logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

EPISODE 4

Badra berjalan seorang diri ditepi jalan. Hujan tak kunjung berhenti mengguyur badannya sedari kemarin. Kaki yang semakin lemah memaksanya berhenti sejenak di bawah jembatan flyover.Ia meluruskan kedua kakinya, memijat pelan urat-urat yang mulai terasa terbakar.Sesekali cipratan air dari jalan mengenai wajahnya saat sebuah mobil melaju kencang di atas genangan air.
Badra masih belum tahu harus melangkahkan kaki kemana.Setelah kemarin sempat menjadi penumpang gelap kereta, kini ia harus terlunta-lunta di kota yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Selepas hujan reda pukul 18.45, Badra beranjak pergi mengikuti arah kaki membawanya. Lampu-lampu kota tampak indah disepanjang jalan. Pantulan lampu membuat nuansa malam semakin syahdu, membuat hatinya merasa lebih tenang.
Perjalanan panjang membuatnya merasa lapar.Tangan kanannya meremas perut yang terus saja meronta sepanjang hari. Banyak penjual jajanan dipinggir jalan, namun ia tak memiliki cukup uang untuk membelinya. Hanya bisa menelan ludah setiap kali melihat orang menyantap makanan.
Pandangan Badra terpaku pada warung sate ayam yang ramai oleh pembeli. Aroma ayam bakar membuat perutnya semakin berontak. Sambal kacang yang terlihat kental pedas begitu menggugah selera. Di sela-sela riuhnya pembeli, datang dua orang anak remaja memasuki warung sate tersebut sembari membawa gitar dan kecrek.Mereka bernyanyi diantara pengunjung.
Seketika tebersit sebuah ide di kepala Badra. Tanpa pikir panjang, ia langsung meraih sebuah botol bekas yang tergeletak di depannya. Ia juga mencari beberapa kerikil untuk dimasukkan kedalam botol.
'Dengan begini aku bisa mendapatkan uang' pikirnya.
Sekitar satu jam Badra menjajakan suaranya dari lapak kelapak. Berbekal 'kecrek' sederhana dari botol bekas, Badra sudah dapat mengumpulkan rupiah. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai Rp50.000,00 rupiah hanya dalam waktu satu jam. Badra kembali menghitung uang hasil ngamen pertamanya malam ini. Ia ambil Rp20.000,00 untuk makan, sisanya ia simpan.
Esokharinya, Badra kembali memamerkan suara emasnya. Tak peduli apa kata orang, toh ia tak mengenal mereka semua. Yang ia pikirkan hanya bagaimana caranya mengganjal perut.
Badra bernyanyi dengan penuh percaya diri disebuah lampu lalu lintas.Suaranya tak begitu buruk. Ia cukup pandai bernyanyi.Satu persatu kendaraan yang tengah berhenti ia sodorkan gelas plastik kosong sembari melantunkan lagu Ebiet G Ade. Beberapa orang memasukan koin lima ratus rupiah, ada juga yang meletakkan uang pecahan lima ribu rupiah.
"Siapa namamu, Nak?" Seorang pria yang sudah cukup tua menyapanya dari balik jendela mobil Xenia hitam.
Badra memandang pria itu dalam. Dengan tegas ia menjawab "Badra. Badra Notonegoro" ucapnya mantap.
"Kau cukup tampan untuk seorang pengamen Badra. Dimana rumahmu?" Badra menggeleng.
"Naiklah.Aku mengenalmu."
Apa maksudnya dengan mengenalku, pikir Badra bingung.
Ini kota besar, jelas Badra tak mungkin begitu saja menerima tawaran dari orang asing yang baru pertama kali ia temui.Satu hukum yang ia tanamkan sejak dulu ialah, jangan pernah percaya pada siapapun, bahkan dengan orang terdekatmu sekalipun.
"Lasmi," ucap pria itu.
Sontak Badra terkejut, wajahnya terperangah mendengar pria asing itu menyebut nama Lasmi.
"Naiklah, Badra. Aku akan menjelaskan semuanya."Berbalut rasa penasaran dengan sejuta pertanyaan,
Badra pun menerima tawaran pria asing itu untuk naik ke dalam mobilnya.Ia merasa ada sesuatu yang harus ia ketahui.
'Sungguh tak masuk akal, ada orang yang mengenaliku disini,bahkan aku baru perta mamenginjakkan kaki di kota ini,' batinnya.
Pria itu terus mengemudikan mobil tanpa satu patah kata pun.Hanya lagu "Bolevard" dari Dan Byrd yang ia putar berulang-ulang.Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuahtoko.
"Turunlah,Badra."
Badra turun dari mobil mengikuti pria itu berjalan memasuki toko baju yang cuku pbesar.
"Pilihlah yang kau suka. Kau harus mengganti pakaianmu,"ucap pria berjambang itu.
Badra tak begitu mengerti mengapa orang asing itu begitu baik padanya. Badra ingin sekali bertanya, tetapi ia lebih memilih untuk menunggunya bercerita sendiri. Ia yakin ada hal yang harus ia ketahui.Badra hanya terdiam memandang baju-baju yang tergantung didepannya.Sesekali pria itu menyarankan baju untuknya,Badra hanya mengangguk setiap kali pria itu menanyakannya.
"Tak usah sungkan. Anggap saja ini hadiah dariku untukmu,"ucapnya.
Badra mengangguk.
"Jadi mana yang kau pilih?"
Badra menunjuk satu sweter abu-abu dan celana jeans hitam.
"Seleramu bagus."
Setelah selesai mengganti baju,Badra beranjak dari toko itu dan berlanjut ke toko sepatu.Terakhir,Badra dibawa kesebuah salon yang cukup ternama.Tak selang beberapa lama,penampilannya sudah sangat berbeda.Tak ada lagi baju kusut dan rambut acak-acakan.Semua sudah berubah total.
"Ini rumahku, Badra." Pria itu membuka pintu sembari menunjukkan betapa megah rumahnya itu.Memang tampak sangat megah dan indah. Tiang-tiang menjulang tinggi bak istana.Aksen gaya Eropa yang sangat kental membuat nuansa terasa sangat mewah.
"Ini adalah kamarmu.Kau bisa tinggal disini mulai sekarang." Pria itu membawanya ke sebuah kamar yang sudah cukup lama tak ditempati.Terlihat dari barang-barang yang terbungkus kain putih dan sedikit berdebu. "Nanti biar pelayan yang membersihkannya. Lebih baik sekarang kau mandi, lalu kita makan malam bersama. Aku tunggudi mejamakan."
Badra mengangguk.
***.

Di meja makan, Badra masih belum banyak berkata-kata.Ia duduk di samping pria itu. Di seberangnya ada dua anak, satu pria sepantaran dengannya dan satu lagi perempuan seusia adiknya.
"Jack,Alice,perkenalkan ini Badra,"ucap pria itu memperkenalkannya."Mulai sekarang,Badra akan tinggal bersama kita."
"Hai,aku Alice."Anak perempuan itu memperkenalkan dirinya.
Badra hanya tersenyum.
"Jack.Kenapa kau diam saja.Perkenalkan dirimu."
Anak laki-laki itu masih terus terdiam sambil memainkan sendok diatas piring.
"Jack!" Pria itu memanggil dengan nada lebih tinggi.
Anak laki-laki itu pun berhenti memainkan sendoknya. Ia mengangkat kepalanya dengan raut wajah masam.
"Aku Jack,"ucapnya ketus.
Malam ini terasa begitu canggung. Selepas makan malam,Badra kembali ke kamar. Ia duduk di atas kasur, menatap keluar jendela. Bulan seakan-akan berkata padanya, "Jalani kehidupan barumu."
Ditengah lamunan,terdengar ketukan pintu pelan.Ia menoleh,memastikan siapa yangdatang."Kau belum tidur, Badra," tanya pria itu sembari berjalan kearahnya dan duduk bersamanya.
Pria itu membenarkan cara duduknya,mencari posisi ternyaman.Ia memandang keluar jendela sembari tersenyum simpul.
"Kau mungkin bertanya-tanya kenapa aku bisa tahu tentang ibumu. Saat itu usiaku masih sangat muda,Badra. Ibumu
juga masih sangat belia dan cantik.Kami kuliah disebuah universitas dan fakultas yang sama di Yogyakarta.Aku menyukai ibumu,begitu juga ibumu.Kami sudah saling mencintai dan berjanji akan setia sampai mati. Namun, kala itu, di hari dimana aku mengunjungi rumah ibumu di desa,di Cilacap sana. Aku bertemu dengan kakekmu,ayah dariibumu. Pada hari itu juga aku diminta untuk menjauhi ibumu hanya karena kalung salib yang aku kenakan.Ibumu terus membujuk kakekmu,tapi hati kakekmu sangatlah keras,Badra.Tak satu jengkalpun aku diperbolehkan menginjakkan kaki di rumahnya. Kakekmu berkata padaku,'Kau tidak akan pernah mendapatkan anakku selama hatimu belum sepenuhnya Islam'.Meskipun begitu,aku tetap berpegang teguh tidak akan meninggalkan keyakinanku. Dengan hati yang tegar aku menerima kenyataan pahit itu. Aku berbalik meninggalkan rumah ibumu tanpa sedikitpun berbalik."
"Lalu kenapa kau bisa tahu kalau aku adalah anak dari orang yang kau cintai itu?" tanya Badra.
Pria itu tersenyum.
Setelah peristiwa itu,aku tak lagi melihat ibumu dikampus. Beberapa bulan kemudian, aku mendapatkan sepucuk surat yang dikirim oleh ibumu.Ia mengabarkan kalau ia akan menikah dengan anak seorang kyai, teman dari kakekmu.Aku mengirimkan sepucuk surat pertama dan terakhir untuk ibumu.
Akuberpesan padanya,jika memiliki seorang anak laki-laki untuk memberinya nama Badra Notonegoro. Sebuah nama yang aku dan ibumu pilih jika kelak kami memiliki anak-laki-laki.Itu adalah harapan kami pada saat masih menjalin hubungan.Jika anak perempuan, kami beri nama Fefi Sri Mayangsari. Setelah ibumu melahirkanmu ia kembali mengirim surat. Terselip sebuah foto seorang bayi yang memiliki tanda lahir di lehernya, persis dengan apa yang kaumiliki.Dibalik foto tertulis sebuah nama Badra Notonegoro, yang tak lain itu adalah kau. Ibumu telah melahirkan sorang putra yang sangat tampan."
Badra mendengarkan dengan saksama, memperhatikan kata demi kata yang terucap dari mulut pria itu.
"Baiklah, Badra, cukup untuk malam ini.Tidurlah. Sekarang rumah ini adalah rumahmu juga. Besok giliranku mendengarkan ceritamu" laki-laki itu berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Tunggu," Badra memanggilnya.
Pria itu menoleh. "Ada apa, Badra?" tanyanya.
"Nama Anda siapa?"
Sejenak pria itu terdiam.Tak lama kemudian iapun terkekeh. "Haha, ya ampun. Apakah aku belum memperkenalkan diriku padamu?"
Badra menggelengkan kepala.
"Ibumu memanggilku Edwin. Kuharap kau mengingatnya, Badra, bahkan ketika kau sudah tidak bisa melihat wajahku."
Edwin tersenyum dan berjalan keluar.

Komento sa Aklat (194)

  • avatar
    SUPRIADICEPI

    Cerita yang banyak sekali dinamika yang terjadi dan ada inspirasi yang bisa kita ambil, Terimakasih kepada penulis sudah memberikan cerita yang kaya akan alur

    03/04/2022

      0
  • avatar
    francescaFioren

    ceritanya sangat menarik, ceritanya mudah di pahami, banyak pesan moral, wajar ratingnya tinggi, cerita alurnya sangat menarik, sangat bagus cerita nya, saya akan memberi tau temen saya untuk ikut melihat cerita/novel ini

    02/03/2022

      8
  • avatar

    Novel yang menceritakan kisah yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat mudah dipahami. Bahasa yang digunakanpun mudah dicerna dan dimengerti. Bravo buat sang penulis.

    28/02/2022

      4
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata