logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Insiden Penusukan

Aku membelalak tak percaya setelah laki-laki itu membuka topi dan melepaskan pegangannya di lenganku. Dia menatapku dengan saksama seraya tersenyum ramah. Dia ... dia laki-laki yang tadi kulihat saat memanggul barang-barang Bu Martha. Hei, mengapa dia ada di sini? Apa tujuannya? Apa dia membuntutiku? Apa benar kami pernah bertemu sebelumnya? Ya, kurasa memang pernah. Tapi mengapa dia menyeretku dengan kasar? Huh, sebenarnya dia ini siapa, sih?!
“Hai, Sammy. Apa kabar? Masih ingat denganku?” Dia mulai bertanya padaku sambil meletakkan telunjuk di dadanya.
“Kura-sa ... ti-dak. Ehm—maksudku ... kita belum pernah bertemu sebelumnya, kan?” jawabku seraya menggeleng.
“Ya Tuhan ... kau benar-benar tak ingat denganku, Sam! Aku sahabat kecilmu! Kau ingat dengan si gendut yang selalu menyembunyikan ranselmu?” katanya kemudian—masih berusaha meyakinkanku.
“Si gendut ... si gendut ....” Aku berusaha mengingat-ingat kembali setelah dia memberikan penjesalan lebih lengkap.
“Ya, si gendut yang kau bilang mirip Baby Huey!”
"Rama si Baby Huey! Benarkah ini kau? Sungguh aku tak percaya!” kataku dengan mata berbinar-binar.
“Sam, ternyata kau masih ingat denganku!”
“Sebentar, mengapa tadi kau menatapku seperti itu saat memanggul barang?”
“Ah ... aku hanya ingin membuatmu penasaran dan sedikit takut, Sam! Hahaha ....” Rama memeluk dan menepuk-nepuk pundakku. Aku pun membalasnya dengan pelukan kerinduan yang sangat dalam.
Sejenak kuambil sepeda yang masih bersandar di bawah pohon. Kuikuti ke mana kaki ini melangkah. Tak terasa kami sudah terhanyut dalam tawa dan berjalan menyusuri pelabuhan. Di tengah-tengah keakraban kami, aku diam-diam menatap Rama. Ya, dia mengalami perubahan yang sangat signifikan. Terutama bentuk tubuhnya. Aku menahan tawa saat membayangkan tubuh tambunnya 25 tahun yang lalu. Ya Tuhan ... itu berarti sudah seperempat abad kami tak pernah bertemu dan hari ini kami bertemu lagi!
Harusnya aku bisa memahami keadaan Anggita dan lebih bersabar menunggunya. Bukankah aku juga merasa sangat kehilangan ketika harus berpisah dengan Rama? Kami bersahabat, begitu juga persahabatanku dengan Anggita. Lantas apa bedanya? Jelaslah berbeda. Tak ada cinta di antara kami. Sedangkan Anggita? Aku sudah bosan menunggu dan ingin menemuinya. Hei, benarkah aku mencintaimu, Anggita? Apakah kita harus segera mengakhiri persahabatan kita dan memilih untuk bersatu dalam ikatan cinta?
“Sam, kau masih saja bersepeda, ya?”
“Eh—ini. Iya, aku kan memang dari dulu suka bersepeda. Bahkan kau sering membonceng padaku. Berat tahu!” Beruntung aku masih bisa berkonsentrasi dan menanggapi perkataan Rama. Jujur saja, aku tadi sedikit melamun karena memikirkan Anggita.
“Hahaha ... tapi kan sekarang aku sudah kurus, Sam. Tubuhku berotot dan wajahku semakin tampan!”
“Ya, ya, ya. Aku akui kau memang mengalami perubahan yang sangat signifikan, Ram. Terutama tubuh tambunmu yang mirip Baby Huey itu! Ke mana perginya si Baby Huey, hah?” Aku tertawa seraya meninju pelan bahunya.
“Ah ... sudahlah. Jangan bahas soal itu lagi, oke? Ehm, Sam?”
“Ya?”
“Apa kau sudah menikah?”
Deg!
Huh, pertanyaan itu lagi! Pertanyaan yang sama setiap kali aku  bertemu dengan teman-teman lama. Selalu seperti itu. Kapan menikah? Kapan menyusul? Ah ... pertanyaan yang sebenarnya malas kujawab dan sekarang Rama yang bertanya seperti itu padaku.
“Belum, Ram,” jawabku singkat. Akhirnya jawaban itulah yang keluar dari mulutku.
“Apa?! Jadi kau masih membujang sampai sekarang? Kupikir kau sudah menikah bahkan memiliki banyak anak, Sam!”
“Tidak, Mar. Aku belum ingin menikah.”
“Omong kosong kalau kau belum ingin menikah! Jangan-jangan tak ada wanita yang mau denganmu, Sam?” kata Rama mengejekku.
“Enak saja kau! Aku sudah memiliki teman dekat selama enam belas tahun di sini dan akan kutunjukkan dia padamu!” balasku tak mau kalah.
“Dan aku akan membawa istriku ke hadapanmu!”
“Hah? Jadi kau sudah punya istri! Baiklah ... yang pasti dia tak lebih cantik dari teman wanitaku.”
Kami pun mengakhiri pertemuan hari ini. Rama berjanji akan menemuiku lagi besok pagi. Sekarang sudah saatnya aku beristirahat untuk persiapan nanti malam—saat KM. Dharma Kencana III tiba.
***
Aku baru saja menyelesaikan makan malam saat Pak Nahar meneleponku. Ada apa, ya? Apa jangan-jangan dia akan menyuruhku untuk datang lebih awal? Bukankah sekarang masih pukul 18.50 dan kata Nunok dia tidak masuk hari ini?  Mungkin kurang lebih ada lima panggilan tak terjawab di handphone-ku. Yah ... aku memang sengaja membiarkannya begitu saja. Sungguh, aku malas sekali mengangkat teleponnya.
“Halo?” Akhirnya kujawab juga teleponnya.
“Halo, Sam? Sam, bisakah kau datang sekarang juga?”
“Tapi ada apa, Pak? Bukankah jadwal keberangkatan KM.Dharma Kencana III masih sekitar dua jam lagi?”
“Ini penting sekali, Sam! Ayo, lekaslah kemari! Tapi kau jangan mengajak si Nunok, ya!”
Tut ... tut ... tut ...
Telepon terputus.
Mengapa aku sedikit ragu, ya? Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Lagi pula mengapa aku tak boleh mengajak Nunok? Bukankah jika kami berdua datang, pekerjaan akan lebih cepat selesai? Tapi ini perintah. Selama ini aku juga tak pernah membantahnya. Apa pun yang diinstruksikannya, aku akan melaksanakannya.
Akhirnya kuputuskan pergi ke pelabuhan tanpa sepengetahuan Nunok. Gerimis mulai turun setelah lima menit aku mengayuh sepeda. Itu tak masalah, jaket parasut ini sudah cukup melindungiku darinya. Tapi semakin lama hujan semakin deras, membuat laju sepedaku sedikit melamban. Apa aku akan tetap ke pelabuhan? Atau sebaiknya aku menelepon Nunok agar dia menemaniku? Tapi ... sebaiknya jangan. Oke, sepertinya aku harus tetap melaksanakan perintah Pak Nahar sesuai dengan intruksinya.
Kutengok sekilas jam tangan—yang sedikit memburam karena terkena air hujan. Sekarang sudah pukul 19. 15, sepuluh menit lagi aku akan sampai di pelabuhan. Tenanglah, Sam. Semua akan baik-baik saja. Aku berusaha menenangkan diri sendiri ketika bersamaan dengan itu, hujan perlahan mulai reda. Menyisakan angin yang berembus begitu dingin.
Tak sampai sepuluh menitaku tiba di pelabuhan. Kusandarkan sepeda di bawah pohon dan mengetik pesan singkat pada Pak Nahar.
“Pak, aku sudah sampai. Bapak di mana?”
Tiga menit kutunggu balasan darinya, tapi tak ada. Sekarang sudah lima menit,masih juga tak ada balasan darinya. Aku mondar-mandir dan sangat gelisah demi menunggu responnya. Apa sebaiknya aku pulang  saja? Toh sepertinya dengan cuaca seperti ini, Nunok lebih memilih untuk tidak ke sini.Oke, sekarang sudah sepuluh menit aku menunggumu, Pak. Ya, sebaiknya aku pulang saja.
“Hai, Sam. Maaf sudah terlalu lama menunggu. Bagaimana, udaranya dingin?” Tiba-tiba Pak Nahar muncul di hadapanku. Tatapannya tajam disertai senyum yang sangat misterius.
Aku menelan ludah demi membalas tatapannya. Mengapa ... mengapa tiba-tiba kerongkonganku terasa begitu kering? Kering sekali.
“Mengapa Bapak tak membalas pesanku?” tanyaku dengan suara yang sedikit bergetar seraya merapatkan jaket.
“Kurasa aku tak perlu membalasnya, Sam. Sekarang langsung saja pada pokok permasalahannya. Kau masih ingat kejadian itu, Sam?”
“Kejadian apa yang Bapak maksud?” Aku menggeleng tak mengerti.
“Ah ... kau jangan pura-pura, Sam!” Pak Nahar gusar dan mulai mendorongku.
Aku menahan sakit karena tekanan keras di dada. Apa yang sebenarnya Pak Nahar katakan? Kejadian apa? Mengapa dia terlihat begitu marah? Mengapa dia tiba-tiba terkesan sangat membenciku? Benar dugaanku tadi, ada sesuatu yang tidak beres!
“Istriku meninggal lima tahun yang lalu dan itu karena ulahmu! Kau masih ingat, hah?! Hahaha ... kau tentu masih ingat semuanya dan kau pura-pura sudah lupa, Sam! Kau benar-benar kejam!” lanjutnya dengan mata merah penuh kebencian.
Jadi ... kejadian itu. Ya, aku masih mengingatnya. Bisa kulihat di sana, ada luka yang begitu dalam. Ternyata luka itu tak pernah mengering sampai saat ini. Tapi ... aku tak pernah melakukannya. Aku bukan seorang pembunuh!
“A-aku .... Sudah kukatakan berulang kali kalau aku tidak melakukannya, Pak! Aku tak pernah membunuh siapa pun termasuk istrimu!’ jelasku seraya mundur beberapa langkah darinya.
Aku memicingkan mata di antara kegelapan malam. Hei, apa yang ada dibalik punggung Pak Nahar? Apa yang akan dilakukannya padaku? Jangan-jangan dia ingin membunuhku! Tidak! Sebaiknya kusudahi pembicaraan ini saja. Gerimis mulai turun lagi. KM. Dharma Kencana III setengah jam lagi akan berangkat. Ya Tuhan ... aku ingin pergi dari sini sekarang juga!
“Aku tak percaya dengan semua omong kosongmu itu, Sam! Kau pembunuh dan kau harus merasakan penderitaan yang kualami selama ini! Maafkan aku, Sam. Aku harus membunuhmu ...,” balas Pak Nahar seraya mengeluarkan sebilah pisau dari balik punggungnya.
Mulutku menganga lebar. Bulu kudukku seketika meremang. Ini benar-benar tidak beres! Nunok. Ya, aku harus segera menelepon Nunok! Tak butuh waktu lama untuk mencari nomor teleponnya karena kontaknya sudah kuatur di emergency call. Tersambung.
“Halo? Nok, lekaslah kemari! Nyawaku di ujung tanduk!”
“Hahaha ... kau ingin meminta pertolongan pada temanmu yang tolol itu, hah?! Percuma! Sekarang rasakan pembalasanku, Sam!”
Terlambat! Pak Nahar sudah menusukku sebanyak dua kali. Seketika darah mengucur deras dari perutku. Sial! Terlihat para penumpang KM. Dharma Kencana III melambai-lambaikan tangan dan semua orang sedang tertuju pada mereka. Tak ada satu orang pun di sini selain aku dan Pak Nahar. Aku menekan perutku kuat-kuat seraya mengerang.
“Ah ... tolong ... tolong a-ku ....” Suaraku lemah sekali seperti tertelan angin.
“Nikmatilah, Sam! Hahaha ....” Pak Nahar tertawa puas dan meninggalkanku begitu saja.
Tubuhku limbung. Sebentar lagi aku pasti mati. Ya, aku pasti mati. Tapi tiba-tiba seseorang berhasil menopang tubuhku. Nunok, kaukah itu?
Bruk!
Lalu ... segalanya berubah menjadi gelap.

Komento sa Aklat (116)

  • avatar
    Uyun AL Varo

    sangat menarik untuk dibaca dan isinya juga seru banget menghibur diwaktu senggang

    03/02/2022

      5
  • avatar
    maha karya

    sangat menarik

    11/06/2025

      0
  • avatar
    Burg Gaming

    cerita yang bagus

    14/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata