logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Dosakah Jika Jatuh Cinta Pada Orang Yang Salah?

Setiap orang pernah melakukan kesalahan, tidak ada yang terlepas dari dosa. Entah itu besar atau pun kecil, Koa tahu hal itu dan bisa memakluminya. Namun Galina, melakukan kesalahan besar terhadap anak-anak ayah.
"Jika bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta, ibu tidak akan pernah memilih ayahmu, Koa. Tidak akan. Tapi inilah yang terjadi, ibu malah jatuh cinta pada majikan ibu." Ada luka dalam suara Galina.
Tidak mudah membuka aibnya dan mempermalukan diri di hadapan putranya sendiri. Koa tahu seberapa besar Galina berjuang untuk tetap bercerita.
"Semua terjadi karena ketidaksengajaan. Kecelakaan. Jika bisa, ibu ingin mengulang waktu, tapi ibu tidak bisa." Galina menghela napas keras, tangannya menarik Koa ke dalam pelukan. "Dan melihatmu sekarang, ibu tidak ingin mengulang apa pun Koa. Kehadiranmu disebabkan sebuah kesalahan, tapi kau bukanlah kesalahan itu. Bukan. Kau adalah anugerah bagi ibu."
Koa tahu ibu berusaha membuatnya merasa lebih baik. Ia balas memeluk pinggang wanita itu.
"Semua terjadi hari itu." Galina menutup mata.
Ia masih ingat hari itu. Ketika Edwin Tan pulang dalam keadaan kacau. Alkohol menguar dari napas pria tampan itu saat ia memeluk Galina kuat.
Galina sadar, duka tengah menyelimuti Edwin kala mendengar istrinya menderita kanker ovarium dan jabang bayinya meninggal sebelum sempat berkembang. Pendarahan hebat membuat wanita yang dicintai Edwin memasuki fase koma.
Dalam kekacauan benaknya, Edwin mengira Galina adalah sang istri yang sedang tidur menemani kedua putrinya. Ia memeluk wanita itu penuh syukur. Istrinya baik-baik saja, semua hanya mimpi buruk, Edwin berusaha meyakinkan diri.
Awalnya Galina yang tersadar dari tidur membiarkan majikannya memeluk tubuhnya. Tidak, bukan hanya karena iba, jujur saja Galina memang menaruh hati sejak lama pada Edwin. Namun ia sadar diri, tidak pantas berlaku sebagai wanita perebut suami orang.
Lama kelamaan pelukan erat itu menjadi cumbuan panas. Yumna dan Winola terbangun akibat getaran ranjang. Galina mendorong Edwin sekuat tenaga. Anak-anak tidak tahu kondisi ayahnya sedang mabuk, untuk menjaga martabat sang majikan, Galina mengusir kedua anak itu kembali ke kamar mereka masing-masing.
Kedua putri Edwin menurut saja, tetapi Yumna sempat bergeming di pintu kamar sejenak. Menatap mata Galina dalam-dalam. Hingga sekarang, setiap kali mengingat kejadian malam itu, Galina selalu bergidik oleh tatapan anak itu.
Seperti dia tahu sesuatu yang tidak seharusnya terjadi akan terjadi. Ia pergi, menutup pintu kamar ibu dan ayahnya. Kedua putrinya memang tertidur di kamar utama karena rindu dengan sosok sang ibu.
Galina tahu dia memiliki kesempatan untuk pergi dengan anak-anak saat Edwin teralihkan oleh mereka, tetapi sialnya, pikiran Galina di masa itu teramat polos. Niat baiknya berakhir menjadi bumerang.
Apa yang tak boleh terjadi, terjadilah. Seberapa kuat pun Galina memberontak, tenaga pria itu meluluhlantakkan perlawanannya. Tubuhnya membeku, terkejut dan takut. Galina mengalami tonic immobility.
"Ibu tak bisa sepenuhnya menyalahkan ayahmu. Ini juga salah ibu. Jika ibu lebih tegas, jika ibu tak punya perasaan pada ayahmu, jika ibu tak bersimpati, jika ibu ...." Air mata mengalir membasahi wajah cantik Galina.
Koa membelai punggung Galina. "Apa ayah tahu ibu hamil?"
Galina mengurai pelukan mereka. Ia menggeleng lemah. Meski bertahun-tahun berlalu perasaan hina itu masih membekas jelas, membuat kemarahan merambat tak terbendung.
"Kakekmu tahu sebelum ibu bisa memberitahu ayahmu." Nada getir tersemat dalam untaian katanya.
"Dan ibu ... diusir dengan tidak terhormat dari rumah ini." Galina mengeratkan cengkeraman hingga buku jarinya memutih.
"Tidak seorang pun membela ibu kala itu. Pulang ke desa hanya menjadi cemoohan tetangga, mereka bilang ibu wanita murahan yang menggoda majikannya hingga hamil." Rahangnya berkedut, kelopak matanya berkedip konstan.
"Ibu tahu adalah kesalahan besar meninggalkanmu di sana. Ibu tak mencari pembelaan sama sekali." Ia menggeleng kuat. "Kemarahan, terhina, dan frustrasi membuat ibu mengambil tindakan ekstrim. Meninggalkanmu."
Mengingat tahun-tahun kesendiriannya Koa harusnya merasa sakit hati, tetapi penjabaran Galina membuatnya tak bisa membenci wanita ini.
"Semua begitu sulit saat itu Koa, sangat sulit, ibu sampai berpikir untuk mengakhiri hidup." Galina menangkupkan tangan ke wajahnya.
Mengakui kelemahan terbesarnya di hadapan putranya membuat dinding yang Galina bangun selama ini perlahan terburai. Ada kelegaan sekaligus ketakutan. Apa Koa bisa menerima segala kekurangannya?
Koa menarik kedua lengan Galina. Menghapus jejak air mata di pipi wanita itu. Tak ada kalimat penghiburan atau kata-kata manis, tetapi tindakan sederhana itu membuat air mata Galina semakin deras. Ia melihat pengampunan di mata putranya.
"Bagaimana Ibu bisa kembali bersama ayah?
"Setelah meninggalkanmu, ibu mulai bekerja di perusahaan lain yang ternyata adalah anak cabang milik ayahmu. Beberapa tahun bekerja di sana ayahmu akhirnya meninjau ke perusahaan tempat ibu bekerja, dari sanalah kami bertemu lagi."
Galina ingat wajah terkejut Edwin kala melihat dirinya. Mata mereka bertemu dalam diam seribu bahasa. Penyesalan tergurat mewarnai roman Edwin Tan. Galina tahu, pria ini tak bermaksud mengusirnya dulu. Ia hanya merasa bersalah sehingga tak memiliki kuasa untuk membela Galina.
"Ibu akhirnya tahu, istri ayahmu sudah meninggal. Lalu kami mulai menjalin hubungan."
"Ibu ...." Koa menggigit bibir, perlahan rasa sakit mulai menelusuri relung hatinya.
"Hm." Galina mengeratkan pelukan pada bahu Koa.
"Kenapa ... bertahun-tahun Ibu tak pernah datang mencariku?"
"Ibu takut, kau menolak ibu, Koa. Betapa bodohnya ibu."
"Jikalaupun aku menolak Ibu, bukankah Ibu setidaknya harus berusaha mendekatiku, kenapa baru sekarang?" Satu hal ini yang masih tak bisa diterima akal sehat Koa. Galina punya lima belas tahun waktu panjang untuk menemui Koa. Namun, tak sekali pun wanita ini menampakkan diri.
Detak jam mengalun dalam ruang sepi ini, menjalin tanya dalam hati Koa. Cukup lama Galina terdiam, cemas tergurat nyata di setiap embusan napas wanita itu.
"Karena ... ibu tak memiliki apa pun untuk membahagiakan dulu. Sampai ayahmu melamar ibu dan kami menikah, ibu memberitahunya tentang dirimu."
Ada banyak kesempatan Galina bisa memberitahu Edwin tentang Koa, tetapi ia ingin lelaki itu menikahinya karena cinta, bukan karena ikatan terpaksa oleh hubungan darahnya dengan Koa.
Koa mengangguk paham, rasa sakit itu mengendur bersama cakaran pada kutikulanya. Galina tersenyum, mengecup lembut dahi Koa. Dalam lintasan matanya Koa tak pernah tahu, ada maksud tersembunyi yang tak disampaikan Galina padanya.
Kenyataan lain yang disembunyikan Galina. Di rumah ini, di Keluarga Tan. Koa adalah anak lelaki satu-satunya. Keturunan langsung dari Edwin Tan. Dengan kata lain, dia adalah pewaris kekayaan berikutnya. Bukan Yumna, apalagi Winola, dan Galina adalah ibu kandung dari pewaris tersebut.
Senyum terkembang bersama kecupan mesranya. Sakit hati ini akan dia balas pada Keluarga Tan.

Komento sa Aklat (107)

  • avatar
    GAMINGF14ONE

    novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran

    06/04/2022

      0
  • avatar
    Icca

    bagus bgt suka

    14/05/2025

      0
  • avatar
    Ajeng Anisa

    Kerenn bgtt ceritanya

    05/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata