logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Sekolah Baru

Koa menatap pantulan diri dalam cermin kamar mandi buram. Napas panas mengaburkan bentuk wajah berselaput kesedihan yang memberi tekanan paru-parunya untuk bekerja normal. Remaja itu bersiap menuju meja makan, medan perangnya setiap hari.
Seminggu berlalu di rumah ini tak mengubah kecemasan Koa dalam beradaptasi. Ayahnya yang super sibuk memilih menghindari argumentasi dengan kedua saudarinya. Kedua kakak menghindari Koa seolah ia penderita penyakit menular, dan pelayan yang berbisik saat tak menyadari kehadiran Koa lalu menyingkir terburu-buru ketika mereka melihatnya.
Ia memang terbiasa sendiri, terbiasa mandiri, tetapi tak pernah dijauhi oleh orang sekitarnya. Dalam satu titik Koa pernah berpikir, jika dia menghilang apa perang dingin di keluarga ini akan berakhir? Jika dia tak lahir apa ibu bisa mengangkat kepala tinggi di hadapan orang-orang? Jika dia tak ada apa Paman Indra bakal menikah dan memiliki keturunan sendiri?
Pertanyaan retorik itu berputar layaknya salju abadi di Gunung Jayawijaya. Membekukan hati Koa, membuat anak itu semakin sering menyakiti jemarinya sendiri.
Sehangat apa pun makanan di atas meja, selezat bagaimanapun. Tak membangkitkan selera sang remaja. Jika hati tenang, makan dengan lauk ala kadarnya pun terasa nikmat.
Koa mendorong mundur steak berwarna cokelat menggiurkan. Baru 1/4 kecil bagian dimakan oleh Koa.
Winola berdecih sambil mengejek sebagai tanggapan, "Orang kampung mana bisa makan beginian," lirihnya. Meski tak keras bisa didengar oleh Koa yang duduk tepat di seberangnya. Mungkin bahkan semua orang di meja makan bisa mendengar gadis itu, tetapi memilih mengabaikan penyebab konfrontasi selanjutnya.
Koa menghitung jumlah kacang polong di piringnya. Berharap bisa melarikan diri ke dalam kesibukan. Tak ada pembelaan bagi Koa. Mungkin mereka terlalu lelah bertengkar, membiarkan apa yang ingin diumpatkan anak kedua begitu saja. Koa sampai berpikir dia pantas mendapat perlakuan seperti ini. Siapa dia? Orang asing yang tiba-tiba menerobos dan mengacaukan hidup Winola.
Tatapannya begitu hampa, menembus meja makan dan berlabuh entah ke mana. Sampai-sampai panggilan keras dari Edwin tak mencapai rungu remaja itu.
"Koa!" Galina mengguncang lengan putranya, barulah mata sang remaja kembali fokus. Menatap linglung ke arah ibunya.
"Hah?"
"Apa yang kau pikirkan, Nak?" Galina meremas cemas jemari kurus Koa.
"Ah, tidak. Maaf," ucap Koa gugup.
Edwin menangkupkan jemari untuk menopang dagu di atas meja. "Ayah punya kabar baik untukmu."
Winola sengaja membanting sendok, membuat seisi meja makan mengernyit ngilu. "Ah, maaf! Wah, kabar bahagia apa itu? Saking gugupnya sampai sendokku jatuh," sindirnya, mengingatkan Koa pada hari pertama ia datang.
Edwin memilih mengabaikan putrinya, kembali melayangkan atensi pada Koa. "Administrasi sekolah sudah selesai diurus, besok kau akan bersekolah di SMA Cahaya Harapan, kedua kakakmu juga sekolah di sana."
"Wah, luar biasa. Bukan hanya di rumah, si kurus mulai menjelajah ke sekolahku juga. Ayah sungguh bijak." Winola menggertakkan gigi.
"A-aku bisa sekolah di sekolah biasa saja, Ayah."
"Ini demi kebaikan bersama." Galina memotong ucapan Koa.
Edwin bermaksud mengakrabkan ketiga anaknya. Menaruh keduanya di sekolah yang sama bakal membuat Koa sering berinteraksi dengan Winola. Siapa tahu dengan begitu si putri pemberontak itu akan menerima Koa sebagai bagian keluarga. Menaklukkan arogansi Winola adalah prioritas. Sedangkan Yumna, gadis itu lebih mudah ditangani.
Satu hal yang mereka gagal pahami. Yumnalah sang pemegang kendali. Sikap antipatinya memancing permusuhan. Membuat Winola bereaksi keras, ia mengira sang kakak tak sanggup menyuarakan pemberontakan. Jika Yumna menerima Koa, otomatis perlawanan Winola akan padam.
Koa melihat semua itu, tetapi tak bisa memberitahu siapa pun.
Yumna seperti biasa makan dengan kalem, jarang mengeluarkan pendapat. Jika ia tak suka sesuatu, cengkeraman pada alat makan semakin mengerat. Koa sadar mereka memiliki kemiripan dalam bertindak.
"Koa, ayah sudah menyediakan tutor untukmu mengejar ketinggalan selama ini. Belajarlah yang rajin, hm?"
Koa menunduk semakin dalam, bagaimana ia bisa menolak intensi dari ayahnya. Koa mengangguk pelan, menghela napas berat. Medan perang kedua, sekolah.
***
Bangunan SMA Cahaya Harapan jauh lebih megah dari yang Koa duga. Tak terlihat seperti SMA biasa. Gedung-gedung bertingkat panjang berjejer dalam posisi segiempat, mengungkung halaman olahraga di bagian tengah. Jika tak ada Galina yang menuntun Koa kala itu, mungkin dia sudah tersesat entah ke mana.
Kepala berambut multiwarna wara-wiri melintasi koridor yang Koa tuju. Si remaja menatap mereka dengan raut bingung, di sekolahnya dulu pastilah murid-murid itu akan mendapat hukuman berat. Pakaian mereka bebas, tak ada seragam yang mensejajarkan mereka. Setiap orang tampil sesuai seleranya.
Galina tersenyum geli melihat tingkah Koa. "Di sini menggunakan sistem pelajaran seperti di luar negeri. Tidak ada seragam, tidak ada aturan tentang penampilan. Rata-rata yang bersekolah di sini anak artis atau anak konglomerat."
"Ah, begitu," jawab Koa gugup.
Sekarang, bagaimana orang udik sepertinya bisa bertahan hidup. Koa mengeratkan cengkeraman pada ranselnya.
"Ibu sudah memberitahu wali kelasmu, mereka akan membantumu mengejar ketertinggalan, jangan khawatir. Kau bisa bertanya apa pun."
Lagi-lagi Koa mengangguk spontan. Kecemasan membuat ia tak fokus. Mereka akhirnya tiba di ruang kelas Koa. Galina berbicara sejenak dengan wali kelasnya–wanita dengan senyum berkawat gigi–sebelum ia pergi meninggalkan Koa dan dunia barunya.
"Anak-anak, perhatian!" Wali kelas Koa yang bernama Edna bertepuk tangan mencari perhatian muridnya.
"Ini teman baru kalian. Koa silakan memperkenalkan diri."
Koa melangkah masuk, menghadap para murid. Tatapan menusuk tertuju padanya, senyum cemoohan, tawa mengejek, bahkan gerak bibir yang bisa Koa baca dengan mudah. Si kurus. Keringat dingin mengucur deras membasahi pakaian mewah Koa. Ia berdeham sejenak.
"Na-namaku Koa ... Koa Tan."
"Itu saja Koa?"
Koa mengangguk canggung. "Baik, duduklah di barisan belakang."
Koa bersyukur Bu Edna tak mempersulitnya. Dia tak tahu mampu berdiri berapa lama di depan kelas. Sejak tinggal bersama Keluarga Tan, Koa merasa kepercayaan dirinya sirna perlahan-lahan.
"Hei kau, marga Tan." Seseorang mencolek lengan Koa saat dia telah duduk di barisan belakang.
"Ya?"
"Tak pernah kudengar Keluarga Tan punya anak lelaki sebelumnya, kau benar anak Edwin Tan?" Pemuda berambut pirang itu menatap Koa lamat-lamat.
"Ya," lirih Koa.
"Tampangmu tak seperti anak orang kaya. Kau benar adik Winola Tan?"
"Ya," jawab Koa cukup keras. Merasa risi dan tersinggung.
Pemuda itu balas nyengir, berdecak sambil mengangkat kedua alis tebalnya. "Akan kutanya dia nanti," ujarnya, beralih ke papan tulis.
Percakapan itu berakhir. Namun, ketakutan semakin mencengkeram kuat di hati Koa. Apakah Winola akan mengakui hubungan mereka? Koa tahu pasti jawabannya. Tidak.
Pelajaran dimulai, semua menggunakan alat canggih selain komputer. Penjelasan guru pun tak dimengerti Koa. Seberapa fokusnya Koa menyimak ia sudah tertinggal sangat jauh dari murid lain. Guru-guru menggunakan campuran bahasa Inggris ketika berinteraksi dengan murid, dan Koa tak memahami sepatah kata pun.
Lelah. Koa berharap bisa kembali ke sekolah lamanya. Setidaknya ia punya teman di sana dan guru-guru menggunakan bahasa Indonesia yang Koa pahami.
Dentang bel akhirnya memutus perjuangan Koa. Para murid berkicau riang. Bercengkrama satu sama lain. Hanya Koa sendiri, merapikan alat tulisnya cepat dan melangkah keluar kelas.
Koa memilih menuruni tangga daripada lift. Ia masih butuh waktu menaiki benda persegi itu. Terasa ngeri ketika terkungkung dalam kotak segiempat. Pikiran buruk selalu menaunginya, bagaimana jika benda itu mengalami malfungsi?
Tiba-tiba saja seseorang menarik kaos Koa saat ia mencapai lantai dasar. Koa berteriak kaget dan jatuh terjerembap.
"Hei, Winola Tan. Apa ini adik kecilmu?" Seoarang pemuda berambut merah menarik Koa berdiri dan mendorong ia ke depan. Tepat ke arah Winola.
Winola berdecih saat tangan Koa menyentuh sepatunya. Ia mengangkat kaki terburu-buru seolah bersentuhan dengan kuman. "Siapa? Jangan asal bicara, Keluarga Tan tak memiliki anak lelaki." Ia mendengkus jijik pada Koa dan melenggang pergi.
Koa menepuk telapak tangannya yang lecet oleh lantai. Berdiri gusar dan berjalan cepat. Sebisa mungkin dia ingin menghilang saat ini.
"Hei, tunggu dulu anak cungkring. Siapa bilang kau boleh pergi begitu saja." Pemuda itu menarik kaos Koa.
"Apa maumu?" Koa berusaha menghempaskan pemuda itu, tetapi lengan kekar sang pemuda tak sebanding dengan tenaga Koa.
"Mau apa kau sama anak kurus ini, Angkasa?" tanya teman si rambut merah sambil terkekeh.
Angkasa tertawa sinis. "Adikku bilang makhluk kurus ini duduk di sampingnya dan membuat matanya sakit. Sebenarnya aku ingin mengampuni si kurus ini jika dia adik Winola Tan, tapi sayangnya Winola tak mengakui makhluk udik ini."
Rahang Koa berkedut menahan penghinaan.
"Ezky, adikmu itu?"
Angkasa mengangguk antusias. "Ton, Tidakkah kau mendengar rumor tentang anak ini dari Winola?"
"Apa itu?" Tony menghampiri Angkasa yang masih mencengkeram baju Koa.
"Si Koala kurus ini, anak seorang pelakor."
Mereka bisa menghina dirinya, mereka bisa melukai tubuhnya, tetapi tidak dengan ibu.
Koa berteriak sambil melayangkan pukulan.

Komento sa Aklat (107)

  • avatar
    GAMINGF14ONE

    novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran

    06/04/2022

      0
  • avatar
    Icca

    bagus bgt suka

    14/05/2025

      0
  • avatar
    Ajeng Anisa

    Kerenn bgtt ceritanya

    05/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata