logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

PENYELAMATAN SEKAR 2

BAB 25
PENYELAMATAN SEKAR 2
Vano memeluk Sekar untuk menenangkannya. Perlahan, dia mengusap rambut Sekar.
“Tenanglah! Semuanya sudah aman!” ujar Vano.
Sekar masih terus tergugu di pelukannya.
“Aku takut, Van! Aku takut!” ujar Sekar sambil tergugu.
“Dia mau memperkosa aku!” lanjutnya.
“Tenanglah! Semuanya sudah aman sekarang! Setelah ini, dia tidak akan bisa menyakiti kamu lagi!” ujar Vano.
Tanpa mereka sadari, Aldi yang tadi tergeletak tak berdaya, kini telah bangkit. Tertatih, dia berusaha berdiri dan terus melangkah mendekati mereka sambil membawa sebilah pisau kecil.
Aldi menyeriangai sinis.
Aldi menghunuskan pisau tersebut dan mengarahkannya ke punggung Vano. Saat pisau tersebut hampir mengenai tubuh Vano, tiba-tiba Bayu masuk dan menyelamatkannya. Bayu kembali menghajar Aldi hingga dia kembali terjatuh dan pingsan. Vano dan Sekar terkejut menyaksikan insiden tersebut.
“Bay, kamu gak papa? Thanks, ya!” ujar Vano khawatir.
“Aku gak papa, tenang saja!” sahut Bayu.
“Oya,Van, yang di depan sudah berhasil diringkus! Selanjutnya bagaimana? Kita bawa mereka ke kantor polisi?” tanya Bayu.
“Iya, Bay. Bawa bajingan ini sekalian,” sahut Vano sambil melirik pria yang tergeletak tak berdaya di depannya itu.
“Aku mau melihatnya membusuk dalam penjara!” lanjutnya geram.
Bayu dan anak buahnya segera mengamankan Aldi dan anak buahnya. Sementara Vano, dia membopong tubuh Sekar dan membawanya ke dalam mobil.
“Kita ke rumahku dulu, ya! Aku gak mungkin membawa kamu pulang dalam keadaan seperti ini!” ujar Vano. Dia segera melajukan kendaraannya.
“Bunda bagaimana? Beliau pasti khawatir!” ujar Sekar.
“Aku tadi sudah menghubungi Bunda. Aku katakan sama beliau, mendadak kamu harus keluar kota karena tugas kantor.”
“Bunda gak curiga kenapa kamu yang telepon?” tanya Sekar lagi.
“Aku bilang sama Bunda kalau ponsel kamu masih di charge. Nanti kalo sudah bisa, kamu akan menelepon beliau!” ujar Vano.
“Terima kasih, Van! Kamu selalu ada buat aku!” ujar Sekar tulus.
Vano tersenyum.
“Mau telepon Bunda sekarang? Aku bawa ponselmu,” tawar Vano.
“Boleh. Mana? Aku gak mau Bunda khawatir,” sahut Sekar.
Vano membuka dashboard modil dan mengeluarkan sebuah ponsel, lalu menyerahkan kepada sekar.
“Nih!” ujarnya.
“Thanks!” sahut Sekar.
Dia segera mengutak-atik ponselnya dan menghubungi sang Bunda.
“Halo! Assalamualaikum, Bunda!” sapa Sekar.
“Waalaikumsalam!” sahut sang Bunda di seberang sana.
“Sekar,kamu kemana saja? Kenapa ponselnya tidak bisa diubungi?” ome; Bundanya.
“Iya, Bun! Maaf, ya! Tadi, baterainya habis, dikantor lagi banyak kerjaan juga. Jadi, baru sempat nge-charge. Maaf, sudah membuat Bunda khawatir!” ujar Sekar.
“Kamu sekarang dimana?” tanya Sang Bunda.
Vano menjawab tanpa suara dengan isyarat bibir.
“Ini masih di Bogor, Bun. Kemungkinan nginap.”
“Sama Vano?” tanya Bundanya lagi.
“Iya, Bun. Hanya sehari,kok. Besok juga sudah pulang!” sahut Sekar.
“Ya sudah, kamu hati-hati, ya! Jangan macam-macam! Kalian bukan muhrim!” pesan Bundanya.
“Iya, Bundaku yang cantik! Sekar kan bukan anak kecil lagi!” sahut Sekar sambil mengerucutkan bibirnya.
“Ya sudah, assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam!” sahut Sekar.
Sekar menutup panggilannya.
Usai menyelesaikan panggilannya, Sekar termenung.
“Kamu kenapa?” tanya Vano.
Sekar menghela napas panjang.
“Apa keputusanku untuk membalas dendam sudah benar?” tanyanya.
“Coba kamu tanyakan sama diri kamu sendiri!” sahut Vano.
“Aku bingung!”
“Bingung kenapa?”
“Entahlah, terkadang aku ingin membalas mereka dan membuat hidup mereka menderita. Namun, terkadang aku juga merasa sangat lelah dan ingin mengakhiri semuanya. Aku ingin hidup tenang!”
“Mau dengerin saranku, gak?” tanya Vano.
“Apa?” tanya Sekar balik.
“Kembalilah menjadi Arum. Arum yang baik, lembut, dan ceria.”
“Arum yang menderita dan dilecehkan?” tanya Sekar getir.
“Bukankah sekarang kamu juga hampir mengalami kejadian serupa?” tanga Vano balik.
Sekar terdiam. Vano benar. Karena ulahnya sendiri, dia hampir mengalami pelecehan serupa.
“Aku belum bisa memaafkan mereka!” sahut Sekar getir.
“Pembalasanku belum seberapa dibanding penderitaan yang kualami,” lanjutnya.
“Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan! Tapi kamu jangan sampai lupa, setiap keputusan yang kita ambil pasti ada resikonya!”
“Aku akan menghadapinya!” sahut Sekar mantap.
“Termasuk jika kejadian seperti hari ini terulang lagi?” tanya Vano memastikan.
Sekar menoleh ke arah Vano, lalu tersenyum.
“Aku tahu kamu selalu ada dibelakangku. Jadi, aku tidak akan pernah ragu untuk melangkah!” sahut Sekar percaya diri.
“Tapi gak selamanya juga, kan?” sahut Vano.
“Aku tahu, Van! Aku juga tidak akan mengganggu waktumu lagi! Kamu gak usah hawatir, aku bisa jaga diri!” ujar Sekar.
“Bilangnya bisa jaga diri, tapi berhasil diculik juga!” omel Vano.
Sekar terkekeh geli. Dia tahu, dibalik omelan sahabatnya, itu dikarenakan dia mengkhawatirkannya.
Tak lama berselang, Vano mengarahkan mobilnya ke sebuah rumah. Sekar mengamati rumah tersebut. Meski tidak sebesar rumah pemberian Aldi, namun rumah tersebut tampak asri dan menenangkan. Halamannya cukup luas.
“Ayo, masuk!” ajaknya.
Sekar mengikuti langkah Vano dan masuk ke dalam rumah. Sekar mengamati interior rumah tersebut.
“Jangan bandingkan dengan ruma barumu! Jauh!” ujar Vano.
“Siapa yang bandingkan, sih? Aku hanya mengamati,” sahut Sekar.
“Bagaimana menurutmu rumah ini?” tanya Vano.
“Nice! Meski tampak sederhana dan tidak diisi dengan barang mewah, tapi rumah ini menyenangkan,” sahut Sekar.
“Kamu benar. Aku sengaja mendesain sederhana seperti ini. Suatu saat, aku ingin tinggal disini dengan anak dan istriku,” ujar Vano sambil menerawang.
“Kamu akan menikah?” tanya Sekar.
“Tentu saja! Memangnya aku akan jomblo selamanya apa?” sahut Vano sewot.
“Ya ... kali aja. Aku kan gak pernah lihat kamu jalan sama cewek.”
“Trus kamu apaan? Cewek jadi-jadian?” sahut Vano.
“Nah itu! Kamu tuh, kemana-mana sama aku. Pasti mereka mengangap kita pacaran dan gak berani deketin kamu!” ujar Sekar.
“Memang seperti apa sih, kriteria kamu?” tanya Sekar.
“Kenapa? Mau nyarikan?” sahut Vano cuek.
“Siapa tahu ada temanku yang sesuai kriteria kamu!”
“Memangnya kamu punya teman?” ejek Vano.
“Ya punya lah! Masak gak?” sahut Sekar sewot.
“Siapa? Siska? Airin? Atau Bitha?” tanya Vano sambil menyebutkan beberapa teman SMU mereka. Dulu, mereka adlah sahabat Sekar. Namun, sejak kejadian perkosaaan itu mereka menjauh dan akhirnya menghilang. Tak ada kontak sama sekali diantara mereka.
Sekar terdiam sejenak. Mendengar nama mereka, mengingatkannya kembali pada kejadian lampau.
“Maaf, ya! Aku gak bermaksud mengingatkan kamu sama kejadian itu!” ujar Vano menyesal.
Sekar tersenyum tipis.
“Bukan salahmu, Van! Ternyata, aku beneran gak punya teman, ya?” tanga Sekar melas.
“Gak masalah kalau kamu ak punya teman, yang penting kamu masih punya aku. Aku akan selalu ada buat kamu!” ujar Vano, lalu memeluk Sekar.
Entah kenapa, tiba-tiba air mata Sekar mengalir. Dia terisak dipelukan Vano.
“Jadi, gara-gara perempuan itu kamu menolak dijodohkan?”
Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan mereka. Vano segera melepaskan pelukannya kepada Sekar.

Komento sa Aklat (80)

  • avatar
    CallJuan

    good

    01/07

      0
  • avatar
    DoloksaribuTinur

    bagus

    30/05/2025

      0
  • avatar
    Siti Nur Baya

    bagus batttt kaaaaakk

    28/04/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata