Tak sedikit banyak yang Amara tangkap dari pembicaraan Engkoh Lim dan pria berjas hitam yang memakai kacamata. Yang Amara lihat dari siluet atasannya itu adalah mengangguk hormat juga sopan bahkan tak segan-segan membuatkan minuman untuk sang tamu yang saat ini berada di dalam ruangan Engkoh Lim. Lewat pintu kaca bagaimana interaksi kedua orang itu, Engkoh Lim yang semringah bahagia seperti mendapat durian runtuh. Apakah pria itu yang akan membeli toko ini? Sebegitu bahagianya kah Engkoh Lim membalikkan nama bangunan yang sudah membantu kehidupannya selama hampir tiga tahun. Amara menipiskan bibirnya saat melihat kedua orang itu keluar, membuat Amara kembali berkutat pada buku bacaan yang tersedia di toko. Ia tak ingin terlihat menguping. “Mar, Owe sama Pak Arman keluar sebentar dulu ya. kamu bisa kedai sendirian ‘kan?” tanya Engkoh Lim bahagia. “Bisa, Koh.” Memang jam sudah menunjukkan waktu makan siang, mungkin saja Engkoh Lim dan Pak Arman ingin makan di luar. “Ha, kalau ada apa-apa langsung telepon owe saja ya.” “Siap, Koh.” Melihat tidak ada yang akan mengunjungi toko, akhirnya Amara membuka kotak bekalnya. Tempe goreng dan sayur asam menjadi menunya hari ini. Menikmati dengan hikmat dan rasa syukur yang mendalam. “Bisa berikan saya satu bolpoin hitam?” Sedikit tersedak, Amara langsung berdiri dan menelan bulat-bulat nasi yang ada di mulutnya. Suara itu tiba-tiba datang menyentaknya. Dengan gugup Amara langsung memberikan apa yang pria itu butuhkan. Tak ingin membuat lama karena ia sudah melihat gelagat buru-buru dari konsumennya ini. Ia juga melihat pria tinggi tegap itu melihat jam tangannya dan menggeram. “Ambil saja sisanya.” “Tap—“ Belum terselesaikan, Pria itu meninggalkan Amara yang masih terkejut di posisinya. Aroma elegan juga meninggalkan kesan di hidung Amara. Pria berambut klimis nan tampan membuat Amara terbengong di tempat. Dilihatnya uang satu lembar berwarna merah. “Banyak sekali.” Cepat mengambil uang kembalian, Amara keluar dari bilik dan memandang jalan raya. Namun tak menemukan siapa-siapa. Apa mungkin pria itu membawa mobil? Bisa saja.
*** “Iya sebentar lagi saya sampai.” Menekan tombol di bagian sisi mobil untuk mengakhiri pembicaraan. Bagaimana ia bisa lupa untuk janji temu dengan klien. Padahal Sasha—sekretarisnya sudah sering mengingatkannya sedari tadi bahkan setiap jam. Tapi memang Angkasa saja yang terlalu bebal dan memilih untuk mengistirahatkan otaknya sejenak. Alhasil tepat pukul dua belas akhirnya ia meluncur ke Cafe dengan tergesa. Sekretarisnya sudah di sana terlebih dahulu untuk menyiapkan semua. Angkasa membuka tas kerjanya melihat lembar laporan yang sudah disiapkan sejak awal. Tapi ada satu benda yang hilang dari sana, bolpoin. Selama ia menjabat sebagai perwakilan perusahaan ia tak pernah sedetik pun ketinggalan alat tulis. “Sial!” Memukul stir tertanda kesal. Ia akhirnya melihat kanan kiri guna ada toko yang menjual peralatan tersebut. Tanpa tedeng aling-aling Angkasa keluar tanpa mematikan mesin mobil, dengan cepat membeli peralatan yang ia butuhkan. “Ambil saja sisa.” Untung saja ia sempat menyelipkan uang tunai di sakunya saat memarkirkan mobil. Tidak tahu nominal harga bolpoin tersebut yang pasti uang yang ia berikan sepertinya sudah lebih dari cukup. Ia juga tak peduli dengan keadaan sekitar, yang ia inginkan sang klien tak bosan menunggu. Mengendarai seperti orang kesurupan selama kurang lebih 25 menit membuat dahi Angkasa bercucuran keringat. Jantungnya berdegup kencang baru kali ini melalaikan tugasnya dan hanya satu yang bisa ia rapal kan dalam hati, semoga semua berjalan dengan lancar. Parkir di dengan cepat ia langsung memasuki Cafe dan masuk ke ruangan eksklusif tanpa bertanya terlebih dulu. Sasha dan satu orang pria paruh baya sudah menunggunya. Angkasa menunduk hormat dan menjabat tangan pria itu. “Maaf, sudah membuat Anda menunggu,” ucap Angkasa sedikit meringis. “Oh tidak apa-apa, Nak. Kamu beruntung mempunyai asisten seperti Nak Sasha karena tidak pernah membuat saya bosan.” Senyum yang tersungging di wajah pria itu membuat Angkasa menghela nafas pelan. Ia melirik Sasha mengisyaratkan terima kasih dan wanita itu hanya mengangguk. “Sekali lagi sama meminta maaf, Pak Baskoro.” Baskoro hanya mengangguk dan mempersilakan Angkasa duduk. Makanan yang mereka pesan akhirnya datang. “Sebelum berdiskusi mari kita makan dulu, saya tahu kamu lapar karena bergegas kemari.” Celoteh yang keluar dari mulut Baskoro membuat Angkasa malu. “Bapak ingin minuman atau makanan yang lain?” tanya Angkasa menawarkan Baskoro. “Saya ingin teh hangat satu.” Pelayan yang sedari tadi berada di samping Angkasa langsung membawakan pesanan. “Nak Angkasa bagaimana kabarnya?” tanya Baskoro sambil memotong daging menjadi kecil-kecil. “Baik, Pak.” “Saya sebenarnya heran sama kamu, kenapa tidak bekerja di kantor papamu saja?” Angkasa sering mendengar pertanyaan seperti itu. Untuk sekarang ia mencoba mandiri tanpa ada dorongan dari sang Ayah. Ia mencoba semua dari awal dan itu bukan belajar dari perusahaan keluarga. Toh, perusahaan ayahnya berbeda dari fashionnya saat ini, perusahaan yang berjalan di bidang properti sedangkan sekarang Angkasa bekerja di bidang Industri. Mungkin lain kali, jika ayahnya benar-benar membutuhkan tenaga Angkasa. “Angkasa lebih suka di Venus saja, Om.” Penjelasan itu membuat Baskoro mengangguk. “Pengalaman masa muda memang perlu kita perbanyak, bukan seperti itu Nak Sasha?” “Betul sekali, Pak.” Sasha tersenyum manis. “Om bagaimana keadaan Tante Niken dan Senja? Senja masuk sekolah dasar ‘kan tahun ini?” Baskoro mengangguk. “Iya, Senja sudah SD. Aktif sekali anak Om itu apalagi kalau sudah bertemu teman baru. Sering juga teman-temannya dibawa ke rumah dan mereka main bersama.” Baskoro mengingat-ingat senyum Senja saat sedang tersenyum ceria. Ia sangat sayang pada anaknya. “Kapan-kapan Angkasa sama Riksa main ke rumah Om, ya.” “Silakan saja, pintu Om selalu terbuka untuk kalian.” Tak perlu adanya kebohongan juga muka dua jika berhadapan dengan Baskoro, Angkasa sudah lama mengenal pria paruh baya ini. Baskoro dan Ayahnya –Agung Galaksi sudah lebih dulu kenal sebelum Angkasa bekerja di Venus. Singkat cerita, Baskoro membeli properti yang tidak sedikit jumlahnya di perusahaan Agung membuat mereka berdua menjadi selalu berinteraksi dan berakhir akrab. Tanpa diduga Baskoro juga klien di perusahaan Venus, distributor juga bos logistik yang bertanggung jawab untuk mengantarkan semua produk siap kemas dari Venus. “Mari kita mulai untuk menjelaskan biaya transport yang sudah mulai membumbung tinggi, Pak Angkasa.” Mode formal sudah mengelilingi mereka bertiga.
*** Amara menunggu adiknya di depan pagar sekolah. Sudah pukul empat lewat lima belas sebentar lagi murid akan berdesakan keluar. Cakra yang duduk dibangku kelas empat bersekolah pada siang hari, dimulai jam setengah satu siang sampai jam empat sore. Dirinya bersandar pada pagar yang hanya setengah terbuka. Mendengar bunyi bel yang ditekan tiga kali membuat semua murid akhirnya keluar. “Kak Mara,” panggil bocah itu. “Hai, bagaimana sekolahnya?” Memberikan jempol untuk Amara membuat perempuan itu mengelus kepala sang Adik yang tertutup topi. “Bagus. Adiknya siapa dulu?” “Kak Amara,” jawab Cakra spontan. “Kak ...” “Hem?” Amara melihat gelagat aneh pada Cakra. “Boleh beli itu?” tunjuk Cakra pada gerobak yang tidak jauh dari pandangannya. Gerobak yang sudah dikerumuni anak-anak sebaya. “Kamu ingin telur gulung?” Anggukan Cakra membuat Amara menggandeng tangan mendekati gerobak. “Ya sudah pesan saja.” “Bang, beli dua, ya.” “Oke, Bos,” kata penjualnya. Satu persatu pembeli sudah dilayani membuat Cakra semakin semangat karena ini gilirannya. “Bang tambah lagi dong telurnya, biar besar.” “Jangan banyak-banyak makan telur nanti . Masa ganteng-ganteng bisulan.” Meskipun berbicara seperti itu tetap saja penjual menambahkan beberapa sendok telur untuk Cakra. “kalau semua orang makan telur jadi bisulan berarti nanti dagangan Abang tidak laku dong.” Polos sekali memang jawaban Cakra ini membuat Amara yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya sedikit terpingkal. “Dasar bocah ada saja jawabannya. Sudah nih jangan lupa baca bismillah kalau mau makan.” “Berapa, Bang?” “Dua ribu saja, Neng.” Amara memberikan uang dan kembali menggandeng adiknya. “Terima kasih, Bang.” “Sama-sama, Neng Geulis.” “Abang itu kenapa genit sih,” rajuk Cakra saat sudah jauh dari area sekolah. “Genit bagaimana?” “Masa panggil Kakak dengan sebutan Neng Geulis, Cakra ‘kan tidak suka.” “Ya ‘kan geulis artinya cantik berarti Kakak cantik dong,” puji Amara pada diri sendiri. “Kakak memang cantik, cantik banget. Tapi kan abang tadi tidak kenal Kakak. Masa sudah bilang cantik-cantik saja.” “Kan dia juga sudah sering liat Kakak kalau lagi jemput kamu. Hayo ...,” goda Amara saat melihat wajah adiknya yang cemberut. “Tapi tetap saja Cakra tidak suka.” Dengan jalan cepat Cakra meninggalkan Amara membuat Amara mengulum senyum. Cakra ternyata sedang dalam mode posesif. Amara sempat berpikir, bisakah Cakra saat sudah besar melindunginya dari kejamnya dunia saat dirinya sudah tak kuat lagi bertahan? Sanggupkah Cakra menggenggam erat tangan sang Kakak saat semua yang menjadi bebannya sudah tak sanggup ia angkat?
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 32 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (128)
ibrahimmaulana
ceritanya mengandung bawang banget 😭 tp aq suka ,bagus, perjalanan cinta lania dan angkasa ❤️ ditunggu karya selanjutny ya thor💪💃💃
29/01/2022
5
MelaniZein
ceritanya bagus banget.. alur nya mudah di pahami.. semangat ya buat author.. semoga sehat selalu.. 😊
ceritanya mengandung bawang banget 😭 tp aq suka ,bagus, perjalanan cinta lania dan angkasa ❤️ ditunggu karya selanjutny ya thor💪💃💃
29/01/2022
5ceritanya bagus banget.. alur nya mudah di pahami.. semangat ya buat author.. semoga sehat selalu.. 😊
17/01/2022
5Bagus sekali🤩🤩
6d
0Tingnan Lahat