Part 6 "Aku benar setan dan aku tetap tidak suka padamu!" dengus Malam. Asep tidak bisa menjawab, karena seluruh badannya terasa sakit, akibat terbanting Malam. "Hihihi." Asep menatap takut pada Malam, tapi dia juga berharap Malam mau melepaskannya. Sorot matanya itu bukan membuat Malam kasihan, malah semakin menjadi-jadi tawanya. "Sep, kamu di mana?" teriak banyak orang di depan pintu rumah. Perubahan mendadak itu membuat Asep dan Malam kaget dengan perasaan yang berbeda-beda. Harapan Asep untuk selamat dari kematian, lalu akan balas dendam pada Malam dengan bercerita apa adanya pada banyak orang yang baru datang itu. Meski akan ada banyak orang yang tidak percaya akan kisahnya, tapi dia yakin minimal Sabda akan menanggung akibat dari perbuatan Malam pada Nina. Sedangkan Malam berbeda, dengan hadirnya banyak orang, dia harus ambil keputusan cepat. Melarikan diri kabur dari rumah Asep atau melarikan nyawa Asep lebih dulu ke alam lain setelahnya baru pergi. * Beberapa waktu sebelumnya. Sepeda tua itu melaju cukup cepat dan berhenti tepat di bale kecil yang merangkap sebagai pos keamanan. Di pos saat itu ada tiga orang pria, dua masih berusia cukup muda sekitar dua puluhan dan satunya usianya sepuluh tahun lebih tua. Sementara di dekat pos terparkir dua motor. "Eh, Pak Amo, kenapa?" "Pokonya ngeri banget deh, Surna." jawab Amo, si pengendara sepeda. "Pak Amo jangan nakut-nakutin, dong! Kasihan nih Mul, penakut dia!" "Enak saja kamu, Jaya. Aku ini cowok paling pemberani di Ciparuk!" Mul yang paling kurus diantara yang lain, menepuk dada Jaya yang bertubuh lemak paling banyak dari semuanya. Jaya terbatuk pelan, lalu melotot pada Mul. "Pemberani si pemberani, kalau mau tepuk dada sendiri kenapa?" "Sudah kalian berdua jangan berisik, yang ada Pak Amo malah lupa cerita lagi?" lerai Surna yang tampaknya menjadi pemimpin dari Mul dan Jaya. "Ayo, Pak Amo cerita!" "Cerita apa ya?" Amo garuk kepalanya. Surna tersenyum masam, Mul dan Jaya ketawa karena Amo lupa akan apa yang ingin diceritakan. "Tadi Pak Amo bilang ngeri. Jadi apanya yang ngeri Pak?" tanya Mul setelah puas tertawa. "Ah, aku ingat!" Amo tepuk tangannya. "Asep, setan...." "Wah, nggak boleh begitu Pak!" potong Jaya. "Apanya yang nggak boleh?" Amo malah bertanya pada Jaya bukannya lanjut cerita. "Itu tadi, bilang Asep setan!" jawab Jaya. "Eh, kamu ini Jay, main potong saja! Aku yakin Pak Amo bukan bermaksud bilang Asep setan." Surna bela Amo. "Nggak bener ini!" sela Mul. "Apanya yang nggak bener?" tanya Surna menatap Mul. "Itu, barusan Bang Surna bilang Asep setan! Masa iya Asep setan? Dia kan napak tanah," jelas Mul. "Kalian bertiga ini sama saja, main bilang Asep setan!" sembur Amo tidak senang. "Aku ini sudah tua, kalau diputus terus ucapanku, mana selesai ceritanya. Bakal bersambung besok pagi dan itu bakal bencana. Ini bahaya, karena Asep...." "Setan," canda Surna barengan dengan Mul dan Jaya. Lalu ketiga orang itu tertawa, kecuali Amo yang melotot. "Berhenti bercanda! Kalau kalian terus saja bercanda dan malas pasang telinga, nyawa si kecil Anita bisa terancam!" kesal Amo. Surna, Mul dan Jaya tidak bisa lagi tertawa, mereka menutup mulut rapat-rapat. "Maaf, Pak. Kita nggak ganggu lagi," ucap Surna mewakili. "Ya, begini. Tadi di jalan, aku keduluan sama Asep yang naik motor. Terus kalian tahu apa yang aku lihat?" tanya Amo. Tidak ada jawaban. Tidak ada yang mau bersuara. Malas kena omel si tua Amo. "Kalian mau tahu tidak?" kesal Amo. Surna menengok ke arah Mul dan Jaya, seolah meminta pendapat kedua temannya begadang itu, apa mau tahu atau tidak. "Busyet, aku ngomong sama tiga patung!" Amo sampai injak tanah tiga kali dengan hentakan kaki kirinya saking kesal. "Maaf, Pak. Tadi kan Pak Amo sendiri yang larang kami bersuara," jawab Surna. "Tadi kan aku bertanya, jadi kalian harus... ya, sudahlah. Aku tadi lihat Asep bonceng setan!" Amo akhirnya bercerita tentang apa yang dilihatnya. Tadinya Amo mau berkata pada saat dia bertanya, seharusnya salah satu dari ketiga pria yang lebih muda darinya itu menjawab. Tapi dia takut nanti akan terlalu banyak makan waktu dan nyawa Anita terancam. "Serius, Pak? Kita ke rumah Asep!" ajak Surna sambil tarik Mul menuju ke salah /parkir motor. "Bang, buat apa ke sana? Memangnya kita bisa lawan setan apa?" teriak Jaya. "Bukan masala lawan setannya Jay, tapi nyawa Anita. Kasihan bayi itu baru berusia beberapa bulan, harus hadapi bahaya maut bertemu setan yang dibawa pulang Asep!" Surna nyalakan motor. Begitu juga dengan Mul. "Pak Amo, sini naik!" Surna ajak Amo. Amo berlari dan naik ke motor, lalu motor yang dikendalikan Surna meluncur lebih dulu. "Jay, ayo naik!" ajak Mul. "Kamu aja deh, aku jaga gawang." Jaya menengok ke pos. "Tuh kan, yang penakut siapa coba? Terbukti kan sekarang, bukan aku yang penakut!" ejek Mul. Jaya baru mau buka mulut untuk membantah, tapi kena didahului Mul. "Lebih baik ikut Jay, mumpung Bang Surna belum pergi terlalu jauh. Ayo, naik dan bawa itu kentongan!" Mul tunjuk kentongan yang bergelantung di salah satu tiang kayu pos. "Daripada di sini sendirian, aku takut itu setan kaburnya malah ke sini!" Jaya tidak menjawab, tapi dia segera ambil kentongan dan naik di belakangnya Mul. "Jangan lupa, pukul-pukul kentongan biar ada yang bangun dan beramai-ramai ke rumah Bang Asep!" pesan Mul. Mul lakukan motornya dengan Jaya ciptakan keramaian yang membuat beberapa penduduk Ciparuk penasaran dan tertarik mengikuti mereka ke rumah Asep. * "Asep, buka pintu!" teriak banyak orang. Namun yang terjadi, teriakan berbalas teriakan. Asep yang berteriak kesakitan. "Dobrak saja pintunya!" sorak banyak orang. Di dalam rumah, sekali lagi Asep berteriak. Karena Malam telah mencabut jantungnya. Teriakan pertama tadi itu, saat Asep merasakan betapa tajamnya kuku Malam yang mengiris kulit dadanya. Lalu berakhir dengan teriakan kedua Asep yang menjadi suara terakhir, sebelum jiwanya bertemu dan bergandeng tangan dengan jiwa Nina yang lebih dulu pergi. Asep tidak berani dan sudah tidak bisa melihat lagi apa yang dilakukan Malam. Malam telah merobek dada Asep dengan kukunya yang super tajam, lalu tangannya masuk melalui lubang luka tubuh Asep dan menarik keluar jantung Asep. Namun ketika tangannya mau mencabut hati Asep, dia harus batalkan itu dan meloncat terbang melalui jendela dapur yang sudah dibuka Asep sebelumnya. Semua karena suara pintu terbuka paksa terdengar, seiring teriakan kaget warga yang melihat mayat Nina di ruang tamu. Sambil terbang melayang pergi, Malam tidak lupa keluarkan suara tawa cekikikan yang membuat warga ketakutan. "Setan kuntilanak!" teriak beberapa warga serempak. "Itu dia setannya Mul!" teriak Jaya yang kebetulan melihat lintasan terbang Malam. Saat itu Jaya dan Mul serta beberapa tetangga Asep yang berjiwa sedikit kurang berani, memilih berkumpul menjadi satu di luar pagar rumah. Pilihan yang salah, karena Jaya malah melihat Malam yang terbang seperti burung. "Bawa Anita nggak tuh?" tanya Mul. Tidak ada jawaban, karena Jaya yang beruntung melihat Malam tadi, bertambah nilai keberuntungannya dengan bertatap mata dengan Malam, walau sekilas saja. Malam menengok ke arah Jaya yang keluarkan suara. Meski jaraknya dengan Jaya mencapai sepuluh meter, namun itu tidak membuat dirinya jauh dari pandangan Jaya. Dengan ilmu setannya, Malam membuat wajahnya berada di depan mata Jaya. Walau yang sebenarnya terjadi, dirinya telah jauh pergi meninggalkan ketakutan bagi warga Ciparuk yang akan mengurus mayat Asep dan Nina. Walau Anita selamat, tapi untuk selamanya bayi kecil mungil itu tidak akan pernah mendapatkan pengajaran dan penjagaan kedua orang tuanya.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 26 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (63)
Darl Ki
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
21/05/2025
1bagus banget
20/02/2025
0sukaaa bgtttt😋🔥
25/11/2024
0Tingnan Lahat