Beberapa hari telah berlalu, sejak kejadian pada malam itu. Kini, Arya berangkat ke sekolah seperti biasanya. Di halaman sekolah terdapat banyak murid yang berlalu-lalang, sesekali mereka melirik dan membicarakan Arya diam-diam. Arya sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu, jadi dia pun mengabaikannya. Di dalam gedung sekolah, ada seorang gadis yang sedang kewalahan menghadapi kerumunan murid yang mendatanginya. Mereka terlihat saling berdesak-desakan dan melontarkan ucapan selamat pada gadis itu. Saat arya berpapasan dengan kerumunan itu, tiba-tiba gadis itu menyapa Arya dengan spontan. "Arya! selamat pagi!" sapa gadis itu. Seketika semua murid yang mengerumuninya pun terdiam dan perlahan bubar tanpa menoleh ke belakang saat mendengar nama Arya. Di tengah kerumunan yang masih tersisa, gadis itu menyelinap keluar sambil menarik sebelah tangan temannya. "Seperti biasa kau selalu saja memanfaatkanku, nan," ujar Arya sambil tersenyum kecil melihat wajah Nanda yang berkeringat akibat murid-murid yang mengerumuninya tadi. "Ya... tentu saja, jika bukan karena kau, mungkin aku sudah mati terjepit oleh mereka sejak dulu," balasnya. Nanda Amara, seorang gadis cantik namun mematikan. Banyak yang mengira penampilan tomboynya hanya sebatas penampilan. Namun, jauh dari itu, dia adalah seorang atlet karate yang sudah menjuarai banyak turnamen. Banyak murid laki-laki yang jatuh hati padanya dan menyatakan cinta kepada Nanda. Namun, tak ada satupun dari mereka yang pernyataan cintanya pernah diterima oleh Nanda. "Se-selamat pagi!" ucap seorang gadis yang tangannya ditarik Nanda. Suasana pun menjadi canggung setelahnya dan gadis itu menundukkan kepalanya karena tak tahu harus berbuat apa. "Apa-apaan kau Bella?! kan sudah kukatakan berkali-kali kau tidak perlu terlalu sopan saat bertemu dengan orang satu ini," ucap Nanda sambil menjewer telinganya. "Aduh-duh! i-iya maafkan aku," ringis Bella. Bella, itulah panggilan yang sudah sangat akrab didengar Arya. Seorang gadis pemalu yang merupakan teman sekelas Nanda. Banyak desas-desus yang mengatakan kalau Bella adalah anak dari seorang konglomerat. Karena desas-desus itu, banyak murid-murid jahat yang sengaja mendekatinya untuk membuktikan sekaligus memanfaatkannya. Namun, untunglah Nanda selalu ada untuk melindunginya. "Sudah-sudah tidak perlu berlebihan. Oh ya, selamat ya nan, atas kemenangannya," puji Arya. "Ah, tidak perlu seperti itu, cuma juara dua doang kok. Sudah dulu ya, sebentar lagi bel masuk, kami ke kelas dulu dan terima kasih atas bantuannya hari ini, dah...!" Nanda berpamitan dan kemudian berlari menuju kelas sambil melambaikan tangannya dan menarik lengan Bella lagi. Arya tak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa membalas lambaian tangannya dan berjalan ke dalam gedung sekolah, menuju kelasnya yang berada di lantai tiga. <<<<<<>>>>>> Jam demi jam pelajaran telah berlalu dan bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasa Rian pergi ke atap gedung sekolah untuk menyantap bekal makanannya. Tetapi sesampainya di sana, ia sedikit dikejutkan dengan kehadiran Bella yang tengah asyik menikmati pemandangan dari atap gedung. Rian berjalan mendekat dan kemudian menyapanya. "Tak biasanya kau di sini," sapa Rian. Seketika Bella tersadar dan memutar tubuhnya ke arah Rian begitu dia mendengar suaranya. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Rian sambil duduk di kursi panjang yang ada di sana dan menyantap bekal makanannya. "Aku hanya sedang melihat pemandangan saja, entah sudah berapa lama... aku tidak pernah melakukan hal ini lagi," "Oh ya, kau temannya Arya, kan? kau terlihat sangat tertutup, meskipun sejak awal aku masuk SMA kita sudah sering bertemu, tapi aku masih belum tahu apa-apa tentangmu," lanjut Bella. Rian menghentikan makannya dan memandang Bella sejenak. Lalu kemudian dia menatap ke arah makanannya. "Maaf, namaku Rian Kamajaya dari kelas XII-4," jawab Rian singkat yang langsung disambung dengan makannya lagi. Bella tampak tidak terkejut sedikit pun mendengar perkenalan yang singkat itu. Dia mendekati Rian dan kemudian duduk di sampingnya. "Apa... kau benar-benar pernah tidak lulus?" tanya Bella sedikit takut. "Dari mana kau tahu?" tanya Rian balas. "Da-dari... dari Nanda," jawabnya tergugup. "Iya, hanya sekali, tapi itu masih bagus dari pada Arya," "Sungguh? me-memangnya Arya berapa kali?" "Tiga kali," "Apa kau dan Arya sekelas?" "Tidak," "Oh ya? dia di kelas berapa?" "XII-3," "Apa kalian sering pulang bersama?" Rian terdiam dan tidak menjawabnya lagi, sepertinya dia sudah mulai merasa jengkel dan tidak nyaman dengan pertanyaan Bella yang menghujaninya terus-menerus. "Ah, maafkan aku... aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman, aku hanya penasaran saja, jadi... maafkan aku!" ucap Bella sambil menundukkan kepalanya. Rian yang melihat tingkah Bella langsung berdiri karena dia malah merasa bersalah. "Ti-tidak apa-apa, jika kau penasaran lebih baik kau bertanya pada Arya atau pada Nanda saja, jangan bertanya padaku," kata Rian sambil berlalu menuruni tangga dengan kotak bekal kosong di tangannya. Bella memandangi Rian yang menuruni tangga hingga menghilang. Dirinya masih belum puas, pikirannya pun masih dipenuhi dengan rasa penasaran. Namun, dirinya terlalu takut untuk bertanya baik pada Arya maupun pada teman baiknya, Nanda. <<<<<<>>>>>> Siang berganti menjadi malam dan sekarang jam menunjukkan pukul delapan malam. Setelah makan malam Wulan, Romi, dan Rena membereskan dapur dan meja makan bersama-sama sedangkan Arya langsung beranjak ke kamarnya. Di sela-sela membersihkan dapur, Rena memberanikan diri untuk bertanya kepada Wulan. "Kak! apa kak Nanda itu benar-benar jago bela diri?" "Tentu saja, ketika dia kelas 1 saja dia sudah menjuarai beberapa turnamen bela diri, dan sekarang awal masuk sekolah dia sudah membawa pulang juara 2," potong Romi dengan cepat. Rena sedikit tertegun mendengar hal itu, dia tidak menyangka bahwa gadis yang terlihat tomboy dan agak preman seperti itu memiliki prestasi yang luar biasa di segi bela diri. "Hahaha... tentu saja, sejak kecil dia memang sudah jago berkelahi. Meskipun lawannya itu selalu lebih tua darinya, tapi dia tetap sanggup mengalahkannya," kata Wulan sambil tertawa lepas. "Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?" tanya Wulan. "Ti-tidak, aku hanya penasaran saja, karena di sekolah banyak yang membicarakannya." Wulan menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Pertanyaan Rena tadi membuatnya teringat akan sebuah cerita lama dan dia pun bertanya kepada Rena, berniat untuk menceritakannya. "Kau mau tahu siapa orang yang sering menjadi lawannya sejak kecil?" tanya Wulan bersemangat. Mendengar hal itu Rena langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Orang yang sering jadi lawannya sejak kecil itu adalah Arya, dan kau tahu? sampai sekarang pun orang payah itu tidak pernah bisa menang melawannya hahahahahaha...!!!" Wulan tertawa terbahak-bahak setelah mengatakannya. Hatinya seakan puas mengingat bagaimana orang yang dibencinya itu sering dihajar sewaktu kecil. "Apa semua itu benar?" tanya Romi. "Tentu saja, jadi kalian tidak perlu takut dengan orang lemah itu, dia hanya kebanyakan gaya dan jago gertak saja," celetuk Wulan. Setelah itu raut wajah Wulan langsung berubah, dia segera pergi menuju kamarnya karena bagian yang harus dibersihkannya telah selesai. Baik dapur maupun meja makan sekarang telah bersih oleh hasil usahanya mereka bertiga. <<<<<<>>>>>> Angin malam berhembus membawa kesunyian bersamanya. Di sebuah taman yang gelap, seorang gadis duduk di sebuah bangku sambil menangis tersedu-sedu dan hanya ditemani oleh sebuah lampu yang meneranginya. Rian yang baru pulang kerja melihat gadis itu dari kejauhan, tak biasanya ada orang yang menangis di sana. Rian berniat lewat dan tidak mau memperdulikannya. Tetapi semakin dia mendekat, dia pun menyadari bahwa gadis yang sedang menangis itu adalah Bella. Karena itu, dengan berat hati dia pun memutuskan untuk menghampirinya dan menghibur sebisanya. Meskipun dalam hati kecilnya dirinya tidak mau ikut campur dalam masalah siapa pun. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Rian yang datang dari arah samping. Bella yang menyadari kehadirannya segera menyeka air matanya dan membuang mukanya agar tidak dilihat oleh Rian. "Ti-tidak... tidak ada apa-apa," jawabnya. Rian tahu kalau Bella sekarang sedang berbohong, karena itu dia pun duduk di sampingnya dan mencoba untuk melihat wajahnya beberapa kali. Namun, Bella terus saja menghindari tatapannya. Sekaleng minuman diberikan Rian kepada Bella, setelah itu ia pun mencoba untuk membuka obrolan agar suasana di antara mereka berubah. "Aku tidak akan bertanya dan kau juga tidak perlu memendamnya, jika kau mau... kau boleh bercerita semaumu sampai kau merasa lebih baik," ucap Rian sambil memandangi jalanan gelap nan sepi yang ada di depannya. Seketika air matanya yang sudah susah payah dibendung pun seketika pecah begitu saja. Isak tangisnya membuat Rian menjadi tidak nyaman, tetapi Rian tetap pada posisinya, pada tujuannya, dan membiarkan Bella seperti itu untuk beberapa saat. "Aku... hiks... aku tidak tahu harus bagaimana lagi... hiks... aku ingin bertemu… dengan kedua orang tuaku...," ucapnya lirih. ================================== Dukung saya melalui karyakarsa.com/Wolfman3
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
mantap
14/01/2025
0Đc của nó
05/08/2024
0sloww ceritanya
29/06/2023
0Tingnan Lahat