logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Lamaran tak terduga Rico

Tubuhku gemetar melihat kartu nama itu, aku teringat satu nama yang membangkitkan semua kenangan buruk itu dalam sekejap. Aku meletakkannya dan segera masuk ke kamar, maas Andy paham dengan apa yang ku rasakan dan mengikutiku.

“Airin, tenanglah yang bernama Ariel Itu banyak di muka bumi ini, lagi pula itu belum tentu Ariel yang sama kan?”Seluruh
“Lantas di mana adikmu yang sudah lama menghilang itu ? bagaimana kabar terakhirnya. ? di mana dia sekarang?!” aku nyaris memekik frustasi. Mas Andy segera memelukku dengan erat, mencium kepalaku dan berusaha menenangkanku.
“Heeyy … heey … Sayang … tenanglah, tenang, dia bukan Ariel adikku, dia hanya orang lain yang bernama depan Ariel. “
“Aku tidak mau Ariel menyentuh keluarga kita Mas, aku tidak mau!” aku masih menggeliat gelisah dalam pelukan mas Andy.
“Tidak akan terjadi apa-apa Rin, ayo laah cobalah untuk bersikap tenang, jangan sampai anak-anak melihatmu seperti ini dan bertanya-tanya.” mas Andy mengelus punggungku berkali-kali. Sentuhannya yang lembut membuat keteganganku berkurang, aku membalas pelukannya dengan erat pula. Dia adalah laki-laki yang ku syukuri kehadirannya setelah mendiang pak Sanjaya. Laki-laki yang baik, penyabar dan pengertian.

Siang ini aku berencana untuk makan siang bersama dan Rico juga bisa menyempatkan diri. Aku dan ibu pergi berbelanja di Chinatown yang letaknya tepat di jantung kota London. Kami membeli bahan yang bisa digunakan untuk memasak rendang yang mirip laah dibuat di tanah air.
Setelah pulang berbelanja kami memasak untuk membuat berbagai makanan khas Indonesia, rendang daging sapi, opor ayam, dan mereka beruntung karena ada kangkung yang mereka temukan dan masih segar yang dibuat cah kangkung pedas.
Sayang sekali Aldrin batal ikut dengan kami karena harus mengikuti olimpiade matematika mewakili sekolahnya. Mata Rico berbinar melihat makanan yang tersaji di atas meja, pasti dia merasa tengah berada di tanah air dengan aroma masakan yang memenuhi ruang makan itu.
“Waaah … luar biasa … apa hari Lebaran sudah tiba lebih awal?” Rico yang baru pulang dari kampus menarik kursinya sambil memperhatikan tiap menu yang terhidang.
“Ganti baju dulu Co baru makan, sayang kalau kemeja putih kamu kecipratan kuah opor ayam.” ujar ibu mengingatkan anak itu. Nasi dari beras Thailand yang kami beli di Chinatown mengepulkan asap tipis ikut tersaji di meja makan. Rico naik ke kamarnya di saat Sandrina juga turun dan bersiap pergi.
“Nek, aku mau pergi dulu yaa, aku ada janji dengan temanku siang ini.” Sandrina sesaat melihat makanan yang ada di meja.
“Ini makanannya udah siap lho San, masa sih ditinggal gitu aja?” tanyaku protes.
Aku memperhatikan Sandrina yang memoles wajahnya dengan sentuhan make up minimalis, dia sudah tumbuh jadi gadis muda yang cantik.
“Kamu mau ketemu sama siapa San?” tanyaku penasaran.
“Mom gak usah ikut campur dengan urusan pribadi San, yang penting San bisa jaga diri.”
“Hati-hati bicaramu Nona Muda ! aku masih ibumu dan aku masih berhak untuk mengatur apa yang baik dan buruk bagimu!” suaraku mulai meninggi.
“Mom sudah lama kehilangan hak itu saat Mom membuangku ke sini.” desis Sandrina tajam lalu berbalik meninggalkan ruangan. Tak lama suara mobilnya pun menderu meninggalkan pekarangan rumah.
Aku terhenyak jika bukan Rico yang menangkapku mungkin aku sudah jatuh terduduk di lantai.
“Tante, hati-hati Tante. Ayo duduk, pelan-pelan.”
Rico membimbingku duduk di kursi makan, aku memandangi ibuku yang sudah lebih dulu berlinang air mata.
“Kemarahan dan kebencian yang dia keluarkan hari ini adalah hasil dari emosi yang dipendam selama bertahun-tahun Rin, ibu sudah berusaha yang terbaik tapi Ibu tak akan bisa mencegahnya untuk tidak kecewa dan marah padamu.”
Aku menarik napas, Rico memberiku segelas air putih.
“Terima kasih Co, Tante gak apa-apa kok.” Aku membelai kepala anak muda itu dan berusaha setenang mungkin.
Mas Andy yang beru saja keluar dari ruang kerja mencari sosok putrinya itu.
“Aku mendengar suara mobil, apa Sandrina pergi?” mas Andy menatap kami dengan keheranan.
“Ada apa ini?” tanya mas Andy yang tahu sesuatu sedang terjadi.
“Tidak, tidak ada apa-apa, katanya San punya janji penting dengan seorang kawannya. Kalau pulang dia pasti akan makan lagi.” jawabku setenang mungkin seakan tidak terjadi apa-apa.
“Baiklah ayo makan. Rico, makan yang banyak masakan tantemu ini enak lhoo. Oh ya, tadi pagi kamu mau bilang apa ke kami?”
Sejenak Rico berhenti menyendok nasi ke mulutnya. Tampak dia menimbang sesuatu, dia berdehem sejenak untuk menyiapkan dirinya. Aku gelisah menunggu apa yang akan dikatakan oleh anak ini.
“Om, Tante, Rico tahu saat ini mungkin terlalu dini untuk membicarakan hal yang penting ini. Tapi Rico pikir niat baik pastinya bagus jika disegerakan.”
Aku menatap mas Andy dan ternyata dia juga menoleh padaku di saat yang bersamaan.
“Serius sekali rupanya. Apa Ibu tahu?” tanyaku pada ibuku yang terlihat juga sedikit bingung.
“Ibu gak tahu, ada apa ini Rico?”
Rico menarik napasnya dan menegakkan punggungnya sambil memandang kami dengan tatapan serius penuh ketegasan. Sorot mata yang diwariskan ayahnya, pak Rudy.
“Saya ingin menjadikan Sandrina istri saya kelak Om,Tante. Tapi tentunya hal ini terserah dari Sandrina apa dia setuju atau tidak dan saya tidak memaksa atau pun jika dia meminta saya menunggu, saya akan menunggunya sampai Sandrina siap.”
Kejutan apa lagi ini? rasanya jantungku sudah mulai kepayahan untuk menerima hal-hal yang mengejutkan secara beruntun.
“Apa kau sedang melamar putriku Rico?” tanya mas Andy serius pada anak muda yang baru berumur dua puluh tiga tahun itu.
Aku, ibu dan mas Andy saling bertukar pandangan. Rico masih dengan ekspresi yang sama, tidak ada kegugupan dan terlihat dewasa.
“Iya Om, saya sedang melamar Sandrina untuk menjadi istri saya. Saya tidak menyampaikan ke Sandrina tentang ini, biar pelan-pelan saya akan meyakinkan dia agar mau menerima lamaran saya.”
“Tante setuju, Tante terima lamaran kamu.” Aku merasa kaki mas Andy sedang menyenggol kakiku di bawah. Mas Andy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Apa alasan kamu sehingga kamu ingin Sandrina menjadi pendamping hidup kamu ? selama kalian tinggal bersama kalian … kalian tidak…,”
“Tidak Om, saya tidak melakukan hal-hal yang tidak bertanggung jawab pada Sandrina. Dia cinta pertama saya dan saya bertekad untuk menjaganya sepanjang hidup saya.”
Tak ada keraguan sedikit pun terlihat dari sorot mata Rico, dia hanya terlihat mengepalkan tangannya.
“Apa orang tua kamu sudah tahu tentang lamaran kamu ini co?” tanya mas Andy lagi yang terasa seperti menginterogasi seorang tersangka.
“Papa saya belum tahu soal ini tapi jika nanti saya kembali ke tanah air hal pertama yang akan saya beritahukan adalah mengenai lamaran saya ini. Tolong pertimbangkan Om,Tante.”
Aku tersenyum dengan lega, karena memang sebelumnya aku sudah punya niat jika akan menjodohkan Sandrina dengan Rico, hal ini seperti dipermudah dengan Rico yang lebih dulu melamar putriku Sandrina.
“Baiklah kita lanjutkan saja makan siang ini dan kami akan berikan jawabannya nanti, tapi apapun itu Om mau Sandrina menerimanya bukan karena paksaan, kamu mengerti Anak Muda?”
“Saya mengerti Om, Tante dan terima kasih sudah menerima niat baik saya dengan baik.”
“Yaa sudah ayo makan dulu nanti makanannya dingin lhoo.” Ibu memberi sayur kangkung pedas yang disukai Rico ke piring anak itu. Selebihnya kami berbincang tentang hal-hal ringan sambil tertawa ceria. Tapi jauh di sudut hatiku aku merisaukan Sandrina, entah mengapa firasatku mengatakan ada hal yang buruk yang akan terjadi pada kami. Semoga tidak dan aku tidak mengharapkan itu terjadi.



Komento sa Aklat (93)

  • avatar
    Rata Ratna

    bagus banget

    24/04/2022

      0
  • avatar
    MartinoDoni

    mantap

    24/12

      0
  • avatar
    syalomedward

    bagus

    11/12

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata