Koa tak pernah belajar beladiri, pun jelek dalam bidang olahraga. Namun kala itu, kekuatan memenuhi setiap pukulannya. Satu tinjuan disarangkan telak pada rahang kokoh Angkasa. Lagi, pukulan kedua mendarat di ulu hati si rambut merah. Terus, tendangan ketiga menghajar tulang pipi pemuda sombong itu. Koa meraup napas tergesa. Ia tak bisa mengontrol kemarahan hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat. Remaja itu bahkan tak mengerti kenapa dia kehilangan kendali. Mungkin rasa sakit dan kemurkaan terlampau lama menumpuk sehingga menyebar menjadi racun di pribadi Koa yang lembut. Tony tentu saja tak tinggal diam melihat Angkasa dihajar oleh anak baru. Pemuda itu berteriak marah sambil mendorong Koa menjauhi Angkasa. Lalu, kau tahu selanjutnya apa yang terjadi? Benar. Sesuai dugaanmu. Anak-anak senior di sekitar lantai dasar langsung mengerumuni sumber perkelahian. Oh ya, tentu saja mereka akan membantu teman seangkatannya dibanding Koa yang baru menjejakkan kaki ke sekolah ini. Tujuh pemuda berbadan jauh lebih besar dari Koa menghajar remaja itu hingga babak belur. Koa diseret hingga taman belakang. Ia menerima pukulan, tendangan, jambakan, dan tarikan. Penganiayaan itu berakhir hanya karena seorang gadis tak sengaja melintas di sana. Angkasa, Tony, dan gengnya terdiam. Gadis itu bergeming tanpa perubahan mimik. Menatap tajam ke arah Koa yang meringkuk memeluk wajahnya. "Apa kalian sudah selesai?" tanya si gadis, mengalihkan atensi ke arah Angkasa dan teman-temannya. Angkasa berdecih, membuang ludah ke rumput. Ia menyarangkan tendangan sekali lagi ke lutut Koa. Lalu mengajak anggota gengnya untuk pergi. Koa berguling kesakitan, terlentang dan terengah-engah. Langit biru terlihat memuakkan memenuhi bidang pandangnya. Ia berdiri cepat, tertatih-tatih melangkah lurus melewati sosok gadis itu. Pandangannya buram. Ia bahkan tak peduli seperti apa rupa sang penolong. Tak ada ucapan terima kasih, apalagi sekadar berhenti. Koa terus melangkah seolah pikirannya tak berada dalam tubuh lemah seorang remaja pincang. Ia merasa sangat kesal dengan ketidakmampuannya sendiri. Selalu menjadi yang dihina dan ditindas. "Hei!" panggil gadis itu. Langkah Koa berhenti. Ia berbalik, kali ini berhasil melihat sang penolong dengan jelas. Gadis itu berambut pendek seperti lelaki, tinggi, tak ada make up pada wajah putihnya. Pakaian gadis ini sangat sederhana, hanya berbalut kaus putih polos dan celana jeans panjang. "Apa? Kau juga ingin menghinaku?" tanya Koa. "Tasmu." Gadis berambut pendek itu melempar tas Koa ke arahnya. Si remaja gelagapan menyambut tas ranselnya. Sementara gadis itu melenggang pergi begitu saja. "Hei!" panggil Koa cepat. Paman Indra selalu mengajarkan sopan santun padanya. Bagaimana ia bisa lupa berterima kasih. Gadis itu berbalik, wajah masamnya ditekuk, Koa segera lupa tujuan utamanya. Meskipun masuk kategori manis, tetapi roman kaku dan mata yang mendelik besar membuat Koa berpikir gadis ini terlihat seperti preman sekolah. "Apa?" tanyanya sinis. Lidah Koa kelu menghadapi intimidasi sangar si gadis. "Sekarang kau menjadi si bisu selain si pincang," ejek si gadis, berbalik badan dan melangkah pergi. "Namamu!" teriak Koa, remaja itu juga bingung kenapa malah pertanyaan yang ia lontarkan. "Inshira," jawab si gadis sambil melambaikan tangan tanpa berbalik. Itulah awal, Koa mengenal Inshira si gadis gila. Dia tak menyangka gadis ini akan menjadi titik balik dalam hidupnya. "Inshira," gumamnya. Nama itu terasa indah dalam lafal Koa. *** Koa bersyukur bukan Galina yang menjemputnya kala itu. Ibunya mengirim supir karena kesibukannya menemani ayah. Ia berjalan tertunduk melewati para pelayan. Tatapan penasaran menghunjam mengiringi langkah Koa, remaja itu merasa gamang. Rasa sakit perlahan menyebar menjadi tak tertahankan, bukan. Bukan