Sesampainya di rumah Kadir segera menghampiri Mita yang sedang duduk sendirian sambil menonton TV. "Mita, malam minggu besok Bapak akan menikahkan kamu dengan Harun," ucap Kadir. "Apa? Apakah bapak sudah tidak waras?" "Hidupmu akan bahagia dengannya, kamu tidak perlu bekerja lagi. Semua kebutuhanmu akan terpenuhi, kamu hanya perlu duduk manis di rumah tanpa harus bekerja." "Bagaimana aku bisa bahagia menikah dengan lelaki tua itu, Pak? Dia lebih pantas aku sebut Ayah dari pada suami." "Umur tidak jadi masalah asal dia bisa membahagiakanmu, Nak. Umurku dan Ibumu juga terpaut jauh tapi tidak masalahkan?" "Tidak masalah bagaimana? Jelas-jelas Ibu tidak bahagia. Lagi pula aku tidak mencintainya, Pak." "Ibumu bahagia, Nak. Buktinya sampai saat ini dia masih mau bertahan dengan Bapak. Masalah cinta bisa datang belakangankan? Lagipula kamu tidak akan bisa makan hanya dengan cinta," ucap Kadir berusaha meyakinkan Mita. "Ibu bertahan hanya demi kami, anak-anaknya. Bukan karena Bapak, suami yang tidak pernah mau tahu kesusahan istri. Bisanya cuma minta uang dan uang terus. Kerjaannya mencuri, judi dan mabuk-mabukan, apakah pantas anda disebut sebagai seorang Bapak? Bukannya jadi panutan untuk keluarga tapi bisanya menyusahkan dan memberikan pengaruh buruk." Mita tidak bisa menahan emosi lagi. Bagaikan gunung api yang meletus dan memuntahkan laharnya, Mita mengeluarkan semua isi di hatinya. Selama ini dia menahan diri karena menghormati ibunya. Tetapi tindakan Kadir saat ini benar-benar sangat keterlaluan. "Dasar anak tidak tahu diri, bagaimana mungkin kamu bisa berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua terlebih lagi dengan Bapakmu, yang pantas kamu hormati!" hardik Kadir mulai emosi. "Apa Bapak bilang? Hormat? Apa pantas orang seperti Bapak dihormati? Dengan perilaku buruk dan perkataan yang selalu menyakitkan membuat Bapak kehilangan nilai untuk dihormati," ucap Mita dengan nafas memburu. Plaak … Kadir melayangkan sebuah tamparan yang mendarat telap di pipi mulus Mita. "Diam kamu! Apa ini hasil didikan Ibumu? Jadi anak pembangkang dan tidak mau diatur?" "Tentu saja tidak, Ibu selalu mengajarkan kami untuk selalu taat dan hormat kepada Bapak. Selama ini aku diam dengan perlakuan Bapak, hanya karena tidak ingin menyakiti hati Ibu. Tetapi hari ini, perlakuan Bapak kepadaku sudah sangat keterlaluan. Dengan teganya Bapak menjualku hanya demi uang. Bapak tak lebih hanya seorang penjahat yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua keinginannya." "Beraninya kamu ya!" Kadir mengangkat tangannya bersiap untuk menampar Mita lagi. "Ini Pak, tampar lagi, biar Bapak puas melampiaskan kemarahan Bapak," ucap Mita sambil menyodorkan pipinya. "Hash…." Dengan geram Kadir mengibaskan tangannya "Kenapa, Pak? Bukannya selama ini Bapak selalu memukuli Ibu untuk melampiaskan kemarahan Bapak?" ejek Mita. "Sudahlah Mita, Bapak tidak ingin membuatmu babak belur sebelum acara pernikahanmu. Masuk ke kamar dan jangan keluar rumah sebelum acara besok." "Tidak, Pak. Aku tidak mau!" "Cepat masuk kamar dan jangan membantah!" dengan kasar Kadir menyeret Mita ke kamar dan mengunci pintunya. "Buka pintunya, Pak. Aku tidak mau menikah dengannya, buka Pak," rengek Mita sambil terus menggedor pintu. Kadir duduk di ruang tamu sembari menyulut rokoknya. Tidak dia pedulikan teriakan Mita yang terus menggedor pintu. Beberapa saat kemudian Ali dan adik-adiknya pulang dari mengaji. "Mbak Mita kenapa pak? Kok nangis sambil teriak begitu?" tanya Ali penasaran. "Sudah, jangan pedulikan Mbakmu, masuk kamar sana!" usir Kadir. "Iya Pak," jawab Ali patuh. Walaupun Ali masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan kakaknya, tetapi dia lebih memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi. Bisa-bisa bukan jawaban yang dia dapatkan tetapi bentakan dan cacian yang sering dilontarkan oleh bapaknya. Adik-adiknya mengekor di belakang mengikutinya masuk ke dalam kamar. Mereka tidak mau ambil pusing memikirkan apa yang terjadi dengan kakak tertuanya. Bagi mereka bisa bermain dengan tenang tanpa omelan dari bapaknya saja sudah membuat mereka bahagia. Sesimpel itu pemikiran anak kecil, tetapi tidak dengan Ali yang terus berusaha menebak apa yang dialami Mita. Ali memang baru duduk di kelas enam, keadaanlah yang memaksa untuk menjadi dewasa. Selama ibunya pergi dia diberi amanah untuk menjaga adik-adiknya. Tentu saja dengan senang hati Ali memikul tanggung jawab tersebut karena tidak memungkinkan untuk menyuruh Mita. Ali menunggu kesempatan untuk bisa berbicara dengan kakaknya. Dia berharap bapaknya cepat keluar rumah, tetapi sampai malam tiba Kadir masih berada di ruang tamu. Sepertinya dia sengaja tidak bepergiaan untuk menjaga kakaknya agar tidak bisa keluar. Ali masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada Mita tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menolong kakaknya tersebut. ‘Semoga besok pagi ada kesempatan lagi,’ ucap Ali dalam hati. Dia masih berharap agar bisa mencari tahu apa yang menimpa Mita. Besok paginya, Kadir tidak pergi ke mana-mana. Dia menyuruh Ali membuatkan sarapan untuk Mita. "Ini Pak, sarapan untuk Mbak Mita." "Letakkan saja di meja nanti aku antarkan ke kamarnya. Segeralah berangkat ke sekolah nanti kamu telat!" "Baik, Pak." Selesai sarapan, Ali dan adik-adiknya berangkat ke sekolah. Kadir segera membuka pintu kamar Mita dan meletakkan sarapan di meja. Dalam hatinya, ali merasa menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong kakaknya. "Makanlah! aku tidak mau melihatmu sakit dan terlihat menyedihkan untuk acara nanti malam," ucap Kadir sambil keluar kamar. Mita masih meringkuk di tempat tidur sambil merenungi nasibnya. Nasib baik tidak berpihak kepadanya, seandainya ada ibunya di rumah pasti dia bisa melarikan diri. Memikirkan apa yang akan terjadi nanti membuatnya semakin terisak. Mita tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk bisa keluar dari masalahnya. ‘Apakah aku harus menikahi tua bangka itu atau melarikan diri saja? Tetapi nanti kalau tertangkap aku bisa dihajar habis-habisan oleh Bapak. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menyerah dengan keadaan. … Sore telah menyapa, Kadir menyuruh Mita untuk bersiap-siap. Setelah selesai, Kadir mengajak Mita bergegas ke rumah Harun. Mereka berjalan beriringan melewati jalan beraspal. Mita terus memikirkan cara agar bisa melarikan diri. Dia berjalan sambil menengok kekiri dan kekanan untuk mencari celah. Di saat Kadir lengah, Mita mencoba untuk kabur. Dia terus berlari sambil sesekali menengok ke belakang untuk memastikan keberadaan bapaknya. "Mita, jangan lari, kaku ingin mempermalukan Bapak, hah! Cepat kemari," teriak Kadir memanggil anaknya. "Tidak, aku tidak ingin menikah dengan Harun." "Mita, jangan jadi anak durhaka!" "Mita lebih baik jadi anak durhaka dari pada harus menuruti keinginan Bapak." "Mita!" Mita tidak menghiraukan teriakan Kadir dan terus saja berlari. Tiba-tiba dari arah berlawanan melaju truk dengan sangat kencang. "Aaaarghh…." Tbc
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 22 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Tingnan Lahat