Perlakuan teman-temannya selalu tidak baik. Seakan-akan ada yang kurang jika sehari saja tidak mengejeknya. Sudah dua bulan ini Badra dipanggil kepala sekolah karena menunggak uang SPP selama tiga bulan. Itulah alasan kenapa ia selalu diejek teman-temannya, tak lain karena ia miskin. Badra pulang dengan wajah masam. Bapaknya yang tengah membaca Al-Qur'an di ruang tamu, tak sedikit pun menanyakan keadaannya, bahkan untuk menyapapun tidak. Emak yang melihatnya pulang dengan wajah tak semringah langsung menghampirinya, meninggalkan sambel yang sedang diulek "Kenapa, Nak?,Diejek teman-temanmu lagi?" tanya sang emak. "Kenapa kita selalu miskin, Mak. Aku ingin seperti teman-teman yang lain, memakai baju baru, sepatu baru, dan tas baru. Apakah aku tidak bisa seperti mereka?." Emaknya menghela napas. Diajaknya Badra duduk di atas dipan bambu. "Badra, kau, kan, tahu sendiri bagaimana keadaan keluarga kita. Ayahmu hanya seorang guru honorer, gajinya tak seberapa, sedangkan Emak hanya penjual kue kecil-kecilan, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sabarlah, suatu saat kau akan menemukan jalan kesuksesanmu dengan keringatmu sendiri." Sang emak memeluknya. Nasihat sang emak selalu mampu menenangkannya. Bagi Badra, emak dalah penyemangat hidupnya, tidak seperti sang bapak yang menurutnya selalu sibuk dengan akhirat. Badra jarang sekali berbincang dengan bapaknya. Setiap hari, bapaknya mengajar agama disekolah swasta dari pagi hingga sore. Sepulang dari sekolah, bapaknya lebih seringbmenghabiskan waktu di masjid sembari membaca kitab. Itulah yang membuat Badra berpikiran bahwa bapaknya tak pernah memiliki waktu untuk sekadar bercengkerama dengan keluarga. Kadang dalam satu hari, Badra tak sedikitpun berbincang dengan bapaknya. Ayah Badra sering berkata, "Jangan mengejar dunia, kau tidak akan mendapatkan akhirat. Kejarlah akhirat, maka kau akan mendapatkan keduanya." Badra sangat membenci kalimat itu. Ia merasa tak ada yang didapatkan dari mengejar akhirat, bahkan kehidupannya tak semakin membaik, justru malah sebaliknya. Kak, di kota ada apa?" tanya Fefi, adik kandung Badra yang sekarang duduk di kelas 5 SD. Umur Fefi sudah menginjak sebelas tahun. Selama ini ia belum pernah sekali pun pergi ke kota untuk sekadar melihat-lihat. Selain jaraknya yang jauh, bapak tak memiliki alasan untuk membawanya ke kota. Sang bapak selalu menganggap kota bukanlah tempat yang baik. Mata Badra tampak berkaca-kaca memandang wajah polos Fefi. "Kakak akan membawamu ke kota. Nanti kau lihat sendiri," kata Badra tersenyum. "Kapan kak?" tanya Fefi antusias. Badra tersenyum. "Nanti kalau kakak sudah punya uang. Kakak janji akan mengajakmu jalan-jalan" Badra mengusap kepala Fefi. 'Kehidupan memang ujian seperti yang selalu bapak katakan kepada kami. Tapi, apakah kami tidak diizinkan Tuhan untuk menikmati apa yang ada didunia ini seperti yang orang lain nikmati? Aku sudah sangat lelah hidup dengan cacian orang-orang. Jika ini ujian, kenapa mereka semua tidak diuji sepertiku? Apakah ini yang dinamakan keadilan?Apakah Tuhan itu Maha adil seperti yang selalu Bapak bilang?, Bahkan aku tidak yakin kalau Tuhan itu benar-benar ada', gerutu Badra kesal dalam hati. Kamar Badra,11:58 Malam itu Badra menatap keluar jendela kamarnya, memandang bulan yang tampak bulat sempurna. Sekilas tebersit di pikirannya untuk pergi meninggalkan rumah. Ia berpikir bahwa dunia yang selama ini ia inginkan ada diluar sana. Sebuah dunia dimana setiap orang bisa melakukan apa pun dan menjadi apapun. Tepat pukul 00.35, Badra memutuskan untuk pergi menjemput dunia impiannya. Badra segera berkemas membawa baju secukupnya, melangkah keluar rumah, memulai petualangannya. Keputusan itu begitu saja muncul di kepalanya dan ia yakin itu adalah keputusan yang tepat untuk mengakhiri semua kesengsaraan yang selama ini ia alami. Tanpa rasa ragu Badra berjalan menyusuri jalan sejauh yang ia mampu. Keputusannya sudah bulat, tak lagi ia menengok ke belakang. Ambisinya sudah terbentuk sejak kecil, sejak lingkungan tak pernah bersikap baik padanya, membuatnya memiliki hasrat yang tinggi untuk mengejar dunia yang ia idamkan. Entah benar atau salah, dunia itu harus ia capai. Setelah berjalan lebih dari 20 kilo meter, langkahnya terhenti disebuah warung makan 24 jam. Perutnya mulai meronta setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Untuk terakhir kalinya, Badra menengok ke belakang, memandang jalan yang baru saja ia lalui. Kini ia benar-benar sendiri dalam ketidakpastian. Meninggalkan semua kesedihan yang selama ini ia rasakan. Meskipun di luar sana ada kepedihan yang jauh lebih besar, Badra tetap kekeh mengikuti ambisinya, mengejar sesuatu yang tidak akan pernah ia dapatkan jika tetap berada dikampung halamannya. "Nasi dan tempe, Bu." Badra memesan makanan.Ia tak berani memesan lebih dari itu.ia harus menghemat uangnya.
"Ibu tambah ayam ya," kata si ibu menawarkan. "Tidak usah, Bu." "Tidak apa-apa.Tidak usah bayar." Si ibu meletakkan satu paha ayam di atas piring, ditambah dua buah tempe. "Terimakasih,Bu."
Bulan masih terlihat bulat sempurna. Badra menyantap makanannya sembari melihat keluar ruangan, memandang bulan. Hingga selesai menyantap makanan, belum ada tujuan pasti kemana Badra akan pergi. Dikantong bajunya tersisa uang Rp30.000,00. Mungkin hanya cukup untuk satu atau dua haris aja. Tak jauh dari warung makan, Badra memutuskan bermalam diemperan ruko. Sebenarnya bisa saja ia mencari masjid untuk sekadar merebahkan tubuhnya, tetapi tak sedikit pun terlintas dibenaknya untuk menginjakkan kaki di masjid, bahkan mungkin tidak akan pernah. Akhirnya ia memutuskan untuk membaringkan tubuhnya didepan ruko yang telah tutup. Pukul 06.00, sang surya mulai menyentuh tubuhnya.Tampak seekor anjing berdiri di dekatnya sembari mengendus - endus kepalanya. Badra terbangun merasakan udara hangat diarea kepalanya. "Anjing kau!" umpat Badra kaget melihat ada seekor anjing berada di depannya. Binatang kumal itu masih tak beranjak, hanya berdiri diam sembari menjulurkan lidahnya. Badannya tampak kurus kering, tidak seperti anjing peliharaan pada umumnya. Matanya sedikit tertutup kotoran. Anjing tersebut berdiri dengan ekspresi memelas, seolah-olah minta untuk dikasihani. Badra mengeluarkan nasi bungkus sisa semalam yang belum sempat ia habiskan. Sengaja ia sisakan untuk sarapan. Hanya tersisa satu buah tempe dan setengah paha ayam. Dengan penuh pertimbangan Badra memberikan seluruh sisa paha ayam itu pada anjingvtersebut, sedangkan ia hanya makan nasi dan tempe. Badra tak menyangka paginya ditemani oleh seekor anjing. Sesekali ia juga bercerita tentang hidupnya.Tak peduli kawan barunya itu memahami atau tidak, yang ia butuhkan hanya pendengar untuk sekadar menghibur diri.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 21 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (195)
SUPRIADICEPI
Cerita yang banyak sekali dinamika yang terjadi dan ada inspirasi yang bisa kita ambil, Terimakasih kepada penulis sudah memberikan cerita yang kaya akan alur
03/04/2022
0
francescaFioren
ceritanya sangat menarik, ceritanya mudah di pahami, banyak pesan moral, wajar ratingnya tinggi, cerita alurnya sangat menarik, sangat bagus cerita nya, saya akan memberi tau temen saya untuk ikut melihat cerita/novel ini
02/03/2022
8
Novel yang menceritakan kisah yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat mudah dipahami. Bahasa yang digunakanpun mudah dicerna dan dimengerti. Bravo buat sang penulis.
Cerita yang banyak sekali dinamika yang terjadi dan ada inspirasi yang bisa kita ambil, Terimakasih kepada penulis sudah memberikan cerita yang kaya akan alur
03/04/2022
0ceritanya sangat menarik, ceritanya mudah di pahami, banyak pesan moral, wajar ratingnya tinggi, cerita alurnya sangat menarik, sangat bagus cerita nya, saya akan memberi tau temen saya untuk ikut melihat cerita/novel ini
02/03/2022
8Novel yang menceritakan kisah yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat mudah dipahami. Bahasa yang digunakanpun mudah dicerna dan dimengerti. Bravo buat sang penulis.
28/02/2022
4Tingnan Lahat