logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

EPISODE 3

Hari ini adalah hari penobatan Badra sebagai direktur utama Luis Group. Semua petinggi-petinggi perusahaan menghadiri acara penting ini, termasuk Dazo. Belum pernah terjadi dalam sejarah Luis Group acara semacam ini. Sejak dulu hanya ada satu presiden direktur, yaituDazo.
'Sudah saatnya aku menduduki jabatan ini. Jabatan tinggi diLuis Group' ucap Badra dalam hati.
"Kau tampak tampan hari ini, Badra" Jeki menggoda dengan wajah tengilnya.
Jeki memang selalu begitu, tampak tidak pernah serius, namun soal pekerjaan ia tak pernah main-main. Jeki adalah salah satu kawan sekaligus partner kerja Badra di Luis Group. Ia memimpin tiga perusahaan sekaligus, di antaranya Hotel Almaera, Green Vilage, dan Piton Gym. Kapasitasnya tak diragukan lagi sebagai manajer.
Badra hanya tersenyum.
"Tak terasa, baru dua tahun lalu kau menjadi anggota Ghost Shadow, sekarang sudah menduduki jabatan direktur. Kau memang hebat, Badra," ucap Jeki memuji.
Badra hanya tersenyum mendengar ocehannya yang sedari tadi mengoyak-ngoyak telinganya.
Tiba-tiba Jeki menoleh kearah Badra, menatapnya dalam-dalam, lalu berkata dengan serius," Apakah aku harus memanggilmu Tuan Badra mulai hari ini?"
Jeki terkekeh. Lagi-lagi ia bergurau.
"Sudahlah. Lebih baik kau minta Dazo untuk segera memualai acaranya. Aku sudah ingin berlibur."
"Baiklah. Baiklah. Kau selalu saja bersikap dingin. Kau tidak akan berlibur tanpa aku."
Jeki berjalan menghampiri Dazo.
"Semua sudah siap, Master." Jeki berbisik pada Dazo.
Semua tamu undangan tampak sudah hadir. Tak terlihat lagi meja yang kosong. Masing-masing meja bundar diisi oleh lima tamu undangan. Turut hadir juga para investor dan mitra dari berbagai bidang usaha Luis Group. Ini akan menjadi sejarah baru di Luis Group.
Dazo berjalan diantara para tamu undangan, menuju mimbar diiringi riuh tepuk tangan. Sejenak Dazo menyapu pandangannya. Kewibawaannya sangat terlihat dari gestur tubuhnya.
"Hadirin yang terhormat," Dazo membuka pidato dengan suara dalam dan mantap.

"selama dua puluh tahun berdiri, Luis Group di dirikan dengan integritas, moralitas, dan rasa hormat. Selama dua puluh tahun aku membangun Luis Group dengan cucuran keringatku sendiri. Menciptakan impian semuao rang. Sudah banyak yang kita lakukan untuk Luis Group. Namun, masih banyak yang belum kita kerjakan. Luis Group akan terus berkembang.Takada yang dapat menghentikannya."
Tepuk tangan pecah.
"Kita adalah sektor perekonomian. Penggerak komoditas-komoditas lokal untuk terus bersaing dipasar nasional dan internasional. Sektor tambang, retail, transportasi, dan yang lainnya. Sudah banyak yang kita capai.Kitalah jantung
perekonomian."
Tepuk tangan kembali bergemuruh.
"Dan sekarang adalah saatnya" Dazo menatap Badra yang berdiri di bawah sisi kanan mimbar. "Aku sudah terlalu tua untuk memimpin sebuah perusahaan. Banyak hal yang mungkin tidak dapat aku capai. Kini, biarkanlah aku memberikan tanggung jawab besar ini kepada yang lebih muda dan energik. Dia akan membangun Luis Group menjadi lebih besar. Mencapai impian yang tidak bisa aku capai. Beri sambutan yang meriah untuk calon menantuku, sekaligus calon direktur baru kita. Tuaaan Badra," Dazo mengarahkan tangannya kearah Badra.
Seketika semua mata tertuju pada satu sosok pria muda yang berdiri dibawah sisi kanan mimbar. Tepuk tangan bergemuruh. Badra menunduk setengah badan, memberi hormat. Dengan langkah mantap Badra berjalan menuju mimbar diiringi riuh tepuk tangan. Ini adalah impiannya sejak dulu, berdiri dipuncak tertinggi. Perjalanannya sudah sangat jauh. Ini bukanlah tujuan akhirnya, melainkan awal menuju gerbang dunia yang telah lama ia impikan.
Dazo mundur satu langkah dari mimbar digantikan oleh Badra.
"Eksistensi," ucap Badra membuka pidato.
Dazo terpaku mendengar kata pembuka yang Badra ucapkan.
"Setiap orang membutuhkan eksistensi. Kita tidak akan sepenuhnya bangga terhadap apa yang kita capai jika orang lain tidak mengetahui seberapa hebatnya kita. Untuk itulah aku akan membawa Luis Group mencapai eksistensi tertinggi."
Tepuk tangan kembali bergema di setiap sudut ruangan. "Kita akan mulai melangkah keluar. Mengepakkan sayap
lebih lebar. Kita akan terbang sejauh mungkin.Tanpa batas."
Sepanjang berpidato tak henti-hentinya tepuk tangan beradu, menggelora disetiap sudut ruangan. Ini adalah kali pertama Badra merasakan atmosfer seperti itu.
***
Badra dan Jeki berjalan menuju pesawat pribadi yang telah siap membawa mereka berlibur ke Jepang. Jeki tampak norak dengan pakaian kuning bermotif bunga warna-warni dan celana pendek merah. Ia terlihat seperti badut ulang tahun yanghendak berlibur.
Setelah acara penobatan satu hari yang lalu, pagi ini Badra bersiap untuk pergike Jepang.
"Selamat pagi, Pak. Seperti biasa, Anda tampak tampan dengan jaket hitam dan kacamata hitam," sapa sang pilot memuji penampilan Badra.
Badra mengangguk pelan. "Terimakasih.Tolong masukkan. Kopernya."
"Bagaimana dengan penampilanku?" Jeki bertanya pada sang pilot sembari bergaya menunjukkan gayanya.
"Oh, iya, Anda juga tampak tampan, Pak. Sangat serasi kombinasi warna antara baju, celana, dan sepatu. Sungguh elegan."
"Oke, terima kasih sudah mengatakan sebuah kebenaran," ucap Jeki penuh percaya diri.
Badra tersenyum tipis.
"Hai, Kak. Hai, OmJeki" Alice datang menyapa dari samping kanan. Ia datang bersama Rahma dengan membawa koper yang cukup besar.
"Kalian darimana saja?" tanya Badra.
"Hehe, tadi aku beli ini dulu, Kak" Alice menunjukkan bikini merah bermotif bunga.
"Simpan. Kita tidak akan ke pantai," ucap Badra.
"Kenapa tidak, Kak?. Kak Rahma juga sudah beli.
Jeki tampak terperangah melihat bikini yang Alice tunjukkan. Sementara Rahma justru terlihat sedikit malu. Badra tak menyangka akan terjadi obrolan sebodoh ini di ruang terbuka. iapun segera beranjak menuju pesawat, tak lagi menggubris pembahasan itu.
"Ayolah, Kak" Alice memotong langkah Badra dengan mengedipkan mata, mencoba membujuk kakaknya. "Liburan tanpa pantai itu tidak asyik. Bayangkan jika Kakak makan sup tapi isinya hanya air, pasti rasanya aneh, kan?"

"Satu jam!" jawab Badra singkat.
"Apa itu artinya 'iya'? Berarti kita jadi ke pantai? Yeee!" Alice melompat girang.
"Tanpa bikini," sambung Badra.
Badra melangkah menaiki pesawat yang sudah bersiap untuk berangkat.
"Yah, Kak. Aku sudah membelinya," ucap Alice dengan raut wajah kesal. "Sekali ini saja, Kak. Ayolah."
Badra duduk santai di kursi penumpang, menyilangkan kedua tangan dengan kacamata hitam. 'Sudah lama sekali rasanya aku tidak berlibur. Jepang adalah tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu,' batinnya.
Kepergian Badra ke Jepang bukanlah tanpa tujuan. Nama Ghost Shadow sudah terdengar hingga keluar negeri. Banyak mafia diluar yang sudah membaca pola pergerakan Ghost Shadow. Mereka tidak akan saling mengganggu selama masih berjalan dijalur masing-masing, tetapi pertumpahan darah akan selalu ada. Itulah dunia yang Badra jalani saat ini.

Komento sa Aklat (195)

  • avatar
    SUPRIADICEPI

    Cerita yang banyak sekali dinamika yang terjadi dan ada inspirasi yang bisa kita ambil, Terimakasih kepada penulis sudah memberikan cerita yang kaya akan alur

    03/04/2022

      0
  • avatar
    francescaFioren

    ceritanya sangat menarik, ceritanya mudah di pahami, banyak pesan moral, wajar ratingnya tinggi, cerita alurnya sangat menarik, sangat bagus cerita nya, saya akan memberi tau temen saya untuk ikut melihat cerita/novel ini

    02/03/2022

      8
  • avatar

    Novel yang menceritakan kisah yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat mudah dipahami. Bahasa yang digunakanpun mudah dicerna dan dimengerti. Bravo buat sang penulis.

    28/02/2022

      4
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata