logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Pernikahan Mita

Sore telah menyapa, Kadir menyuruh Mita untuk bersiap-siap. Setelah selesai, Kadir mengajak Mita bergegas ke rumah Harun. Mereka berjalan beriringan melewati jalan beraspal.
Mita terus memikirkan cara agar bisa melarikan diri. Dia berjalan sambil menengok kekiri dan kekanan untuk mencari celah. Di saat Kadir lengah, Mita mencoba untuk kabur. Dia terus berlari sambil sesekali menengok ke belakang untuk memastikan keberadaan bapaknya.
"Mita, jangan lari, kaku ingin mempermalukan Bapak, hah! Cepat kemari," teriak Kadir memanggil anaknya.
"Tidak, aku tidak ingin menikah dengan Harun."
"Mita, jangan jadi anak durhaka!"
"Mita lebih baik jadi anak durhaka dari pada harus menuruti keinginan Bapak."
"Mita!"
Mita tidak menghiraukan teriakan Kadir dan terus saja berlari. Tiba-tiba dari arah berlawanan melaju truk dengan sangat kencang. 
"Aaaarghh…."
Terdengar teriakan orang-orang di sekitar yang merasa ngeri melihat pemandangan tersebut. 
Bruaaak….
Truk tidak bisa menahan lajunya dan menabrak warung-warung di pinggir jalan. Mita berdiri di dekat warung dan nyaris menjadi korban jika tidak ditarik oleh seorang bapak-bapak. 
"Kamu tidak apa-apa?" tanya orang tersebut.
Mita yang masih syok dengan kejadian tersebut hanya bisa terdiam. Dari kejauhan terlihat Kadir datang dengan panik. Bukan karena khawatir dengan keadaan Mita tetapi dia lebih takut jika harus kehilangan sumber uangnya. Kadir lalu mendekati Mita dan ingin melihat keadaannya dari dekat.
"Bodoh, seharusnya kamu tidak perlu lari, Mita. Lihat yang baru saja kamu alami, ini balasan karena kamu tidak mau nurut sama orang tua," ucap Kadir dengan geram.
Ada perasaan lega di hati Kadir karena melihat Mita tidak apa-apa. 
'Hampir saja aku kehilangan sumber uangku, bisa kacau kalau itu terjadi. Apa yang akan aku katakan nanti kepada Harun jika sampai Mita mengalami kecelakaan? Memang Tuhan masih berpihak kepadaku.'
Kadir sangat senang mendapati Mita baik-baik saja, tetapi dia masih dongkol dengan sikap Mita yang mencoba melarikan diri darinya. Kali ini kadir bertekad untuk menjaga Mita dengan baik agar tidak ada celah untuknya kabur lagi.
"Sudah pak jangan dimarahi lagi, anaknya masih syok." Seseorang berusaha menasehati Kadir.
"Heh, siapa kamu berani nyuruh-nyuruh? Saya Bapaknya berhak melakukan apapun kepada Anak saya." Kadir tidak terima dengan perkataan orang tersebut.
"Tapi Pak, sekarang kondisi Mbak ini masih trauma dan…."
"Sudah, jangan ikut campur urusan saya. Ayo Mita, kita harus segera pergi ke rumah Harun."
Kadir langsung menyeret Mita dengan kasarnya. Sedangkan Mita hanya bisa diam dan pasrah karena masih trauma dengan kejadian yang baru saja dia alami. 
Sepanjang perjalanan Kadir terus memegangi tangan Mita agar tidak kabur. Kadir terus saja mengoceh panjang lebar tetapi Mita hanya diam tidak menanggapinya.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di rumah Harun. Terlihat Harun mondar-mandir di teras rumah menanti kedatangan Kadir. Melihat yang ditunggu-tunggu telah hadir membuat Harun tersenyum dengan senang. 
"Kenapa lama sekali, Dir?" tanya Harun.
"Tadi…."
"Sudahlah, lekas bawa Mita masuk untuk didandani. Penata rias sudah menunggu lama," ucap Harun tidak sabar.
"Baiklah, Harun."
Mita dijemput oleh emak Harun dan dituntun menuju kamar dimana penata rias sudah menunggunya. Sang panata rias mulai menunjukkan keterampilannya dalam merias. Make up minimalis dengan lipstik nude menjadi pilihan Sang penata rias. Mengingat wajah Mita yang sudah cantik tanpa riasan jadi tidak perlu dandan yang terlalu tebal untuknya.
"Wah … kamu cantik sekali, Mbak. Dengan polesan make up tipis saja sudah menonjolkan kecantikanmu. Memang aslinya sudah cantik sih, pasti nurun dari Ibunya ya," puji penata rias.
Sementara penata rias bekerja sambil terus berbicara, Mita hanya diam tanpa ekspresi. Dia sadar bahwa tidak akan bisa melawan kehendak ayahnya. Dalam diam hanya bisa berdoa semoga suaminya bisa menyayangi dan memperlakukannya dengan baik. 
Setelah selesai dirias dia di bawa ke ruang tamu. Di sana sudah ada Penghulu dan beberapa orang yang akan menjadi saksi pernikahan mereka. 
"Saaah…."
Teriakan orang-orang di ruangan tersebut menandakan bahwa mulai saat ini Mita sudah resmi menjadi seorang istri. Mita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti dalam kehidupan rumah tangganya.
Tidak terasa air mata Mita mengalir dengan deras. Ibu mertuanya langsung datang dan memeluknya. 
Beliau paham betul apa yang dirasakan gadis beliau tersebut. Harus menikah dengan orang yang tidak dicintainya, terlebih lagi dengan umur mereka yang terpaut jauh pastinya sangat menyakitkan. 
Sementara ibu Harun membawa Mita ke kamarnya, orang-orang di luar mulai berpesta. Suara musik menggema, mereka bergoyang sambil meminum bir. 
"Hei Kadir, sepertinya aku harus mulai membiasakan diri memanggilmu dengan sebutan Bapak Mertua," ucap Harun sambil terus menegak minumannya.
"Tentu saja, kamu sekarang sudah menjadi menantuku dan jangan lupa dengan janjimu," ucap Kadir mengingatkan Harun.
"Pasti, aku tidak akan lupa."
Harun mengambil gawai dari kantong celananya dan mulai mentransfer sejumlah uang ke rekening Kadir. Tidak lama kemudian gawai Kadir berbunyi yang menandakan uang sudah masuk. 
"Seratus juta sudah aku transfer dan ini kunci mobilku, untuk surat-suratnya urus saja besok," ucap Harun sambil menyerahkan kunci mobilnya.
Kadir menerima kunci dengan wajah sumringah. Dia tidak sabar untuk segera mengendarainya.
"Kalau begitu aku pulang dulu."
"Kenapa buru-buru? Apakah kamu tidak ingin menikmati pesta ini dulu?"
"Aku tidak sabar ingin berkeliling mengendarai mobilnya, selamat bersenang-senang menantu, perlakukan anakku dengan baik karena ini baru pertama untuknya."
"Tentu saja Bapak Mertua, aku akan melakukannya dengan lembut," jawab Harun sambil tersenyum.
Setelah Kadir pergi, Harun mulai berpesta lagi. Berjoget sambil terus menegak minuman keras. Merasa sudah sangat mabuk akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke kamar. Sesampainya di kamar, dia melihat Mita duduk di pinggir kasur sambil menangis. 
"Istriku, kenapa kamu menangis?"
Harun mulai mendekat ke arah Mita, tetapi Mita menggeser duduknya, merasa jijik melihat wajah Harun.
"Hey, kenapa kamu menjauhiku cantik, kemarilah."
"Tidak, tolong jangan mendekat."
"Kenapa aku tidak boleh mendekati istriku sendiri? Mari kita bersenang-senang sayang." Harun terus mendekat.
"Aku tidak mau, menjauhlah dariku."
Semakin Mita menghindar, maka semakin gencar Harun mendekatinya. Sampai akhirnya dia sampai di tembok dan tidak bisa ke mana-mana lagi. 
"Kemarilah sayang."
"Tidak, aku tidak mau, tolong!"
Mita berteriak ketakutan melihat tingkah Harun.
"Teriaklah dengan kencang karena tidak akan ada yang menolongmu," ucap Harun dengan seringai menakutkan.
Mita mulai terpojok, mengambil apa saja yang ada di dekatnya dan melemparkan ke tubuh Harun. Tentu saja Harun bisa mengelak dan dengan secepat kilat menghempaskan tubuh Mita ke tempat tidur. Tidak mau memberi kesempatan kepada Mita untuk melarikan diri maka dia langsung menindih tubuhnya. 
"Arrrggghhh…."
Tbc

Komento sa Aklat (304)

  • avatar
    2016Louise

    Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.

    11/01/2022

      0
  • avatar
    Callista

    fokus ceritanya ke mana²

    03/02

      0
  • avatar
    Visitor

    jumadi

    02/02

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata