logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Part 5

'Kamu... kamu... Malam?" gagap Asep.
"Hihihi."
Hanya suara tawa cekikikan dan diselingi ringkik kuda saja yang terdengar dari mulut Malam.
"Apa maumu?" tanya Asep.
"Jantung dan hati. Mas Asep, terima kasih!" Senyum Malam mengembang, tapi bukan senyum yang indah dan membuat hati serasa meloncat karena kagum.
Hati Asep dan Nina berdenyut kencang, jantung mereka serasa mau copot.
"Jahat kamu, Mas. Kamu bawa setan masuk ke dalam rumah!" Nina melotot pada Asep.
"Aku jahat? Ini baru jahat!" Asep dorong Nina selepas bicara tadi.
Asep gunakan tenaga sepenuhnya kala mendorong Nina ke arah Malam.
Tangan kiri Malam menyambar ke depan, ke arah Nina dan berakhir dengan teriakan tertahan Nina.
Asep tidak melihat cara Nina mati, karena dia telah berlari masuk ke dalam kamar. Terdengar suara bantingan pintu yang membuat tangis Anita semakin keras.
Entah Anita menangis karena bunyi bantingan pintu atau karena Nina?
Malam tersenyum puas melihat Nina menggelepar bak ikan yang diangkat dari dalam air dan ditaruh di atas tanah.
Malam ulurkan tangan kanannya yang memanjang seperti karet. Tangan karetnya itu menuju ke dada kiri Nina yang sedang memegangi lehernya supaya darah tidak keluar dengan cepat.
Ya, sambaran tangan kiri Malam tadi telah merobek kulit leher Nina. Hingga sekarang Nina sedang menanti tarikan malaikat maut atas rohnya yang masih belum mau pergi.
Tunggu punya tunggu, ternyata malaikat maut bagi Nani itu ialah tangan kanan Malam. Sentuhan ujung mata tombak tangan kanan Malam menembus masuk dada kiri Nina.
Tidak berhenti di situ, tanpa keraguan Malam mengiris tubuh Nina dengan tangannya yang tajam layaknya mata besi yang dibuat tajam.
Robek besar.
Tubuh Nina memilik robek yang lain lagi. Saat luka di leher membuat dirinya sekarat, maka luka robek dari dada hingga ulu hati membuat jiwanya lepas seketika.
Nina sungguh tidak menduga, dirinya mati dengan cara yang mengenaskan.
Malam telah cabut tangannya dari badan Nina yang basah oleh darah. Jantung dan hati Nina ikut tercabut.
Dengan santainya Malam membagi dua organ dalam tubuh Nina. Jantung di tangan kanan dan hati di kiri.
Kedua tangan Malam bergerak naik turun ke arah mulutnya. Darah membasahi sekitar bibir, dagu dan sebagian gaun putihnya yang berwarna kecoklatan.
Suara beradunya gigi saat mengunyah daging jantung dan hati Nina membuat yang mendengar mungkin akan muntah.
Malam sangat senang, dia bisa rasakan jantung dan hati manusia yang pertama. Walau niatnya di awal itu Asep yang harus mati, tapi tidak masalah. Jantung dan hati Nina terasa manis di mulutnya.
Asep.
Di sisi lain, Asep yang bersembunyi di dalam kamar harus menyesal, karena dia memilih kesulitan yang lain.
Betul ada jendela di kamar Asep. Tapi itu jendela yang besar tanpa bisa dibuka. Ketebalan kaca tidak mudah dipecahkan, tapi dia belum mencoba.
Konsentrasi Asep pecah karena tangis Anita. Kepanikan yang dia rasakan membuat akalnya buntu.
"Oh, ke mana aku harus pergi? Tidak mungkin aku bersembunyi terus di kamar ini." Asep pegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Bayi cengeng! Apa kamu bisa diam? Bikin kepalaku pecah saja mendengar suara tangismu!" Asep malah menunjuk pada Anita.
"Aku harus pergi dari sini, harus!" Asep menatap pintu kamarnya.
"Aih, kenapa aku bisa lupa! Jendela dapur kan bisa dibuka, aku lewat situ saja!" Asep berjalan mendekati pintu.
Tapi langkah Asep terhenti kala gagang pintu hampir diraihnya. Kepalanya memutar ke belakang menatap Anita.
"Maaf ya sayang, Ayah harus selamat. Kamu masih kecil, lebih baik kamu jadi tumbal saja. Dengan kematianmu, kamu tidak perlu mengenal dosa dan pahala lagi."
Asep tarik napas panjang, lalu dia buka pintu.
Sejenak pandangan Asep terarah pada Malam yang terlihat sedang asyik mengunyah jantung dan hati Nina. Kepala Malam tertunduk, seakan tidak melihat Asep yang berdiri di depan pintu.
Tangis Anita belum lagi berhenti. Hal ini membuat Asep yakin, Malam tidak akan mendengar langkah kakinya yang mengarah ke dapur untuk kabur.
Dengan menahan rasa mualnya karena melihat jasad Nina tenggelam dalam kolam darah, pun juga cara Malam menikmati jantung dan hati Nina, Asep melangkah pelan menuju dapur.
Kalau Asep merasa sudah bisa menarik napas lega saat berada di dapur, berpikir kalau Malam tidak menyadari apa yang dia perbuat, salah besar!
Malam bukan tidak tahu kalau Asep mencoba melarikan diri. Kala Asep berdiri di depan pintu kamar, dia sudah tahu. Hanya saja dia pura-pura tidak tahu.
Belum waktunya.
Lalu saat bayangan Asep menghilang ke arah dapur, Malam buang sisa jantung dan hati Nina ke lantai dan melayang menuju ke arah Asep pergi.
Asep tidak menyadari, di belakang dia telah ada Malam yang menatap dengan sorot mata kejam.
Jendela dapur tidak terlalu tinggi, hanya sebatas perut Asep. Jadi mudah bagi Asep untuk naik ke jendela yang telah terbuka, lalu melompat keluar rumah dan kabur dari Malam.
Tapi tubuh Asep yang sebagian sudah berada di jendela mendadak terbanting ke belakang.
"Mau ke mana Mas Asep?"
Tangan kanan Malam kembali terulur panjang, kali ini lebih dari tiga meter panjangnya. Karena itu mudah saja baginya untuk memegang baju belakang Asep, lalu menariknya ke belakang.
"Aduh!" jerit Asep bernada sakit dan takut.
"Bangun Mas!" seru Malam dingin.
Asep tahu dirinya tidak bisa menolak, karena itu dia beranikan diri untuk angkat badannya dari lantai yang dingin. Tapi dia tidak bangun berdiri, dia berlutut dengan kepala tertunduk.
"Angkat kepalamu, Mas!"
Asep takut-takut mengangkat kepalanya. Matanya menyorot memohon ampunan.
"Lepaskan aku, Malam. Aku berjanji tidak akan ceritakan pengalamanku ini. Aku tidak akan siarkan kalau dirimu itu setan, eh anak angkat Ki Sabda. Kita masing-masing saja Malam. Mulutku akan terkunci untukmu!" ratap Asep.
"Apa aku harus percaya padamu, Mas? Hihihi, sungguh sulit aku bisa percaya dengan mulut manismu. Aku dan kamu sama saja Mas. Gampang ingkari janji. Tapi kamu jangan kuatir, aku tetap akan penuhi janji yang aku ucapkan saat kita berbaring berdua di permadani hijau di bawah sinar bulan belum lama ini!"
Asep mengeluh. Dia teringat pada saat pertemuan pertama dengan Malam yang berdiri di pinggir jalan depan rumah Sabda. Kalau saja dia tahu Malam itu setan, tentu motornya tidak berhenti dan mengajak Malam berkenalan.
Bahkan lebih dari itu. Asep yang sepanjang jalan pulang merasa bangga karena telah merasakan madu manisnya Malam, kini merasa telah melakukan kesalahan besar.
Asep merasa jijik pada dirinya sendiri yang telah bermesraan dengan setan belum lama ini.
"Sesuai ucapanku, aku ingin makan dirimu. Kamu bersedia kan Mas?" tanya Malam mempermainkan rasa takut Asep.
"Jangan Malam, daging tubuhku pahit! Jantung dan hatiku tidak lagi segar, karena ada virus penyakit di dalamnya," jawab Asep sekenanya. Dia berharap dengan menyebut virus penyakit, Malam akan berhenti.
"Hihihi, kenapa aku harus takut dengan virus penyakit Mas? Harusnya kamu takut jantung dan hatimu aku kunyah dan telan!" ejek Malam.
"Ya, aku takut itu! Aku takut kamu makan jantung dan hatiku. Aku masih mau hidup Malam!" pinta Asep meratap.
"Kamu hidup untuk apa Mas? Saat istrimu masih hidup saja, kamu telah berselingkuh denganku! Kalau aku biarkan kamu hidup, berapa banyak lagi wanita yang akan kamu rusak?"
"Tidak, aku bukan pria tukang selingkuh. Aku hanya berbuat padamu. Percaya atau tidak itu urusanmu. Tapi aku menyesal, aku buta karena tidak menyangka dirimu itu setan!"
Malam melotot, lalu melayang terbang mendekati Asep dengan kedua tangan terulur bersiap mencekik Asep.

Komento sa Aklat (63)

  • avatar
    Darl Ki

    Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌

    21/05/2025

      1
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget

    20/02/2025

      0
  • avatar
    kaylaaa

    sukaaa bgtttt😋🔥

    25/11/2024

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata