeki.
“Kau ingin makan apa?” Badra bertanya pada Rahma.“Apa saja,”jawab Rahma singkat.
Pukul 23.00,saat semuanya sudah terlelap, Badra berjalan keluar hotel menyusuri Jalan Kanfuta. Masih di kawasan hotel. Tepat di ujung pertigaan Jalan Kanfuta, terdapat bangunan besar menjulang dengan lambang ‘S’ diatasnya.Bangunan tersebut adalah kelab malam milik Shain, salah satu mafia besar internasional. Badra tak mungkin menghabiskan waktunya di Jepang hanya untuk jalan-jalan. Ini adalah misi pertamanya setelah penobatan kemarin.Dari seberang jalan, terlihat jelas lambang ‘S’ berwarna emas yang terpampang diatas gedung, menunjukkan kalau tempat tersebut adalah lokasi dari pusat aktivitas kelompok Shain.Di gedung inilah pusat perjudian terbesar di Asia. Tak jauh dari kelab malam itu terdapat kantor polisi yang memang sengaja dibangun untuk menjaga keamanan disekitar lokasi.Terlihat puluhan polisi tengah berjaga didepan markas.
Apa yang Badra lakukan malam ini akan sedikit mengusik kelompok itu. Dengan langkah mantap,Badra berjalan menuju markas Shain.Terdapat dua orang penjaga yang berdiri di pintu masuk, mengenakan atribut serba hitam. Sementara di beberapa titik, Badra menyadari ada penembak jitu tak terlihat yang siap menembaknya kapan saja.
Kedua penjaga itu menghentikan langkahnya.
“Nani ga hitsuyodesu ka—ada perlu apa?” Satu dari mereka bertanya dengan wajah garang. Satu tangannya bersiap menari kpistol dari balikjas.
“Haromo-san ni nanika arimasu ka—ada sesuatu untukTuan Horomo,” jawab Badra sembari menunjukkan kotak kacaberisi artefak.
Salah satu dari mereka mengarahkan sinarX-Ray ke tubuh Badra, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki
“Anzen’na—aman,”ucapnya.

“Sa,darekaga anata ni aitai—Tuan,ada yang ingin bertemu dengan Anda.”Salah satu penjaga memberitahu melalui earphone.
Penjaga tersebut terlihat mendengarkan dengan saksama apa yang sedang disampaikan oleh bos mmereka.“Kashikomarimashita—baik, Tuan.”
“Nyuryoku shite kudasai.Anata wa goei sa remasu—silakan masuk. Anda akan diantar orang kami didalam,”katanya.
Memasuki area lobi, Badra langsung dikawal lima orang bersenjata. Dua orang di depan bertugas sebagai penunjuk jalan,sementara dua orang berada di belakang mengawasi pergerakannya. Satu orang lagi bertugas membawa artefak yang hendak Badra berikan kepada Tuan Haromo. Setelah menaiki lift,sampailah Badra di lantai 6 yang kabarnya adalah lantai terseram dari gedung ini. Di sinilah area vital sekaligus markas Shain. Penjaga-penjaga di lantai 6 adalah orang-orang terlatih dengan kemampuan pertahanan dan inteligensi yang tinggi. Sekitar 70% dari mereka adalah mantan tentara yang dikeluarkan secara tidak hormat dari militer.
“Opunsutsu, kutsu, tokei—buka jas, sepatu, dan jam tangan,” kata penjaga pertama dilantai 6.
Badra mengikuti instruksi dan kembali berjalan tanpa mengenakan alas kaki. Banyak yang mengatakan akan sangat mencekam ketika melewati area inti dari markas Shain,tetapi tidak untuk Badra. Rasa takutnya sudah hilang, hanya ada ambisi dan hasrat dalam dirinya
Tak lama kemudian, Badra sudah memasuki sebuah ruangan bernuansa gelap. Hanya terdapat lampu dinding sebagai penerang. Tak hanya itu, aura kegelapan juga tampak di setiap interior ruangan. Mulai dari dinding sampai lukisan.Terdapat juga sebuah tabung kaca berdiameter 3 meter yang menjulang tinggi di tengah-tengah ruangan.
Satu orang pengawal berbicara melalui earphone.Tak lama setelah itu, lantai yang berada di dalam tabung kaca terbuka. Muncul sesosok pria tua yang tengah duduk bersila dengan mata terpejam keluar dari bawah lantai. Badra tak begitu terkejut melihatnya. Ia hanya melihat sosok laki-laki tua tak berdaya tengah duduk bersila di depannya. Badra menatapnya santai.
“Koko ni kuru no ni jubun’na yuki ga arimasu — kau cukup punyan yali untuk datang kemari,” ucap Tuan Haromo.
“Anata no ansei o jama shite moshiwakearimasen—maaf sudah mengganggu istirahat Anda,” Badra membungkukkan badan tanda hormat.
Laki-laki tua itu tertawa.
“Anata ga koko ni kuru no wa nandesuka? Purezento o todokeru tame dake ni kokoni kuru nawa fukanodesu—apa yang membuatmu datang kemari? Mustahil kau kemari hanya untuk mengantarkan hadiah.”
Badra tersenyum. Obrolan mereka dipisahkan oleh sebuah kaca tebal,tetapi suara Tuan Haromo terdengar sampai ke sudut-sudut ruangan.
“Tabun watashitachi wa sore ni tsuite hanasu hitsuyo ga aru—mungkin kita perlu membicarakannya berdua,”ucap Badra.
Ruangan hening sejenak.
Tuan Haromo melihat satu persatu pengikutnya. Ia memberi isyarat dengan anggukan. Tanpa kata-kata,para pengawal pun berbalik dan meninggalkan ruangan. Perlahan, kaca yang mengelilingi Tuan Haromo terbuka keatas.
“Suwaru—duduklah,” ucap Tuan Haromo.
Badra maju beberapa langkah mengambil posisi duduk tepat di depan Tuan Haromo dengan kaki bersimpuh.
“Watashi no tochaku ga anata o jama shite, sumimasen. Watashitachi kara no okurimono o uketotte yorokonde itadakerudeshou,Ghost Shadow—maaf bila kedatangan saya mengganggu Anda. Saya yakin Tuan akan senang menerima hadiah dari kami, Ghost Shadow.” Dengan penuh percaya diri,Badra memberikan sebuah artefak kunopeninggalan Kerajaan Mataram.
Tuan Haromo memperhatikan dengan saksama artefak tersebut. Melihat secara detail bagian demi bagian.“Namihazureta—luar biasa,” ucapnya kagum. “Anata no namaewa—siapa namamu?”
“Badra,”jawab Badra singkat.
“Watashi wa anata no yona wakai hitotachi ga kokoni kuru koto o aete kangaeta koto wa arimasen. Anata wa hitori de koko ni kuru kikensei o shitte imasu ka?Anata ni taisuru hosho wa arimasen—tak kusangka anak semuda dirimu berani datang kemari. Apakah kau tahu risikonya jika datang kemari seorang diri?Tak ada jaminan untukmu,”gertaknya.
Mendengaritu,Badra hanya tersenyum tipis.
“Watashi wa sore ni tsuite kangaemasen. Watashi ga koko ni heion ni kureba, watashi wa kizu no naku deru koto gadekiru to omoimasu. Sode wanaidesu ka?—aku tak memikirkan hal itu, Tuan. Jika aku ke sini dengan damai, aku rasa dapat keluar tanpa luka gores sedikit pun. Bukankah begitu, Tuan?”
Tuan Haromo tertawa. “Watashiwa anata o shinjiru noga sukidesu. Sorede, anata wa watashi ni nani o teikyo shimasuka?—aku suka dengan rasa percaya dirimu. Lalu apa yang akan kau tawarkan padaku?”
“Anata no kuni ni kuko o tsukurimasu. Watashitachi wa anata no hitobito ga kono purojekuto ni sanka suru koto o shitteimasu. Anata wa watashi no shucho o rikai shita ni chigainai—kami akan membangun bandara di negara Anda. Kami tahu orang-orang Anda akan ambil bagian dalam proyek ini. Anda pasti sudah mengerti maksud saya.” Badra menjelaskan.
