Megan memahami banyak hal sekarang. Awalnya memang tidak masuk akal jika mimpinya dapat mewujudkan manusia tapi dipikir-pikir ada benarnya juga. Lelaki berpayung itu selalu datang setiap Megan selesai bermimpi indah walau pun mimpinya hanya berisikan member idola tapi itu adalah puncak kebahagiaan dari gadis periang bernama Megan Capella Castor. Langkah hati-hati mendekati Leo. "Bang Leo, kemarin pas gue pulang abang ga ada liat siapa-siapa gitu?" Tanya Megan to the point. Soalnya jika berbasa-basi topiknya akan melenceng. "Kemarin lo pulang sendirian, adikku sayang." "Gue kemarin pulang sama temen cowok gue. Abang bener ga liat?" "Temen cowok yang mana lagi? Juan? Daniel atau Carlos? Temen lo kan cuman itu-itu doang." Megan membuka mulut menanggapi. Saudaranya satu ini paling jago memberi sendirian dalam bentuk candaan begitupun sebaliknya. "Gini-gini temen gue banyak kali, Bang. Gue serius, bener lo ga liat siapa-siapa walau cuman sekelebat?" "Ga ada. Dah ah, gue pengen balik. Ikut ga?" "Ikut." Sahut Megan dan Orion bersamaan. Sebenarnya mereka memiliki satu kesamaan yaitu tidak suka keramaian dan jika memang diharuskan seperti sekarang tujuan kedua saudara Megan itu hanya mencari perempuan untuk dikencani bukan untuk mempelajari bagaimana mengurus perusahaan. Mereka bertiga pulang lebih dulu dari orang tua mereka. Acara juga sudah mau selesai. Megan menahan kantuknya sejak berdansa bersama lelaki perpayung. Jadi saat sampai ke rumah, ia akan langsung tidur tanpa mandi atau apapun itu. Sangat melelahkan. "Lo mau kemana, Dek?" Tanya Orion sesaat mereka sampai di depan rumah. Megan pulang bersama saudaranya dan menyuruh Beni pulang lebih dulu. "Gue mau langsung tidur, Bang. Jadi kalian jangan gangguin gue, ya." Megan menaiki anak tangga dengan kaki telanjang. Sepatu haknya ada di tangannya karena betisnya sudah sakit menjadi alat tumpu. Benar saja, saat sampai di kamar Megan langsung merebahkan dirinya ke ranjang tanpa mengganti gaun atau membersihkan wajahnya. Itu adalah kebiasaan buruk tapi selalu menjadi kebiasaan Megan. Untung saja wajahnya tidak sensitif jika tidak pasti jerawat sudah menghiasi wajah mulusnya. "Gue harap mimpi gue selesai dengan lancar tanpa ada gangguan. Optimis mimpiin Raven." Gumam Megan lalu terlelap masuk ke dunia mimpi. Keesokan harinya, Megan terbangun setelah tidur panjangnya. Jam menunjukkan pukul 06.15 pagi. Gadis itu bergegas ke kamar mandi dengan wajah yang antusias. Sepertinya mimpi Megan berjalan dengan lancar. "Gue harap feeling gue bener tentang cowok mimpi itu." Ujarnya di meja belajar. Megan sudah berpakaian sejak tadi. Mengeluarkan diari dari laci meja. "Malem tadi ga mimpi sama Raven sih, tapi sama Davis. Endingnya juga bagus, lancar ga ada halangan sama sekali." Megan mulai menuliskan apa saja yang telah terjadi beberapa hari ini serta mimpinya bersama Davis. "Sampai jumpa nanti malam Davis palsu." Setelah pulang sekolah. Megan bergegas menganti pakaiannya untuk pergi ke suatu tempat. Langkah kaki yang terlihat tergesa-gesa menuruni anak tangga. "Astaga, sayang. Kamu turunnya hati-hati dong nanti malah jatuh. Bahaya." "Eh, Mama. Lagi ngapain, Ma?" Tanya Megan basa-basi padahal dia sudah melihat kalau Artena sedang membuat jus. Jangan heran pertanyaan seperti itu selalu datang saat ada permintaan. "Mau kemana kamu, Gan?" Tidak terkecoh. "Hm, Megan mau pamit ya. Ada urusan sama temen." "Dianter sama Pak Beni ya?" "Megan naik taksi aja boleh ga, Ma?" "Enggak. Mau dianter sama Pak Beni atau ga pergi sama sekali?" Artena mulai mengeluarkan jurus andalan. Megan tidak berkutik dengan kepala yang otomatis mengangguk menuruti. Lagipula Artena atau Fabio tidak akan mengizinkannya pergi sendirian kemana pun dan dalam bentuk urusan apapun. Intinya Beni harus mengantar jemput. Dulu Megan sempat ingin diberikan pengawal oleh Fabio tapi dengan tegas ia menolak karena itu sangatlah berlebihan. Mobil hitam berjalan keluar dari pekarangan rumah. Megan mengeluarkan diari mini dari dalam tas untuk dibacanya lagi padalal ini sudah yang kesekian kalinya Megan membaca. "Pak Beni, anter saya ke taman hiburan ya." Titah Megan lembut. "Nona Megan ke sana sendirian?" "Enggak, Pak. Saya udah janjian sama temen." Beni mengangguk dan kembali fokus melihat jalanan didepan. Entah kenapa jantung Megan berdetak begitu cepat, telapak tangannya saja berkeringat padahal AC mobil menyala. "Gue ga ketemu sama Davis beneran tapi kok rasanya gini banget, ya? Panas dingin." Gumam Megan. Akhirnya mereka sampai ditujuan. Terlihat dari parkiran bahwa didalam sangat ramai. Taman hiburan ini memang terkenal jadi walau tidak diakhir pekan tetap saja banyak peminatnya. Megan menyuruh Beni tetap menunggunya disini tapi tanpa disuruhpun pasti sopirnya itu akan menunggu sesuai perintah orangtua Megan. Megan masuk setelah membeli tiket. Banyak sekali orang berlalu-lalang jadi ia harus berhati-hati takut ditabrak ataupun menabrak seseorang. Matanya tergoda melihat boneka beruang hijau berukuran besar terpajang. "Kamu mau boneka itu?" Megan terkesiap. "Wah! Aku udah nungguin kamu dari tadi." Ucapnya tersadar. Gadis itu lupa bahwa tempat mereka bertemu memanglah disini tapi dia tidak menyadarinya. Lelaki berkaos biru dengan celana jeans tersenyum penuh arti pada Megan. "Kamu ga perlu nungguin aku karena tanpa ditunggu pun, aku pasti datangin kamu." Deg. "Drama macam apa lagi ini?" Gumam Megan dalam hati. Ia berusaha menetralkan ekspresinya dengan sesekali mengalihkan pandangan. "Aku akan dapatin boneka itu untuk kamu." Magic. Hanya dua kali bermain lemparan bola langsung mengenai semua kaleng. Boneka beruang hijau mendarat dipelukan Megan. Seandainya saja mereka sepasang kekasih, tentu ini hal yang sangat disenangi perempuan. "Kamu menghilang setiap jam berapa? Aku nanya ini supaya aku ga mencari keberadaan kamu." "Semuanya tergantung mimpimu. Aku akan menghilang setiap setelah alur mimpi yang kita lakukan selesai atau jika ada hitungan yang ga termasuk disitu." Jelas dia singkat. Megan mengangguk, ia teringat satu hal lagi karena sangat sulit melalukan komunikasi jika selalu seperti ini. "Kamu benar-benar ga punya nama?" "Iya." "Karena kamu muncul dari mimpiku. Aku akan kasi kamu nama Bintang." "Bintang?" Tanya dia sambil melihat ke langit. Megan mengikuti arah pandangan sambil tersenyum. "Jika kamu muncul dari mimpiku maka kamu tercipta dari sana. Sehari sebelum kita bertemu, aku membuat harapan pada bintang jatuh dan terjadilah seperti sekarang." "Tapi kenapa kemarin malam kamu bilang tidak mengingatku?" Lanjut Megan penasaran. "Aku mengingatmu dan akan selalu ingat." Mereka menghabiskan malam di taman hiburan sama seperti didalam mimpi Megan. Banyak sekali wahana yang mereka mainkan termasuk menaiki biang lala. Sebenarnya Megan takut ketinggian tapi untuk malam ini ia memberanikan diri. "Bintang, kamu harus memegangiku. Aku takut ketinggian." ucap Megan, tanpa sadar ia terbawa suasana dengan membalas menggunakan bahasa yang baku. "Tenang, aku ada disini. Aku akan menjagamu." Megan terkesima. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Bintang mampu membuat darah Mehan naik turun. Untung saja tidak sampai jatuh pingsan. Mengenai mimpi, alurnya akan tetap sama seperti yang dimimpikan Megan. Tetapi dialognya bergantung pada mereka yang menjalaninya tapi dialog akan tetap sama saat mimpi itu dilakukan di dunia nyata. Jika tidak ada dalam hitungan maka akan ada peran yang hilang karena alur mimpi yang terganggu.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
wow amazing
09/12
0bagus ceritanya
12/06/2025
0kerenn ceritanya
23/03/2025
0Tingnan Lahat