logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

DKJ 07

Tiga hari telah berlalu sejak malam dimana Om Putra memutuskan hal yang sangat berat untuk Jesna terima. Kini Jesna akan memberikan jawabannya kepada Om Putra. Jesna berharap ini adalah keputusan yang baik sebab ini menyangkut kehidupan masa depannya kelak.
Hari ini, Jesna sedang libur dari mengajarnya. Sabtu ini, ia berencana akan menghabiskan harinya untuk mengunjungi anak-anak Jannah sekaligus untuk mencari ketenangan dalam hatinya.
“Bagaimana Jesna? Ini sudah tiga hari setelah malam itu. Apa kamu sudah memutuskannya?” tanya Om Putra. Saat ini mereka sedang berada di meja makan setelah selesai sarapan.
Jesna meyakinkan dirinya sekali lagi. Kemudian ia menatap Om Putra, “Insya Allah Jesna menerima keputusan Om. Jesna yakin, Om melakukan ini semua demi Jesna dan ini juga takdir yang diberikan oleh Allah.”
Om Putra tersenyum senang mendengarnya, berbeda dengan tante Anya yang masih mengkhawatirkan keputusan Jesna.
“Jesna, kamu berhak untuk menolak permintaan Om kamu. Kamu pikirkan sekali lagi, ya. Pernikahan ini bukan main-main, Jes. Kamu harus benar-benar siap untuk menerima segalanya.” Tante Anya mencoba meyakinkan Jesna kembali. Ia tidak mau Jesna terburu-buru dalam mengambil keputusan.
“Jesna yakin Tante. Lagi pula Jesna tidak perlu meragukan keputusan Om. Om Putra pasti melakukan semua ini untuk kebaikan Jesna.”
“Tante gak usah khawatir, Insya Allah Jesna siap menerimanya,” sambung Jesna. Ia menatap om dan tantenya dengan tenang.
“Alhamdulillah kalau kamu sudah setuju, Jes. Om akan sampaikan berita gembira ini dengan Ramlan. Dia juga pasti senang mendengarnya.” Setelahnya Om Putra beranjak menuju ruang kerjanya untuk menghubungi Ramlan.
Sepeninggalan Om Putra, Tante Anya berpindah mendekati Jesna. Ia memegang pundak Jesna dan menatapnya dengan sayang.
“Sayang, Tante akan selalu berada di samping kamu. Apapun yang terjadi nanti, kamu harus selalu cerita dengan Tante, ya,” ucap Tante Anya seraya memeluk Jesna.
“Iya, Tante.” Jesna membalas pelukan Tante Anya.
Kemudian, Jesna meminta izin untuk mengunjungi rumah singgah. Ia akan menghabiskan waktu di sana sebelum ia disibukkan untuk mempersiapkan pernikahannya.
Sebelum ke sana, Jesna berhenti di salah satu supermarket untuk membelikan beberapa cemilan. Ia tidak mungkin datang dengan tangan kosong. Jesna memutuskan untuk membeli cemilan-cemilan yang disukai oleh anak-anak dan juga beberapa kebutuhan mereka lainnya.
Saat Jesna akan menuju ke kasih untuk membayar, tanpa Jesna sadari dompet yang Jesna bawa terjatuh. Ia begitu terburu-buru karena melihat antrian yang ramai. Ia tidak ingin mendapatkan antrian yang jauh hingga menyebabkan ia terlambat untuk tiba di rumah singgah.
Kini tibalah giliran Jesna untuk membayar belanjaannya. Jesna terkejut melihat dompetnya tidak berada di dalam tasnya.
“Semuanya lima ratus ribu, Mbak,” ucap sang kasir kepada Jesna.
“Ah iya, sebentar ya, Mbak.” Jesna terus saja mencari dompet tersebut di dalam tasnya. Ia begitu panik saat tida menemukan dompetnya tersebut.
“Mbak, maaf. Ini sepertinya dompet saya terjatuh. Apa saya bisa titip belanjaan sebentar, saya mau mencari dompet saya dulu.”
“Wah tidak bisa, Mbak. Lagi pula kalau memang dompet Mbaknya terjatuh, mungkin sudah diambil orang,” ucap sang kasir.
Jesna bertambah panik mendengarnya.
“J-jadi bagaimana ya, Mbak? Saya memerlukan semua belanjaan saya ini.”
Tak lama seseorang di belakang Jesna memberikan kartunya.
“Bayar pakai ini saja, Mbak,” ucapnya.
Jesna menoleh ke arah lelaki tersebut hingga ia tidak menyadari barang belanjaannya sudah selesai dibayar.

“Ini Mbak, belanjaannya. Terima kasih sudah berkunjung.” Ucapan sang kasir mengejutkan Jesna.
“A-ah iya, terima kasih.” Jesna menerima belanjaannya dan keluar dari antrian. Ia menunggu lelaki baik hati yang membayarkan belanjaannya tersebut.
“Mas, terima kasih, ya, sudah membayar belanjaan saya,” ucap Jesna begitu melihat lelaki tersebut menghampirinya.
“Tidak apa-apa, Mbak. Sudah tugas saya untuk membantu. Jadi bagaimana dengan dompetnya, Mbak?”
“Saya belum tahu. Mungkin saya akan melaporkannya kepada security,” ucap Jesna.
“Saya boleh minta nomor atau kartu namanya, Mas? Biar saya tahu gimana menghubungi Mas nya untuk mengganti uangnya.”
“Tidak usah. Uang nya gak usah diganti,” jawabnya.
“Gak bisa gitu dong, Mas. Masa Mas yang bayarin belanjaan saya.” Jesna terus menolak saat lelaki tersebut memaksa untuk membayar belanjaannya. Hingga pada akhirnya, lelaki tersebut menyerah dan memberikan nomor ponselnya.
“Mbak belanja sebanyak ini untuk apa? Untuk stok di rumah ya?” tanyanya.
“Tidak. Ini untuk anak-anak. Ya sudah kalau gitu, saya permisi dulu ya, Mas. Saya mau melapor dulu. Nanti saya hubungi untuk ngembaliin uangnya Mas.” Jesna pun pergi setelah mendapatkan nomor ponsel orang yang menolongnya. Ia segera menuju kantor security dan melaporkan kejadian yang menimpanya.
“Anak-anak? Dia udah punya anak? Bagas akan menikahi wanita yang sudah punya anak?” pikir lelaki tersebut. Ya, lelaki ini adalah El, teman Bagas. Ia bingung dengan pernyataan perempuan tersebut mengenai anak.
Tak mau berpikir panjang, El memutuskan untuk keluar dari supermarket dan menuju ke tempat yang biasa ia kunjungi jika tidak sedang bepergian jauh. Ia tidak mau mencampuri urusan Bagas.
Kini Jesna berada di kantor security supermarket. Ia telah menceritakan kronologis mengenai dompetnya yang jatuh. Saat ini, Jesna sedang menunggu security tersebut melakukan pengecekan melalui CCTV.
Saat Jesna sedang menunggu, seorang wanita seumuran dengan tantenya datang untuk membuat laporan. Jesna tidak terlalu memperhatikannya karena ia sibuk bertukar pesan dengan mahasiswanya yang sedang melakukan study tour.
Sesaat kemudian, security yang menerima laporan wanita tersebut memanggil Jesna.
“Kepada mbak Jesna, bisa ke sini sebentar?” ucap petugas tersebut.
Jesna pun menghampirinya dan duduk bersampingan dengan wanita tersebut.
“Apa benar ini dompet milik Mbak Jesna?” ucap petugas tersebut seraya menyerahkan sebuah dompet.
Jesna mengambil dompet tersebut dan melihatnya, “Alhamdulillah, benar Pak ini dompet saya.” Ucap Jesna.
“Silahkan di cek dulu, Nak. Tadi Tante ketemu dompet kamu di bagian rak minuman,” ujar wanita di samping Jesna. Jesna pun segera melihat isi dompetnya dan ternyata isinya masih lengkap.
“Alhamdulillah tidak ada yang hilang, Tante. Terima kasih, ya, Tante sudah temuin dompet saya.”
Wanita tersebut tersenyum.
“Jadi dompet Mbak sudah ketemu, ya, lain kali Mbak nya harus hati-hati. Kali ini Mbak masih beruntung dompet serta isinya masih utuh dan ditemui oleh Ibu yang baik hati,” ujar sang petugas.
“Iya, Pak. Lain kali saya akan lebih hati-hati. Terima kasih, ya, Pak atas bantuannya.” Jesna dan wanita tersebut pun keluar dari kantor security.
“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, ya, Tante. Saya gak tahu gimana kalau bukan Tante yang temuin dompet saya,” ucap Jesna.
“Iya, sama-sama. Jadi gimana kamu bayar belanjaan kamu tadi? Tante lihat belanjaan kamu lumayan banyak,” ujar wanita tersebut.
“Ah, ini tadi saya ketemu orang baik juga di dalam, Tante. Dia bayarin belanjaan saya karena saya tidak menemukan dompet saya saat berada di kasir tadi.”
“Saya bersyukur, hari ini saya berkali-kali ketemu sama orang baik.” Jesna tersenyum. Ia tidak menyangka akan mengalami hal tak terduga seperti ini.
“Itu semua karena balasan dari perbuatan kamu juga, Nak. Oh iya, ngomong-ngomong kamu belanja sebanyak ini untuk apa?”
“Ini … untuk anak-anak, Tan.” Wanita tersebut mengernyit. Ia mengira bahwa anak-anak yang dimaksud Jesna adalah anak kandungnya. Karena ia berpikir bahwa Jesna masih sangat muda dan single.
Melihat raut wajah kebingungan Tante tersebut, Jesna meralat ucapannya.
“Maksud saya untuk anak-anak di rumah singgah. Saya berencana untuk membawakan makanan serta minuman ini untuk mereka.”
“Kamu punya rumah singgah?”
Jesna tersenyum, “cuma kecil-kecilan, Tan. Ada beberapa anak-anak jalanan yang sempat saya bantuin dulu, jadi saya membawa mereka ke rumah singgah agar hidup mereka lebih layak.”
Wanita dihadapan Jesna saat ini memandang kagum Jesna. Ia tidak menyangka bertemu dengan seorang perempuan muda yang memiliki jiwa dermawan yang tinggi.
“Kamu mengingatkan Tante dengan putra Tante. Berbeda dengan kamu yang punya rumah singgah, dia malah punya panti jompo,” ucap wanita tersebut tertawa.
“Wah, bagus dong, Tan kalau gitu. Jadinya jumlah orang tua yang terlantar berkurang. Orang seperti mereka yang sangat perlu dibantu karena diusia mereka yang sudah lanjut, mereka harus hidup sendiri entah karena ditinggalkan oleh anak atau keluarga, ataupun memang mereka hanya tinggal sebatang kara.”
Jesna melihat jam tangannya, “Tan sepertinya kita harus berpisah dulu, sudah mau Dzuhur. Saya harus tiba di sana sebelum waktu makan siang.”
“Sebentar, Tante boleh minta nomor kamu? Tante masih pengen ngobrol panjang sama kamu, sekaligus penasaran dengan rumah singgah kamu, siapa tahu nanti Tante ingin berkunjung.”
Jesna pun dengan senang hati memberikan nomor ponselnya dan juga berkenalan.
“Semoga kita cepat bertemu lagi ya, Tante.”
Setelahnya ia pamit untuk pergi menuju rumah singgah.
Wanita tersebut menatap mobil Jesna yang sudah melaju keluar dari parkiran supermarket. Ia begitu kagum dengan sifat yang dimiliki oleh Jesna. Ia berharap bahwa ia akan memiliki calon menantu yang seperti Jesna untuk putranya.
***

Komento sa Aklat (81)

  • avatar
    MentariYunna

    suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁

    18/01/2022

      1
  • avatar
    Stay madIf you mad

    bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat

    16/01/2022

      0
  • avatar
    NurulAfiqah

    Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.

    16/01/2022

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata