Mita mulai terpojok, mengambil apa saja yang ada di dekatnya dan melemparkan ke tubuh Harun. Tentu saja Harun bisa mengelak dan dengan secepat kilat menghempaskan tubuh Mita ke tempat tidur. Tidak mau memberi kesempatan kepada Mita untuk melarikan diri maka dia langsung menindih tubuhnya. "Arrrggghhh…." Tubuh kekar Harun menindihnya dengan kuat membuat Mita tidak dapat bergerak. Sekuat apapun dia berusaha melepaskan diri tetapi tetap kalah dengan kekuatan Harun. Karena sudah kehabisan tenaga dan sangat lelah akhirnya Mita hanya bisa pasrah. Harun menc**bunya dengan sangat brutal, menyebabkan Mita menjerit tertahan. Setelah puas menuntaskan hasratnya akhirnya Harun terkapar di samping Mita. Sedangkan Mita hanya bisa menangis semalaman meratapi nasibnya. Dia merasa menjadi wanita paling kotor dan hina. Sekuat apapun dia berusaha mempertahankan kehormatannya tetap kalah dengan kebrutalan Harun. Setelah lelah menangis akhirnya dia tertidur di sofa, rasanya jijik untuk sekedar mendekat kesisi Harun. Pagi pun tiba, matahari mulai menyeruak masuk melalui celah-celah jendela. Harun terbangun karena merasa silau menerpa wajahnya. Diraba ranjang di sampingnya dan tidak didapati keberadaan Mita di sana. Diedarkan pandangan keseluruh ruangan dan didapati Mita sedang meringkuk di kursi. Perlahan di dekati wanita yang baru semalam menjadi istrinya itu. Dipandangi wajah Mita yang cantik natural tanpa riasan. Terlihat bibir Mita bergetar menandakan dia sedang tidak baik-baik saja. Harun meraba kening Mita. "Astaga … panas sekali badanmu" Harun mengangkat tubuh ringkih Mita ke tempat tidur. Samar terdengar ucapan dari bibir Mita. "Ibu … Ibu…." Mita mengigau dan menyebut nama ibunya. Harun bergegas memakai baju dan keluar dari kamarnya. "Mak … mak … mak ada di mana?" terikan Harun mengangetkan emak yang sedang memasak. "Ada apa sih teriak-teriak? Pagi-pagi sudah berisik saja," omel emak. "Badan Mita panas Mak" ucap Harun dengan khawatir. "Hah? Habis kamu apakan tadi malam? Makanya pelan-pelan kalau main, dia itu masih kecil. Bikin susah saja kamu ini," omel emak sambil berjalan ke kamar Harun. "Ya tidak diapa-apakan Mak, cuma digituin saja hehehe…." ucap Harun sambil cengengesan. "Ya Allah, ini kamar apa kapal pecah sih?" Emak kaget mendapati kamar anaknya yang berantakan. "Ah Emak, kaya tidak pernah muda aja. Tolongin Mita, Mak, jangan ngomel terus," protes Harun. "Eh, iya sampai lupa." Emak lalu mendekati ranjang Mita dan meraba keningnya "Panas sekali ini Harun, buruan beliin bubur ayam sama obat di warung. Emak ambil kompres dulu," ucap Emak. "Iya mak" Dengan terburu-buru Harun mengambil kunci motornya dan segera berangkat ke warung. Sesampainya di rumah dia langsung ke kamar tidur dan mendapati emak sedang mengompres Mita. "Ini mak obat sama buburnya," ucap Harun sambil menyodorkan pesanan Emak. "Kamu ambil piring dan sendok di dapur, sama buatin teh hangat sekalian," titah emak. "Iya Mak," jawab Harun patuh. Harun bergegas menuju dapur dan melaksanakan perintah emaknya. Dia muali menjerang air untuk membuat teh. Setelah air mendidih dia memasukkannya ke dalam gelas yang sebelumnya sudah di masukkan teh celup. "Ini Mak teh dan piringnya," ucap Harun. Dengan cekatan emak memindahkan bubur ke dalam piring dan mulai memberikannya untuk Mita. "Neng, duduk dulu. Makan bubur terus minum obatnya," ucap Emak. "Tidak mau Mak, Mita tidak nafsu makan," tolak Mita dengan sopan. "Nanti sakitmu bertambah parah, paksakan makan meski hanya sedikit saja," bujuk emak. "Mulut Mita pait Mak, tidak enak buat makan." Harun yang berada disebelah Mita merasa geram dan mulai membentak Mita dengan kasar "Hey Mita, lekas makan atau mau aku paksa!" Mita kaget mendengar bentakan Harun. Tidak mau dipaksa makan, akhirnya Mita berusaha duduk. Dengan dibantu emak dia bersandar ditempat tidur. Mencoba menelan setiap suapan yang diberikan emak. Tetapi baru dua suap dia merasa pahit di tenggorokan dan tidak mampu untuk menelannya lagi. "Sudah mak, Mita tidak bisa makan lagi," Tolak Mita dengan halus. "Yasudah, ini diminum teh hangatnya," ucap emak sambil menyodorkan segelas teh hangat. Mita meraih gelas yang diberikan emak, dia meminum hampir setengah isinya. "Ini obatnya." Emak menyerahkan sebutir pil kepada Mita. Dengan enggan Mita berusaha meminum pil tersebut. "Istirahatlah, semoga segera sembuh Nak." "Iya Mak." Tidak lama kemudian sudah terdengar dengkuran halus dari Mita. Efek kepala pusing dan obat menyebabkan dia sudah terlelap. Emak merasa prihatin dengan keadaan Mita. Pasti telah terjadi sesuatu kepadanya tadi malam. Namun apapun yang dilakukan Harun kepadanya Emak tidak dapat berbuat apa-apa karena sekarang Harun sudah resmi menjadi suaminya. "Kamu jagain Mita, tidak usah pergi kemana-mana!" perintah emak kepada Harun. "Iya Mak." Harun duduk di samping Mita, sesekali dia mengganti kompres yang ada di dahinya. Perasaan bersalah mulai menghinggapinya, seandainya tadi malam dia tidak memaksakan kehendaknya dan menunggu Mita agar benar-benar siap mungkin dia tidak akan sakit seperti ini. Segera dia tepis pikiran tersebut jauh-jauh, wajar saja dia tidak bisa menahan diri, sudah terlalu lama dia menduda. Toh Mita sudah sah menjadi istrinya, tidak salahkan dia meminta haknya. Meskipun Harun sangat hobi main judi dan minum miras tetapi dia tidak suka bermain dengan perempuan. Dulu memang dia suka jajan di luar tetapi setelah punya istri dan mendapati sahabat karibnya ada yang meninggal karena HIV dia mulai bertobat. Harun melaksanakan perintah emaknya untuk tidak bepergian ke mana-mana. Seharian dia dikamar merawat Mita. Sambil bermain HP di sebelah Mita sesekali dia mengganti kompres di dahinya. … Terlihat Sri dengan tas besar baru saja turun dari angkot. Di jalan dia bertemu dengan bu Ani. "Sudah balik Sri?" tanya bu Ani. "Iya Bu, orang tua saya sudah sembuh, jadi saya bisa langsung pulang." "Syukurlah kalau begitu, jadi mulai besok kamu bisa bekerja lagi di tempat saya." "Iya Bu, permisi dulu." "Ya." Sri bergegas meninggalkan bu Ani dan menuju ke rumahnya. "Assalamu'alaikum" Terdengar sapaan dari luar rumah kadir. "Wa'alaikumussalam" Sang empunya rumah menjawab dan bergegas membukakan pintu "Horee … Emak sudah pulang, Ali rindu sama Emak," seru Ali kegirangan sembari memeluk tubuh kurus Emaknya Sri memutuskan untuk pulang lebih awal karena kondisi orang tuanya sudah membaik. Selain itu dia juga khawatir dengan keadaan anak-anaknya jika ditinggalkan terlalu lama. Sri yakin kalau Kadir tidak akan mengurus semua anaknya dan memilih memikirkan dirinya sendiri. "Emak juga rindu sama Ali, adek-adek dimana, Nak?" "Adek-adek pada main di kamar Mak" "Oh ya, mbak Mita kemana Nak? belum pulang kerja?" Sri heran tidak melihat keberadaan Mita karena bisanya sore hari dia sudah pulang kerja dan bercanda dengan adik-adiknya di ruang tamu. "Mbak Mita sudah menikah dengan paman Harun, Mak." Tbc
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 22 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Tingnan Lahat