Bangunan itu kelewat megah untuk disebut rumah. Koa tercengang, hampir-hampir tak kuasa menutup mulutnya. Di tempat kakinya berpijak, Koa bisa melihat dua lantai ke atas. Namun, ketika ia menunduk, dua lantai lagi menurun di bawah. Ini seperti teater bundar atau Colloseum. Mansion ini dibangun ke bawah, bukan hanya ke atas. Pintu depannya berada di lantai tiga. Galina menggandeng lengan Koa sembari tersenyum geli, membawa anaknya mengelilingi pelataran bundar hingga mencapai pintu depan. Koa celangak-celinguk, terpana. Ia bisa melihat air mancur setinggi tujuh meter dari pintu depan. Air mancur yang dibangun di lantai bawah. Tangan sang remaja kini mulai berkeringat dingin, gugup. Masih merasa seperti mimpi. Jika dibandingkan dengan rumah Paman Indra di desa, maka rumahnya dulu setara pos satpam di tempat ini. Semua berukuran besar. Jendela, pintu, pagar, air mancur, bahkan paving block besar disusun membentuk pola tertentu. Segalanya, melebihi kata indah dalam kamus Koa. Remaja itu merasa gamang, jika saja Galina tak memegangnya erat, mungkin ia akan jatuh ke lantai akibat terkesima. Galina menekan tombol pada pintu, lalu pintu kayu raksasa itu terbuka. Sejumlah pelayan berpakaian seragam menyambut Galina sembari membungkuk hormat. "Tuan sudah menunggu Nyonya di meja makan." Salah seorang pelayan memberitahu Galina. Galina mengangguk sopan. "Bawa tuan muda ke kamarnya." Ia lalu berpaling pada Koa. "Koa mandi dulu, nanti kita ketemu ayah ya." Koa mengangguk gugup. "Silakan ikut saya Tuan Muda." Pelayan wanita itu berjalan mendahului Koa menaiki anak tangga melingkar di dua sisi. Lantai marmer berkilat ditimpa cahaya jingga lampu gantung besar dari kaca. Hampir semua bagian ruangan di dekorasi dengan nuansa warna emas dan putih. Klasik dan terkesan elegan. Koa seketika merasa sangat rendah diri, apalagi sepatu kotornya meninggalkan jejak kekuningan pada lantai putih. Mereka tiba di lantai empat. Pelayan membukakan pintu besar sebuah ruangan. " Ini kamar Tuan Muda." Koa melangkah masuk ragu-ragu. Kamarnya berukuran sangat besar, sebuah spring bed ukuran jumbo mendominasi ruangan dengan seprai warna emas kecokelatan. Dinding dihiasi wallpaper motif sulur emas. Sebuah lampu gantung bentuk lilin tepat berada di atas tempat tidur dan tirai tebal indah menutupi jendela besar. "Tuan, sepatunya silakan dilepas." Pelayan itu meletakkan sepasang selop di dekat kaki Koa. Koa melepas sepatu usangnya dan melesakkan kaki ke dalam selop. Ah, rasanya sangat nyaman. Halus dan hangat. "Pakaian akan saya siapkan, silakan Tuan Muda mandi dahulu." Pelayan itu mendekati Koa dan hendak membuka kancing kemeja sekolahnya. Koa terkejut, menepis lengan sang pelayan. "Ma-mau apa kau?" "Membantu Tuan Muda mandi," jawabnya kaku. Kepala pelayan itu menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata Koa. "A-aku bisa sendiri." "Baik, apa Tuan Muda mau menggunakan shower atau berendam di bathtub?" Koa tak mengerti apa yang disebutkan si pelayan. Yang ia pahami hanya kata berendam saja. "Berendam saja," lirihnya. "Baik, saya akan menyiapkan air hangat. Tuan Muda ingin memakai bath bom wangi apa? Ada calendula yang tanpa pewarna, lavender, chammomile, peppermint--" "Te-terserah saja," potong Koa cepat. Apa orang kaya mandinya seribet ini? Ia bahkan tak mengerti apa itu bath bom. Pelayan mengangguk patuh, membawa Koa ke kamar mandi di dalam kamarnya setelah menyiapkan segala sesuatu. Apa ini benar-benar kamar mandi? Sebuah bak besar melintang di sisi kanan, menyatu dengan dinding berjendela yang lagi-lagi dihias tirai indah berwarna putih-emas. Juga sebuah bilik kaca di sisi kiri. Bodohnya Koa berpikir itu adalah tempat untuk buang hajat. "Airnya berkilau?" tanya Koa heran, mengintip ke dalam bathtub. "Ini karena bath bom Tuan Muda, jika ada yang diperlukan panggil saja saya, nama saya Emi Tuan Muda." Pelayan wanita itu membungkuk satu kali kemudian berlalu dari kamar mandi. Koa akhirnya merasa rileks ketika sendiri. Ia melepas selop dan menyusunnya di dekat pintu. Kebiasaan yang diajarkan Paman Indra untuk berlaku rapi dalam setiap tindakannya. Lantai marmer terasa dingin di bawah telapak kaki Koa. Ia membuka pintu kaca, penasaran apa isi di dalam bilik kecil itu. Si remaja kurus melihat pancuran besi berbentuk lempengan dengan sederet tombol aneh menempel di dinding. Ia mengecek tulisan di tombol dan menemukan semua tertulis dalam bahasa asing. Sempurna! Orang udik sepertinya bakal kewalahan tinggal di rumah serbacanggih ini. Koa mengembus napas keras, memutuskan ia harus melupakan semua hal pelik untuk saat ini. Kekhawatiran tidak akan menambah sehasta dari jalannya. Remaja itu membenamkan tubuh dalam bak besar beraroma enak. Bau benda bernama bath bom sungguh menenangkan jiwa dan raga. Rasa perih di jari membuat Koa mengernyit saat jemarinya menyentuh air. Ia menatap sobekan kulit hilang hingga mencapai kutikula. Bagaimana ia bisa melakukan hal itu? Remaja itu menatap luka tersebut cukup bingung. Koa ingat rasa sakit di dadanya, begitu nyeri sampai-sampai ia tak sanggup bernapas normal, tetapi untuk luka di jarinya, ia tak tahu bagaimana bisa terjadi. Yang Koa ingat, ia ingin rasa sakit di hatinya padam. Itu saja. Betapapun Koa berpikir keras, ia tak menemukan jawaban. ini pertama kali ia menyakiti tubuh sendiri dan lupa bagaimana rasa sakitnya sewaktu terluka. Lucu, bukan? Rasa sakit hanya datang sekarang. Tak ada penyesalan, tak ada duka, Koa merasa sesuatu mulai tak beres dalam otaknya. *** Acara mandi selesai dan Koa lagi-lagi berkutat dengan sesuatu yang disebut bodycare atau skincare. Belum pernah seumur hidupnya ia tampil sewangi, selembut dan serapi ini. Pakaiannya terbuat dari bahan dingin dan lembut dengan tulisan besar Dior di bagian depan kaus. Warnanya hitam, berlengan panjang berpadu celana kain warna abu-abu. Koa sendiri sampai tak mengenali sosoknya saat mematut diri di cermin. Pakaian memang bisa membuat seseorang tampak berkelas. Andai saja Koa tahu harga sebuah kaus tersebut setara dengan pendapatan Paman Indra selama setengah tahun, ia pasti bakal pingsan. Semprotan minyak wangi dari pelayan wanita membuat Koa terbatuk kuat. Rambutnya juga disisir rapi ke belakang. Tampak klimis. "Mari Tuan Muda. Tuan besar menunggumu di ruang makan." Gugup. Koa meneguk ludah berulang kali. Penampilannya boleh berubah, tetapi ia masih Koa yang sama. Remaja yang terbiasa hidup miskin dan kesepian. Sekarang, ia akan bertemu dengan ayah. Apa pria tersebut akan kecewa melihat betapa buruknya bentuk tubuh Koa? Kecewa betapa udiknya Koa? Atau yang paling Koa takutkan, pria itu berubah pikiran dan membuangnya kembali ke desa, di mana ia tak punya tempat untuk kembali. Koa melangkah menuruni tangga dengan jantung berdegup kencang.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 22 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (107)
GAMINGF14ONE
novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran
novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran
06/04/2022
0bagus bgt suka
14/05/2025
0Kerenn bgtt ceritanya
05/05/2025
0Tingnan Lahat