Setelah kejadian yang menimpa keluarga, Amara tak pernah melihat lagi sosok sang ayah. Pertama kali bertemu setelah sekian tahun lamanya saat sang ayah sedang menggandeng anak perempuan yang berkisar antara lima atau enam tahun. Penampilan ayahnya pun sudah jauh berbeda dari pada saat masih tinggal bersama keluarga ini. Ayahnya yang memang memiliki tampang rupawan semakin terlihat berkarisma saat memakai jas serta dasi cokelat. Tepatnya dua bulan lalu ia melihat ayahnya, keluar dari salah satu minimarket dan melajukan mobil dengan kencang. Banyak pikiran yang hinggap di otak Amara. Apakah anak kecil itu anak kandung ayah? Ayah menikah lagi? Selama hampir sebelas tahun meninggalkan mereka semua, Amara tak pernah mendengar bahwa ayahnya mencari bahkan menjenguk dirinya dan kak Guntur. Apakah pria yang menjadi pahlawan nomor satu di hati Amara sudah melupakan anak-anaknya? Matanya masih menatap mobil yang kian lama hilang ditelan jarak. Amara tak bisa berkutik, meskipun ia sudah lama tak melihat ayahnya lagi tapi ia sangat yakin sekali bahwa pria paruh baya itu adalah ayah yang sangat dirindukannya. Ia tak sadar sudah menjatuhkan kantong plastik, dengan cepat menghapus bulir air mata ia memungut buah apel yang sudah menggelinding berceceran. “Lho, kakak melamun?” goyangan di bahunya membuat Amara terbangun dari lamunan. Cakra sudah mengamatinya dari tadi. “Kakak menangis?” tanya Cakra sambil memberikan minum pada Amara. Dengan cepat Amara menghapus air matanya dan masih merasakan sakit di kulit kepala karena tarikan kuat Guntur tadi. “Kita makan, yuk!” ajak Amara mengambil piring. “Maaf Kakak hanya bisa memasak ini. Nanti, jika ada uang lebih kita akan memasak makanan yang enak” Amara tersenyum manis, mengambilkan nasi dan lauk untuk adiknya. Adiknya hanya menggelengkan kepala. “Makan setiap hari pakai mie instan juga tidak apa, kok.” Amara mengelus rambut lurus Cakra. “Cakra suka buah pir, ‘kan. Nanti kakak belikan untuk kamu, ya.” “Terima kasih Kak karena sudah merawat Cakra selain ibu.” Bocah itu berkata sambil memeluk pinggang Amara. “Kakak mau antar makan ibu dulu, nanti kamu kalau ada perlu ke kamar saja ya.” Masih anggukan yang sama. Cakra menikmati makan malamnya, dingin masih menyelimuti suasana. Ia tadi melihat kak Guntur menarik rambut kak Amara membuat ia tak berani bertindak lebih jauh. Padahal ia ingin sekali menolong kakak perempuannya itu, tapi melihat amukan kak Guntur menciutkan nyalinya. Tidak tahu mengapa dari dulu kak Guntur selalu bersikap seperti itu padanya. Padahal ia masih kecil, apakah ia mempunyai salah yang sebegitu besarnya. Dengan kata-kata kasar yang didengar apalagi ada kalimat ‘anak sialan’ membuat hati Cakra mencelos. Ia bukan anak kecil yang seolah menutup telinga dengan perkataan orang lain, ia sudah kelas empat dan sudah mulai paham. Ia harus tahu rahasia yang disembunyikan keluarganya selama ini.
*** Guntur dan teman-temannya yang masih nongkrong di tempat tidak jelas membuat kebanyakan orang yang berlalu lalang lebih baik menghindar dan mencari jalan lain. Judi dan minuman keras masih menjadi teman dekatnya. Teriakan juga cengkerama yang mereka buat membuat orang lain merasa terganggu. Pernah sekali, ada yang berani menegur dan berakhir naas. Rumah orang tersebut di lempari batu juga sampah busuk membuat ia tak berani lagi untuk menegur. Mereka juga pernah dibawa oleh petugas keamanan dan berakhir perjanjian untuk tidak berkumpul-kumpul lagi. Tapi tetap saja, mereka mencari tempat yang lebih aman lainnya sembari menjalankan tugas. “Sudahlah Riko, kamu mengaku kalah saja!” ucap salah satu teman Guntur yang memakai tindik di bibirnya –Tony—. “Bangsat!” Melempar kartu remi di atas papan catur yang menjadi alasnya. “Kalian curang, ya!” selidik Riko ditertawai oleh teman sejawatnya. “Santai, Bro. Ini ‘kan hanya permainan.” Celetukan yang diberikan Guntur membuat Riko mengambil alih semua kartu dan mengocoknya kembali. “Kalian main berempat saja, aku yang membagi.” Guntur, Tony, Alex dan Noris melihat seberapa lihai temannya itu memainkan jari-jari. Setelah kartu remi dibagikan mereka yang mukanya sedatar mungkin agar orang lain tak curiga. Beberapa kali saja Riko mengganggu teman-temannya mengecoh konsentrasi. Menghabiskan kartu yang ada di tangan akhirnya Alex menang pertama membuat yang lainnya semakin semangat disusul Guntur juga Tony. “Alex menang, traktir!” teriak Noris sambil menghirup rokoknya. “Eh mana bisa begitu!” balas Alex tak terima. “Sudah. Cepatlah sana kamu beli. Minuman kita juga sudah mau habis.” Guntur menyahuti sambil minum botol besar berwarna hijau bergambar bintang. Guntur kembali menyalakan rokoknya menghidu rasa yang bisa membuatnya terbang. “Bro, ada mangsa!” Tony yang membawa balok besar melihat mobil hitam yang berani melewati jalan sepi padahal jam sudah menunjukkan pukul dua malam. Alex dan Tony yang melihat mobil itu semakin mendekat membuat mereka berdiri di tengah-tengah jalan. Guntur yang melihat aksi teman-temannya tersenyum miring, akhirnya ia bisa beli obat lagi. Riko yang membawa martil juga ikut-ikutan berdiri menghampiri kedua temannya. Melihat mobil hitam SUV yang terlihat mahal berada dua puluh meter di hadapannya. Sedangkan Guntur, ia mengakhiri rokok dan menginjak puntungnya walaupun rokok itu baru saja dihidupkan. Guntur masih melihat saat mobil itu diberhentikan, suasana temaram membuat ia tak bisa melihat siapa yang mengendarai wanita ‘kah atau seorang pria. “Jadi kalian ingin menodong saya?!” tanya si pembawa mobil masih dalam posisi tenang. “Sudahlah Pak, berikan saja semua uang yang ada di dompet Bapak. Dengan begitu Anda bisa lewat dengan leluasa,” bujuk Riko yang masih mengetuk sisi mobil dengan pelan. “Kalau saya tidak mau bagaimana?” Tony yang geram mendengar perkataan korbannya memukulkan balok kayu di ban membuat pria paruh baya itu ikut menggeram juga. “Jika kalian masih berani berbuat seperti itu jangan salahkan logam ini mendarat di kepala kalian masing-masing.” Senyum ngeri pria paruh baya itu sambil menodongkan pistolnya yang ia ambil dari kantong jasnya membuat mereka semua langsung menciut dan mundur seketika. Hal itu tak luput dari perhatian Guntur, ia bingung kenapa tiba-tiba temannya mundur serempak seperti itu. Dengan cepat ia menghampiri untuk melihat apa yang terjadi dengan tangan kosong. Sebenarnya teman-temannya jika hanya menodong saja cukup dengan dua orang dan itu selalu berhasil. Berlari menghampiri Alex paling belakang di antara teman-temannya, dan melihat siapa mangsanya malam ini. Matanya terkejut saat pistol itu sudah diarahkan ke dahi Tony, ia marah dan ingin berteriak tapi matanya seakan tidak bisa beralih dari manik cokelat itu yang masih memandangnya tajam. “A—ayah,” kejut pelan Guntur ingin memastikan membuat teman-temannya yang mendengar menoleh ke arahnya—ikut terkejut. Guntur terdiam saat melihat wajah pria di hadapannya itu masih belum berubah ekspresi, masih dengan muka marah. “Tur,” panggil Alex menggoyang badan Guntur dan melihat wajahnya yang putih memucat. “Jadi seperti ini didikan ibumu?” Menurunkan pistol dan menyimpannya kembali di saku. “A—ayah.” Hanya itu yang bisa Guntur gumamkan. Ia tak menyangka akan bertemu dengan ayahnya di waktu yang seperti ini. “Menjadi berandalan dan membuat orang lain tidak tenang.” Kalimat dingin yang Bagas katakan membuat Guntur terdiam. Ia masih memandang wajah pria itu, wajah yang tak banyak berubah hanya ada kerutan samar di bawah matanya. Juga ayahnya semakin tampan dan berkelas. Dengan pelan ia menghampiri Ayahnya ingin memeluk juga menyalurkan rasa rindu yang dirasa. Satu langkah lagi, tapi itu membuat dirinya terhenti saat banyak lembaran kertas yang ayahnya lempar tepat di mukanya. Perlakuan ayahnya itu membuat hati Guntur sakit. “Kamu ingin meminta uang saya ‘kan? Ambillah! Saya sudah memberikannya lebih dari cukup.” Dengan pintu yang ditutup kasar, Bagas kembali menghidupkan mobilnya dan melajukan dengan sangat kencang. Guntur masih tergugu, ia tidak bergerak. Ayahnya jahat. “Bro,” panggil Alex menepuk pundak Guntur. Tanpa mau mendengar panggilan teman-temannya ia berlari mengikuti mobil hitam itu walau ia tahu tak akan pernah bisa mengejar. Mengejar ayahnya. Ia tidak boleh kehilangan ayahnya, sudah cukup sebelas tahun ini ia kehilangan jejak. Ia ingin sekali dipeluk, bercerita bahkan bercanda seperti saat ia kecil. Momen yang ditunggu-tunggu ternyata menjadi hancur seperti ini, ia dianggap berandalan, tak berguna dan meresahkan warga dan itu diucapkan langsung depan telinganya. Ia tak menampik hal tersebut jika orang lain yang mengatakan, tapi jika ayahnya kenapa sakit sekali. Ia meremas dadanya, menghilangkan rasa sakit dihati. Kaus yang sudah pudar warnanya juga semakin kusut. Matanya belum bisa melihat eksistensi mobil pria paruh baya itu, padahal ia sudah berlari sekencang mungkin. Sampai pada saat banyak bangunan rumah juga ruko yang tutup pada malam hari ia hanya ditemani temaram lampu jalanan. Ia frustrasi harus ke mana, berbelok ke arah mana ayahnya setelah melewati jalan ini. Di persimpangan ia bimbang, berhenti di sini atau berlari mengikuti instingnya untuk mencari lagi. Dan akhirnya, ia sudah kehilangan lagi untuk kedua kalinya. Guntur akhirnya memutuskan untuk pulang dan tertidur di rumah saja. Ia tak ingin bertemu kembali dengan teman-temannya untuk saat ini. Ia lebih memilih mendinginkan kepalanya. Kumandang ayat-ayat suci sudah terdengar yang berarti azan subuh sebentar lagi akan terlaksana. Guntur berjalan lunglai, mengabaikan banyak orang yang berlalu lalang untuk ke tempat ibadah. “Nak Guntur,” panggil seseorang di belakangnya, membuat Guntur mau tak mau menoleh. “Ada apa?” tanyanya dingin memperhatikan pria yang memasuki umur enam puluh tahunan dengan sorban juga baju yang sama putihnya. “Mau berjamaah?” tanya pria itu lembut sambil memperlihatkan senyumnya yang menawan. Guntur terpengkor dalam diam, melihat pakaiannya yang selama ini melekat. Ia tak pantas. “Tidak, Pak Kyai.” “Baiklah kalau begitu.” Guntur berjalan tanpa menghiraukan lagi guru yang sempat mengajar mengaji waktu ia kecil. “Pak Kyai masih menunggu hafalanmu surah At-Taubah loh, Nak.” Ia ingat setiap Sabtu malam jadwalnya bersama teman-teman yang lain adalah menghafal. Di masjid terdekat sekitar seratus meter dari rumah Guntur dan Amara serta sekelompok teman-temannya berbondong-bondong menghampiri Pak Kyai Amir yang sudah siap untuk memberikan ilmu. Saat itu ia yang berusia empat belas tahun dan sudah khatam Al-Quran dengan baik. Ia masih bisa mengenang saat mencoba menghafal setiap harinya agar mendapat nilai yang memuaskan di buku agenda. Terakhir kali yang ia ingat di malam Sabtu dirinya sudah merasa malas untuk mengunjungi Masjid lagi dan menghafal seperti sebelum-sebelumnya. Apalagi kalau bukan karena kejadian minggu lalu yang sudah membuat Guntur dan Amara kehilangan sosok ayah. “Mengapa melamun, Guntur?” ucap Kyai Amir yang masih melihat wajah Guntur dengan saksama. “Kamu belum menghafal surahnya?” Tanpa anggukan Guntur hanya terdiam. “Coba sudah sampai mana kamu menghafalnya, tidak apa-apa minggu depan kamu menghafal seluruhnya,” tawar Pak Kyai Amir. Dengan terbata-bata Guntur memulai. Tapi hanya dua ayat yang ia hafal. “Kamu kenapa? Tidak seperti biasanya kamu seperti ini?” ucap khawatir gurunya. Guntur hanya memandang Pak Kyai itu dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Pak Kyai ...,” gantung Guntur. “Iya kenapa, Nak.” “Guntur tidak ingin mengaji lagi.” Dengan cepat Guntur berdiri dan berlari entah ke mana membuat kitab suci di depannya dibiarkan saja tanpa ditutup. Pak Amir yang mendengar itu langsung terkejut membuat semua anak-anak juga ikut menoleh terheran menatap kepergian Guntur. Guntur yang sekarang bukan lagi anak yang penurut juga baik, ia sudah berubah. Kekecewaan yang sudah menemaninya selama ini membuat ia menjauh dari sang pencipta dan berdekatan dengan barang haram juga teman yang sama dengannya. Ia pun tak lulus sekolah menengah atas dan lebih memilih menjadi berandalan dan hidup bebas. Ibunya prihatin, tapi Guntur tak pernah mendengarkan. Ia lebih menyukai hidup seperti ini tanpa ada yang melarang. Dipukulnya dengan kencang pintu yang sebenarnya sudah sedikit rapuh dimakan rayap. “Mar, buka pintu!” teriaknya memanggil penghuni dalam rumah. Amara membuka pintu melihat Guntur yang masih teriak-teriak. “Lama banget sih!” Tanpa ingin mendengarkan kakaknya ia kembali mengunci pintu. Sebenarnya ia sudah bangun sedari tadi bahkan ia juga sedang mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajibannya. “Kak Guntur,” kata Cakra yang matanya masih sayu karena bangun tidur. “Diam kamu, Sialan!” Guntur merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata. “Sudah, biarkan saja Kak Guntur. Kamu langsung ambil wudhu dan sholat ya.” Mendorong tubuh Cakra untuk ke kamar mandi.
*** Guntur terbangun dari tidurnya, badannya sakit semua karena posisi yang tidak mengenakkan. Sebenarnya juga karena cahaya matahari yang menyilaukan membuat mata Guntur menyipit. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul satu siang. Selama itukah ia tertidur? Guntur berjalan gontai, tapi matanya melihat ruangan yang tertutup di sebelah kanannya. Jantungnya berdebar. Dibukanya pintu itu dengan pelan, membuat orang yang di dalam ruangan itu terkejut. Guntur memperhatikan bagaimana cara wanita paruh baya itu berdiri dan berjalan dengan terseret-seret. Ia akhirnya menyingkir dari pintu saat melihat ibunya ingin hendak keluar. Guntur jarang melihat ibunya, jika ibunya sedang ada di luar kamar ia lebih memilih untuk menghindari. Ia melihat ibunya terduduk di sofa yang tadi ditiduri. Guntur tak bergerak, ia masih memandang ibunya yang tidak melakukan sesuatu. “Tu—“ “Aku tadi malam melihat ayah.” Memotong perkataan ibunya yang memang sulit untuk berbicara. “Ayah sudah kaya. Dan ... melupakan semuanya. Ayah tidak melihatku dengan tatapan rindu tapi marah.” Dinar yang diam saja, ia ingin menjelaskan lebih rinci apa yang anak sulungnya ucapkan. “Kenapa harus keluarga kita, kenapa?” ucapnya lirih menyandarkan tubuhnya pada dinding. “Apa Ibu puas sekarang, karena sudah memisahkan aku dan Amara dari ayah, iya?!” Tangis Dinar semakin tersedu apalagi mendengar suara berat anaknya. “Andaikan Ibu mengingat bagaimana ayah sudah memberikan semua hasil jerih payahnya pada kita hingga bekerja di luar kota tapi dibalas dengan pengkhianatan yang Ibu lakukan.” Dinar menggelengkan kepalanya, ia bukan perempuan seperti itu. “Aa—“ “Sudah cukup, Bu!” Guntur memukul pintu kamar membuat Dinar tersentak. “Jika saja Ibu menggugurkan kandungan itu mungkin saja Ayah akan kembali lagi bersama kita. Dan anak haram itu tidak akan pernah terlahir di dunia!” Air mata Dinar semakin terjatuh, ia memang sudah berbuat dosa yang besar. Apakah harus ia melakukan dosanya lagi bahkan ruh sudah ditiupkan di kandungannya saat itu. Tak sampai hati ia melakukan hal keji itu, ia bukan pembunuh walaupun Cakra anak dari pria bajingan tapi ia tak akan pernah bisa melenyapkannya. “Ibu adalah pendosa besar, Pezina!” caci Guntur. Dinar mencengkeram lemah bajunya. Apakah sebegitu hinakah dirinya, bukankah ia juga korban di sini tapi mengapa seolah semua orang menghukumnya bahkan memberikan ultimatum yang keras. “Aku tak sudi mempunyai ibu sepertimu,” jelas Guntur akhirnya masuk ke dalam kamarnya sendiri.
*** Amara masih bermain di atas mesin fotokopi membolak-balik lembar buku. Hari ini ia bersyukur toko ramai yang berkunjung. “Semuanya dua ribu,” kata Amara tersenyum sambil memberikan buku pada sang empunya. “Terima kasih, Kak,” balas anak kecil yang masih berseragam merah putih dengan senyum yang menampilkan gigi ompongnya. “Mar.” “Iya, Koh?” “Kenapa kamu tidak mencoba cari pekerjaan di tempat lain, ha?” Eksen lain Engkoh Lim saat berbicara. “Maksudnya, Koh? “Kamu ‘kan lulusan SMA, seharusnya bisa cari kerja yang lebih baik daripada kedai owe.” “Amara sudah mencoba, Koh. Tapi masih belum dapat panggilan,” desah Amara. “Haiya, coba kamu masukan di Venus Foods. Nanti owe coba bantu, kebetulan owe ada kenalan di sana. Besok bawa lamaran kerja kamu dan kasih sama owe.” Mengejutkan memang saat kalian bekerja di tempat itu tapi bos kalian sendiri yang mencarikan pekerjaan lain. “Baik, Koh.” Tidak menginginkan kecewa dari pria itu, yang sudah sangat baik memperlakukannya selama ini. “Kamu jangan heran kenapa owe menyuruhmu untuk mencari tempat kerja lebih bagus, karena kedai ini sudah owe jual.” Terbelalak dengan kata-kata atasannya. “Kenapa, Koh?” Engkoh Lim tersenyum sambil membenarkan kacamatanya. “Ah, owe bosan di sini. Owe dan istri mau berlibur ke Amerika sekalian ingin menjenguk Yelu. Kemungkinan nanti Owe akan tinggal di sana.” “Ce Yelu dan keluarganya tidak pernah datang ke Indonesia, Koh?” Yelu anak pertama Engkoh Lim yang tinggal bersama keluarganya di Amerika. “Ha, jarang cece kamu itu. Sudah nyaman di sana ketemu setiap hari sama patung Liberty.” Kelakar Engkoh Lim membuat Amara tertawa. “Owe minta waktu sama yang beli ini kedai setelah kamu benar-benar dapat kerja yang enak.” Terharu dengan perkataan Engkoh Lim, Amara membungkuk dengan mengucapkan terima kasih berulang kali.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 59 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (128)
ibrahimmaulana
ceritanya mengandung bawang banget 😭 tp aq suka ,bagus, perjalanan cinta lania dan angkasa ❤️ ditunggu karya selanjutny ya thor💪💃💃
29/01/2022
5
MelaniZein
ceritanya bagus banget.. alur nya mudah di pahami.. semangat ya buat author.. semoga sehat selalu.. 😊
ceritanya mengandung bawang banget 😭 tp aq suka ,bagus, perjalanan cinta lania dan angkasa ❤️ ditunggu karya selanjutny ya thor💪💃💃
29/01/2022
5ceritanya bagus banget.. alur nya mudah di pahami.. semangat ya buat author.. semoga sehat selalu.. 😊
17/01/2022
5Bagus sekali🤩🤩
6d
0Tingnan Lahat