logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

MENJENGUK HISYAM

BAB 26
MENJENGUK HISYAM
“Maaf, ya! Aku gak bermaksud mengingatkan kamu sama kejadian itu!” ujar Vano menyesal.
Sekar tersenyum tipis.
“Bukan salahmu, Van! Ternyata, aku beneran gak punya teman, ya?” tanga Sekar melas.
“Gak masalah kalau kamu ak punya teman, yang penting kamu masih punya aku. Aku akan selalu ada buat kamu!” ujar Vano, lalu memeluk Sekar.
Entah kenapa, tiba-tiba air mata Sekar mengalir. Dia terisak dipelukan Vano.
“Jadi, gara-gara perempuan itu kamu menolak dijodohkan?”
Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan mereka. Vano segera melepaskan pelukannya kepada Sekar.
"Tante! Untuk apa Tante malam-malam datang kesini?" tanya Vano.
Wanita tersebut tersenyum sinis.
"Tentu saja untuk memergoki kelakuanmu. Selarut ini pria dan wanita berduaan, menurutmu apa yang akan terjadi?" ejek wanita tersebut.
"Tante jangan fitnah, kami tidak berbuat apa-apa," sahut Vano.
"Tentu saja, karena sudah ketahuan. Bagaimana kalau Tante tidak kesini? Pasti wanita itu sudah menggodamu!" ejek wanita tersebut.
"Jangan sembarangan, Tante! Sekar bukan wanita seperti itu!" bentak Vano.
"Lalu dia wanita seperti apa? Bukankah dia itu bekas orang?" lanjut wanita tersebut.
"Cukup,Tante! Pergi dari sini!" usir Vano.
"Berani kamu mengusir Tante? Apa kamu mau Tante panggilkan warga agar menggerebek kalian?" ancam wanita tersebut.
"Apa yang sebenarnya Tante inginkan?" tanya Vano.
"Tante hanya mau memastikan kalian tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Tante tidak mau dia mengacaukan rencana pernikahan kamu dengan pura-pura hamil," ujar wanita tersebut.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan menikah dengan wanita itu!" ujar Vano tegas.
"Sayangnya, kamu tidak punya pilihan!" ujar wanita tersebut.
"Terserah Tante! Sekarang, silahkan pergi dari rumahku!" usir Vano.
"Tentu saja! Bye!"
Wanita tersebut segera melangkah meninggalkan rumah Vano.
"Terus awasi mereka! Jangan sampai kecolongan!" ujar wanita tersebut kepada dua pria kekar yang sedang berjaga di sekitar kediaman Vano.
“Aku pulang saja, ya?” ujar Sekar kapada Vano.
“Yakin? Menurutmu, apa yang akan dikatakan Bundamu saat elihat anak gadisnya pulang tengah malam diantar seorang pria?” tanya Vano sarkas.
“Van ... kamu kok gitu sih?” rajuk Sekar.
Vano tak menanggapi. Dia meninggalkan Sekar seorang diri, lalu melangkah ke dapur. Dia membuka lemari pendingin dan memilih bahan yang akan digunakan.
Sekar memperhatikan apa yang dilakukan sahabatnya itu. Tak lama kemudian, Vano sudah menyajikan semangkuk mie instan dengan aneka toping yang menggugah selera.
“Makanlah! Kamu pasti lapar!” ujar Vano.
Sekar bergeming. Dia hanya memandang ke arah Vano. Merasa diperhatikan, Vano menghentikan makannya.
“Kenapa lihatin aku segitunya? Baru tahu, kalau aku tampan?” tanya Vano.
“Maafkan aku!” ujar Sekar tulus.
”Makanlah! jangan banyak bicara!”
“Aku hanya tidak ingin kamu bermasalah dengan Mamamu!” ujar Sekar lagi.
“Dia bukan Mamaku!” sahut Vano geram.
“Tapi dia istri Papamu!”
“Aku tidak peduli. Bagiku, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Mama! Sekarang, cepat makan! Keburu dingin makanannya!” ujar Vano, lalu melanjutkan makannya.
“Terima kasih!” ujar Sekar sambil tersenyum.
“Terima kasih karena kamu selalu ada untukku!” lanjutnya.
“Nona Sekar dan cantik tapi cerewet, cepat makan atau aku akan menyuapi kamu!” ujar Vano semakin geram.
Sekar tersenyum.
“Baiklah, Tuan Vano yang terhormat! Aku akan makan mie instan buatan kamu!” sahut Sekar, lalu segera menghabiskan semangkuk mie tersebut hingga tak bersisa. Vano tersenyum melhat Sekar makan dengan lahap.
“Sebaiknya sekarang kamu langsung istirahat!” ujar Vano setelah mereka menyelesaikan acara makannya.
“Biar aku bereskan dulu, ya!”
“Gakperlu, biar dibereskan Bibi besok pagi! Sekarang, kamu tidur di kamar atas! Aku kan tidur di kamar tamu!” ujar Vano.
“Kenapa gak aku saja yang di kamar tamu?” tanya Sekar penasaran.
“Di depan ada anak buah wanita itu. Aku tidak mau menanggung resiko mereka bisa macam-macam sama kamu! Sudah, sana tidur!” usir Vano.
“Baiklah! Aku akan naik sekarang!” sahut Sekar.
“Sekar!” panggil Vano saat sekar hendak menaiki tangga.
“Iya, ada apa?”
“Selamat malam!” ujar Vano.
Sekar tersenyum.
“Selamat malam!” lalu, dia segera melangkah menuju kamar yang ditunjuk Vano. Dia benar-benar merasa lelah. Dia ingin beristirahat dengan tenang.
**************
Pagi ini, sebelum berangkat ke kantor, denag diantar Vano, Sekar menyempatkan diri untuk pulang sebentar. Selain mengambil pakaian ganti, Sekar juga sudah kangen sama Bundanya.
“Assalamualaikum, Bunda!” sapa Sekar saat memasuki rumah.
“Waalaikumsamam!” sahut sang Bunda. Sekar mencium tangan Bundanya, lalu segera naik ke kamarnya untuk berganti pakaian kerja.
“Sudah sarapan, Van?” sapa Bunda Sekar kepada Vano.
“Belum, Bun! Kata Sekar, kita sarapan bareng-bareng disini saja!” sahut Vano.
“Ya sudah, ayo sarapan! Maaf, menunya seadanya saja! Bunda gak tahu kalian akan kesini!”
“Gak papa, Bun! Begini saja sudah enak kok!”
Irma mengambilkan makanan untuk Vano.
“Biar aku ambil sendiri, Bun!” ujar Vano merasa tak enak.
“Gak papa, sekali-kali! Ayo dimakan!” ujar Irma.
Berdua, mereka menikmati sarapannya.
“Widih, udah sarapan aja nih! Aku gak ditungguin!” ujar Sekar sewot.
“Nunggu kamu dandan kelamaan! Perutku keburu lapar!” sahut Vano.
“Sekar, nanti sebelum berangkat kerja, kamu ikut Bunda sebentar ya!” ajak Irma.
“Kemana, Bun?”
“Kita jenguk ayah kamu!” ujar Irma.
“Bun, bisa gak Bunda gak usah bahas pria itu lagi?” ujar Sekar tak suka.
“Sekar, ayah kamu sedang kritis sekarang. Kemarin Bunda sudah jenguk dan dia juga sudah sadar. Dia nanyakan kamu terus.”
“Itu mah urusan dia, bukan urusanku!” sahut Sekar cuek.
“Ayolah, sekali ini saja! Dia benar-benar ingin ketemu kamu!” bujuk Irma.
Sekar menghela napas panjang.
“Baiklah, tapi sekali ini saja ya! Setelah ini, aku tidak mau menemui dia lagi!”
Irma mnghembuskan napas lega. Ternyata, usahanya membuahkan hasil.
Sesuai kesepakatan, Vano akan mengantar mereka ke rumah sakit, lalu dia langsung berangkat ke kantor. Sekar akan menyusul setelah urusannya selesai. Setelah sarapan, mereka segera berangkat. Sepanjang perjalanan, Sekar tak banyak bicara. Dia larut dalam pikirannya sendiri. Tiga puluh menit kemudian, Sekar dan Ibunya telah tiba di rumah sakit tempat Hisyam dirawat.
Selamat pagi, Pak Agus!” sapa Irma.
“selamat pagi, Bu Irma!” sahut Agus ramah.
“bagaiamana keadaan Pak Hisyam?”
“Masih sama seperti kemarin, Bu. Silahkan masuk!” ujar Agus sambil membukakan pintu.
Perlahan, Sekar dan Irma memasuki ruangan.
“Mas!” sapa Irma. Perlahan, Hisyam membuka matanya. Dia tersenyum mendapati Irma dan Sekar datang menjenguknya.
“Irma!” panggilnya lirih.
“Sekar!” panggil Hisyam.
Sekar tak menanggapi. Dia tampak cuek. Meski hati kecilnya merasa trenyuh melihat keadaan sang ayah, namun dia tetap memilih cuek dan tak perduli.
“Sekar, maafkan ayah, ya!” ujar Hisyam terbata.
“Ayah sudah banyak melakukan kesalahan sama kamu! Tolong, maafkan ayah!” lanjut Hisyam.
Hisyam merasa sedih karena Sekar tampak tak menanggapi.
Tiba-tiba, terdengar bunyi yang sangat nyaring.

Komento sa Aklat (80)

  • avatar
    CallJuan

    good

    01/07

      0
  • avatar
    DoloksaribuTinur

    bagus

    30/05/2025

      0
  • avatar
    Siti Nur Baya

    bagus batttt kaaaaakk

    28/04/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata