logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 6

Rika dan Ulfa mencecarku. Kenapa aku sering tiba-tiba menghilang. Jarang kumpul bareng. Termasuk hari ini. Aku ijin keluar sebentar sebelum gabung dengan mereka untuk marathon menonton drakor. Mereka curiga aku punya pacar diam-diam. Aku tertawa mendengarnya. Lalu kuyakini mereka bahwa aku ada urusan maha penting yang harus aku selesaikan. Mereka malah menyangka aku terlibat pinjaman online. Ada-ada saja anak dua itu.
Hari ini cuaca kota Bandung mendung, sepertinya akan turun hujan. Semoga hujan turun nanti setelah aku kembali ke kost'an. Kupercepat langkah kaki. Aku harus cepat sampai di tempat Kak Evan. Memberikan nasi timbel lalu segera pulang.
Dari depan pagar aku lihat ada beberapa orang duduk di teras rumah, tapi mereka bukan si keriting dan si cepak. Ada Kak Evan diantara mereka. Mereka tampak sedang mengerjakan sesuatu dengan laptop. Aku terdiam, apakah tetap masuk atau kembali pulang. Salah satu dari mereka melihat ke arahku.
"Cari siapa, Teh?" tanya lelaki yang melihat ke arahku tadi. Membuat mereka semua mengalihkan perhatiannya kepadaku. Aku memberanikan diri mendekat.
Kak Evan berdiri lalu berjalan mendekati ku.
"Lo lagi? Mau ngapain lagi sih?!" tanya Kak Evan sedikit membentak, tatapannya sinis, rahangnya mengeras.
Aku tergagap, sambil mengangkat kresek yang kubawa. "Emm ... a ... aku bawain nasi timbel, ayam bakar komplit sama sayur asem, Kak."
Tangannya menyambar kresek yang ada di tanganku. Melihat isinya sekilas lalu menatapku tajam dan dingin.
"Lo sekarang buka jasa catering? Setiap hari kirim makanan. Kalau ini cara lo buat ngedeketin gue lagi, ini nggak akan berhasil!!"
Aku terdiam. Menarik napas perlahan, tanganku meremas ujung kemeja yang kupakai. Lututku mulai bergetar.
"Lo masih pake cara yang sama seperti yang lo lakuin dulu? Ngaca!! Dari dulu sampe sekarang gue nggak akan pernah suka sama lo! Gue nggak suka cewek yang agresif, murahan!"
"Van, jangan keterlaluan!" teriak salah satu dari mereka yang melihat Kak Evan memaki aku.
Napasku berburu, dadaku sesak. Aku memejamkan mata, menahan air mata agar tidak keluar. Aku tidak bisa terus diam, aku tidak mau dihina di depan teman-temannya. Aku harus membela diri.
"Maaf Kak Evan, sepertinya Kakak salah paham," suaraku bergetar. Please, jangan nangis sekarang! Kamu kuat, Yuna!
Aku mengambil dompet dengan tergesa. Mengeluarkan sesuatu yang sudah kusiapkan, yaitu beberapa lembar kertas dan sejumlah uang. Kuraih tangan kanan Kak Evan, lalu menaruhnya dalam genggaman tangan Kak Evan.
"Aku cuma bantu Mbak Evi yang khawatir sama adiknya yang sedang sakit. Mbak Evi minta aku buat kirim makanan ke Kakak. Itu struk pembelian dan sisa uangnya."
Ada keterkejutan di wajah Kak Evan. Aku menatap matanya, menunjukkan bahwa aku bukanlah aku yang dulu. Bukan lagi gadis 14 tahun, yang baru merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis. Bukan lagi gadis yang tak tahu malu menyatakan cinta pada orang yang tidak mengenalnya.
"Maaf kalau niat baik aku nolong Mbak Evi bikin Kak Evan nggak nyaman." Aku masih menatap matanya. Menanti apa yang akan terucap dari bibirnya. Apakah ada lagi kata-kata pedas? Tapi Kak Evan hanya diam.
"Tolong sampein sama Mbak Evi, maaf aku nggak bisa bantu dia lagi. Permisi."
Aku berbalik tanpa menunggu responnya. Hujan mulai turun. Aku harus segera pergi.
"Tunggu!" Seseorang menahan lenganku.
"Kamu pulang naik apa? Nggak tunggu hujan reda dulu?" Ku kira Kak Evan yang menahanku, ternyata bukan. Aku menggeleng. Lebih baik aku kehujanan daripada aku terus di sini. Aku sudah tidak punya muka lagi setelah dihina di depan teman-temannya.
"Hujannya deres loh ...." sahut orang yang berbeda. Kak Evan tetap diam.
"Van, ini adeknya nggak dianterin dulu?"  ujar orang yang lain lagi. Teman-teman Kak Evan begitu baik, tapi kenapa dia jahat?
Aku menggeleng, "Nggak usah, Kak. Deket kok, lagian aku bawa payung." Aku mengeluarkan payung lipat dari tas, lalu berlari. Tak menghiraukan teriakan mereka untuk menunggu hujan reda.
Aku terus berjalan menerobos derasnya hujan. Aku memilih pulang berjalan kaki. Walau payung tidak bisa melindungi tubuhku dari hujan. Air mata mengalir sederas air hujan yang turun.
Ya Allah, rasanya sakit. Hiks ...
Boleh tidak aku balas dendam? Ya Allah, buat Kak Evan jadi jodohku. Buat dia cinta mati ke aku, tapi akunya tidak cinta ke dia. Biar dia yang mati-matian memperjuangkan cinta aku. Bolehkah aku minta itu? Aku tersenyum lirih, menertawakan keinginan konyol yang tiba-tiba terlihat di kepala.
Aku menggigil kedinginan. Petir menyambar, suaranya begitu menggelegar. Aku mempercepat langkah sebelum aku pingsan kedinginan.
----
Begitu sampai di kost'an, aku langsung masuk ke kamar Ulfa. Memeluk kedua sahabatku sambil terisak.
"Ya Allah, Yuna! Kamu kenapa?!" Ulfa histeris. Sedangkan Rika bergegas mencari handuk untuk menghangatkan tubuhku. Mereka masih di sini. Masih menungguku pulang.
Aku terus terisak, menangisi kebodohanku. Kebodohanku yang dulu dan kebodohan yang baru saja kulakukan. Seharusnya aku menolak permintaan Mbak Evi.
"Mana kunci kamar lo?" tanya Rika melepas tas ransel dari punggungku.
"Lo harus cepet mandi, ganti baju, makan terus minum obat." Rika membawaku ke kamar setelah menemukan kuncinya.
"Gue siapin air anget buat mandi." Ulfa bergerak menuju dapur.
Dibantu Rika aku melepas baju basah, kemudian memakai kimono handuk. Tak lama Ulfa datang membawa ember kecil berisi air panas.
"Nanti dicampur air dingin, biar anget. Mau gue bantu?" tawar Ulfa. Aku menggeleng.
"Udah cepet mandi, makan terus minum obat. Kalo udah tenang baru lo cerita. Cepetan mandi, biar nggak masuk angin." Rika mendorong aku masuk ke kamar mandi. Aku menangis lagi, kupeluk mereka berdua. Aku beruntung memiliki sahabat seperti mereka.
"Ayo mandi! Jangan bandel!" omel Rika dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Ulfa sudah menangis.
Selesai mandi, aku segera mengisi perut agar tidak masuk angin. Ulfa dan Rika memesan bakso Mang Enjay saat aku mandi tadi. Kami makan dengan tenang. Selesai makan, Rika memberikan sebungkus tolak angin cair.
"Minum dulu, terus istirahat," ucapnya sembari menyodorkan segelas air putih.
"Kalian nggak penasaran kenapa tadi gue nangis?" tanyaku usai menghabiskan segelas air.
"Penasaran, tapi mendingan lo istirahat dulu, deh. Biar nggak sakit." Ulfa membereskan peralatan makan.
"Tapi gue mau cerita, biar plong ...."
Rika berdecak, sedang Ulfa mendesah. Lalu keduanya duduk di depanku.
"Yakin mau cerita sekarang?" tanya Ulfa, kedua tangannya berada di pundakku. Aku mengangguk meyakinkan.
"Mendingan lo tenangin diri dulu deh." Bibir Rika mengerucut setelah melihat mataku mulai berair. Aku menangis lagi.
"Ya udah, lo boleh cerita. Biar ngeplong." Ulfa memelukku. Aku masih terus menangis.
"Udah jangan nangis terus, kapan ceritanya coba?" Rika melepas pelukan Ulfa. Walau suaranya ketus, aku tahu dia tidak bermaksud marah. Rika hanya tak ingin melihatku terus menangis.
Aku menarik napas panjang, memejamkan mata. Lalu mengalir semua cerita tentang apa yang baru saja aku alami.
Rika dan Ulfa marah, terkejut tak menyangka Kak Evan bisa setega itu.
"Brengsek!"
"Bangsat!"
Caci mereka bersamaan. Aku mengangguk, setuju dengan mereka. Kak Evan memang bangsat yang brengsek!
"Lo sebenernya masih naksir dia nggak sih " tanya Rika.
Aku menggeleng," Dulu aku cuma naksir-naksir biasa aja. Nggak sampe suka yang kayak cinta mati gitu."
"Naksir biasa aja, kok, sampe nembak duluan?" ledek Rika.
"Iya, ih, lo nggak malu apa? Mending kalau diterima, ini mah ditolak," sahut Ulfa. Bibirku mencebik.
"Waktu itu sih nggak malu, malah pede bakal diterima. Abis ditolak, baru deh ngerasa malu banget. Pengen pinjem mesin waktunya Doraemon. Biar gue nggak ngelakuin hal kayak gitu. Atau nggak, pengen bikin Kak Evan hilang ingatan." Bibirku mengerucut. Rika terbahak.
"Bukannya lupa, dia malah inget terus ya?" ledeknya. Aku mendesah mendengar ledekan Rika.
"Sudah yang penting sekarang lo sudah move on. Nggak naksir dia lagi," sahut Ulfa, menyender disampingku lalu meluruskan kakinya.
"Udah lama kali gue move on."
"Ya kali saja masih ada rasa. Masih penasaran gitu." Rika terus menanyakan hal yang sama.
"Nggak sama sekali, Ka. Walau dia sekarang makin ganteng, gue udah nggak naksir dia lagi. Apa lagi sejak kejadian tadi."
Rika mengangguk. Ulfa tersenyum memberikan dua jempol kepadaku.
"Kalau sekarang disuruh milih antara Kak Evan atau Beno, gue lebih milih Beno," ujarku. Entah kenapa tiba-tiba teringat Beno.
Rika yang sedang minum langsung tersedak, lalu tersenyum meledek.
"Ulfa! lo jadi saksinya, ya. Yuna bakal nerima kalo si Bendot nembak," ucap Rika riang. Ulfa hanya mengangguk mengiyakan perkataan Rika. Sepertinya Rika bahagia sekali kalau prediksi dia tentang perasaan Beno benar. Padahal aku cuma asal ceplos. Sangat tidak mungkin Beno alias Bendot naksir aku.
"Tapi tadi pas pulang sambil hujan-hujanan. Aku berdoa, minta ke Allah. Supaya bikin Kak Evan jadi jodoh aku. Tapi dianya yang cinta, akunya nggak. Terus dia mati-matian memperjuangkan cinta aku. Biar dia tau gimana rasanya ditolak. Boleh nggak, sih? Dosa nggak berdoa kayak gitu?"
"HALUUU!!!" teriak mereka bersamaan. Rika melempar lap tangan ke muka ku. Aku cengengesan.
"Daripada lo halu, mendingan lo santet saja! Beres perkara, membunuh tanpa menyentuh,"  ujar Rika.
"Jangan santet, dosa. Mendingan dipelet aja. Nih, aku dapet SMS ada paket pelet online istimewa. Lagi promo, diskon sepuluh persen," ujar Ulfa tanpa dosa sambil menunjukkan SMS yang dia dapat.
Aku bergidik ngeri membayangkannya.
"Pelet juga dosa, Bambang!"
"Seenggaknya nggak bunuh orang, mendingan lah ...." Ulfa ngotot.
"Tapi melet orang juga bisa bikin orang yang dipeletnya jadi gila! Tuh kayak ajian jaran goyang, itu juga bahaya!"
"Kalo bahaya, kenapa dibuat lagu?" tanya Ulfa dengan wajah penasaran. Rika mengacak-acak rambut Ulfa gemas. Ulfa memukul tangan Rika yang mengacak-acak rambutnya. Aku terbahak melihat mereka.
Ah, terimakasih sahabat-sahabatku. Kalian sudah berhasil bikin aku tertawa lagi.
$$$$$
23 Desember 2021

Komento sa Aklat (135)

  • avatar
    salmanSugeng

    Sungguh menarik critanyaaaa

    27/04

      0
  • avatar
    AzzahraWinda

    bagus sekali 🫶

    25/04

      0
  • avatar
    RinaiRina

    keren 😊👍🏼

    21/08

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata