"Yun ...." Rika menyentuh lenganku. "Eh, gimana tadi?" tanyaku, mengalihkan pandanganku dari lelaki itu. Lelaki yang aku kenal di masa remaja, lelaki yang kini menggandeng perempuan hamil. "Emm ... ganteng juga, Yun," ucap Ulfa sambil menunjuk ke arah lelaki itu. "Emang ya kalo jomblo, tuh, radarnya kenceng banget, liat yang ganteng dikit aja langsung bunyi," ucap Ulfa sambil terkekeh. Rika menoleh ke arah yang ditunjuk Ulfa. Matanya langsung melotot. "Gila! Ganteng juga percuma, dia udah punya bini! Gini ya, Yun, gue emang pengen elo cepet-cepet punya cowok. Tapi kalo jadi pelakor nggak usah! Mendingan jadi jomblo aja, lebih bermartabat!" cerocos Rika dengan nada yang tidak santai. Aku mengangguk setuju dengan pendapatnya. "Tapi dia beneran ganteng loh, Yun. Dadanya senderable banget." Rupanya Ulfa masih belum mengalihkan perhatiannya. "Eh, eh, dia ngeliat ke arah kita! Omaigot! Dia senyum lagi!" Ulfa bertingkah heboh. Aku dan Rika menoleh ke arah lelaki itu. Benar, dia dan perempuan hamil itu berjalan ke arah kami. Gawat deh, tingkah Ulfa bikin malu, mungkin dia mau negur kami. "Elo sih norak banget, jadi aja dia ngeh kalo lagi diomongin!" "Permisi, kamu Yuna 'kan?" tanya lelaki itu. Aku terkejut, nggak nyangka dia masih inget aku. Ulfa dan Rika melongo saat dia menyapaku. "Eh, iya," ucapku berusaha bersikap tenang. "Aku Evan, anak PDK inget nggak?" Dia menyulurkan tangannya. Aku sambut lalu berjabat tangan. "Oh iya! Kak Evan apa kabar?" tanyaku setelah beberapa detik diam berpura-pura lupa. "Alhamdulillah kabar baik. Eh, boleh gabung nggak? Meja yang lain penuh semua." Oh, ternyata dia menyapaku karena tidak dapat meja. Aku melirik ke arah Rika dan Ulfa meminta persetujuan mereka. Setelah mereka mengangguk, aku ijinkan Kak Evan bergabung di meja kami. "Oh iya, kenalin ini mbakku. Evi." Perempuan hamil itu tersenyum lalu menjabat tanganku. "Kenalin juga nih, Kak, temen-temenku," ucapku. Lalu mereka semua saling berjabat tangan. "Evan." "Rika." "Ulfa." "Evi." Beberapa saat suasana menjadi canggung. Aku sendiri bingung mau ngobrol apa. "Teh Evi istrinya Kak Evan, ya? Hamil berapa bulan, Teh?" tanya Ulfa sambil tersenyum tanpa dosa. Ih, pengen aku jitak, deh, tuh anak. Buat apa tanya hal yang sudah jelas terlihat sih. Tidak lihat apa tadi Kak Evan perhatian seperti itu. "Bukan. Dia mbakku, artinya dia kakakku," jawab Kak Evan tersenyum. Mbak Evi pun ikut tersenyum. Lalu Ulfa bertepuk tangan dengan bahagia. "Kan, apa gue bilang, bukan istrinya. Masih bisa lo gebet, Yun," bisik Ulfa yang tidak bisa disebut berbisik karena dia bicara sedikit keras. Huaa ... mamaaa ... enaknya Ulfa dibentuk jadi apa?! Rika menendang kaki Ulfa di kolong meja. Ulfa meringis, tapi tetap saja anak itu tidak merasa bersalah. Aku berusaha bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. "Yuna ini kenal sama Evan dimana?" Satu pertanyaan dari Mbak Evi bikin aku semaput. Jujur deh, aku malu banget kalu ingat apa yang sudah aku lakukan di masa lalu. Semoga Kak Evan sudah lupa. Ya Allah buat Kak Evan hilang ingatan, please ... "Yuna juga dari Cirebon, Mbak. Kita dulu sering seangkot bareng kalau berangkat sekolah. Iya kan, Na?" Kak Evan menjawab pertanyaan Mbak Evi yang malah bikin tiga orang selain kami itu makin penasaran. "Iya, Mbak," jawabku singkat. "Kalian pernah pacaran ya?" Aku menggeleng cepat, begitupun Kak Evan. Iyalah, pasti dia tidak mau disangka pacaran sama aku. "Kita tuh sering seangkot bareng karena rumahnya deketan, Mbak. Sekolahnya juga deketan. Aku SMA 6, Yuna SMP 5. Tetanggaan kan. Karena sering seangkot jadi lama-lama kenal deh," jelas Kak Evan. Lama-lama jadi kenal? Cih, apaan! Mana pernah Kak Evan notice keberadaanku waktu itu. Kalau bukan akunya yang nekad, mungkin sampai sekarang kita tidak akan saling kenal. Kok, aku baru sadar, ya, kalau penampilan Kak Evan beda banget sama yang dulu. Seingatku dulu Kak Evan anak paskibra, rambutnya selalu potongan cepak ala pak tentara. Sekarang potongan rambutnya sudah tidak cepak lagi. Dan apa itu, dia pakai anting di telinga kirinya? Lah, kok, jadi seperti badboy, ya? Kakiku ditendang, entah siapa yang menendang. Tapi melihat raut wajah Rika yang serius sambil mendelik sepertinya dia yang menendangku. "Yun, heh! Kok, malah bengong sih? Itu ditanyain sama Kak Evan." Ulfa menjentikkan jarinya di depan mukaku. "Eh gimana, Kak?" Kak Evan tersenyum tipis melihat reaksiku, berbeda dengan Mbak Evi yang tertawa. "Elo ditanyain ngekost dimana? Kebanyakan ngelamun sih," sahut Rika ketus. "Ooh aku ngekost di Lengkong, Kak. Kak Evan sudah lulus kuliah kan?" tanyaku basa-basi. Harusnya dia memang sudah selesai S1. Dulu dia SMA kelas 3, aku SMP kelas 3. Sekarang aku semester 4, harusnya dia sudah lulus. Tapi kalau sekarang dia ada di sini, waktu makan siang di hari kerja, kemungkinan dia belum lulus. Waduh, salah pertanyaan nih. "Alhamdulillah, sudah taun kemaren. Alhamdulillah juga langsung dapet kerja." "Kok, sekarang ada disini, emang lagi cuti ya? " Ulfa seakan mewakili aku yang punya pertanyaan yang sama. "Kerjaan aku emang nggak nuntut harus dateng setiap hari sih. Terus ya nggak harus pake pakaian formal. Jadi ya kayak lagi main saja." Kak Evan menjawab pertanyaan Ulfa sambil tersenyum manis. Beda banget raut wajahnya kalau bicara sama aku. Ya siapa sih yang menolak pesona Ulfa, iya, kan? Ck, kenapa harus kesal juga sih, Yun? Dan pembicaraan kami lebih didominasi oleh Ulfa dan Kak Evan. Ulfa banyak nanya dan Kak Evan menjawab dengan wajah berbinar. "Yuna, mbak boleh minta nomor hape kamu?" tanya Mbak Evi memotong pembicaraan Ulfa dan Kak Evan. Kak Evan tidak bisa menutupi keterkejutannya. Wajahnya pun terlihat tidak suka dengan pertanyaan kakaknya. "Buat apa, Mbak?" tanyaku. Jujur saja aku tidak nyaman dengan raut wajah Kak Evan. Lebih baik aku bertanya apa tujuan Mbak Evi meminta nomor ponselku. "Ya cuma nyimpen aja sih, barangkali kita bisa lebih deket. Boleh ya? Nanti bayi mbak ileran loh kalo ga dapet nomor tante cantik," gurau Mbak Evi. Aku hanya bisa meringis dipuji cantik oleh perempuan cantik. Sedangkan kanan kiriku ada perempuan-perempuan yang lebih cantik dari aku. Ulfa tertawa mendengar gurauan Mbak Evi. Rika tersenyum tipis, sedangkan Kak Evan? Wajah dia datar. Tidak ada senyum sama sekali. Akhirnya aku memberikan nomor ponselku. Dan makan siang kami selesai dengan traktiran dari Kak Evan. Iya dia traktir kami semua. --- Sekarang kami bertiga sedang ada di kamar kost ku. Rika rebahan sambil memainkan ponsel, sedangkan Ulfa sedang mencoba beberapa lipstik koleksiku. Walaupun aku tidak semodis kedua sahabatku, tapi aku suka bereksperimen dengan make up. Koleksi alat make up ku lumayan komplit, terutama lipstik. Ada lebih dari 20 lipstik berbagai warna dan merk. "Yun, itu beneran kamar sebelah mau pindah? Nanti gue ya yang ngisi, gue jadi ngekost. Capek bolak-balik, tua di jalan," ucap Ulfa. Ulfa dari beberapa bulan kemarin memang ingin kost di tempatku. Rumahnya di Cimahi, lumayan jauh jaraknya dari kampus. Katanya, dia sudah dikasih ijin sama orangtuanya, asalkan di tempat yang sama denganku. Tetapi kami tidak ingin sekamar. Jadi harus tunggu salah satu kamar di kostku kosong. Kebetulan Mbak Dewi temen sekostku sudah tamat kuliah, dia akan pulang ke kampung halaman. "Akhir bulan ini katanya, Fa. Gue juga sudah bilang kok ke ibu kost kalau kamer bekas Mbak Dewi buat elo. Nanti elo kasih dp aja dulu, barangkali keduluan orang." Ulfa mengangguk mendengar penjelasanku. "Yun, namanya Kak Evan siapa? Evan Rahardian bukan?" tanya Rika tanpa melepas pandangannya dari ponsel. "Iya, kenapa gitu?" Rika bangun dari rebahannya, menyodorkan ponselnya. "Nih liat. Anjiir... emang ganteng sih Kak Evan. Sayang dia gebetan elo, kalo bukan udah gue embat!" Aku melihat ponsel Rika yang membuka aplikasi Instagram. Di sana ada foto Kak Evan sedang menenteng tas gitar. Ulfa merebut ponsel Rika. "Aaa!!! Ganteng banget, aduh jadi pengen khilaf deh nyelingkuhin Dani ...." Ulfa menatap foto Kak Evan dengan tatapan memuja. Daripada penasaran aku buka instagram di ponselku sendiri. Waw, pengikutnya lumayan banyak. Padahal isinya lebih banyak foto-foto pemandangan. Foto diri hanya satu. "Yun, beneran deh ini, Kak Evan kudu elo dapetin. Gue rela, deh, mengikhlaskan dia buat elo." Rika menatapku serius. Ulfa mengangguk setuju, tidak ada raut wajah jahil. Aku yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah. "Kalian ngomong apa sih? Gue kenal dia juga cuma sekedar kenal doang, kok." Rika menghela nafas, " Nggak usah ngelak! Tadi di Heritage elo natap dia kayak kucing ngeliat ikan asin tau nggak! Sampe dia risih diliatin kayak gitu." "Ih kapan?" Aku nggak ngerasa natap Kak Evan memuja ya, maaf-maaf aku bukan aku yang dulu. "Ya waktu Lo ditanyain ngekost dimana elo cuma bengong ngeliatin wajah dia. Sampe kakaknya ngetawain. Jangan nggak ngaku loh!" "Ooh waktu itu gue cuma heran sama perubahan dia doang kok," sanggahku. "Halah, ngeles aja terus!" "Udah udah, pokoknya kita kawal Yuna dan Kak Evan sampai SAH lalu aaahh," ucap Ulfa sambil mendesah. Rika melempar Ulfa dengan bantal dengan wajah jijik. $$$$$ 22 Desember 2021
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Sungguh menarik critanyaaaa
27/04
0bagus sekali 🫶
25/04
0keren 😊👍🏼
21/08
0Tingnan Lahat