“Yokuwakaranai—aku tak yakin untuk itu,” jawab Tuan Haromo singkat.
“Indonesia de wa sucho-duru soto no mahi shita Shain ni zokusuru naito entate imento o sai un’ei suru koto ga dekimasu. Kantandesu. Watashitachi ni hoho o atae nasai,-so sureba anata no mono o torimodosudesudeshou. Kono ofa wa ichidodake yukodesu. Dou desu ka?— Kami dapat mengoperasikan kembali kelab malam milik Shain senilai triliunan dolar yang lumpuh di Indonesia. Itu mudah bagi kami. Beri kami jalan dan Anda akan mendapatkan kembali apa yang menjadi milik Anda. Tawaran ini hanya berlaku satu kali. Bagaimana, Tuan?”
Tuan Haromo kembali tertawa. “Watashi wa anata ni kanmei o ukete imasu. Anata wa, wakai densei ga 75-sai no dansei to hanashite iru yo ni wa miemasen. Anata no kuni no watashitachi no shisan no uchi 120-ko ga anata ni mahi o okosase, soshite ima anata wa koko ni kite torihiki o teikyo shimasu. Yakuwari o hatasubekidesu—aku terkesan padamu. Kau tak tampak seperti pemuda yang sedang berbicara dengan orang tua berusia tujuh puluh lima tahun. Lima puluh aset kami di negaramu telah kalian lumpuhkan dan sekarang kau datang kemari menawarkan kesepakatan. Seharusnya sekarang kita berperang.”
“Watashitachi wa tatakawanakereba naranai toki wa itsudemo junbi ga dekite imasu. Tadashi, sore ga mondai o kaiketsu suru hohode wa arimasen. Chesu-ban no ue ni mo onaji koma ga
arimasu. Watashitachiha gemu no ruru ni shitagau node,dare ga
sugurete iru no ka ga wakarimasu—kami siap kapanpun jika harus berperang. Akan tetapi bukan begitu cara kami menyelesaikan masalah. Dalam papan catur, kita mempunyai bidak yang sama, kita ikuti aturan mainnya maka kita akan tahu mana yang lebih unggul.”
Tuan Haromo dibuat terkekeh.“Anata wa hontōni watashi no waka-sa o omoidasa semasu. Niijyuu pasento watashitachi ni totte, subete ga sumūzu ni susumimasu—kau sungguh mengingatkanku pada masa mudaku. Dua puluh persen untuk kami, maka semua akan berjalan lancar.”
Badra tersenyum. “Watashi wa sore o kangaete kimashita. Anata wa anata ga nozomumonono niijyuu pasento o erudeshou. Anata no shisan kara watashitachi no tame ni mo niijyuu pasento soshite anata wa anata no shisan o torimodosudeshou—aku sudah mempertimbangkan itu Tuan. Kau akan mendapatkan dua puluh persen seperti yang kau inginkan. Dua puluh persen juga untuk kami dari asetmu dan kau akan mendapatkan kembali asetmu.”
“Anata mo kōshō ga kanari jōzudesu. Niijyuu pasento mondaiarimasen—kau cukup pintar juga bernegosiasi. Dua puluh persen tak masalah.”
“Sore de kōshō wa owarimashita, anata ga shiawasedearu koto o negatte imasu—kalau begitu negosiasi kita sudah selesai, kami harap Anda senang, Tuan?” Badra berdiri dan menjulurkan tangannya.
Dengan kondisi tubuh yang sudah mulai renta,Tuan Haromo berusaha untuk bangkit dari duduknya. Posisi berdirinya tampak sudah tak lagi sempurna.
“Watashi wa anata no mōshide o yorokonde ukeiremasu—dengan senang hati aku menerima tawaranmu.”
Kedua tangan mereka saling berjabat, tanda bahwa kesepakatan telah dibuat.
“Dazo ni aisatsuwosuru—sampaikan salamku untuk Dazo,” ucap Tuan.Haromo.
Pukul 02.00 waktu setempat, Badra kembali ke hotel. Jeki terlihat pulas di tempat tidurnya, sementara Badra masih harus menyelesaikan perizinan untuk proyek itu selama tiga hari kedepan.
Badra menguap, membentangkan kedua tangannya yang terasa lelah berhadapan dengan laptop.
Hari ini lelah sekali,batinnya.
***
“Kak,bangun. Aku sudah memesankan sarapan.” Alice berusaha membangunkan kakaknya.
Badra terbangun dari tidurnya. Ia tak sadar jam berapa terbaring hingga tertidur diatas sofa. Malam tadi sungguh begitu melelahkan untuknya. Setelah ini ia harus segera menyelesaikan tugasnya.
Nada dering telepon milik Badra berbunyi.
“Halo.” Badra mengangkat panggilan telepon dari salah satu ajudannya.
“Ada masalah,Pak. Anda diminta segera kembali.”

Komento sa Aklat (194)

  • avatar
    SUPRIADICEPI

    Cerita yang banyak sekali dinamika yang terjadi dan ada inspirasi yang bisa kita ambil, Terimakasih kepada penulis sudah memberikan cerita yang kaya akan alur

    03/04/2022

      0
  • avatar
    francescaFioren

    ceritanya sangat menarik, ceritanya mudah di pahami, banyak pesan moral, wajar ratingnya tinggi, cerita alurnya sangat menarik, sangat bagus cerita nya, saya akan memberi tau temen saya untuk ikut melihat cerita/novel ini

    02/03/2022

      8
  • avatar

    Novel yang menceritakan kisah yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat mudah dipahami. Bahasa yang digunakanpun mudah dicerna dan dimengerti. Bravo buat sang penulis.

    28/02/2022

      4
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata