logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Datang tanpa undangan

Megan pulang menggunakan taksi. Pikirannya masih berkecamuk perihal lekaki tadi. Dua kejadian yang tidak bisa dianggap sebuah kebetulan. Anehnya, bagaimana bisa lelaki itu melupakan kejadian tempo hari jika pun amnesia seharusnya dia tidak perlu menyapa Megan hari ini.
"Aneh. Kemarin adegannya sama kaya Lukiel, hari ini sama juga kaya Tavian. Kalo sampe tiga kali kejadian berarti ini takdir. Siapa tau harapan bintang jatuh dikabulin."
Megan terkesiap menyadari satu hal lagi. "Bintang jatuh? Ini memang sudah aneh semenjak gue bikin harapan sama si benda langit itu. Patut gue selidikin sih ini." Gumamnya dalam hati. Tidak mungkin Megan bermonolog didalam taksi, bisa-bisa dia dikatakan orang gila lagi.
Sesampai di rumah, Megan tidak menemui siapa pun baik itu Leo atau pun Orion. Bukan rahasia lagi jika mereka akan kelayapan disaat pemantau tidak ada seperti sekarang.
"Capek banget. Gue pengen tidur dulu, kalo sempet bangun baru gue mandi." Ujar Megan melepaskan sepatu lalu melemparkan sembarang tempat. Tubuhnya terempas di ranjang besar dengan mata yang sudah terpejam.
Memakai gaun berwarna hitam seorang gadis memasuki karpet merah disambut para undangan yang menatap takjup padanya. Megan hanya bisa tersipu malu, sesekali menebar senyumnya yang kaku.
"Lo kenapa bisa terlambat? Kaya putri raja aja datang belakangan." Sindir Leo diikuti Orion yang tertewa jahil. Rasanya Megan ingin sekali menjambak rambut kedua saudaranya itu lalu menjewer telinga mereka sampai merah tapi niat itu dia urungkan dan menanggapinya dengan senyuman terpaksa. Disini dia harus pandai menjaga image.
"Kamu ingin berdansa bersamaku, Cantik?"
Semua mata tertuju pada pemilik suara. Leo dan Orion semakin menggoda Megan karena ajakan tadi tertuju untuknya. Gadis itu membalikkan badan menatap lawan bicaranya.
"Tentu saja." Jawab Megan tanpa menolak. Tentu saja dia tidak akan menolak jika yang mengajaknya berdansa adalah leader dari boyband kesayangannya, Raxy lee.
Mereka berdansa hingga yang tersisa hanyalah tinggal mereka. Megan memuaskan matanya menatap Taeyong begitupun sebaliknya. Penggemar saat menonton konser pun kalah dekat dengan jarak Megan dan Taeyong saat ini. Mimpi yang begitu indah bukan?
"Megan sayang, bangunlah."
"Mama? Kapan datang?" Balas Megan sambil mendudukkan dirinya. Ia kira hari sudah malam karena dia bermimpi ternyata mimpi tidak mengenal waktu, kuncinya adalah tertidur.
"2 jam yang lalu. Kamu cepat mandi dan berdandan ya."
"Memangnya kita mau kemana? Pakai berdandan segala. Mama kan tau kalo aku paling malas hal-hal kaya gitu."
"Kita ada acara di Perusahaan. Kamu ga inget ya ini hari ulang tahun perusahaan?"
"Ingatlah, Ma. Bang Leo sama Bang Orion mana? Ga Mama suruh ikut juga?"
"Mereka udah duluan dari tadi, kamunya aja yang belum. Cepat mandi ya? Mama tunggu diluar." Jawab Artena sambil berlalu keluar dari kamar. Ternyata Leo dan Orion pergi ke pesta perusahaan bukan sedang kelayapan.
Megan mandi. Setelah berpakaian dengan gaun pilihan Artena cukup membuatnya bingung sekaligus kagum. Gaun berwarna hitam selutut dengan lengan terbuka sangat memukai pandangannya tapi seketika pikiran itu kembali datang.
"Gaun hitam? Pesta? Jika ini benar-benar terjadi bisa gue pastiin lelaki itu bakalan dateng lagi." Ujar Megan optimis pada pemikirannya saat ini.
Sopir menjalankan mobil, Megan pergi sendirian ke perusahaan karena Artena dan Fabio sudah lebih dulu meninggalkannya. Mengenai Leo dan Orion pasti sudah menjalankan aksinya merayu banyak gadis disana. Jika benar lelaki berpayung itu datang maka Megan mempunyai jawaban dari kekalutannya saat ini dan dapat dipastikan untuk menanyakan darimana dia datang dan apa tujuannya.
"Gila! Ini ramai banget gimana gue mau masuk?" Monolog Megan menyadari banyak sekali tamu undangan yang datang di depan perusahaan sambil memperhatikan dari balik jendela mobil.
"Nona Megan tidak turun?"
Beni menyadarkan lamunannya. "Apa perlu saya pulang aja ya Pak? Ramai banget ini mana saya berani." Jawab Megan jujur. Dia adalah gadis yang tidak suka menjadi pusat perhatian.
"Nona Megan tidak perlu takut, lagipula mereka pasti mengagumi pesona Nona saat ini."
Pandai sekali sopirnya memberikan pujian. Megan hanya terkekeh mendengar perkataan Beni. Dia adalah suami dari Sita, seorang pengasuh Keluarga Castor baik itu Leo sampai ke Megan. Jadi, tidak ada rasa sungkan diantara mereka karena mereka menegaskan Beni dan Sita untuk tidak terlalu sopan kepada mereka dalam hal berbicara, anggap saja layaknya orangtua kepada anak sendiri.
"Pak Beni bisa aja. Yasudah, saya ke dalam dulu. Bapak jangan kemana-mana tunggu saya disini."
Megan menghela napas, ia keluar dari dalam mobil dengan langkah yang hati-hati. Bagaimana tidak hati-hati sekarang Megan menggunakan sepatu hak tinggi. Banyak pasang mata memperhatikannya, sesekali saat ia melirik ada juga yang berbisik-bisik mungkin memuji kecantikannya saat ini.
Tidak ambil pusing yang ada dipikiran Megan adalah bagaimana cara agar cepat masuk ke dalam. Manik indah itu mencari-cari dimana keluarganya berada. "Lo kenapa bisa terlambat? Kaya putri raja aja datang belakangan." Sindir Leo saat Megan menghampiri mereka.
"Sama. Okay, berati bentar lagi dia dateng." Gumam Megan mulai membiasakan diri dengan kejadian-kejadian yang tidak terduga.
"Diem, jangan banyak ngomong kalian berdua."
"Kamu ingin berdansa bersamaku, Cantik?"
Deg.
Jantung Megan tiba-tiba berdegup kencang. Pandangannya beralih pada kedua saudaranya serta Fabio dan Artena hanya saling menatap.
"Tentu Saja." Jawab Megan sambil berbalik badan. Ia berjalan mendahului lelaki dengan setelan biru persis seperti yang ada dalam mimpinya.
Mereka mulai berdansa. Megan menatap wajah lelaki itu penuh pujian. Begitu indah dan sempurna ciptaan Tuhan yang satu ini. "Aku ingin kamu jujur padaku. Asalmu darimana? Kenapa kamu selalu datang dan seperti menyalin adegan dalam mimpiku?"
Lelaki itu berusaha menyembunyikan ekspresinya. Megan terkekeh karena dia adalah gadis yang tidak pandai dibohongi dan ekspresi ini adalah ekspresi orang bermuka polos.
"Aku hanya perlu jawabanmu apakah ini hanya kebetulan atau takdir? Kita sudah bertemu tiga kali dan semuanya itu bersangkutan dengan mimpiku."
"Karena aku berasal dari mimpimu, Megan."
"Mimpiku? Kamu pasti bercanda."
"Tidak ada yang perlu dianggap candaan." Balasnya misterius.
Hening tidak ada dialog apa pun lagi selain alunan biola. Megan mendengus kesal mendengar jawaban lelaki yang sedang memegangi pinggangnya saat ini. Seharusnya Ia marah dan mengatakan itu tapi kenapa malah sebaliknya. Megan benar-benar penasaran siapa dan apa tujuan lelaki ini padanya, jawaban tadi sama sekali tidak membantu.
"Apa benar kamu dari mimpiku? Lalu siapa namamu? Tidak ada?" Lelaki itu menggeleng menanggapi pertanyaan Megan.
"Misalnya aku bermimpi tentang hantu apa kamu juga keluar?
"Tidak. Aku hanya wujud dari mimpi indahmu saja."
"Hm, kalau begitu jika aku bermimpi menikah dengan seseorang apa kita juga akan menikah? Eh, tapi lebih baik jangan, bisa-bisanya kamu menghilang saat malam pertama dan aku malah jadi janda kembang. Tidak terbayangkan." Oceh Megan mulai meracau.
"Jika mimpimu menikah maka kita juga akan menikah."
Deg.
Padahal Megan hanya berniat bercanda tentang topik itu tapi jantungnya sudah berdegup kencang seperti sedang berlari marathon. Megan menyadari satu hal jika memang ini adalah adegan dari mimpinya bersama Taeyong maka setelah sebentar lagi lelaki ini akan menghilang karena Artena membangunkannya hingga mimpi Megan tidak usai.
"Kapan kamu akan menghilang?"
Klep.
Baru saja Megan bertanya lelaki itu sudah menghilang dari hadapannya. Matanya mencari-cari kemana dia pergi tapi anehnya tidak ada yang menyadari adegan ini padahal semua orang terpusat pada Megan karena memang hanya mereka saja yang berdansa.
"Bang Leo liat temen dansa gue tadi ga?"
"Juan?"
"Lah kok Juan, sih?! Kan gue tadi dansa sama cowok lain bukan sama Juan, lagian kan dia ga ada disini." Ketus Megan. Aneh. Apa yang terjadi kenapa semuanya seolah-olah tidak menyadari keberadaan lelaki berpayung diluar alur mimpi. Patut dipelajari.
"Lo tadi dansa sama gue, Gan. Cuman pas gue ke tengah lagi lo malah kesini."
Megan melirik Juan yang entah darimana sudah ada disampingnya. "Kita tadi dansa ya, Ju?" Tanya Megan memastikan. Juan mengangguk.
"Okay, gue paham sekarang. Semua orang sadar kalo dia ada disini, cuman pas alur mimpi masih berjalan, diluar dari itu semuanya berubah seperti ga terjadi apa-apa." Gumam Megan memahami situasi.

Komento sa Aklat (57)

  • avatar
    Darwisy

    wow amazing

    09/12

      0
  • avatar
    Amerta dalam bumantara

    bagus ceritanya

    12/06/2025

      0
  • avatar
    Dewi

    kerenn ceritanya

    23/03/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata