Jam telah menunjukkan pukul 00:45, itu berarti telah lewat 45 menit dari tengah malam. Kini, Arya sudah merasa sangat mengantuk, tetapi dia tetap terus menunggu. "Dia di mana sih? merepotkan saja, apa... dia tidak jadi untuk bicara?" batinnya. Sepuluh menit pun berlalu dan rena masih tak kunjung datang. Arya sudah kehabisan kesabarannya dan langsung masuk ke mode tidurnya tanpa memikirkan Rena akan datang lagi. Krrrrrsss... Krrrrrsss... Krrrrrsss... Tiba-tiba sebuah suara aneh yang tak asing lagi pun terdengar. Arya membalikkan badannya ke arah jendela yang merupakan tempat suara itu berasal dan secara mengejutkan wajahnya pun langsung bertemu dengan wajah Rena dalam jarak yang sangat dekat. "Maaf aku terlambat," ucapnya. Arya pun terkejut dalam diam hingga dia terjatuh dari atas ranjangnya. "Ssstt...! jangan buat keributan, mereka masih belum tidur," ucap Rena dengan jari telunjuk di bibirnya. "Mereka? mereka siapa? kenapa kau lama sekal-," "Ssstt...!" Rena dengan cepat mendekat dan langsung membungkam mulut Arya yang menyebabkan kata-katanya pun terpotong. "Romi dan kak Wulan masih belum tidur, lebih aman kalau kita bicara di luar saja, aku juga baru mendapat sinyal aneh lagi, bagaimana kalau kita bicara sambil pergi memeriksanya?" tawarnya. Arya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Setelah itu mereka pun segera keluar dari kamar Arya yang berada di lantai dua melalui jendela. Dimulai dari Rena yang kemudian diikuti oleh Arya. Mereka berdua menyusuri jalanan di tengah gelapnya malam yang hanya diterangi oleh lampu yang terpasang di sepanjang jalan. "Hei, tadi sore... apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Rena membuka obrolan setelah beberapa lama sejak mereka memulai perjalanan. "Tidak, aku tidak menemukan apa-apa selain beberapa gelang aneh ini," jawab Arya sambil mengeluarkan beberapa gelang aneh dari balik saku celananya. Rena mengambil gelang-gelang itu dan mengamatinya, setelah beberapa saat wajahnya pun berubah menjadi murung. "Sebenarnya... gelang apa itu? apa kau mengenalnya?" "Iya, sebenarnya ini adalah gelang khusus yang dibuat oleh ketua divisi kami dan hanya anggota divisi kami yang memilikinya," "Dan satu hal lagi, apa... cerita tentangmu yang kau ceritakan pada mereka itu benar?" tanyanya dengan perasaan yang sedikit tidak nyaman. Rena tersenyum manis ke arah Arya. Arya yang melihat senyuman itu merasa tak kuat dan segera membuang wajahnya ke arah lain. "Tentu saja tidak. Sebenarnya, aku sendiri tidak tahu siapa orang tuaku," "Kenapa kau tidak tahu? sebenarnya apa yang sudah-," "Kita sampai, sinyal itu berasal dari gedung itu," tunjuknya ke arah sebuah gedung kosong yang berada di samping jalan di depan mereka. Arya mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Rena. Matanya seketika melotot melihat gedung itu, karena gedung itu adalah gedung yang sama di mana dia menemukan gelang-gelang aneh yang ia berikan kepada Rena. "Ada apa?" "Ti-tidak ada apa-apa." Karena pintu gerbang yang sudah berkarat, Rena pun membukanya dengan paksa dan mereka berdua masuk ke dalam bersama-sama. Suasana di dalam begitu mencekam ditambah pencahayaan yang hanya berupa cahaya rembulan dan kondisi gedung yang sudah tak terawat membuat suasananya pun menjadi semakin parah. Di saat Rena dan Arya sibuk menelusuri gedung, tiba-tiba sebuah suara terdengar dan menggema ke seluruh ruangan, mengejutkan mereka berdua. "Tes... tes... suara dicoba, apa kalian bisa mendengarnya dengan jelas?" "Siapa itu?!" ucap Rena dengan tangan yang siap menarik pedang yang tersarung di pinggang sebelah kirinya. "Sepertinya kalian bisa mendengarnya, kalau begitu... kita mulai saja. Hahahaha...!! tak kusangka kau datang bersama seseorang," "Siapa kau?! tunjukkan dirimu!" "Dari mana suara itu berasal?" ucap Arya pelan. Arya mengarahkan pandangannya dengan tajam ke sekelilingnya, dan dalam kegelapan Arya pun berhasil menemukan pengeras suara berukuran kecil yang terpasang di setiap dinding bagian atas. "Maaf, aku tak bisa melakukannya karena itu adalah hadiah dari permainannya," "Permainan? permainan apa hah?! tunjukkan dirimu dasar pengecut!" tantang Arya ke arah sebuah pengeras suara yang ada di atasnya. "Permainannya sangatlah mudah, kalian hanya harus berhasil menemukanku atau bertahan selama 30 menit, jika kalian berhasil maka kalian pemenangnya. Tapi, jika kalian gagal... maka bersiaplah untuk mati!" "Woy! sialan! apa-apaan ini?" teriak Arya. Srreeeett.....! Srreeeett.....! Tiba-tiba sesuatu bergerak dengan cepat melewati lorong yang berada di di depan. Arya dan Rena mengarahkan pandangan mereka ke sana dengan tatapan yang begitu tajam. Srreeeett.....! Srreeeett.....! Sesuatu itu kembali lewat melewati lorong, tapi kali ini lorong yang berada di belakang mereka. Mereka berdua pun berbalik secara bersamaan ke arah suara itu. Srreeeett.....! Srreeeett.....! Lagi-lagi sesuatu lewat di lorong belakang dan depan mereka secara bergantian. Arya dan Rena pun menjadi bingung dan memutuskan untuk saling membelakangi. "Hei! apa yang harus kita lakukan?" "Kita ikuti saja permainannya," sahut Rena. "Kau gila?! ini sudah pasti jebakan!" "Tapi... mungkin saja dia tahu sesuatu yang terjadi dengan kelompokku," Arya kesal dan menggertakkan gigi-giginya seakan tidak percaya dengan keputusan Rena. Srreeeett.....! Triiiiingg...!! Sebuah benda tiba-tiba melesat dengan cepat ke arah Arya, untungnya dia berhasil menarik pedangnya dan menangkis benda itu hingga terpental ke depan. Arya dan Rena merasa penasaran dengan benda itu dan memutuskan untuk mendekatinya dengan pedang yang sudah siap di tangan mereka. "Benda apa ini?" ucap Rena setelah mengamati benda tersebut dari jarak yang cukup dekat. Arya semakin penasaran, dia mengambil benda tersebut dan membolak-balikkannya. Arya mengerutkan dahinya melihat benda itu yang mirip seperti sebuah pisau, tapi dengan warna hitam legam. Sesaat kemudian, pisau itu bergerak dan terbang menuju lorong yang ada di depannya. Setelah pisau itu menghilang, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang berasal dari lorong di depan dan di belakang mereka. Suara gemuruh itu semakin lama semakin terdengar dengan jelas. Mereka berdua pun kembali saling membelakangi menatap ke arah lorong dan bersiap dengan pedang yang berada di depan tubuh mereka. Srreeeett.....! Srreeeett.....! Triiiiingg...!! Jleeebb...!! "Akh..!" Dua pisau hitam muncul dari lorong yang ada di depannya. Satu pisau berhasil di tangkis, sedangkan satunya lagi berhasil menusuk bahu kiri Arya. Tak lama setelah itu, beberapa pisau hitam terus bermunculan dari kedua lorong dan melesat ke arah mereka secara bergantian. Tak ada waktu untuk bicara, tak ada waktu untuk menghindar, Arya dan Rena hanya bisa menangkis semua pisau-pisau itu yang melesat hendak menusuk mereka dengan sisi tipis dari pedang mereka. "HAHAHAHAHA....!!! BAGAIMANA?! APA KALIAN BISA MENIKMATINYA?!" tanya pria misterius dari balik pengeras suara yang Arya temukan. Rena menjadi geram dan dia pun memberi kode kepada Arya untuk pergi ke ruangan lain secara perlahan dan saling membelakangi, untuk melindungi mereka dari pisau-pisau yang melesat dari arah yang berlawanan. Srreeeett.....! Srreeeett.....! Srreeeett.....! Setiap kali mereka melangkah untuk bergerak pisau-pisau itu pun berhasil menggores tubuh mereka. "Arya! satu-satunya cara untuk menang dari permainan menyebalkan ini adalah dengan menemukannya!" ujar Rena sambil terus berjalan mundur mengikuti langkah Arya yang maju perlahan. "Tapi bagaimana caranya? pisau-pisau ini terus saja berdatangan tanpa henti, bahkan untuk kabur tanpa terluka saja mustahil," "Aku tahu itu, tapi... serangannya ini membabi-buta dan tidak memiliki arah serangan yang pasti, itu berarti kemungkinan dia berada di atap. Jadi kita harus-" Jleeebb...!! "Akkhh...!!!" Rena berteriak kesakitan begitu kakinya tertusuk beberapa pisau hitam yang terbang ke arahnya sekaligus. Rena pun terjatuh ke lantai gedung yang begitu kotor sambil memegangi kakinya yang berlumuran darah. Tepat setelah Rena tertusuk, anehnya pisau-pisau hitam yang terbang menyerang mereka berhenti berdatangan. Dan pisau-pisau yang tertancap pada dinding dan yang berserakan di lantai mulai bergerak mundur dan terbang menjauhi mereka. "Apa yang terjadi? apa dia sedang mempermainkan kita?" ucap Arya. "Entahlah, sebaiknya kita pergi memeriksanya ke atas," "Baiklah," "Tunggu!" seru Rena. "Ada apa?" "Kakiku terluka, bisa tolong gendong aku?" pinta Rena sambil menatap ke arah kakinya yang terluka. "Haaaa.... yang benar saja, kau itu merepotkan orang terus, bagaimana bisa orang sepertimu diterima menjadi anggota divisi?" hela Arya. Rena menundukkan kepalanya menyesali permintaannya yang ia minta kepada Arya. "Naiklah." Arya berjongkok di depan Rena dan mempersilahkannya untuk menaiki punggungnya. Rena terdiam tidak berkomentar dan langsung naik ke punggung Arya. Setelah mereka sampai di atap, terlihat dua orang berada di sana. Salah satunya dari dua orang itu adalah orang yang mereka kenal. "Rian!" Seketika Arya langsung berlari sambil menggendong Rena ke arah Rian yang terduduk lemas berlumuran darah. "Rian, apa yang terjadi padamu?" tanya Arya khawatir sambil menurunkan Rena dari punggungnya. "Kita berhasil... kita memenangkan permainannya...," ucap Rian dengan suara pelan dan lemah. "Apa maksudmu? apa jangan-jangan kau...," "Ya, sejak awal dia mengikuti permainannya bersama kalian, aku tidak menyangka kalau dia nekat menerobos semua pisau-pisauku untuk sampai ke atas sini," potong seorang pria yang berdiri beberapa meter di belakang arya. "Kau...!" Arya bangkit hendak mendekati pria itu. Namun, Rian meraih bahu Arya sebelum ia bangkit untuk menghentikannya "Tidak apa-apa, sebentar lagi luka-lukaku akan sembuh dengan sendirinya," ucapnya. Seketika amarah Arya pun mulai mereda mendengar kata-kata itu dan akhirnya hilang ketika melihat senyuman Rian. Saat Arya berhasil menguasai dirinya lagi, dia berbalik dan memandang ke arah pria misterius yang tadi berbicara padanya. "Siapa kau?" tanya Arya. "Kupikir kau bisa langsung mengenaliku, apa kau sudah lupa denganku? Ar-ya?" Arya terkejut saat pria itu menyebut namanya. Dari ucapannya, sepertinya dia mencoba memberi petunjuk kepada Arya kalau dia adalah orang yang pernah ada dalam kehidupannya. Namun, sekeras apa pun Arya mencoba untuk mengingat, tetap saja dia tak bisa mengingatnya. Seperti... ada sesuatu yang membuatnya memilih untuk melupakannya saja. "Baiklah sesuai janji, namaku Victor dan sampai jumpa di stage selanjutnya." Pria itu mengakhiri kata-katanya dan melompat ke bawah gedung seperti orang yang ingin bunuh diri. Arya yang melihatnya langsung bergegas ke arah dia jatuh dan secara ajaib pria itu pun menghilang. ================================== Dukung saya melalui karyakarsa.com/Wolfman3
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
mantap
14/01/2025
0Đc của nó
05/08/2024
0sloww ceritanya
29/06/2023
0Tingnan Lahat