fisiknya, tetapi betapa kosongnya rumah ini. Tak ada tangan hangat yang menyentuh dan memeluknya, atau sekadar mengatakan semua akan baik-baik saja. Dia ... sendirian di istana ini. Sialnya lagi, Koa harus bertemu Winola dan Yumna di pertengahan tangga lingkar. Koa berusaha mengabaikan kehadiran kedua kakaknya, hanya mengangguk sopan sebagai sapaan. Winola mendengkus jijik. Yumna memilih memalingkan wajah. Itu lebih baik, pikir Koa. Daripada menerima penghinaan lagi. Koa tak tahu apa kali ini dia sanggup menahan amarah. Koa sadar sesuatu di dalam dirinya mulai retak perlahan-lahan. Menjalar seperti racun dan mencemari kepribadiannya. Dia, bukanlah Koa yang dulu. Sesampainya di kamar, Koa melangkah ke kamar mandi. Ia Membuka keran di bathtub, memenuhi bak dengan air dingin. Koa meringis saat melepas helai pakaian di tubuh. Remaja itu berbaring, menenggelamkan kepalanya ke bawah air. Mata Koa terbuka, dunia terdistorsi oleh gerakan air. Bergelombang. Anehnya, Koa merasa tentram. Hingga dia tak sanggup menahan lagi, kepalanya baru tersembul ke atas bersama batuk hebat dari protes paru-parunya. Koa menyesal, kenapa ... dia masih bernapas saat ini? Sesuatu yang panas turun menghampiri pipinya. Membuat napasnya tercekat. Koa kembali memasukkan kepala ke dalam air dan berteriak tanpa suara. Gelembung udara berebutan keluar, membawa serpihan kemarahan di hati Koa. Dia benci hidupnya. Berulang kali Koa mengulang perbuatan itu sampai seluruh tenaganya habis. Rasa sakit di tubuh menyadarkan Koa bahwa dia masih bagian dari dunia ini, mengaburkan nyeri di hati, pikiran dan jiwanya. "Tuan Muda," panggilan lembut dari pelayan di luar kamar mandi membuat Koa fokus. "Ya?" "Seorang pria bernama Indra menunggu Anda di pintu depan." Jantung Koa seketika bertalu kuat. Ia menyambar jubah mandi terburu-buru. Lalu tersadar saat melewati kaca di wastafel. Bagaimana ia bisa memperlihatkan wajah babak belur ini pada pamannya? Koa memejamkan mata. Ia memang marah dengan Paman Indra, tetapi kerinduan teramat sangat mengikis rasa itu, dan kini ... Koa tak bisa melihat lelaki pendiam itu. "Bilang pada Paman Indra aku sedang keluar." "Baik, Tuan Muda." Suara langkah kaki berjalan menjauhi kamar mandi. Koa berjalan cepat, membuka pintu kamar mandi dengan sentakan kuat. Lalu melangkah ke arah balkon kamarnya. Ia berjongkok, mencengkeram erat pada pagar balkon. Tatapannya jatuh ke arah pria besar yang menundukkan kepala, di tangannya sebuah kantong keresek besar terlihat. Koa ingin melompat ke bawah saat itu juga. Memohon kepada Paman Indra agar membawanya pergi dari istana ini. Namun, semua hanya ada dalam angannya. Koa tak sanggup mengecewakan Edwin dan Galina. Tak lama, pelayan tersebut masuk ke bidang pandang Koa. Membawa kekecewaan dalam raut sedih Paman Indra. Lelaki itu mengangguk, lalu menyerahkan kantong keresek kepada pelayan. Ia membalikkan tubuh, menoleh beberapa kali untuk memastikan sesuatu, sebelum akhirnya menghela napas dan berjalan menjauh. "Paman," lirih Koa. Ingin sekali meneriakkan panggilan untuk menghentikan kepergian orang yang sangat Koa rindukan. "Maaf." Koa bergeming sampai sosok Paman Indra menghilang. Koa berjalan lunglai, menghempaskan tubuh lelahnya ke kasur. Matanya kembali terasa panas. Sialan, sialan. Jangan cengeng Koa. Koa berbalik tengkurap. Membungkam wajahnya ke dalam lapisan lembut bed cover. Saat itulah tangannya menyentuh sebuah benda padat. Koa mengangkat wajah, terkejut dan berkedip bingung menatap benda itu.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 23 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (107)
GAMINGF14ONE
novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran
novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran
06/04/2022
0bagus bgt suka
14/05/2025
0Kerenn bgtt ceritanya
05/05/2025
0Tingnan Lahat