logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Anggota Keluarga

Jika kita bisa memilih akan dilahirkan siapa dan dari golongan mana? Semua orang pasti memilih keluarga kaya atau dari keturunan rupawan, tetapi tidak dengan Koa.
Pikiran sang remaja sangat sederhana. Jika dia bisa memilih, Koa ingin Paman Indralah yang menjadi ayahnya. Ia tak peduli lelaki itu miskin dan kotor, irit kata serta kaku. Hubungan mereka dibangun sejak dini. Waktu kebersamaan yang tak bisa ditukar dengan apa pun.
Sosok ayah begitu berbeda dalam ekspektasi Koa. Gambaran Indra mengukir kuat di benak remaja itu. Ia tak menyangka pria berpakaian serbaputih, rambut klimis, hidung mancung bak perosotan anak TK, beserta rahang lancipnya yang indah adalah ayah kandungnya.
Pria itu menunggu kedatangan Koa. Berdiri tegap, terlihat menawan lagi berwibawa. Kedua lengannya terkembang lebar, menanti langkah gugup Koa. Tak sabar menarik remaja itu ke dalam dekapan hangat. Berusaha meyakinkan diri, anak ini adalah bagian dari darah dagingnya.
Koa mencari kepastian di wajah Galina. Apakah dia ayah? lewat tatapan matanya. Galina mengangguk bersama senyum tersirat kesedihan.
"Ini Koa, putramu." Galina berbisik ke telinga Edwin Tan.
"Koa."
Suara pria itu lembut, memanggil namanya dengan nada rindu. Koa ditarik ke dalam pelukan kuat. Lengan kokoh ayahnya mengusap punggung Koa berulang kali.
Mendapat perlakuan sehangat ini membuat Koa tak bisa membendung aliran air mata. Bau ayah memenuhi penghidunya. Ia tak pernah bermimpi dipeluk seperti ini. Tidak sekali pun. Paman Indra, pria pendiam itu selalu memperlakukan Koa teramat disiplin dan kaku.
Edwin mengurai pelukan, menatap wajah Koa lamat-lamat. Jemari hangatnya menelusuri lekuk wajah sang remaja.
"Koa memiliki hidungmu dan mataku." Galina meremas mesra bahu suaminya.
"Ya, putraku." Ia kembali memeluk Koa erat-erat. Seolah takut sang remaja akan menghilang dari pandangannya.
"Maafkan ayah tak menjemputmu lebih cepat." Suara Edwin bergetar oleh emosi tertahan. "Betapa kurusnya tubuhmu, ayah berjanji akan menebus semua waktu kita yang hilang."
Koa tak tahu harus menjawab apa, guncangan emosi memakan habis kemampuan berkomunikasinya. Ia mengangkat kedua lengan, balas memeluk erat pria tampan itu.
"Ayah," lirih Koa.
Edwin Tan melepas pelukan, tertawa bersama air mata yang tak sanggup ditahan lagi. Putranya memanggilnya ayah, kebahagian membuncah melingkupi Edwin sampai-sampai ia tak bisa berkata-kata.
"Bisa kita makan sekarang?" Suara seorang gadis memecah suasana haru biru.
Koa mengangkat wajah, tatapannya melewati Galina dan jatuh pada dua gadis muda di meja makan.
"Oh, maafkan ayah sampai lupa memperkenalkan kalian." Edwin Tan merangkul bahu Koa, membawanya untuk duduk di meja makan marmer.
"Koa, ini Yumna kakak pertamamu." Edwin menunjuk gadis muda di seberang meja Koa. Yumna mengenakan gaun hitam panjang berkerah tinggi. Riasannya minimalis. Berwajah datar tanpa ekspresi, mata sipit, dan rambut lurus sepinggang yang diikat gaya ponytail. Tak ada senyum pada bibir tipisnya. Ia mengangguk sopan sebagai salam.
"Dan ini Winola, kakak keduamu." Edwin mengenalkan gadis di samping Yumna. Gadis inilah yang berbicara tadi. Ia memberengut marah. Menampilkan sikap permusuhan terang-terangan.
Berbeda dengan Yumna yang terlihat elegan dan lembut meski acuh tak acuh. Winola terkesan liar bagi Koa. Rambutnya dicat warna biru berpadu highlight silver. Eyeliner hitam tebal menciptakan riasan mata tajam bagi gadis itu. Bibir tipisnya digambar bervolume, tak sesuai dengan bentuk wajah mungil Winola.
"Jadi, kapan kita bisa makan?" tanyanya lagi.
"Win, jaga sikap kamu. Koa anggota keluarga kita sekarang, adikmu." Edwin menatap tajam pada putri keduanya.
"Kalian bisa menangis di kamar, berpelukan mesra setelah aku dan kakak selesai makan." Gadis itu berdecih, balas menatap ayahnya sengit.
"Winola Tan!" teriak Edwin gusar.
Koa mengernyit takut, ia tak suka mendengar teriakan. Paman Indra tak pernah meninggikan suara.
"Sudah, sudah ... kita makan dulu," lerai Galina. Ia mengedip pada suaminya, semua orang butuh waktu menerima kehadiran Koa.
Edwin mengembus napas keras. Mengangkat tangan agar koki mulai menyiapkan appetizer. Pelayan segera datang membawakan salad.
Setelah suasana tegang, Koa merasa sangat tertekan. Kakak keduanya tak menyukai kehadirannya di rumah ini. Koa merasa ia selalu ditolak di manapun. Kedua tangan remaja itu bertaut, menggenggam cemas sembari kukunya menggesek kuat pada kutikula.
Galina menepuk bahu Koa, menyadarkan sang remaja dari lamunan muram. Ibunya mendorong piring salad Koa. "Makan dulu."
Jemari Koa gemetar saat ia mengangkat sendok, suara dentingan terdengar nyaring ketika sendoknya jatuh karena gugupnya Koa.
Winola tertawa mengejek. "Hati-hati, apakah makanannya sangat enak sampai si kurus ini gemetaran."
"Winola," desis Edwin, memperingati putrinya.
"Atau di desa tidak ada yang namanya salad?" ejeknya, pandangannya merendahkan Koa.
Koa menunduk dalam, menutup mata, merasa sangat malu.
"Cukup! Jika kau tak bisa makan dengan tenang dan menutup mulutmu, sebaiknya kau ...."
Winola tertawa keras, memutus ucapan sang ayah. "Betapa bahagianya keluarga ini, lihat! Anak hilang sudah ditemukan dan diperlakukan seperti pangeran. Apa Ayah yakin si kurus ini benar-benar anak Ayah, atau ...." Winola mengerling kurang ajar pada Galina.
"Cukup!" Edwin menggebrak meja, menyebabkan gelasnya terjatuh dan membasahi meja makan.
"Makan di kamarmu!" Setiap silabel penuh penekanan, membuat Winola menggigit bibirnya kesal.
Gadis itu berdiri dengan kasar. Hampir membuat kursinya jatuh ke belakang. Ia berdecih dan mendengkus, berjalan pergi sambil mengentakkan kaki.
"Gadis ini!" Edwin memejamkan mata, berusaha memadamkan amarah.
Galina berdiri, memijat bahu Edwin, menenangkan suaminya. "Mereka butuh waktu."
Edwin mendesah pasrah, mengangguk perlahan. "Aku tahu."
Koa mengangkat wajah takut-takut. Meneliti reaksi Yumna. Gadis itu mengerling sejenak. Masih tanpa senyum. Ia meraih serbet, mengusap bibir. Lalu mendorong kursinya mundur. Ia berdiri, "Aku selesai," ucapnya pelan. Gadis elegan itu berlalu pergi, makanannya hanya tersentuh sedikit.
Edwin kehilangan kata-kata melihatnya tabiat kedua putrinya. Winola masih remaja, Edwin memahami sifat pemberontak gadis itu, tetapi Yumna sudah dewasa. Ia berharap putri sulungnya dapat berbesar hati menerima kehadiran Koa. Namun tampaknya, semua tak sejalan dengan keinginan Edwin.
Makan malam keluarga, pertemuan pertama, dan penyambutan Koa yang harusnya berakhir hangat malah menjadi momok baru. Tak ada lagi yang berselera. Makanan berlalu hampir tak tersentuh.
Koa kembali ke kamar dengan alasan lelah saat ayahnya ingin mengobrol lebih lanjut. Ia terlalu takut membuka diri. Jika ayah tahu lebih banyak tentangnya, apa dia juga akan bersikap kasar seperti Winola?
"Kenapa kakak membenciku?" tanya Koa. Matanya menjelajahi wajah lelah Galina sewaktu wanita itu menutup pintu kamarnya.
Galina tersenyum sedih, mendekati Koa yang duduk di tempat tidur.
"Semua karena ibu."
"Ibu?"
"Dulu, ibu adalah pengasuh Winola dan Yumna."
Koa meremas seprai oleh kecemasan yang membengkak dalam hatinya.
Galina meremas jemari Koa. "Ibu ... jatuh cinta pada ayahmu ketika ia masih berstatus suami orang." Betapa beratnya memberitahu hal ini, membuat buah hatinya menanggung dosa yang ia perbuat.
Galina menghela napas dan mulai bercerita.

Komento sa Aklat (107)

  • avatar
    GAMINGF14ONE

    novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran

    06/04/2022

      0
  • avatar
    Icca

    bagus bgt suka

    14/05/2025

      0
  • avatar
    Ajeng Anisa

    Kerenn bgtt ceritanya

    05/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata