logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 7

Suasana di kantin cukup ramai. Ujian Tengah Semester sedang berlangsung. Jadwal UTSku berakhir tiga hari lagi. Aku dan beberapa teman sekelas sedang berkumpul di sudut kantin dengan berbagai cemilan.
"Bentar lagi libuuur, yeeaay!!" teriak Ulfa riang.
"Masih tiga hari lagi, woy. Mana yang susah ada di akhir lagi. Lieur aing! " sahut Nunu salah satu teman sekelas kami.
"Ya ... iya sih," sahut Ulfa lirih. Berbanding terbalik dengan suara riangnya tadi.
"Yun, bawa catatan MK nggak? Pinjem bentar, mau difotokopi," ucap pelanggan setia buku catatanku, Bayu, ketua kelas kami. Anak HIMMA yang aktif di organisasi tapi pasif di kelas.
"Nggak bawa, ambil di kost'an aja," jawabku. Bayu mengangguk.
"Tumben lo nggak marah ada yang maen ke kost'an Yuna, Ben. Biasanya 'kan kayak bapak-bapak galak yang marah kalau ada yang nyamperin anak gadisnya," ledek Rika. Tangannya mencocol sambel kecap dengan gorengan.
"Lagi nggak mood," jawab Bendot singkat.
Bendot beberapa hari ini terlihat kusut. Apa memikirkan UTS? Tapi sejak kapan dia pusing memikirkan UTS. Walaupun dia slengean begitu, dia cukup pintar. IPK nya bahkan lebih tinggi dari Rika. Kalau Ulfa tak usah dibahas ya, dia sih santai saja. Yang penting lulus.
"Kita selesai ujian hari Sabtu pagi 'kan?" tanya Andre.
"Siangnya kita ke Anyer, yuk. Nginep semalem, terus minggu sore dah balik lagi ke Bandung. Mau nggak?"
"Asal gratis, gue sih mau-mau aja," sahut Bayu yang diiringi anggukan kepala dari kami.
"Tenang, gue bayarin semuanya. Tapi jangan banyak orang. Cukup segini aja ...." lanjut Andre. Lalu Bayu menghitung jumlah kami yang berkumpul di sini.
"Tiga belas orang, Ndre. Tapi si Raden masa nggak diajak?" tanyanya. Raden teman dekat Andre yang hari ini tidak masuk, karena tak ada jadwal ujian.
"Oke, jadi empat belas orang. Cewek enam, sisanya cowok" Andre menghitung ulang jumlah kami.
"Lo bawa mobil ya, nggak muat kalo cuma pake mobil gue," atur Andre pada Nunu. Nunu memberikan jari jempol tanda setuju.
"Gue balik duluan," ucap Bendot datar, mengambil tas ranselnya tanpa menyapa kami seperti biasa.
"Kenapa tuh si Bendot?" tanya Ulfa. Andre mengangkat bahu.
"Gue juga balik ya, Akbar udah jemput." Rika merapihkan rambutnya dengan jari tangan.
Lalu selang berapa lama, Ulfa pun beranjak dari kursi.
"Lo mau kemana, Fa?" tanyaku.
" Baliklah."
"Oh, ya sudah bareng." Akupun membereskan buku-buku yang berantakan di meja. Harap maklum, kebiasaanku selesai ujian itu langsung mengecek jawaban yang aku isi itu salah atau benar. Dan kebiasaan ini jadi ledekan teman-teman. Khas mahasiswi kutu buku yang pintar katanya. Padahal tidak begitu juga, aku cuma merasa lebih plong saja kalau langsung koreksi jawaban ujianku.
"Dani jemput, dia sudah di parkiran," bisik Ulfa. Aku berdecak.
"Jadi gue balik sendiri, nih?" tanyaku,
Ulfa mengangguk lalu tersenyum tipis.
"Okelah, kita jalan bareng ke parkiran," sahutku sambil menarik lengan Ulfa. Ulfa pun langsung menggelayut di lenganku. Gerakan otomatis Ulfa jika jalan bareng aku.
"Kita duluan, byee ... Jangan kangen Ulfa ya, besok kita ketemu lagi," pamit Ulfa memberikan kecup jauh yang disambut dengan sorakan anak-anak lelaki.
Di parkiran motor kami berpisah. Ulfa bilang, Dani minta diantar ke Dago Pakar. Tidak langsung pulang ke kost'an.
Nasib jadi jomblo, kalau kedua sahabatku sibuk pacaran, ya aku sendirian seperti ini.
Di sudut parkiran aku liat Beno sedang jongkok sambil memijit kepalanya. Dia kenapa, apa Beno sedang sakit?
"Ben?" sapaku pelan. Beno mengangkat kepalanya. Matanya merah dan berair. Sepertinya dia lagi sakit.
"Lo kenapa? Sakit?"
"Hai, Yun. Mau balik lo?" Bukannya jawab pertanyaanku, dia malah balik tanya. Aku mendengus, lalu mengangguk menjawab pertanyaan dia.
"Ulfa sama Rika mana?" tanyanya lagi.
"Udah pada balik. Mereka dijemput sama pacarnya masing-masing," jawabku.
"Ooh, ya udah lo gue anter. Yuk," ajaknya. Aku melangkah mengikuti Beno menuju motornya.
"Gue cuma bawa helm satu, nggak papa kan lo nggak pakai helm? Atau lo aja nih yang pake helm," ujarnya sambil menyodorkan helm berwarna hitam.
"Nggak usah, lo saja yang pake. Deket ini, kok."
Tak lama kemudian kami sudah membelah jalanan. Jarak kampus dan kost'an ku cukup dekat. Jika naik motor begini cukup lima menit untuk sampai di depan kost'an.
Beno memberhentikan motornya di depan kost'an.
"Makasih ya, Ben."
"Gue boleh mampir kagak?" tanya Beno, mematikan mesin motor.
"Boleh, yuk," ajakku. Ya kali aku sudah diantar pulang, terus aku larang dia mampir.
"Duduk, Ben. Gue siapin minum dulu," ucapku mempersilahkan Beno duduk di ruang tamu.
"Yun ...." Aku menghentikan langkahku menuju kamar untuk mengambil minum.
"Kenapa?"
"Gue boleh numpang tidur nggak, sebentar aja ...." pinta Beno. Wajahnya kusut. Aku menghela napas, apa lagi, sih, maunya Bendot?
"Sejam atau dua jam aja, Yun. Please ... gue semalem nggak bisa tidur." Beno memohon, suaranya lirih.
"Ya sudah, ayok," ucapku terpaksa. Jujur aja aku tidak pernah membawa lelaki ke dalam kamar. Selain memang peraturan kost'an yang melarang membawa lelaki ke dalam kamar juga karena aku tidak nyaman.
"Makasih. Ntar lo di kamer Ulfa aja kalau nggak nyaman ada gue di sini," ucap Beno. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Aku berdecak, dia kok bisa santai begitu sih seolah-olah ini kamar dia sendiri. Untung sebelum ke kampus aku sudah merapikan kamar. Pintu kamar kubiarkan terbuka lebar.
"Lo lagi sakit, Ben?" tanyaku sambil duduk di samping kasur. Aku mengeluarkan buku-buku dari dalam tas, lalu merapikannya di atas meja. Meja ada di sebelah kasur. Oh iya, kamarku ini lesehan semua ya. Kasur tanpa ranjang, dan meja belajar pendek tanpa kursi. Aku lebih nyaman lesehan seperti ini.
"Kagak tapi kepalaku pusing, gara-gara kurang tidur kayaknya."
"Oh," jawabku singkat. Saat aku akan berdiri, Beno menahan lenganku.
"Jangan kemana-mana, pijitin kepala gue dong. Sakit banget," lirihnya.
"Lo sudah minum obat?" tanyaku. Beno menggeleng. Sudah kuduga. Aku beranjak mengambil obat sakit kepala dan segelas air putih.
"Nih minum obat dulu." Beno duduk lalu meminum obat yang aku kasih. Aku mengambil gelas dari tangan Beno, setelah dia meminum obat.
"Jangan kemana-mana, gelasnya taro di meja aja. Lo pijitin pala gue, Yun," perintahnya. Beno sudah rebahan lagi di kasur.
"Ckk, lo manja banget sih. Harusnya kalau lagi sakit gini, lo manja-manja sama Teh Mia, bukan sama gue," rutukku. Tanganku mulai memijit pelan kepala Beno. Rambutnya tebal, wangi dan halus. Tidak sangka dia merawat diri dengan baik. Kupikir lelaki seperti dia bakalan jorok, jarang mandi.
"Gue udah putus sama Mia, Yun," ucapnya lemah.
"Hah? Kok bisa?"
"Ya bisa lah!!" teriak Beno kesal. Tentu aja aku kaget dengan suara keras Beno. Aku tarik rambut gondrongnya, kesal.
"Aduh, sakit, Yun," rintihnya.
"Ya makanya jangan nyebelin, gue nanya pelan lo malah ngebentak!"
"Iya maaf ...." Beno duduk dari tidurnya, tangannya menggenggam tanganku.
"Nggak usah modus!" Aku melepas genggaman tangannya. Beno tersenyum tipis. Matanya menatapku sayu.
"Mia selingkuh sama temen kantornya. Awalnya gue percaya saja kalau dia bilang lembur. Tapi lama-lama kok jadi jarang komunikasi. Ternyata, brengsek! Gue mergokin dia begituan di kamernya. Anjir!!" Beno menengadahkan wajahnya, matanya terpejam. Terlihat sekali dia sedang menahan amarah.
Aku tidak berkomentar apapun menepuk pelan bahunya. Tidak menyangka Teh Mia seperti itu. Kupikir dia perempuan setia.
Aku melihat raut wajah Beno, ekspresi sendunya tak pantas di wajahnya yang garang. Kumis dan jenggotnya belum dicukur, jadi dia terlihat lebih garang. Ternyata dibalik wajah garang hatinya seperti hello Kitty. Aku tertawa terbahak.
"Kagak usah ketawa! Jomblo karatan kagak boleh ngetawain jomblo pendatang baru," omelnya. Aku masih terbahak.
"Apa itu jomblo pendatang baru? Bikin istilah yang kerenan dikit dong," ledekku tanpa menghentikan tawa.
"Kalo kagak berhenti juga, gua cium nih, Yun." Beno merangkak mendekatiku. Reflek ku lempar buku yang ada di atas meja.
"Wadaw, sakit, Yun! Elo ketularan Rika nih sadisnya." Beno mengusap hidungnya yang terkena lemparan buku.
"Makanya jangan mesum! Jangan nakutin, dong, Ben!" Aku beringsut mundur menjauh dari Beno.
"Iya maaf, becanda gue kelewatan."
$$$$$
23 Desember 2021

Komento sa Aklat (135)

  • avatar
    salmanSugeng

    Sungguh menarik critanyaaaa

    27/04

      0
  • avatar
    AzzahraWinda

    bagus sekali 🫶

    25/04

      0
  • avatar
    RinaiRina

    keren 😊👍🏼

    21/08

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata