logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Foto

“Jadi bagaimana keadaan teman saya sekarang, Dok?”
“Saya rasa keadaannya sudah membaik. Beruntunglah ada seorang kakek yang membawanya kemari. Hebatnya, dia melewati masa kritis lebih cepat dari yang saya kira.”
“Syukurlah. Apa saya sudah bisa melihatnya, Dok?”
“Ya, tentu. Silakan masuk saja.”
Kurang lebih seperti itulah percakapan yang sayup-sayup kudengar. Entah siapa, yang pasti salah satu di antaranya mirip sekali dengan suara Nunok. Perlahan aku membuka mata. Hei, mengapa mata ini terasa begitu berat? Apa yang telah terjadi? Aku di rumah sakit? Apa ini? Ada perban yang melilit perutku. Penusukkan itu. Ya, aku ingat sekarang. Aku telah ditusuk oleh ... Pak Nahar.
Kreekk ...
Suara pintu dibuka oleh seseorang.
“Sam, apa yang terjadi?!”
Aku berusaha bangun untuk menyambut orang itu. Ya, ternyata memang benar, dia adalah Nunok.
“Terima kasih sudah membawaku kemari, Nok.”
“Tidak, Sam. Bukan aku yang membawamu kemari, melainkan seorang kakek.
“Kakek?”
“Ya, kata dokter kau dibawa kemari oleh seorang kakek. Sam, jangan-jangan ...,”
Aku dan Nunok saling berpandangan.
“Liu!” teriak kami bersamaan.
Apa benar kakek yang membawaku kemari adalah Liu? Tak mungkin jika Liu berada di pelabuhan. Bukankah semalam hujan? Lagi pula, apa yang dilakukannya malam-malam di sana? Apa dia membuntutiku? Apa dia tak sebaik yang aku kira? Tidak! Mungkin dia ingin melindungiku. Mengapa akhir-akhir ini semuanya terasa begitu rumit? Aku harus segera bertemu dengannya!
“Sam, sebenarnya apa yang telah terjadi? Bisakah kau menceritakannya? Aku ingin tahu dari versimu.” Nunok berjalan mendekatiku dan duduk di kursi. Mengapa dia terkesan ingin menyelidikiku?
Deg!
Apa yang harus kukatakan padanya? Bukannya takut, tapi aku tak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Mungkin karena semalam emosi Pak Nahar sedang memuncak, itulah sebabnya mengapa dia berani melakukannya.
“A-aku diserang oleh seorang preman. Dia menusukku di kegelapan, jadi aku tak tahu persis bagaimana wajahnya.” Aku berbohong pada Nunok yang mengamatiku dengan saksama.
“Preman? Tapi ini kutemukan di pelabuhan saat aku berhasil menemukan handphone-mu! Kau tak usah berbohong padaku! Aku tahu siapa pelakunya, Sam!” Nunok menunjukkan gelang rantai milik Pak Nahar padaku.
Aku menelan ludah saat menatap mata Nunok.
“Tapi ... bagaimana kau bisa tahu aku ada di pelabuhan? Bukankah aku tak mengatakannya padamu, Nok?”
“Jelas aku tahu, Sam! Handphone-mu masih menyala saat Pak Nahar memakimu! Aku langsung bisa menebak di mana posisimu. Saat aku sudah sampai di sana, kau tak ada dan aku hanya menemukan ini. Tapi aku yakin kau masih hidup, jadi kuputuskan tadi pagi untuk mencarimu di rumah sakit terdekat. Syukurlah ... aku bisa menemukanmu di sini, Sam,” jelas Nunok panjang lebar. Wajahnya terlihat begitu iba menatapku yang terbaring lemah di atas kasur.
Ya Tuhan ... bahkan Nunok sudah mengetahui segalanya sebelum aku menceritakan kejadian yang sebenarnya. Apa yang akan Nunok lakukan setelah ini? Pasti dia akan menelepon polisi! Tidak! Aku tak ingin masalah ini semakin panjang. Aku harus mencegahnya!
“Nok, aku mohon padamu ... jangan telepon polisi.” Aku memintanya seraya menangkupkan kedua tanganku.
“Tenanglah, Sam. Sekarang dia sudah ada di dalam penjara. Jadi aku tak perlu menelepon polisi lagi, kan?”
“Apa?! Pak Nahar sudah dipenjara?!”
***
Kejadian ini membuatku tak bisa menikmati embun di pagi buta. Ya, aku telah melewatkan dua pagi—yang masih sama. Tak ada Anggita yang menemaniku. Ini sudah hari ke-lima dia pergi. Apa dia sudah benar-benar melupakan persahabatan kami? Tidakkah enam belas tahun untuk takaran sebuah hubungan itu sangat lama? Tapi ini hanya hubungan persahabatan, tidak lebih. Lantas, apa aku akan tetap menemuinya? Mengutarakan sebuah perasaan yang sudah sangat berbeda itu? Ya, perasaan cintaku padanya.
Mengapa Liu meninggalkanku begitu saja? Harusnya dia menjagaku di sini. Tapi aku tak bisa semudah itu menyimpulkan bahwa kakek yang membawaku kemari adalah dia. Sungguh, aku ingin memberitahukan padanya bahwa aku tak akan menunggu dan akan segera menemui Anggita. Pasti dia akan sangat senang mendengarnya. Tapi di mana  dia? Bagaimana cara untuk menemuinya? Hei, bukankah waktu itu dia sedang mengumpulkan gading-gading? Oke, akan kudatangi dia di Pantai Gading setelah aku benar-benar sembuh!
Hari ini adalah jadwal keberangkatan KM. Dharma Ferry VIII. Jujur, aku sudah rindu bekerja. Terlebih karena luka tusukan ini, aku tak bisa bersepeda untuk sementara waktu. Aku jadi teringat dua hari yang lalu—saat Rama tiba-tiba menyeretku. Bukankah dia berjanji akan menemuiku lagi?
Tok ... tok ... tok ...
Suara pintu diketuk seseorang.
“Ya, masuk!” seruku kemudian.
Tak lama masuklah Nunok bersama seseorang.
Hei, bukankah itu Rama? Panjang umur sekali dia. Baru saja aku memikirkannya, dia tiba-tiba ada di sini!
“Sam, lihatlah siapa yang kubawa untukmu!” kata Nunok antusias seraya mempersilakan Yama untuk mendekat padaku.
Rama tersenyum padaku tapi tiba-tiba wajahnya berubah sangat iba.
“Sam, mengapa kau tak memberitahuku?”
“Memberitahu apa, Ram? Kurasa musibah seperti ini tak perlu dibesar-besarkan. Toh aku baik-baik saja, hanya butuh beberapa hari lagi aku sudah boleh pulang. Tak usah terlalu khawatir ...,” kataku padanya seraya mengangguk mantap.
“Yah ... setidaknya aku sangat bersyukur karena kau baik-baik saja, Sam. Aku sungguh sangat takut jika harus kehilanganmu ....” Rama berkata dengan mata berkaca-kaca.
“Hahaha ... kau lucu sekali, Ram! Sammy itu bukan kekasihmu, mengapa harus takut?”
Aku melotot pada Nunok demi mendengar apa yang baru saja dikatakannya.
“Sudahlah, Nok. Jangan menggoda Amar. Oh—ya, kau tak mengajak istrimu, Ram?”tanyaku kemudian.
“Ah—iya. Dia sedang tak enak badan, Sam. Maaf aku belum bisa mengenalkannya padamu.”
“Kau ini bicara apa, Ram. Tak perlulah kau minta maaf padaku.”
“Lantas, mana sahabat wanitamu yang cantik itu?”
Aku dan Nunok saling berpandangan.
“Dia juga sedang tak enak badan, Ram!” Nunok menjawab asal.
Apa sebaiknya kuceritakan pada Amar yang sebenarnya terjadi antara aku dan Anggita? Tapi sepertinya Rama percaya dengan apa yang dikatakan Nunok.
“Oh ... bisa kebetulan sekali, ya?”
“Begini saja, bagaimana kalau kalian berdua saling menunjukkan foto wanita kalian masing-masing. Agar kalian tak penasaran!” Nunok memberikan usulan.
Kami bertiga saling berpandangan. Akhirnya aku dan Rama sepakat untuk saling menunjukkan foto.
Jreng!
Aku membelalak tak percaya dengan apa yang kulihat. Foto dalam genggaman Rama ... bukankah itu foto Anggita? Ya, itu jelas foto Anggita!  Atau hanya seseorang yang begitu mirip dengannya? Untuk sepersekian detik, kuremas foto dalam genggamanku. Aku tak kuasa memperlihatkannya. Jadi ... jadi istri Rama adalah Anggita?
“Sam, mana fotomu?”
Aku merasakan perutku kram. Sakit sekali ... melebihi rasa sakit di hatiku.

Komento sa Aklat (116)

  • avatar
    Uyun AL Varo

    sangat menarik untuk dibaca dan isinya juga seru banget menghibur diwaktu senggang

    03/02/2022

      5
  • avatar
    maha karya

    sangat menarik

    11/06/2025

      0
  • avatar
    Burg Gaming

    cerita yang bagus

    14/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata