logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Setengah waktu bersamanya

Hidung Megan tersumbat serta sesekali bersin karena pulang terkena hujan. Padahal dia sudah memakai payung bersama lelaki misterius tadi sore tapi tidak bisa menghalangi flu masuk ke dalam tubuhnya. Mungkin karena tubuh Megan yang memang lemah jadi tidak perlu menyalahkan hujan dan lain sebagainya.
"Bang Leo! Beliin gue obat flu di Apotek dong!"
"Yang suruh lo pulang hujan-hujan siapa Megan? Kan bisa pake taksi atau minta anter sama temen-temen lo."
"Jangan nyalahin gue dong, tapi salahin tuh adek lo yang satu, siap nganter tapi ga siap jemput." Sindir Megan dari lantai atas. Leo dan Orion ada di lantai bawah lebih tepatnya di ruang keluarga.
"Yaudah gue ke luar dulu. Masih mau nitip lagi ga?"
"Gue nasi goreng ya, Bang? Laper belom makan nih dari tadi." Pinta Orion yang masih terfokus pada laptop di depannya. Walaupun mereka nakal dan suka menjahili Megan tapi urusan belajar cukup diacungi jempol.
Leo keluar sambil mengenakan jaket ke tubuhnya. Megan turun mengamati Orion dan tentu saja dia sedang bosan di kamar jadi memilih untuk menonton televisi di lantai bawah.
"Tumben banget ngerjain tugas lo, Bang."
"Mau ga mau soalnya besok udah masuk 
deadline
."
Mata Megan menatap malas setelah mendengar jawaban dari saudaranya itu. Awalnya dia ingin menyemangati Orion karena jarang-jarang sekali sore begini sudah berjibaku dengan laptop biasanya hanya game online. Maksud dengan acungan jempol adalah dalam hal ini, otak mereka cepat tanggap jika sudah dekat tenggang waktu seperti seorang mahasiswa pada umumnya.
"Kenapa ga dikerjain dari jauh-jauh hari sih, Bang?! Lo mah kebiasaan udah mepet baru jalan." ucap Megan merasa heran dengan tingkah kakak laki-lakinya yang satu ini. Padahal jika dikerjakan sebelum tenggang waktu bersantai akan lebih banyak. 
"Kemarin otak gue lagi malas banget. Kebetulan juga ga nemu jawaban, sekarang ga tau kenapa kaya ada kekuatan yang masuk ke otak gue dan jadi lancar gini." Jelas Orion mendramatisir.
Daripada mendengarkan ocehan Orion, Megan memilih rebahan di sofa sambil menonton kartun. Dia tidak menyukai sinetron apalagi berita jikapun ada paling hanya drama china atau korea yang ia tonton selain pada itu tidak ada ketertarikan. Mungkin karena ada ikatan batin bersama idolanya di negeri ginseng.
"Oh iya, Mama sama Papa kapan pulang? Tumben banget udah seminggu belum balik."
"Katanya sih besok atau lusa cuma liat aja deh nanti. Mereka lagi ada banyak kerjaan juga soalnya."
"Lo sama cewek lo kemarin udah putus ya, Bang?" tanya Megan tiba-tiba, mengingat bahwa Orion tidak pernah
update
tentang hubungannya lagi. 
Seketika Orion menghentikan jari-jarinya di atas keyboard lalu menatap tajam pada adik perempunnya. Megan terkekeh geli melihat cara pandanh Orion padanya. Dia tahu pasti bahwa pertanyaannya tadi memang benar.
"Mending lo ke kamar deh, dengerin musik korea atau nonton drama di laptop! Jangan gangguin gue yang lagi nugas gini!"
"Santai dong." Sahut Megan sambil terkekeh geli melihat Orion yang terbawa perasaan. Ia tahu bahwa saudaranya itu putus karena postingan galaunya yang cukup bisa dijadikan bukti kekandasan hubungan.
Megan naik ke kamar setelah tadi Leo datang dengan pesanannya. Pilek cukup menggangunya sehingga ia memilih untuk langsung tidur tapi sebelum itu Megan melalukan rutinitasnya memandangi poto yang ada pada album bias-bias kesayangan.
"
My baby
Tavian, kamu kenapa jadi makin ganteng? Kamu ga kasian sama aku?"
"Ini kamu juga Raven, makin ke hari makin manis. Aku jadi tambah suka."
Sesekali Megan menciumi potocard yang sudah menumpuk didalam kotak berukuran besar. Setiap malam sebelum tidur dia selalu memandangi album serta segala hal tentang biasnya. Lebih parahnya Megan mengajak poster yang ia tempel di dinding untuk berbicara dengannya.
"Yaudah aku tidur dulu ya.
Good night
."
Tumbukan buku dibawa dengan susah payah ke atas meja. Bukan buku pelajaran atau buku penunjang untuk masuk ke perguruan tinggi melainkan novel serta komik. Megan membuka halaman demi halaman novel yang ia baca.
"Kamu sedang baca apa?"
Megan terkesiap lalu menatap pemilik suara yang ada di depannya. Entah sejak kapan ada orang duduk satu meja dengannya. Mungkin karena ia yang terlalu fokus membaca sehingga tidak menghiraukan lingkungan sekitar.
"Tavian? Kamu ngapain disini?"
"Aku mau nemenin kamu belajar disini." Megan tersipu malu mendengar jawaban bias kesayangannya Tavian, yang sedang duduk di hadapannya dengan senyuman serta dimple khasnya. Benar menemaninya belajar di perpustakaan sampai sore.
Pletek
"Aduh! Tavian, kamu..."
"Tavian! Tavion! Lo mengigau ya, Dek?" Tanya Leo di depan ranjangnya.
Megan mengambil cokelat yang digunakan Leo untuk memukulnya dan lebih parahnya cokelat itu menghilangkan mimpi indahnya bersama Tavian. Bibir Megan seketika mengerucut, ia tahu bahwa mimpi tidak bisa diulang atau dilanjutkan.
"Abang ngapain kesini? Gue kan lagi mimpi."
"Tadi gue lupa ngasi lo cokelat."
"Yaudah sana! Gue mau tidur, jangan gangguin." Ketus Megan sambil menyibak selimutnya hingga kepala.
"Lain kali mampir lagi ya, Tav."
Gumam Megan dalam hati berpamitan dengan Jaehyun. Saat ingin memejamkan mata, ponsel Megan bergetar membuatnya kembali bangun.
Juan menelpon. "Kenapa Ju?" Tanya Megan
to the point.
"Besok kita jalan yuk, Gan." jawabnya langsung pada intinya juga, tanpa perlu berbasa-basi. 
"Kemana?"
"Ikut aja. Besok gue jemput. Sekalian gue ajak anak-anak yang lain kalo mereka ga sibuk."
"Oke. Jangan ganggu lagi, gue mau tidur." Balas Megan, ia mematikan sambungan telepon lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas.
Keesokan harinya sesuai janji Juan akan menjemputnya di rumah. Hari ini adalah weekend serta hari merehatkan otak dari rumus serta tumbukan buku pelajaran yang dapat membuat kepala pusing dan mual.
"Daniel sama Carlos udah lo ajak?"
"Udah tapi kata mereka ga bisa. Daniel ada acara keluarga. Kalo Carlos, mau rebahan seharian di rumah." Jawab Juan sambil fokus menyetir mobil.
Megan adalan satu-satunya perempuan didalam circle pertemanan mereka dan sudah mengenal sejak kecil. Keluarga mereka berempat berteman baik yang diturunkan langsung kepada mereka semua.
"Oh, memangnya kita mau kemana?"
"Temenin gue ke perpustakaan kota."
"Ngapain? Males banget gue liat buku pelajaran."
"Disana ga cuman ada buku matematika fisika sama kimia doang kali, Gan." Jawab Juan menyadarkan Megan bahwa perpustakaan kota adalah pusat buku dari berbagai genre.
Gadis cantik itu memang tidak pernah ke perpustakaan kota karena menurutnya dia sangat malas berurusan dengan buku jika pun harus dengan terpaksa dia pergi ke toko buku. Megan pintar tapi dia benci melihat buku pelajaran setiap hari setidaknya ada hari dimana mata dan pikiran dibebaskan dari benda pipih persegi itu.
Megan berjalan menuju rak novel serta komik sedangkan Juan ada di lorong seberang berjibaku dengan buku penuh rumus. Tangannya mengambil beberapa lalu menumpuknya menjadi satu dan berusaha membawanya ke meja belajar.
"Udah jarang juga gue baca novel." Gumamnya sambil memilah buku untuk dibaca.
"Gan, lo udah apa belom?"
"Hm, baru mau baca gue. Kenapa, Ju?"
"Gue harus jemput Joana di Gereja. Mama gue tadi telpon suruh gue jemput dia disana." Jelas Juan singkat.
"Adik lo ngapain ke Gereja? Pelatihan sambut baru?"
"Iya. Lo mau ikut sekalian? Entar gue balik sini lagi."
"Gue disini aja mau baca sekalian milih novel yang pengen gue pinjem. Lo ga perlu balik kesini, gue pulang naik taksi aja."
"Gapapa, Gan?" Megan mengangguk memberi jawaban. Juan berlalu dengan dua buku di tangannya menghilang dibalik dinding.
Megan mulai hanyut di dalam alur novel. Matanya pun enggan berkedip dengan tangan lihai membuka halaman demi halaman. Gadis ini bukan membenci buku tapi lebih tepatnya malas melihat deretan rumus yang turun menurun tanpa henti tapi otaknya santai saja menampung tumpukan angka.
"Kamu sedang baca apa?"
"Tav? Eh kamu ngapain disini?" Raut wajah Megan berubah setelah melihat orang yang ada di depannya. Spontan dia menyebut nama biasnya karena semalam baru memimpikannya. Anehnya Megan tidak terkejut dengan kedatangan lelaki berpayung yang duduk dihadapannya ini.
"Aku mau nemenin kamu belajar disini."
"Ini kenapa cara dia ngomong sama kaya dialog di mimpi aku tadi malam?"
Guman Megan heran.
"Kamu kemarin kenapa bisa menghilang kaya gitu? Kamu beneran hantu, ya?" Megan enggan menanyakan hal yang memenuhi otaknya saat ini. Lelaki didepannya menatap dengan pandangan bingung. Astaga lekaki macam apa yang bisa lupa ingatan tapi mendatangi dan menyapa seperti sudah saling mengenal.
"Aku tanya kenapa kamu malah diem gitu sih?"
"Memangnya kemarin kita bersama?"
"Pertanyaan macam apa ini?" Gumam Megan dalam hati. Bukankah kemarin mereka bersama saat hujan.
"Kita bersama kemarin, kamu mengantarkan aku pulang ke rumah tapi kamu tiba-tiba hilang."
"Aku tidak tau apa maksudmu."
"Jika kamu ga tau lalu ngapain kamu kesini? Mau nemenin aku belajar? Kita saling kenal?" Raut wajah Megan sudah berubah sejak tadi. Bagaimana ada orang bisa lupa ingatan seperti ini. Megan menahan kekesalannya lalu kembali membaca novel tidak menghiraukan lelaki yang ada didepannya.
Tidak nyaman. Megan selalu merasa diperhatikan. Entah sudah berapa lama lelaki ini memperhatikan Megan. "Kamu ngapain? Kenapa dari tadi ngeliatin aku terus?"
Selain tidak nyaman diperhatikan, Megan juga tidak terlalu nyaman berbicara menggunakan aku kamu tapi juga tidak baik berbicara dengan orang yang tidak akrab dengan kebiasaannya bersama Juan dan yang lain.
"Aku memang harus memperhatikanmu." Megan mengabaikan ucapan Lelaki berpayung dan pergi membalikkan beberapa novel ke tempat asalnya. Bukan berpayung sekarang dia menggunakan kaos putih dengan kemeja tidak berkancing. Sama persis seperti Tavian.
"Kamu ini mesin
fotocopy
atau apa? Kenapa dari tadi seperti sedang menyalin? Mana bahasa kamu baku banget." Megan memperhatikan ada keanehan disini hanya saja masih sama didalam pikirannya.
Deg. 
"Kemana dia pergi? Menghilang lagi?" Ujar Megan membalikkan badan tidak mendapati lelaki tadi disekitarnya. Mata Megan melirik ke kiri kanan tapi nihil, lelaki itu benar-benar menghilang.
"Tapi kenapa adegan ini sama persis kaya mimpi gue semalam? Astaga pusing untung gue ga takut hantu. Jantung gue, jadi ga aman gini."
Megan membawa tiga novel ditangannya, dia tidak sadar ternyata hari hampir malam jadi dia bergegas untuk pulang sebelum perpustakaan ditutup. Pikirannya kembali mengingat kalimat yang diucapkan lelaki tadi hingga membuat jantungnya mulai berdegup kencang. Megan semakin penasaran siapa lelaki itu kenapa dia selalu datang dan menghilang tiba-tiba.

Komento sa Aklat (57)

  • avatar
    Darwisy

    wow amazing

    09/12

      0
  • avatar
    Amerta dalam bumantara

    bagus ceritanya

    12/06/2025

      0
  • avatar
    Dewi

    kerenn ceritanya

    23/03/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata