logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Berpisah

Saat kemarahan mengambil alih kendali tubuh, kadang manusia menjadi ego dan buta terhadap segala sesuatu. Begitu juga yang terjadi dengan Koa.
Tangisan pilunya mengiris kalbu Paman Indra, sudah satu jam remaja itu belum bersedia keluar dari kungkungan kemarahan. Pria kaku itu mengusap wajah, duduk tepat di depan kamar mandi, hanya menunggu tanpa suara.
Jika ia tak membiarkan Koa pergi, apakah masa depan cemerlang akan menyertai anak itu? Tidak! Ia tak punya apa-apa yang bisa diberikan untuk menjamin masa depan Koa. Meski sakit harus berpisah, ini jalan terbaik bagi Koa.
Sebaik-baiknya Indra berlaku sebagai ayah, bukankah orang tua kandung tetap lebih baik. Ada batasan yang tak bisa diruntuhkan, Indra tahu itu. Jalan terbaik adalah menyerahkan Koa pada ibunya, dan ia tahu, Koa tidak akan pergi bersama Galina jika dia tak menyakiti hati remaja itu.
Rumah kecil beratap seng berkarat ini tak layak bagi Koa, pakaian kumal menyembunyikan ketampanan anak itu, dan makanan sederhana menguruskan tubuhnya.
Semakin Indra berpikir, semakin mantap hatinya, ia tak ingin keponakan tersayang memiliki nasib serupa dirinya. Koa bisa mendapatkan hidup lebih layak.
Terlepas dari segala kekurangan Galina, Indra memaklumi hal tersebut. Hamil di luar nikah dengan pria yang masih berstatus suami orang membuat Galina malu, terlebih takut dikucilkan dalam norma masyarakat. Tinggal di desa berbeda dengan kota. Di sini, berita kecil saja bisa menyebar cepat, tetangga tidak akan ragu membicarakanmu di depan wajah.
Galina masih muda, cantik, ambisius, seorang anak sebagai tanggung jawab bakal memupus mimpinya. Ia meninggalkan Koa ke dalam asuhan sang ibu. Namun ketika Koa berumur sembilan tahun, neneknya meninggal, sehingga Indra yang menggantikan perannya sebagai orang tua.
Sekarang, adiknya sudah mendapatkan pria itu kembali. Ayah Koa, mereka bisa membina keluarga utuh. Itu sudah cukup, itu yang dibutuhkan Koa saat ini, bukan dirinya yang miskin.
Indra berdiri saat deru mesin mobil terdengar berhenti di depan rumah. Ia tahu Galina akan datang menjemput Koa. Setiap langkah yang dibawa lelaki tegap itu terasa menyesakkan dada. Rumah ini akan kehilangan tawa, bahkan sebelum remaja itu pergi Indra merasa kesepian mulai membungkusnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Indra merasa sangat lelah. Dia bekerja setengah hari, tapi kelelahan terasa dua kali lipat dari hari biasa. Ia menarik napas dalam sebelum membuka pintu dan mencoba tersenyum.
"Kak Indra, apa Koa di dalam?" Galina menerobos masuk tanpa dipersilakan.
"Di kamar mandi," jawab Indra. Menemani langkah Galina menuju ke sana.
"Dia menangis? Apa yang terjadi?" Galina menatap sang kakak cemas. "Koa tak ingin ikut denganku?"
Indra menggeleng lemah. "Tinggallah malam ini, tunggu sampai Koa tenang."
Galina tersenyum gugup, matanya menerawang seisi ruangan. Tua, kumuh, dan bau. Bagaimana dia bisa tidur di tempat seperti ini. Galina tak ingin mengingat masa kecilnya yang suram, ia sudah punya semua yang diinginkan sejauh ini. Ia tak mau kembali ke kubangan kemiskinan, meskipun hanya sejenak.
"Aku sudah berjanji akan membawanya pulang hari ini," bohongnya.
Indra mengangguk paham, ia berjalan ke kamar dan menenteng tas berisi pakaian Koa, bermaksud menyerahkannya pada Galina.
"Tidak perlu! Kami sudah menyiapkan semua kebutuhan Koa, dia tak perlu membawa apa pun," tolak Galina.
Ah, ya! Bagaimana ia bisa begitu bodoh, mana mungkin Koa menggenakan baju jelek setelah pindah ke kota. Indra kembali mengangguk, meletakkan tas Koa ke kamar.
"Bisa kau panggil dia keluar? Kami harus kembali sebelum malam tiba, perjalanan memakan waktu tiga jam." Galina tak ingin berlama-lama di tempat seperti ini, dia bahkan tak bisa menghenyakkan bokong. Gaun seharga jutaan ini bakal bernoda.
Indra mengangguk patuh, kepalan besar tangan berbulunya mengetuk pintu kamar mandi. "Koa, ibumu datang! Kau harus pergi!"
Koa menggigiti kuku, menyobek kulit di bagian tepi demi menekan rasa sakit menyesak di dada. Ia bahkan tak sadar saat darah merembes melewati sela jari, tetes merah mengotori baju dan bibirnya.
Gerakannya lamban, membuka pintu kamar mandi sembari melangkah keluar. Ia menunduk, berjalan lurus menuju pintu depan tanpa menatap kehadiran ibunya.
Tak ada pelukan perpisahan, tak ada ucapan selamat jalan. Indra menatap kepergian Koa dengan nyeri di dada. Ini yang terbaik. Berulang kali kalimat itu bergaung dalam benaknya.
Mobil biru Porsche Macan melaju meninggalkan desa, sosok Indra berdiri diam di depan rumah tuanya. Bergeming. Menatap lurus ke titik mobil itu menghilang.
Galina mengusap jejak darah di bibir Koa dengan cemas. "Kau berdarah Koa, di mana?"
Koa mengangkat pandangan, menjelajahi wajah lembut ibunya, ia memiringkan kepala, berkedip pelan berulang kali. Ia telah kalah, ia harus berdamai dengan kemarahannya. Koa tak punya tempat lain.
"Koa, kau pasti ingin tahu semuanya, ibu akan memberitahumu, tanyakanlah apa pun, ibu akan menjawabnya." Galina mengusap mata bengkak Koa dengan jemari lentiknya.
Koa mendesah, membuang wajah sehingga wanita itu tak lagi menyentuhnya, ia butuh waktu, semua begitu mendadak. Dalam satu hari kehidupan sederhananya jungkir-balik.
"Ke mana kita?" tanya Koa, menatap ke luar kaca mobil yang tengah melaju di jalanan. Pohon-pohon rindang perlahan menghilang terganti lampu-lampu jalan dan semakin banyak tiang-tiang listrik bersama kabel-kabel semerawutnya.
"Rumah, ayah sudah menunggumu, Koa." Galina memaksakan senyum.
"Ayahku?" Silabel ini terasa aneh bagi Koa.
Galina mengangguk kuat. "Ayah kandungmu."
Koa berdecih kesal, ayah yang tak pernah mencarinya sekali pun apa pantas disebut ayah.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Koa. Ayahmu tidak pernah tahu kau lahir ke dunia ini. Semua adalah kesalahan ibu."
Koa melihat raut wajah Galina, kedua bola mata cokelat itu tampak tulus. "Ibu akan memberitahumu pelan-pelan, ibu tahu kau perlu menyesuaikan diri. Maukah kau memaafkan ibu, Koa? Bisakah kita memulai dari awal lagi." Setetes air mata luruh, membasahi wajah cantik ibunya.
Hati Koa berdenyut nyeri. Seberapa bencinya pun pada wanita ini, entah kenapa kemarahan di hati Koa luruh bersama air mata Galina. Ia mengakui betapa merindukan sosok sang ibu di dalam hidupnya. Di setiap mimpi, di setiap angan, jauh di dasar sanubari Koa selalu berharap wanita ini datang padanya.
"Ibu," panggil Koa lirih.
Galina terkejut sekaligus bahagia, lebih ke tak percaya. "Kau memanggilku ibu?"
"Ibu," ulang Koa, parau dan canggung.
"Kau mau memaafkan ibu, Koa?"
Koa mengangguk pelan.
Galina tersedak tangis, beban di hatinya berkurang drastis. Ia segera menarik Koa ke dalam pelukan erat. Keduanya menangis diam-diam. Koa merasa sangat hangat.
Inikah rasanya dipeluk seorang ibu.
Ibuku.
Mereka akhirnya tiba di sebuah kompleks. Gerbang besar berwarna emas berpadu hitam mengukir jejak bayangan senja di jalanan lenggang. Sang sopir turun, menunjukkan name tag pada sebuah layar kecil di sisi kanan tiang pagar.
Setelah bunyi bip keras, pagar otomatis itu bergeser terbuka. Sang supir kembali ke mobil dan memasuki kawasan hunian asri penuh tanaman hias. Topiari beragam rupa mengisi kedua sisi jalan. Indah. Koa tak bisa berpaling sama sekali dari jendela yang terbuka.
Porsche Macan biru berhenti. Sang supir berlari untuk membukakan pintu bagi mereka. Galina turun terlebih dahulu, disusul oleh Koa.
"Koa, ini rumah kita. Rumahmu mulai sekarang."
Koa mengedip linglung, tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Apa aku sedang bermimpi?
Ia menelan ludah gugup. Hidupnya bakal berubah 180° mulai dari sekarang.

Komento sa Aklat (107)

  • avatar
    GAMINGF14ONE

    novel nya sangat bagus dan dpt di bayangkan dlm pikiran

    06/04/2022

      0
  • avatar
    Icca

    bagus bgt suka

    14/05/2025

      0
  • avatar
    Ajeng Anisa

    Kerenn bgtt ceritanya

    05/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata